RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 126 ANASTASSYA PRAMONO


__ADS_3

EPS 126 ANASTASSYA PRAMONO


FLASBACK…


Byur!


Tubuh Pranaja menghujam ke dalam air sendang yang tenang menjadi beriak. Memecah keheningan hutan yang dingin membeku. Uh, air sendang ini segar sekali. Kepalanya menyembul dari dalam air. Sambil tiduran telentang di permukaan air dia bergerak kesana-kemari. Lalu menyelam lagi, sambil berburu ikan.


Tapi aneh dia tak melihat satu ekor ikan pun. Bagaimana mungkin air sendang yang begitu sehat dan bening, tidak ada ikannya satu ekor pun? Batinnya. Bahkan kepiting dan udang pun tidak terlihat.


Tanpa dia sadari ada sepasang mata hijau mendekatinya dari bawah air. Perlahan dia mendekati kaki Pranaja. Hewan bertubuh panjang, dan berkulit sangat licin itu meliuk-liuk sebelum menggigit kaki pemuda itu.


“Adduh!”


Zrrrrttt


Tiba-tiba tubuh Pranaja menjadi kejang dan kaku. Ada kekuatan aneh yang mengaliri tubuhnya. Seperti aliran listrik, kekuatan itu seperti melumpuhkan urat-urat syaraf dan detak jantungnya. Membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya yang kaku, perlahan tengelam di dalam air. Hanya bola matanya yang masih bisa berkedip-kedip.


Hewan itu melepaskan gigitan di kakinya. Lalu bergerak keatas, ke arah kepalanya. Rupanya hewan air bertubuh panjang sebesar batang pohon Randu itu hendak melahap tubuhnya dari arah kepala. Pranaja masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Mulut binatang itu sudah membuka lebar di atas kepalanya. Gigi-giginya yang tajam terlihat jelas siap merobek-robek wajahnya.


Di saat yang genting itu, tiba-tiba meleset dua anak panah masuk ke dalam air.



Clap! Clap!



Langsung menembus tubuh binatang itu, tepat di bagian kepala dan ulu hatinya. Darah langsung menyembur ke mana-mana. Tubuh binatang itu menggelepar dan memukulkan ekornya dengan kuat kesana kemari. Menimbulkan ombak yang besar di sendang yang airnya tenang itu.



“Aaarrkk!”



Teriakan terakhirnya terdengar menyayat hati sebelum akhirnya terdiam untuk selamanya. Lalu seorang gadis menarik tubuh Pranaja ke tepi sendang, dan memukul kepalanya dengan tongkat keras sekali.



“Adduh!” teriaknya. “Hai! Kenapa kau memukul kepalaku?”


“Itu satu-satunya cara agar kau terlepas dari sengatan belut listrik raksasa.”


Pranaja meringis kesakitan. Beberpa saat dia tak berkata apa-apa, sibuk mengelus kepalanya yang benjol.



“Apa katamu? Belut listrik?”


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga sibuk menarik tubuh belut raksasa itu ke pinggiran. Pranaja segera bangkit membantunya.



‘Wah, besar sekali belut listrik ini,’ batinnya.


Pantas sengatan listriknya bisa membuatnya hampir pingsan. Gadis itu mengeluarkan parangnya, lalu dipotong-potongnya tubuh belut itu menjadi beberapa potongan besar. Pranaja hanya melihatnya dengan wajah heran. Kok, gadis itu kelihatannya tidak takut ya?


Pemuda itu mengalihkan perhatiannya kepada gadis itu. Memakai celana pendek, kaos serta rompi dari kulit harimau dan sepatu dari kulit buaya. Beberapa anak panah tersembul dari balik punggungnya. Rambutnya sebahu di kepang dua, ada poninya juga. Tubuhnya tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Dan wajahnya cantik seberti rembul…eh bukan seperti berlian, batinnya.


“Eh, ngapain kamu memandang tubuhku begitu?” wajah gadis itu tiba-tiba berubah galak. “Jangan berpikiran macam-macam ya. Atau aku sate kamu sekalian di hutanku ini.”


Pranaja jadi salah tingkah.

__ADS_1


“Eh! Oh! Eh! Anu!... bu..bukan maksudku begitu. Aku hanya ingin mengenalmu saja,” sahutnya.



Dilihatnya potongan-potongan tubuh belut itu. Mendadak perutnya berbunyi.


‘Kriyuk.. kriyuk”


“Ow, rupanya kamu lapar ya?” kata gadis itu sambil tertawa.


Pranaja hanya tersenyum malu.



“Nih, buat kamu,” kata si gadis sambil menyodorkan sepotong kecil daging belut.


“Kok, kecil banget,” protesnya.”Itu kan belut kita berdua.”


Gadis itu memandangnya sengit.


“Heh! Yang membunuh belut ini aku. Hallooouuww! Kalau bukan karena aku, tubuhmu sudah berubah menjadi remukan-remukan daging di dalam perut hewan itu tahu?”



Pranaja terdiam. Diliriknya gadis jutek itu diam-diam.


“Terimakasih ya?” katanya. “Aku Pranaja. Namamu siapa?”


Gadis itu tak menyahut. Masih sibuk memasukkan potongan daging ke dalam keranjang.


Pranaja berjalan menjauh. Lalu dia membakar potongan daging kecil dengan tangannya. Aroma daging bakar seketika tersebar ke seantero hutan. Gadis itu memperhatikannya. Dia berjalan menghampiri Pranaja membawa sepotong besar daging belut.


“Ini untukmu. Namaku Ana, “ katanya sambil mengulurkan tangannya. “Kamu pasti bukan orang sini kan? Minggat dari rumah karena bandel akhirnya tersesat di hutan. Sekarang baru menyesal, kelaparan di hutan kan?”


“Sok tahu kamu. Aku datang ke sini bersama kakekku. Kamu sendiri tinggal dimana?”


“Aku kan sudah bilang ini adalah hutanku. Jadi di hutan inilah rumahku.”


Pranaja tertawa mendengar jawaban gadis itu.


“Ini kan jaman modern. Bukan jamannya Tarzan. Masa masih ada gadis secantik kamu tinggal di hutan. Hehehe…”


“Maksudku, hutan dan bukit ini milik ayahku. Dan belut raksasa itu peliharaanku sendiri. Coba kau naik ke atas tebing, kau bisa melihat rumahku.”


Pranaja jadi penasaran. Dia berdiri dan bergegas naik ke atas tebing, lalu pandangannya di lempar ke bawah bukit. Wajahnya terkesiap kaget. Sebuah bangunan besar bertingkat tiga, seluas satu hektar terhampar di bawah bukit. Mewah dan elegan. NalurInya sebagai agen rahasia langsung bekerja. Entah kenapa dia merasa memiliki urusan dengan si empunya bangunan megah itu.


“Eh, kok malah melamun di situ!” tegur Ana dari bawah. “Pengin jatuh biar tambah benjol kepalanya?”


Pranaja tertawa lebar. Dan gadis itu baru menyadari, Pranaja terlihat sangat kereen saat tersenyum. So cute, batinnya.



Pranaja melompat turun, melenting di udara, berputar kemudian mendarat dengan sempurna di depan Ana. Dan usaha Pranaja menebar pesona mendapatkan hasil maksimal. Gadis itu sampai membelalakkan mata mengaguminya.



“Wow!” serunya. “ Kamu atlet atau pemain akrobat?”


Pranaja menepuk jidat.


“Adduh! Yang agak keren dikit dong nebaknya. Masa pemain akrobat, artis laga atau pemeran superhero gitu.”


__ADS_1


Bibir Ana langsung monyong.


“Hmm, maunya,” katanya sambil ketawa geli. “Bagaimana, kamu sudah lihat rumahku kan?”


Naja mengangguk.


“Ckckck,..bagus banget. Itu rumah apa hotel?”


Ana tertawa lagi. Enak banget ngobrol sama pemuda konyol ini, sebentar-sebentar jadi ketawa.



“Rumah lah. Ayahku memang suka membeli bukit dan pegunungan, lalu di buat hunian elit kelas VVIP,” katanya bangga.


“Hebat banget ayahmu. Pengusaha sukses, ya?”


Ana menganggukkan kepalanya.


“Sebenarnya bisnis utamanya pembersihan lahan untuk perumahan. Tapi kemudian mendapat kepercayaan dari seorang big bos mengerjakan proyek besar Megapolitan?”



“Siapa?”


“Subrata.”


Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Konglomerat dunia asal Indonesia, itu kan?”


“Iya.”


“Kalau ayahmu?”


“Kalau ayahku namanya…”



Belum sempat Ana menyebtkan namanya, tiba-tiba terdengar suara jauh dari bawah bukit memanggil namanya.


“Ana! Sayaang! Dimana kamu?”


Ana tersenyum kepada Pranaja.


“Eh, itu ayahku. Rupanya sudah pulang. Mau aku kenalin?”



Pranaja menggeleng cepat.


“Owh, tidak. Terimakasih. Aku kan lagi ditunggu kakek,” katanya.


“Ya sudah. Aku pulang dulu ya?” kata Ana sambil mengemasi keranjang berisi daging belut itu.


“Dadah!” katanya sambil melambaikan tangan kepada pemuda yang baru dikenalnya.


“Bye!” balas Pranaja.



Begitu Ana berbalik dan berjalan menuruni bukit, Pranaja langsung mencari tempat tersembunyi untuk melakukan pengintaian. Lalu mengaktifkan baju pelindungnya, membuat kekuatan indera penglihatannya bertambah tajam. Dari sebuah celah kecil dia dapat dengan jelas melihat wajah ayah gadis itu. Dengan ponselnya dia mengambil gambar-gambarnya, lalu mengirimnya ke M16. Dalam sekejap dia sudah mendapatkan data-datanya.


Pramono dan puterinya Anastassya.

__ADS_1


__ADS_2