
EPS 87 MENYUSUP KE PERBATASAN
Sahabat adalah dia yang bisa merasakan luka di hatimu, meski senyum ceria selalu menghiasi wajahmu.
Dengan sigap Pranaja dan Ryong memeriksa dua buah drone yang jatuh di darat dan satu di atas perukaan danau. Semuannya dalam keadaan baik-baik saja. Hanya sistem navigasinya yang harus di rubah, dari otomatis menjadi manual. Mereka juga mencopot peralatan Global Positioning System atau GPS yang menyatu dengan sistem jaringan internet di dalam pesawat. Beberapa kamera tersembunyi juga dimatikan.
“Kau hapal semua bagian pesawat ini Pranaja?” tanya Ryong kagum.
Pranaja tersenyum jumawa.
“Kau lupa siapa aku?”
Lagi-lagi Ryong nyengir kuda.
“Oh ya, kau adalah agen 009 Dinas Rahasia Inggris M16, tentu saja kau…”
Ryong tak melanjutkan kata-katanya. Mulutnya disumpal sepotong roti oleh Pranaja.
“Nih, makan dulu.”
"Ups! Mpff…hari mana oti ini hanaja,” tanya Ryong dengan suara tak jelas karena mulutnya penuh dengan roti.
“Aku menemukannya di dalam. Mungkin milik operator yang sempat masuk tapi lupa membawa makananya keluar,” jawab Pranaja.
“Apa? Maksudmu ini roti sisa orang?” kata Ryong lagi.
Pranaja menganggukkan kepalanya. Dia juga terlihat memakan potongan roti lainnya.
“Ini namanya rejeki nomplok. Kamu lapar kan, seharian belum makan?”
Ryong menggelengkan kepalanya.
“Tidak terlalu lapar sih. Tadi aku sempat minum air danau cukup banyak, dan makan kepiting mentah di dalam air.”
“Apa! Ah, curang kamu,” sahut Pranaja, lalu terdiam sesaat, “Eh, memang enak?”
Ryong tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Itu namanya survival. Tentara itu harus bisa bertahan hidup dalam situasi sesulit apapun dan di alam yang paling keras sekalipun.”
“Kalau itu sih aku tahu. Tapi aku tidak mau makan kepiting mentah.”
Ryong tertawa.
“Tentu saja. Kau tinggal membakarnya dengan apimu.”
__ADS_1
Pranaja ikut tertawa. Lalu berdiri sambil membersih pakaiannya yang penuh debu. Lalu matanya terpejam, mengnyalurkan kekuatan Geni Sawiji pada tangan kananya. Sesaat kemudian tangan pranaja mengeluarkan api berwarna biru yang daya panasnya tiga kali lipat api biasa. Setelah itu dia mengambil pelat-pelat besi yang sudah dibentuk setengah lingkaran, dan di tempelkan menutupi sudut-sudut lancip pada badan pesawat.
“Untuk apa besi-besi setengah lingkaran itu brother?”
“Untuk menghindari tangkapan radar. Mereka hanya bisa menangkap benda-benda yang bersudut lancip. Tapi untuk benda yang sudutnya lebih dari empat puluh lima derajat, sinyalnya akan berpendar kemana-mana. Sehingga tidak muncul di layar radar musuh,” Pranaja menjelaskan panjang lebar.
Ryong hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sungguh, sahabatnya ini adalah paket lengkap. Sudah sakti, cerdas luar biasa, ganteng lagi. Ups! Maksudku baik hati lagi, batin Ryong sambil tersenyum sendiri. Kok aku ikut-ikutan memuji kegantengan Pranaja sih, hehe.
“Oke Ryong. Sekarang masuklah ke dalam kokpit dan cobalah pesawatmu,” ujar Pranaja.
Ryong masuk ke dalam runag kokpit dan duduk di kursi pilot. Mengamati papan panel di depannya. Tidak terlalu banyak fitur-fitur yang harus dipelajarinya, mungkin karena ini adalah pesawat nirawak, yang biasa dikendalikan dari jarak jauh. Untung Pranaja berhasil mereset ulang sistem navigasinya.
Dia lalu menekan tombol on pada pada papan panel. Terdengar deru mesin pesawat yang sangat halus. Perlahan pesawat melayang ringan ke udara. Rupanya pesawat ini tidak membutuhkan landasan untuk mengudara. Sebagai pilot tempur terbaik di Angkatan Udara Korea Utara, Ryong terlaihat tidak kesulitan beradaptasi dengan pesawat barunya.
“Kau tidak ikut sekalian naik Pranaja?” tanya Ryong.
Meski pesawat Nirawak, tapi tubuh MQ-9 REAPER sama besarnya dengan pesawat tempur biasa. Ruang kokpitnya dapat diisi oleh dua orang, pilot dan ko-pilotnya.
“Aku akan memakai pesawatku sendiri,” kata Pranaja sambil berlari menghampiri pesawat lainnya.
Pranaja langsung naik dan duduk di ruang kokpit. Ryong menunjukkan jempolnya.
Pranaja menekan tombol roket pendorong. Terdengar bunyi yang cukup keras saat dua buah roket pendorongnya menyala. Pesawat yang mengapung ringan di udara itu seketika melesat menembus kegelapan langit malam di atas hutan Kazakhstan.
Wuzz!
Tak kalah gesit, Ryong mengikutinya dari belakang.
Wuzz!
Dengan laju melebihi kecepatan suara, tak sampai satu jam mereka sudah mencapai perbatasan Kazakhstan-China dan kembali ke Gurun Gobi. Pesawat-pesawat mereka terbang rendah diatas permukaan padang pasir. Pranaja lebih memilih melewati gurun Gobi di malam hari kemudian masuk lewat perbatasan Mongolia. Dia tidak mau mengambil resiko, karena peralatan militer China sangat canggih. Bahkan lalat pun bisa tertangkap radar mereka.
Menjelang fajar mereka beristirahat di atas sebuah bukit kecil yang terlindung pepohonan yang lebat. Pranaja menangkap seekor kambing gunung dan memanggangnya. Bau daging panggang yang lezat tersebar kemana-mana.
“Ayo Ryong kita makan pagi,” katanya.
Ryong pun makan dengan lahapnya. Daging panggah masakan Pranaja betul-betul enak. Mugkin karena dia kelaparan juga karena dari semalam baru makan sepotong roti. Mulutnya penuh daging kambing, sampai belepotan.
__ADS_1
“Makannya pelan-pelan Ryong. Nanti kamu tersedak,” kata Pranaja tersenyum geli.
Seolah tak mendengar kata-kata Pranaja yang meledeknya, Ryong menruskan makannya. Pranaja mengambil sepotong paha kambing itu dan mulai ikut makan. Hm, memang enak. Padahal aku cuma menambahkan irisan daun thyme yang aku taburkan diatas daging. Tapi rasanya lezat luar biasa.
Thyme adalah tumbuhan gurun yang merupakan salah satu bumbu yang paling sering digunakan di seluruh dunia. Thyme merupakan rempah-rempah yang dapat memberikan rasa baru pada masakan. Karena bentuknya yang cantik, thyme juga sering dijadikan hiasan plating. Daun thyme juga bisa digunakan untuk meredakan gigitan serangga atau luka bakar ringan. Kebanyakan penggembala menyimpan tumbuhan ini saat bermalam di tengah gurun.
Selesai makan Pranaja meminta Ryong untuk menjeleskan rencananya.
“Dimana keluargamu tinggal Ryong?”
“Keluargaku tinggal di desa Chongrae, dekat kota Sinuiju.”
“Sinuiju? Kalau tidak salah letaknya didekat sungai Yalu yang membatasi China dan Korea Utara kan?” sahut Pranaja.
Ryong menganggukkan kepalanya.
“Kau benar. Dari sungai Yalu desaku berjarak kira-kira lima kilometer.”
“Baik. Kalau begitu kita akan meninggalkan pesawat kita disini.”
“Maksumu kita akan menempuh perjalanan darat saudaraku?”
Pranaja menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Kita akan tetap menempuh jalur udara.”
“Bagaiamana caranya?”
“Aku akan menggendongmu dan terbang melintasi perbatasan China menuju sungai Yalu. Dari sana kita akan menyusup masuk ke wilayah Korea Utara.”
Ryong terkesiap kaget.
“Ap.. apa maksudmu? Kau akan menggendongku, lalu membawaku terbang setelah tubuhmu diselubungi api biru? Itu kan maksudmu?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Pranaja! Kau akan membakarku?” tanya Ryong setengah berteriak.
Pranaja menganggukkan kepalanya lagi. Wajah jahilnya muncul. Lalu tertawa tergelak demi melihat wajah Ryong yang mendadak berubah ketakutan.
__ADS_1