
KEJUTAN BELUT LISTRIK
Selalu ada setitik sinar di dalam kegelapan. Diantara mereka yang lemah pasti ada yang paling kuat. Berada ditengah mereka yang kehilangan harapan, ada jiwa pahlawan yang menginspirasi dan membuat mereka menjadi bangkit kembali.
Segumpal api meliuk-liuk di angkasa, membentuk berbagai bangun ruang yang mengagumkan. Lingkaran, segitiga, kubus, persegi panjang dan angka delapan. Diringi suara teriakan seperti bocah remaja yang baru menemukan mainan. Nadanya menggambarkan suasana hati yang begitu gembira dan bahagia,
“Uhhuuuiiiii.”
Teriakan itu menggema memecahkan angkasa. Meliuk lagi, berputar lagi, lalu mendarat di depan Panembahan yang sedang duduk beristirahat. Nampak senyum tipis tersungging di bibirnya melihat anak muda yang terlihat begitu bersemangat.
“Jangan berlebihan Pranaja, tidak baik untukmu,” ujar Panembahan kemudian.
Naja menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput, keringat membasahi tubuhnya, nafasnya juga sedikit terengah. Heh, benar kata kakek terlalu banyak terbang di bawah sinar matahari membuatnya haus dan lapar.
“Kakek tidak merasa lapar?” tanya Pranaja.
“Aku kan membawa bekal?” sahut Panembahan . sambil membuka bungkusan kain yang selalu dibawanya.
Pranaja langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jangan, jangan! Tidak usah dibuka kek!” ucap Pranaja.
Panembahan urung membuka bungkusannya. Wajah Pranaja nampak tak bersemangat. Dia menarik nafas kemudian dihembuskan kuat-kuat.
“Haah, makanan kakek membosankan. Kalau bukan Munthul Bakar, ya Godhogan Boled. Bosan aku,” gumamnya.
Pranaja menelungkupkan wajahnya di dalam tanah. Hidungnya terdengar mengendus-endus sesuatu. Lalu wajahnya menengadah ke udara. Kembali cuping hidungnya terlihat kembang kempis. Nampak wajahnya menjadi sumringah.
“Apa yang sedang kau lakukan nak?”
Pranaja malah tersenyum lebar.
“Aku sedang mencari sumber air kek. Dan aku sudah menemukannya.”
Hidungnya mengendus kembali.
“Di sana!” katanya sambil menunjuk ke atah depan.
Panembahan tersenyum, tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada kemampuan Pranaja.
“Kau benar. Di bawah kaki bukit itu ada sebuah sendang. Turunlah dan minumlah sepuasmu,” katanya.
“Eh, kakek sudah tahu? Kenapa nggak bilang?”
“Kalau kamu tidak bicara, bagaimana kakekmu bisa tahu?”
“Oh ya.”
Pranaja jadi sedikit malu.
“Baiklah kek, aku akan ke sana.”.
Dengan sigap Pranaja melompat lalu berlari cepat sekali. Tubuhnya melesat bagaikan anak panah menembus kegelapan hutan. Kakinya lincah melompat diantara pepohonan dan dahan-dahan yang besar. Sampai di ujung tebing tubuhnya melenting ke atas, tangannya di bentangkan ke kanan dan kekiri, kakiknya di tarik lurus ke belakang. Bagaikan seekor elang dia terbang ke udara. Kemudian menjatuhkan dirinya ke dalam sendang di bawah tebing.
__ADS_1
Byur!
Tubuhnya menghujam ke dalam air sendang yang tenang menjadi beriak. Memecah keheningan hutan yang dingin membeku. Uh, air sendang ini segar sekali. Kepalanya menyembul dari dalam air. Sambil tiduran telentang di permukaan air dia bergerak kesana-kemari. Lalu menyelam lagi, sambil berburu ikan.
Tapi aneh dia tak melihat satu ekor ikan pun. Bagaimana mungkin air sendang yang begitu sehat dan bening, tidak ada ikannya satu ekor pun? Batinnya. Bahkan kepiting dan udang pun tidak terlihat.
Tanpa dia sadari ada sepasang mata hijau mendekatinya dari bawah air. Perlahan dia mendekati kaki Pranaja. Hewan bertubuh panjang, dan berkulit sangat licin itu meliuk-liuk sebelum menggigit kaki pemuda itu.
“Adduh!”
Zrrrrttt
Tiba-tiba tubuh Pranaja menjadi kejang dan kaku. Ada kekuatan aneh yang mengaliri tubuhnya. Seperti aliran listrik, kekuatan itu seperti melumpuhkan urat-urat syaraf dan detak jantungnya. Membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya yang kaku, perlahan tengelam di dalam air. Hanya bola matanya yang masih bisa berkedip-kedip.
Hewan itu melepaskan gigitan di kakinya. Lalu bergerak keatas, ke arah kepalanya. Rupanya hewan air bertubuh panjang sebesar batang pohon Randu itu hendak melahap tubuhnya dari arah kepala. Pranaja masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Mulut binatang itu sudang membuka lebar di atas mulunya. Gigi-giginya yang tajam terlihat jelas siap merobek-robek wajahnya.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba meleset dua anak panah masuk ke dalam air.
Clap! Clap!
Langsung menembus tubuh binatang itu, tepat di bagian kepala dan ulu hatinya. Darah langsung menyembur ke mana-mana. Tubuh binatang itu menggelepar dan memukulkan ekornya dengan kuat kesana kemari. Menimbulkan ombak yang besar di senndang yang airnya tenang itu.
“Aaarrkk!”
Teriakan terakhirnya terdengar menyayat hati sebelum akhirnya terdiam untuk selamanya. Lalu seorang gadis menarik tubuh pemuda itu ke tepi sendang, dan memukul kepalanya dengan tongkat keras sekali.
“Itu satu-satunya cara agar kau terlepas dari sengatan belut listrik raksasa.”
Pranaja meringis kesakitan. Beberpa saat dia tak berkata apa-apa, sibuk mengelus kepalanya yang benjol.
“Apa katamu? Belut listrik?”
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga sibuk menarik tubuh belut raksasa itu ke pinggiran. Pranaja segera bangkit membantunya.
‘Wah, besar sekali belut listrik ini,’ batinnya.
Pantas sengatan listriknya bisa membuatnya hampir pingsan. Gadis itu mengeluarkan parangnya, lalu dipotong-potongnya tubuh belut itu menjadi beberapa potongan besar. Pranaja hanya melihatnya dengan wajah heran. Kok, gadis itu kelihatannya tidak takut ya?
__ADS_1
Pemuda itu mengalihkan perhatiannya kepada penampilannya.. Memakai celana pendek, kaos serta rompi dari kulit harimau dan sepatu dari kulit buaya. Beberapa anak panah tersembul dari balik punggungnya. Rambutnya sebahu di kepang dua, ada poninya juga. Tubuhnya tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Dan wajahnya cantik seberti rembul…eh bukan seperti berlian, batinnya.
“Eh, ngapain kamu memandang tubuhku begitu?” wajah gadis itu tiba-tiba berubah galak. “Jangan berpikiran macam-macam ya. Atau aku sate kamu sekalian di hutanku ini.”
Pranaja jadi salah tingkah.
“Eh! Oh! Eh! Anu!... bu..bukan maksudku begitu. Aku hanya ingin mengenalmu saja,” sahutnya.
Dilihatnya potongan-potongan tubuh belut itu. Mendadak perutnya berbunyi.
‘Kriyuk.. kriyuk”
“Ow, rupanya kamu lapar ya?” kata gadis itu sambil tertawa.
Pranaja hanya tersenyum malu.
“Nih, buat kamu,” kata si gadis sambil menyodorkan sepotong kecil daging belut.
“Kok, kecil banget,” protesnya.”Itu kan belut kita berdua.”
Gadis itu memandangnya sengit.
“Heh! Yang membunuh belut ini aku. Hallooouuww! Kalau bukan karena aku, tubuhmu sudah berubah menjadi remukan-remukan daging di dalam perut hewan itu tahu?”
Pranaja terdiam. Diliriknya gadis jutek itu diam-diam.
“Terimakasih ya?” katanya. “Aku Pranaja. Namamu siapa?”
Gadis itu tak menyahut. Masih sibuk memasukkan potongan daging ke dalam keranjang.
Pranaja berjalan menjauh. Lalu dia membakar potongan daging kecil dengan tangannya. Aroma daging bakar seketika tersebar ke seantero hutan. Gadis itu memperhatikannya. Dia berjalan menghampiri Pranaja membawa sepotong besar daging belut.
“Ini untukmu. Namaku Ana, “ katanya sambil mengulurkan tangannya. “Kamu pasti bukan orang sini kan? Minggat dari rumah karena bandel akhirnya tersesat di hutan. Sekarang baru menyesal, kelaparan di hutan kan?”
Pranaja menerima potongan daging itu lalu di bungkus pakai daun pisang.
“Sok tahu kamu. Aku datang ke sini bersama kakekku. Kamu sendiri tinggal dimana?”
“Aku kan sudah bilang ini adalah hutanku. Jadi di hutan inilah rumahku.”
Pranaja tertawa mendengar jawaban gadis itu.
“Ini kan jaman modern. Bukan jamannya Tarzan. Masa masih ada gadis secantik kamu tinggal di hutan. Hehehe…”
“Maksudku, hutan dan bukit ini milik ayahku. Dan belut raksasa itu peliharaanku sendiri. Coba kau naik ke atas tebing, kau bisa melihat rumahku.”
__ADS_1
l
Pranaja jadi penasaran. Dia berdiri dan bergegas naik ke atas tebing, lalu pandangannya di lempar ke bawah bukit. Wajahnya terkesiap kaget. Sebuah bangunan besar bertingkat tiga, seluas satu hektar terhampar di bawah bukit. Mewah dan elegan.