RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 90 KAKEK KIM


__ADS_3

EPS 90 KAKEK KIM


Kata-kata tak akan cukup menggambarkan kecantikanmu. Karena bulan yang bersinar di malam purnama pun redup di dalam hatiku. Dan inilah petualanganku yang paling indah. Saat mataku dan matamu bertemu, saling bertatapan dan terpesona karena cinta pada pandangan pertama.


Ren terdiam dalam sorot kekagumanPranaja. Wajahnya begitu bersinar ditempa sinar matahari pagi yang menembus dedaunan hutan. Angin yang berhembus perlahan menggoyangkan anak-anak rambut dan selendangnya. Kecantikan yang sempurna. Seperti bidadari yang baru turun dari langit, lembut menyapa setiap hati yang tersesat dan kesepian.


“Mata! Mata dijaga! Bukan muhrim woi!” Ryong berteriak lagi sambil memandang dua ekor kodok yang lagi memadu kasih di tengah dinginnya udara pagi.


Kuk Kong! Kuk Kong!


Pranaja lagi-lagi tergagap. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah matahari.


“Eh, ee mataharinya bulat ya,” ujarnya.


Ren tertunduk malu. Ada semburat merah di garis wajahnya yang bening sempurna.


“Eh, Dul! Memang ada matahari bentuknya kotak!” ledek Ryong lagi.


Pranaja semakin salah tingkah. Ren berdiri dibalik tubuh kakaknya. Mencolek pundaknya agar berhenti meledek Pranaja.


“Sudah kak, ayo kita temui kakek,” katanya.


Ujung matanya masih sempat melirik wajah Pranaja yang masih nampak gugup. Lalu gadis itu berjalan mendahului kedua pemuda itu.


“Huh!”


Pranaja membuang nafasnya yang sesak. Setelah itu tangannya mendorong kepala Ryong dari belakang.


“Adduh!” seru Ryong sambil menengok Pranaja yang terlihat kesal.


Pemuda bermata sipit itu malah terkekeh sambil mengacungkan jempolnya. Lalu wajahnya menyeringai meledek sahabatnya.!


“Ji Soo. Kkk…”


Lalu mereka bergegas menyusul Ren yang sudah menghilang di balik bukit. Ketika mereka sampai di tempat itu, Pranaja terhenyak. Ternyata jalan setapak itu buntu, berhenti pada tebing batu yang berdiri tegak lurus. Sekitar tebing itu juga dipenuhi semak belukar dan tanaman perdu yang cukup lebat. Dan Pranaja tidak menemukan Ren disitu.

__ADS_1


“Kemana perginya adikmu Ryong?”


Ryong tidak menjawab. Dia menyentuh sebuah batu yang menonjol keluar dari dalam tebing. Ditariknya batu itu kebawah layaknya sebuah tuas.


“Zreeghh!”


Terdengar benda berat yang bergeser. Pranaja terkesiap, melihat tebing di depannya bergeser ke samping. Membuka jalan masuk ke dalam tebing.


“Who..at! Ini pintu rahasia?”


Ryong menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengajak Pranaja masuk ke dalam bukit. Mereka masuk ke dalam lorong yang menjadi gelap saat Ryong menutup pintu rahasia itu kembali. Lalu berjalan menyusuri lorong gelap yang lumayan panjang, sekitar lima puluh meter. Di ujung lorong Pranaja melihat sebuah ruang yang terang dan cukup luas.


Ada pintu besi, seperti pintu penjara, yang sangat kokoh sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Ryong menekan tombol kecil di dinding tebing.


“Sreenk!” terdengar gesekan pintu besi yang terbuka.


“Silahkan masuk sahabatku,” kata Ryong.


Pranaja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Wow, pandangannya menyiratkan kekaguman. Ingatannya langsung tertuju pada istana bawah tanahnya Jenderal Xialuai Khan, pemimpin pemberontakan rakyat Mongolia. Walaupun ini hanyalah ruangan kecil, tetap saja mengagumkan. Butuh intuisi tajam dan bakat serta kerja keras untuk membangun tempat persembunyian yang sangat terpencil ini.


“Luar biasa Ryong. Apa ini rumah kakek sahabatmu itu?” tanya Pranaja.


“Darimana kakekmu itu mendapatkan tenaga listrik Ryong?” tanya Pranaja heran.


Ryong tersenyum.


“Ada air terjun di dalam bukit ini brother. Nanti kau akan melihatnya. Sekarang duduklah dahulu, biar kau berbincang dulu dengan kakek,” sahut Ryong.


Srenk!


Terdengar pintu besi yang dibuka, tapi kali ini dari sebelah dalam. Dari sebuah lorong gelap keluar seorang kakek tua yang masih nampak gagah. Tubuhnya tegap dan napasnya masih terdengar teratur. Dibelakangnya Ren berjalan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


“Salam kakek!” sapa Pranaja sambil mengulurkan kedua tangannya.


Kakek itu tidak menanggapi uluran tangan Pranaja. Dia hanya berdiri terdiam sambil mengamati tubuh Pranaja dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu dia berjalan mengitari tubuh Pranaja, seperti sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


“Hm, tanda-tandanya sangat jelas,” gumamnya sambil tersenyum.


Lalu tangannya menggenggam kedua bahu Pranaja sangat erat. Matanya menatap Pranaja penuh kekaguman. Bahkan bibirnya nampak bergetar.


“Kau bukan pemuda biasa,” ucapnya lembut.


Nada suaranya terdengar begitu berat dan berwibawa.


“Duduklah nak,” ucapnya menyilakan tamunya.


Setelah membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, Pranaja duduk di atas kursi sudut yang terbuat dari balok-balok kayu itu.


“Namaku Kim Moon Seuk. Orang memanggilku Lo Kim,” katanya.


“Kakek Kim dulunya juga seorang perwira kerajaan, saat negeri ini belum terbelah menjadi Korea Selatan dan Utara,” sambung Ryong. “Usianya sudah seratus sepuluh tahun.”


Wow! Pranaja terhenyak. Lalu tanpa sadar dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia yakin Kakek Kim dulunya adalah seorang pendekar. Terlihat tubuhnya masih bugar dan gagah. Gerakannya juga begitu tenang dan sigap.


“Kakek sudah setua itu? Dan masih kuat? Apa rahasianya kek?” berondong Pranaja.


Kakek Kim tersenyum.


“Obatnya adalah jangan mudah marah. Balaslah hinaan dan cacian dengan senyuman. Tapi kalau dia sudah melukai, kamu baru boleh membalasnya,” katanya bijak.


Ting!


Terdengar bunyi gelas dan piring saling beradu. Ren menata minuman dan makanan di atas meja yang terbuat dari balok kayu yang cukup besar. Gadis itu memasak kuliner khas Korea Utara, Pyongyang Naengmyeon atau sering disebut juga Pyeongyang Cold Noodle. Makanan ini merupakan sajian klasik khas Negara Komunis yang merupakan musuh terbesar sekaligus tetangga Korea Selatan tersebut.


Bahan dasar mienya adalah gandum hitam disebut soba, sehingga warna mienya juga tampak hitam. Mie disajikan dalam air kaldu yang dingin dan tampak bening. Agar semakin lengkap, Ren menambah saus pedas, telur, dan beberapa potong daging. Selain itu juga ditambahkan bunga kol, timun, lobak, ayam, mustard, kecap, dan cuka.


Makanan mie khas Korea Utara cocok dikonsumsi bersama teh Daechu. teh yang dibuat dari olahan buah Jojoba, buah yang juga dijuluki kurma khas Korea. Teh ini memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Rasanya yang segar juga bias mengurangi rasa penat dan capai setelah melakukan perjalanan jauh.


“Silahkan dinikmati Sunbae,” kata Ren dengan wajah tertunduk.


Sunbae adalah panggilan untuk laki-laki yang lebih tua di Korea Utara.

__ADS_1


“Terimakasih,” sahut Pranaja sambil menganggukkan kepalanya.


Dia pun menikmati kuliner khas Korea Utara yang dimasak Ren. Setelah berhari-hari berpetualang, makan seadanya dan tidur di sembarang tempat, sekarang dia merasakan kembali yang namanya makanan rumah. Begitu nyaman, tenang dan lega. Membuat rasa Pyongyang Naengmyeon dan Teh Daechu yang sedang dinikmatinya semakin terasa lezat.


__ADS_2