
PENCURI HATI
Wahai pencuri hati, kau telah hempaskan risauku. Membuang setiap luka yang masih tersisa.
Siang begitu panas. Angin yang berkesiur lembut tak mampu mendinginkan sinar matahari yang terik. Musim kemarau yang begitu panjang membuat semuanya menjadi kering. Debu dan tanah beterbangan di udara, saat tiga ekor kerbau raksasa mengamuk mengejar uteri Ki Demang Wanasepi, Raden Ayu Setyariyaning Ameswari Dyah Pitaloka.
Dalam satu helaan nafas tanduk-tanduk kerbau yang kuat dan tajam itu akan merobek-robek tubuhnya, Orang-orang sudah berteriak-teriak ketakutan. Wajah-wajah mereka begitu cemas puteri kesayangan mereka akan terluka oleh keganasan kerbau-kerbau itu.
“Den Ayuuu! Awaaasss!!” teriak mereka saling bersahutan.
Dalam situasi yang genting. Satu sosok tubuh tiba-tiba melesat ke arah Riyani. Kedua tangannya yang kuat memeluk tubuh gadis itu, lalu kedua kakinya menghentak pada saat yang tepat. Kedua tubuh itu melayang tinggi ke udara, menghindari terjangan kerbau-kerbau mabuk itu.
Malaikat penolong itu memeluk tubuh Riyani begitu erat. Gadis itu bahkan dapat merasakan desah nafasnya menyapu kulit wajahnya. Wajah mereka begitu dekat, hingga hidung mereka yang lancip seperti sudut bintang saling bersentuhan. Begitu jatuh ke tanah, keduanya berguling-guling di atas tanah.
Lalu dengan sigap, pemuda itu mengangkat tubuh Riyani dan mendudukkannya di bawah pohon mahoni yang teduh.
“Tunggulah di sini Den Ayu,” katanya.
Riyani belum sempat berkata apa-apa, ketika pemuda itu bergegas kembali ke jalan. Diambilnya payung berwarna merah yang terlepas dari tangan Riyani, kemudian diputar-putarnya untuk mengalihkan perhatian binatang-binatang bertanduk itu.
Ketiga ekor kerbau yang baru saja menubruk tempat kosong itu kembali memutar balik. Lalu mengalahkan perhatiannya pada sosok pemuda yang memegang payung berwarna merah. Kerbau-kerbau itu mengambil ancang-ancang, lalu mulai berlari cepat menuju sasarannya. Setelah dekat mereka segera menerjang dengan menundukkan kepalanya, mengandalkan tanduk-tanduk mereka yang sangat runcing dan berukir.
“Moo!! Moo!!”
Pemuda itu berdiri tenang. Kedua kakinya dibentangkan. Sedangan kedua tangannya tergenggam kuat di samping tubuhnya. Namun, begitu kerbau itu berada dalam jarak satu depa, tangan kananya diputar ke belakang dari bawah ke atas.
“Pukulan Gajah Godham!”
Tangan kanannya yang diangkat ke atas kemudian di turunkan dengan cepat dan kuat, mengarah tepat keatas kepala kerbau yang paling depan.
Hiyaa!
“Prak!!”
Terdengar seperti suara tulang yang remuk. Kedua kaki depan kerbau raksasa itu melesak ke dalam tanah sedalam satu hasta.
Gerakannya langsung terhenti, darah merah bercampur cairan otak berarna putih mengalir dari lubang telinga, mulut dan hidungnya. Kerbau itu tewas dengan tulang kepala remuk, porak poranda.
Hiyaa!
Tubuh pemuda itu melesat ke udara menghindari terjangan kedua kerbau di belakangnya. Hap! Kedua kakinya mendarat tepat dibelakang kedua kerbau yang berlari beriringan itu. Lalu dipegangnya kedua ekor yang terjuntai dengan kedua tangannya yang kuat. Ditariknya ekor kedua kerbau itu, lalu diayun-ayunkan ke udara. Di putar-putar dengan cepat sebelum dilemparkan ke tanah yang lebih lapang.
Kedua kerbau itu melayang jauh dan jatuh berdebum di atas bebatuan,
Bum!
Mereka tewas dengan tulang belulang remuk tanpa mengeluarkan darah sedikitpun.
“Aaakh!”
Orang-orang berteriak penuh ketegangan. Wajah-wajah mereka nampak bergidik ngeri. Mereka tak menyangka kekuatan pemuda itu luar biasa.
Saat orang-orang tengah berada dalam ketegangan, pemuda itu melihat ada tiga sosok makhluk astral yang keluar dari tubuh kerbau. Mereka melesat meninggalkan tempat itu dengan wajah ketakutan.
Tapi pemuda itu tak membiarkan mereka lolos. Dia mengejar ketiga makhluk astral itu kembali ketempat orang yang menyuruhnya. Ternyata tepatnya cukup jauh dari Wanasepi, bahkan sudah berada di luar batas kadipaten Wirasaba,
Melewati lembah dan pegunungan dan masuk ke dalam gua di kaki bukit Mendelem.
Pemuda itu berdiri tegak di depan gua. Menunggu tuan rumah untuk keluar menyambutnya.
__ADS_1
Benar saja, sesaat kemudian, seorang kakek berpakaian hitam-hitam. Dengan ikat kepala berwarna hijau keluar dari dalam gua. Berjalan keluar dengan tongkatnya yang berbentuk kepala ular. Kedua matanya menatap tajam ke arah si pemuda. Dan siapapun terkesiap melihatnya karena kedua mata kakek itu berwarna putih semua!
Hm, rupanya Ki Panjer, dukun santet dari bukit Mendelem.
“Heh..heh..heh..” suara ketawanya membuat siapapun merinding mendengarnya. “Nyalimu besar juga berani menginjakkan kaki di rumahku, orang tua. Siapa namamu?”
“Aku Somawangi. Panembahan Somawangi.”
“Heh..heh..heh..kau benar. Mungkin orang lain dapat kau tipu, tapi kau tidak dapat menipu pandanganku. Berlagak muda, padahal usiamu sudah tua bangka. Heh..heh..heh..”
Somawangi bersikap waspada, gerak-gerik ki Panjer diawasinya dengan seksama.
“Siapa yang menyuruhmu membunuh puteri Wanasepi?”
Mendengar pertanyaan itu, ki Panjer malah semakin terkekeh.
“Heh..heh..heh..berlagak muda untuk mengejar gadis muda? Pasti ini akal licik Roro Lawe. Heh..heh..heh..”
“Jawab saja pertanyaanku Panjer. Tak pantas mulutmu yang kotor itu menyebut nama kakakku,” sahut Somawangi dengan geram. “Atau aku akan memaksamu.”
Hiyaa!
Ki Panjer mengangkat tongkatnya. Dari ujung tongkatnya yang terukir kepala ular keluar asap berwarna abu-abu tua. Asap itu terus mengepul menghalangi pandangan Somawangi. Namun di tengah asap terpampang gambar orang yang berniat mencelakai Riyani. Setelah itu asapnya menghilang, dan tubuh ki Panjer juga ikut lenyap dari tempat itu.
***
Semilir angin berhembus lembut. Membelai wajah Riyani yang sedang senyum-senyum di bawah pohon Turi. Di ruang sunyi dia duduk sendiri. Tertawa dan bersenandung sambil mengukir wajah seseorang di layar imajinya.
Masih teringat jelas wajah yang datang dalam mimpinya itu, tiba-tiba datang dalam dunia nyata. Dengan gagah berani berjibaku menyelamatkan dirinya. Orang yang lebih memperhatikan keselamatan orang lain ketimbang dirinya sendiri, julukan apa yg pantas buat dirinya? Pahlawan jiwa?
Dari belakang rumah, terdengar sayup kang Tumin sedang meniup serulingnya, Membuat suasana semakin syahdu.
Mbok Dal datang membawa segelas air sarimadu yang diseduh dengan perasan air buah naga. Tentu saja rasanya sangat enak dan menyegarkan.
“Sudah nggak marah-marah lagi Den Ayu?” ujar mbok Dal sambil tersenyum.
__ADS_1
Riyani menoleh seperti terkejut. Ada rona merah jambu yang membias di wajahnya yang bening sempurna. Sejenak sikapnya seperti salah tingkah.
“Ah, simbok sukanya mengganggu orang senang saja,” katanya.
Mbok Dal tersenyum semakin lebar. Melihat Den Ayunya nggak marah-marah lagi, hatinya menjadi lega. Dia lalu duduk di samping junjungannya itu, ikut menikmati angin senja.
Pemuda itu bukan hanya menyelamatkan dirinya tetapi sekaligus mencuri hatinya. Tapi kenapa dia begitu tersembunyi? Siapa dia sebenarnya? Riyani masih tenggelam dalam dunia halunya.
“Eh, mbok kenapa dia ada di pasar. Memang perkebunan sedang libur? Mandor Balun sakit? Atau panen merica sudah selesai?” berondong Riyani.
Mbok Dal jadi gelagepan.
“Aduh yang lagi jatuh cinta, semangat banget,” sahut mbok Dal dengan wajah menggoda.
Lagi-lagi Riyani dibikin salah tingkah.
“Ih, Simbok. Sebel!”
Mbok Dal terkekeh. Setelah tenang baru dia menjelaskan keberadaan pemuda itu.
“Dia sekarang bekerja di rumah juragan Suragenta. Menjadi penggembala kambing dan sapi miliknya.”
Riyani mengernyitkan keningnya.
“Kenapa tidak bekerja di perkebunan lagi mbok?”
Mbok Dal lagi-lagi menepuk jidatnya sambil geleng kepala.
“Kan Den Ayu sendiri yang meminta Mandor Balun untuk memecatnya.”
Hah? Riyani terkesiap kaget. Wajahnya seperti menyesal.
“Aku kan tidak sungguh-sungguh mbok. Kebetulan saja aku lagi kesal.”
Gadis itu langsung bangkit dari duduknya, berjalan ke arah kandang kuda.
“Lho, Den Ayu mau kemana?”
“Mau ke rumah mandor Balun agar dia memanggil kembali pekerja barunya itu.”
“Lho non, jangan pergi! Biar kang Diro saja yang pergi kesana!”
__ADS_1
Mbok Dal sampai berteriak. Namun suaranya tenggelam oleh derap kaki kuda yang berlari cepat meninggalkan Dalem Kademangan.