
KEKUATAN DARI LANGIT
Tepat empat puluh hari Tusin dan istrinya, Daningrum, melakukan pertapaan. Memusatkan pikirannya pada tingkatan paling tinggi, agar jeritan hati mereka di dengar oleh sang pemilik gua Karang Bolong, Dewi Suryakanti.
“Bangunlah Tusin dan Daningrum. Hentikan pertapaan kalian,” ujar seseorang, suaranya menggema di gua yang licin dan gelap.
Pasangan suami isteri itu membuka kedua matanya. Mereka melihat seorang perempuan secantik bidadari memakai pakaian seperti bangsawan istana. Dari ujung kepala sampai ujung kaki dipenuhi berbagai macam perhiasan dari mutiara dan berlian yang dibungkus emas murni.
“Aku Dewi Suryakanthi, pemilik gua ini. Sekarang sampaikanlah maksud kedatangan kalian kepadaku,” katanya.
“Daulat paduka, hamba mendapatkan petunjuk dari eyang guru Sapujagad untuk bertapa disini agar mendapatkan Bunga Karang milik paduka Dewi,” ujar Tusin.
Dewi Suryakanthi tertawa. Suaranya membuat telinga Tusin dan Daningrum merasa bergidik.
“Ya, aku bisa membaca pikiran kalian, bahkan sejak kalian baru datang kemari.”
Tusin dan Daningrum saling berpandangan.
“Kalau begitu, pakah paduka Dewi akan mengabulkan permintaan kami?”
Dewi Suryakanthi terdiam. Di tatapnya dua orang di depannya itu.
“Ya. Aku akan mengabulkan permintaan kalian. Aku akan memberikan bunga karang itu,” kata sang Dewi. “Tapi ada persyaratan yang harus kau penuhi.”
“Syarat? Syarat apa itu Dewi?” tanya Tusin.
“Kalian harus menjadi pengikutku dan hidup di istanaku,” kata sang Dewi.
Tusin dan Daningrum saling berpandangan tak mengerti. Bagaimana mereka bisa melampiaskan dendamnya, kalau mereka di kurung di alam supranatural ini?
“Tapi paduka..”
Dewi Suryakanti terkekeh lagi.
“Aku tahu kalian punya dendam dengan anak Begawan Wanayasa yang bernama Somawangi. Tapi itu bukan tugas kalian lagi sekarang.”
“Maksud paduka?”
“Itu akan menjadi tugas anak yang lahir dari rahimmu, Ken Darsih. Aku akan memberikan kekuatan Bunga Karang itu kepadanya.”
Wajah kedua pasutri itu tampak terperanjat.
“Ken Darsih? Maksudmu, anakku itu masih hidup Dewi?” tanya Daningrum.
__ADS_1
Dewi Suryakanthi menganggukkan kepalanya.
“Dia sedang tertidur pulas di rumah Nagabadra, siluman Naga yang menghuni hutan Kecipir di perbukitan Kethileng.”
“Tertidur pulas?”
“Ya. Kebiasaan bangsa ular. Karena Ken Darsih adalah manusia setengah siluman. Dia anak dari Miryam dan ki Badranaya, atau siluman Naga jantan.”
Daningrum terkesiap. Dia teringat bagaimana Ken Darsih sangat dekat dengan ular.
“Kamu baru tahu kan kalau anakmu itu bukanlah anakmu.”
Daningrum menggelengkan kepalanya,
“Mohon ampun Dewi. Aku tahu, Panembahan Somawangi yang memindahkan janin dari perut Miryam ke dalam perutku. Tapi, Ken Darsih adalah anak yang lahir dari rahimku. Aku yang mengandungnya dan membesarkannya dengan air susuku. Bahkan Miryam tidak akan mengenalinya. Karena Ken Darsih adalah anakku.”
Dewi Suryakanti tersenyum. Betapa dalamnya ikatan antara ibu dan anak ini.
“Sebagai manusia separuh siluman, Ken Darsih memiliki kekuatan melebihi siluman itu sendiri, dan dia tidak mengenal takdir kematian. Maka aku akan memberikan kekuatan Bunga Karang ini kepadanya. Dia akan memiliki kekuatan maha dahsyat yang sanggup mengalahkan siapapun.” kata sang Dewi. “Itu kalau kalian menyetujui persyaratanku.”
Tusin mempererat pegangan tangannya, menegaskan dia siap mendampingi Daningrum dimanapun mereka berada.
Dewi Suryakanti tersenyum. Lalu terdengar suara kereta kencana mendekati mereka. Kereta berwarna putih berhiaskan ukiran dan relief emas yang ditarik delapan ekor kuda putih.
“Ikutlah denganku.”
Dewi Suryakanthi masuk ke dalam kereta, diikuti Tusin dan Daningrum. Kereta itu berjalan lagi, menembus dinding gua dan hilang dari penglihatan mata.
***
Pagi baru saja menjelang. Hari masih gelap dan hawa masih terasa dingin. Panembahan Somawangi berjalan hilir mudik di depan kamarnya. Wajahnya begitu gelisah.
“Duduklah Somawangi, dan berdoalah agar anakmu bisa terlahir dengar selamat,” ujar Roro Lawe.
Panembahan menuruti saran dari kakaknya. Di mengambil tempat duduk di belakang Ki Demang Wanasepi dan mulai membaca doa-doa. Memohon kepada para dewata agar isterinya diberikan kemudahan dan kelancaran saat melahirkan anak pertama mereka. Pada saat yang bersama Riyani sedang berjuang mengeluarkan buah hatinya di bantu mbok Dal dan seorang dukun bayi.
Tepat pada saat matahari menampakkan sinarnya, sang jabang bayi akhirnya keluar dari Rahim ibunya.
“Oee!! Oeee!! Oee!!
__ADS_1
Terdengar suara tangis bayi memecahkan suasana gelisah di pagi itu. Panembahan Somawangi, Roro Lawe , Demang Wanasepi dan semua orang tersenyum bahagia. Mereka saling megucapkan syukur dan selamat lahirnya si jabang bayi.
“Selamat Ki Demang Wanasepi atas kelahiran cucunya dan Panembahan Somawangi atas kelahiran puteranya,” kata Acarya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Wajah-wajah mereka begitu bahagia. Apalagi setelah mereka diperbolehkan masuk untuk melihat sang jabang bayi. Semua mata takjub melihatnya. Bayi laki-laki yang gagah dan mempesona. Matanya bulat berbinar, dan rambutnya begitu lebat.
Dan yang lebih mengagumkan, tali pusarnya tidak dapat dipotong dengan senjata apapun. Sang dukun bayi sudah mengunakan pisaunya yang paling tajam, tapi sama sekali tali pusar itu tidak terpotong. Keris milik ki Demang, Samurai milik Karangkobar, pedang milik Panembahan sampai Kuku Pancanaka yang sanggup merobek baja milik Roro Lawe pun tidak mampu memotongnya.
Pada saat mereka sedang kebingungan, tiba-tiba melesat dua cahaya putih, satu dari kalung yang dipakai Panembahan dan satunya dari bawah tumpukan baju Riyani. Keduanya bertumbukan di udara dan bergabung menjadi satu,
“Hai itu kan batu mustika milik kakak Soma, “seru Karangkobar. “Ternyata Riyani memilikinya.”
Setelah bersatu, batu mustika berbentuk lingkaran seprti koin itu berputar cepat diuadara. Kemudian melesat turun dan memotong tali pusar yang jabang bayi, terus melaju menembus kulit perutnya dan masuk ke dalamnya. Seketika tubuh sang jabang bayi berpendar mengeluarkan sinar berarna putih menyilaukan. Beberapa saat kemudian padam.
Panembahan Somawangi bertindak cepat. Tangannya bergerak hendak mencabut batu itu dari tubuh puteranya, tapi malah kekuatan Tirtanala miliknya tersedot ke dalamnya.
Karangkobar yang menoba membantunya juga mengalami hak yang sama. Kekuatan Geni Sawiji dan Anugerah Mata Dewa nya pun ikut tersedot masuk ke dalam batu itu. Sesaat kemudian tubuh keduanya seperti dilemparkan ke belakang.
Brak!
Tubuh keduanya yang tinggi besar terlempar ke dinding kamar. Disaksikan semua mata yang ada di kamar itu. Sementara si Jabang bayi malah tertawa-tawa sambil mencari air susu ibunya.
***
“Aku lupa menanyakan, darimana kau mendapatkan batu mustika itu Somawangi,” tanya Roro Lawe.
“Dari makam ayah saat aku sedang berdoa disana,” sahut Panembahan.
“Aku menemukannya saat tersesat di hutan. Kupu-kupu Daun Syurga yang menunjukkannya kepadaku,” sahut Riyani.
“Rupanya kalian meang dijidohkan oleh para Dewa untuk bersatu,” kata Acarya. “Anakmu akan memiliki kekuatan yang besar kelak.”
Mereka semua terdiam. Namun wajah Roro Lawe nampak khawatir.
“Tapi anakmu tidak boleh menggunakan kekuatan itu sebelum dewasa. Itu sangat berbahaya,” ujarnya.
“Lalu bagaimana mbakyu? Apa yang harus kita lakukan?”
“Aku akan mengaturnya agar kekuatan miliknya dapat digunakan secara bertahap hingga dia bisa berpikir dewasa. Dan kekuatan itu hanya akan muncul setiap seratus tahun sekali, setiap turun tahun kembar.”
“Siapa yang akan mendapatkannya mbakyu?”
“Salah satu keturunan Somawangi yang terpilih diantara keturunan lainnya.”
Roro Lawe membawa jabang bayi itu ke puncak gunung mati. Selama tujuh hari, Bayi itu akan direndam di dalam Sendang Edi Peni untuk menyempurnakan kekuatannya yang luar biasa. Kekuatan yang berasal dari ‘peradaban langit’ yang maha dahsyat yang hanya akan muncul seratus tahun sekali pada tahun kembar.
Dan hanya anak keturunan Panembahan Somawangi yang terpilih lah yang akan memilikinya.
__ADS_1