
Kiran sudah merencanakan sesuatu selama sehari dia berada di desa neneknya. Ia berniat jalan-jalan sebentar, menikmati suasana pedesaan yang damai dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan seperti di kota.
Ia mengingat masa-masa kecilnya dulu di sini. Ia tidak pernah bosan menghabiskan sepanjang libur sekolah di desa ini.
Berlari-lari bersama abangnya, main kelereng di bawah pohon bersama anak-anak desa lainnya. Main perahu-perahuan di selokan yang arusnya cukup deras dan segala permainan masa kecilnya yang tidak akan pernah ia lupakan.
Namun, ada sesuatu yang seketika memunculkan awan tebal di matanya. Peristiwa itu, peristiwa naas di sungai yang merebut nyawa satu-satunya Abang yang ia miliki.
Kiran masih ingat bagaimana setiap detik peristiwa itu, sudah bertahun-tahun lamanya ia menutup kisah kelam itu di dasar hatinya agar tak menimbulkan luka lebih dalam karena kehilangan.
Tapi hari ini, ingatan itu jelas terburai di hadapannya. Seperti slide-slide potongan cerita dalam sebuah film. Tangannya yang menggapai-gapai di sungai karena tak bisa berenang, ia nyaris tenggelam.
Kalau saja abangnya tak menolongnya mungkin ia tak akan berdiri di sini lagi. Di desa yang menyimpan banyak kenangan indah juga luka dihatinya.
Abangnya berusaha meraih tangannya dan membawanya ke tempat yang tidak terlalu dalam. Lalu semua terjadi begitu cepat, tiba-tiba saja arus sungai semakin deras dan abangnya terseret jauh darinya.
Kiran berusaha menggapai tangan abangnya yang timbul tenggelam, namun ia tidak bisa berbuat banyak.
Abangnya ditelan sungai dengan cepat, di pinggir sungai ia menangis meraung-raung. ia berlari sekuat tenaga yang dimilikinya untuk memberi tahu orang tuanya.
__ADS_1
Terlambat. semuanya sudah terlambat, abangnya menghilang hingga dilakukan pencarian menyusur sungai.
Tiga jam kemudian barulah abangnya ditemukan dalam keadaan tubuh lebam dan bengkak. Mungkin karena terbentur dan ia banyak meminum air sungai itu. Ia ditemukan terjepit di akar-akar pohon besar sejauh 500 meter dari tempat mereka berenang sebelumnya.
Ingatan itu jelas mengusik lagi luka lama di hati Kiran. Seketika air mata Kiran meleleh, ia ingat bagaimana dulu abangnya berusaha menolongnya dan menariknya agar bisa selamat. Tapi ternyata ia sendiri yang malah terseret arus sungai.
"Ki..., ada apa? Kamu nangis yah?" tanya Eva.
"Nggak ko Va, ini cuman kelilipan aja kok," jawabnya cepat.
"Ki, sampai kapan sih kamu gak mau berbagi cerita sama aku? Aku kan sahabat kamu, Ki," lanjut Eva yang merasa ada sesuatu yang telah disembunyikan Kiran hingga membuat Kiran menangis seperti itu.
"Dulu, waktu kecil aku sering kesini Va. Aku sama keluarga semua senang berlibur di desa tempat nenek kami tinggal ini. Dan di sungai ini dulu aku sama abangku bermain dan berenang bersama. Saat itu arus sungai memang agak deras tapi kami berdua tetap ingin berenang. Aku sempet hampir tenggelam dan abangku menolongku, tapi ketika menolongku dia malah terseret arus dan akhirnya jauh dan jauh hingga tak kelihatan lagi. Aku menangis di sini, aku memanggil-manggil abangku sampai akhirnya ia di temukan dalam keadaan sudah membiru dan badan yang memar-memar karena benturan. Aku merasa bersalah bangat sama dia Va, gara-gara aku abangku sampai meninggal..." Ceritanya pada Eva dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.
"Iyah, Va," jawab Kiran singkat.
"Oyah, kita pulang yuk nanti nenek kamu nyariin lagi. Tadi kan kita gak sempet pamit sama beliau."
"Iya yah, kok kita bisa lupa gitu."
__ADS_1
Kenangan tentang abangnya masih terasa membekas di hatinya. Dia tidak menyangka bahwa kini abangnya telah benar-benar pergi dan peristiwa beberapa tahun silam itu ternyata menimbulkan rasa rindu yang tak bisa ia bendung terhadap abangnya itu.
Akhirnya sebelum pulang ia memutuskan untuk menjenguk abangnya di pemakaman. Abangnya memang dikuburkan di desa ini, sebab abangnya selalu suka berada di desa ini.
Letak pemakaman itu tak begitu jauh dari rumah neneknya. Ia pun pergi bersama Eva dan juga neneknya. Di sana ia mengucapkan salam pada abangnya sambil berurai air mata.
"Bang, Kiran datang. Maaf yah Kiran baru bisa nengok Abang sekarang. Bukan karena Kiran gan sayang atau gak peduli. Tapi Kiran gak tega setiap kali ngeliat gundukan tanah tempat istirahat Abang yang terakhir. Kiran merasa bersalah bang atas semua yang terjadi.Tapi sekarang Kiran ke sini, Kiran kangen bangat sama Abang. Abang apa kabar? Bang, aku sudah semester lima sekarang. Hebat kan aku bang, aku ambil jurusan sastra bang, persis dengan cita-cita ku yang pengen jadi penulis dan penyair. Oyah bang, Kiran ke sini bersama teman sekaligus sahabat Kiran. Namanya Eva, Eva itu cantik loh bang, Eva juga baik. Dia tinggal bersama nenek sekarang. Bang, Kiran kangen..." ucap Kiran setengah terisak.
"Ki, kamu yang sabar yah."
"Nak, abang kamu pasti sekarang sedang tersenyum karena bangga melihat Kiran sekarang sudah tumbuh dewasa," ujar neneknya.
"Bang, Kiran beneran kangen..."
"Sudah nak Kiran, sebaiknya kita pulang sekarang ini sudah sangat siang nanti kamu keburu gak bisa pulang ke kota.
"Iyah Nek, aku kirim doa dulu yah buat abang."
Suasana pemakaman menjadi sangat hening, Kiran, Eva, dan Neneknya Khusyu dalam doa. Hari ini, Kiran kembali ke kota membawa sekeping ingatan dan kenangan serta kerinduan pada abangnya.
__ADS_1
Semua masih membekas dalam ingatannya bagaimana abangnya berjuang demi dirinya. Perjalanan pulang itu dipenuhi dengan kenangan-kenangan masa kecilnya.
Kenangan itu seperti mata pisau, mengiris di tempat yang tepat. Menyisakan luka sekaligus rindu dan akhirnya apapun yang terkisah tak akan pernah terulang apalagi berubah. Kecuali mengikhlaskan, apalagi?