
EPS 66 GAGAK HITAM PENGINTAI
Tidak mudah menemukan tempat nyaman yang bisa kau singgahi, karena langkah kaki seringkali terjebak dengan basa-basi bukan berdasarkan nurani. Maka jauhilah segala pujian karena dalam situasi genting, hinaan lebih kau butuhkan agar kau kuat menopang beban di hatimu
Pranaja memerintahkan prajurit-prajurit mantan pengikut Dewi Salju untuk berangkat terlebih dahulu, dia akan mengikutinya dari belakang. Dengan mengenakan pakaian kebesaran mereka, penutup kepala bertanduk banteng, serta pakaian dari kulit beruang kutub yang berwarna putih mereka berjalan di dalam kabut.
Dengan menaiki kuda berwarna hitam dan putih, kehadiran mereka betul-betul tersamar. Pantas saja mereka bisa melakukan serangan mendadak yang mematikan tanpa dietahui musuh-musuhnya. Langkah mereka lambat tanpa suara, hanya mengikuti perjalanan kabut. Tak heran orang-orang menjuluki pasukan itu sebagai gerombolan makhluk-makhluk mengerikan dari dalam kabut.
“Kita akan masuk menelusup ke dalam Istana Es. Targetnya adalah menyelamatkan Dewi Salju, setelah itu membebaskan para sandera dari bawah bagunan istana, dan yang terakhir adalah menghancurkan Istana Es bersama dengan penyihir Sarju,” seru Pranaja dengan suara lantang.
Dengan pakaian serba hitam, serta masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya, Pranaja merayap pelan bersama Bon Jovi, kuda putihnya. Menapaki kembali desa-desa yang telah dihancurkan pasukan Dewi Salju kembali menuju Istana Es milik junjungan mereka dahulu, si Penyihir Sarju. Sepanjang jalan, hanya ada mayat-mayat bersebaran dan rumah-rumah penduduk yang terbakar habis. Masih ada titik api yang berkelip di beberapa sudut desa.
“Kita matikan dulu, titik-titik api yang menyala. Dan periksa apakah masih ada korban yang hidup,” ucap Pranaja.
Dengan sigap pasukan yang dibawanya langsung bergerak menuruti perintah junjungannya. Mereka mematikan seluruh sisa api yang masih menyala sebelum menjadi besar kembali. Mereka juga menemukan beberapa orang yang sedang sekarat menunggu ajalnya. Pranaja bergerak cepat. Dengan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan dan menyembuhkan dia berhasil ‘menormalkan’ mereka kembali sehingga dapat hidup dan lepas dari ajal.
“Aku akan berusaha meredam kekuatan Dewi Salju, sementara kalian urus saudara-saudara kalian yang tewas sesuai dengan tradisi dan kepercayaan kalian,” pesan Pranaja.
Para penduduk yang baru disembuhkan oleh Pranaja langsung bersujud dan berjanji akan mematuhi semua perintah sang dewa penolong mereka.
Pranaja dan pasukannya melanjutkan perjalanannya. Di setiap desa yang menjadi korban kekejaman makhluk-makhluk dari dalam kabut, mereka singgah sebentar. Melakukan pertolongan dan membersihkan kembali desa yang telah hancur berantakan itu. Lama-lama dia di kenal diantara penduduk di dataran tinggi Allbush sebagai pendekar Budiman, Chef Rich Dewa Penolong si Segala Tahu.
“Terimakasih tuan Pranaja,” ucapan mereka begitu tulus di tengah linangan air mata melihat rumah-rumah mereka yang telah dihancurkan, rata dengan tanah.
Pranaja hanya tersenyum getir tanpa berkata apa-apa. Bahkan tidak tahu apakah hatinya saat ini sedang sedih atau gembira melihat kesembuhan mereka. Yang jelas dia tahu bahwa mayat-mayat yang berserakan itu akan mendapatkan perlakuan yang layak dari sisa penduduk desa yang telah disembuhkannya.
Yang dia tidak tahu adalah, semua gerak-geriknya tengah diawasi oleh sepasang mata tajam seekor burung gagak hitam milik penyihir Sarju. Sepasang mata penuh kekuatan mistis itu merekam semua gerak-gerik Pranaja dan seluruh anak buahnya, dari pagi hingga malam hari. Menjelang tengah malam barulah si burung gagak kembali ke rumah tuannya, Istana Es dan penyihir Sarju.
***
“Kabar apa yang kau bawa malam ini anakku, kikiki..”
Satu suara menyeramkan terdengar begitu kedua cakar burung gagak itu mencengkeram palang kayu yang tergantung di tengah ruangan. Ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari es itu, terasa begitu dingin dan beku. Namun disudut ruangan, ada tungku perapian yang juga terbuat dari es. Anehnya tidak ada es yang meleleh terkena hawa panasnya.
__ADS_1
Lalu terdengar suara langkah kaki yang diseret-seret mendekati si burung gagak. Nampaknya si pemilik langkah adalah orang yang kakinya lumpuh sebelah.
Sreek…sreek..sreek…
Arrk! Arrk! Arrk!
Si burung gagak langsung mengeluarkan suaranya yang kering seolah menyambut kedatangan tuannya. Seluruh bagian matanya yang berwarna hitam nampak bergerak-gerak, begitu melihat wajah penyihir Sarju.
Berpakaian serba hitam, berjubah hitam dan membawa sebatang tongkat pendek yang diujungnya berhiaskan tengkorak kepala manusia, Sarju mendekati burung kesayangannya itu. Sejenak dia mengamati kedua bola mata gagak hitam yang bergulir secara aneh, seperti bola bumi yang diputar pada porosnya. Setelah itu dia tertawa keras sekali.
“Kikikiki..seperti ular menghampiri tongkat pemukulnya sendiri kikiki….datanglah biar aku gebuk kepalamu sampai remuk kikiki…”
Dewi Salju duduk dengan anggun. Wajahnya yang bening sempurna terlihat begitu dingin dan datar, tanpa ekpresi. Seolah tubuh tanpa jiwa, atau jiwa yang tak sesuai dengan raganya.
“Bangunlah Dewi Salju. Ada berita gembira untukmu,” kata Sarju.
Perlahan kakinya yang lumpuh menaiki undakan demi undakan untuk mencapai singgasana. Dia akan menyampaikan sendiri berita yang dibawa si burung gagak hitam barusan. Dan orang yang dating kali ini bukan orang biasa, karena dia memiliki kekuatan supranatural yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
__ADS_1
“Akan ada tamu yang datang berkunjung Dewi. Kita harus memberikan sambutan yang layak untuknya,” kata Sarju lagi.
Dewi Salju masih terdiam. Wajahnya kaku menatap lurus ke depan, tapi tatapannya kosong. Wajahnya juga kosong tanpa ekspresi apapun. Tanpa reaksi marah, sedih atau gembira mendengar berita yang di sampaikan penyihir jahat itu. Anehnya Sarju terus saja berbicara.
“Manusia inilah yang berhasil menghancurkan pasukan kita di puncak Allbush. Kau benar Dewi kita memang akan menuntut balas kematian anak-anak kita. Agar mereka tahu kekuatan kita yang sebenarnya,” kata Sarju lagi.
Tiba-tiba seorang pengawal minta izin unuk masuk. Sarju menganggukkan kepalanya. Pengawal itu berjalan cepat menghadap Dewi Salju.
“Mohon ampun Dewi ada berita penting yang harus hamba sampaikan,” kata si pengawal sambil menundukkan kepalanya.
Nampak mulut sang Dewi begerak-gerak namun anehnya yang keluar dari mulutnya adalah suara si penyihir Sarju.
“Katakan Pengawal, Berita apa yang ingin kau sampaikan,” sahut Dewi Salju.
“Ada sekelompok prajurit kita yang hilang di Okunumenda tiba-tiba kembali dalam keadaan sehat. Dan mereka minta waktu bertemu dengan Tuanku Dewi,” kata si pengawal.
Dewi Salju tersenyum sinis sambil menganggukkan kepalanya.
“Suruh mereka semua masuk ke ruanganku, Aku akan menyambut kedatangan mereka secara khusus.”
__ADS_1
Kikikikiki….