Tentang Rasa

Tentang Rasa
MY SON?


__ADS_3

" Gue akan memiliki anak lagi, Rik! Anak kedua gue!" ucap Max.


" Jadi benar anak tadi anak lo?" tanya Erik.


" Iya!" jawab Max menganggukkan kepalanya.


" Tokcer juga lo! Sekali semprot, main jadi aja! Bahaya lo! Netta harus pake KB bro atau lo akan punya anak banyak dengan jarak waktu nggak sampai setahun!" kata Erik.


" Biar saja! Gue mau punya banyak anak sama dia!" jawab Max sinis.


" Lo pikir dia kucing, apa!" kata Erik kesal pada sepupunya itu.


" Thanks, Bro! Sorry!" kata Max, kemudian Max memeluk Erik.


" Bonyok, nih, gue! Pasti Vivian ngomel-ngomel!" umpat Erik memegangi wajahnya.


" Ntar gue jelasin ke dia!" kata Max lalu


keluar dari ruangan itu.


Netta mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling ruangan, kok, aku udah dikamar? Apa Max yang membawaku? batin Netta.


Mommy!" sapa Axon yang melihat mata Netta terbuka.


" Boy?" ucap Netta kaget melihat putranya duduk diatas brankar bersama dirinya.


Kenapa Axon ada disini? Max! Apa dia tahu tentang Axon? batin netta khawatir. Dia nggak mau sampai Max marah dan meninggalkannya karena telah berbohong tentang putra mereka.


" Kamu sudah bangun!" kata Diana yang mendengar Axon memanggil Netta.


Netta melihat ke arah Diana, lalu ke sekeliling ruangan, tapi yang dicarinya tidak ada.


" Dia masih bicara dengan dokter!" kata Mike datar.


" Siapa?" tanya Diana.


" Siapa lagi?" jawab Mike kesal.


Tidak berapa lama, Max masuk dengan membawa sebuah buket bunga mawar putih. Pria itu tersenyum dan memberikan bunga itu


" Untukku?" tanya Netta yang menekan tombol agar brankarnya bisa dipakai duduk bersandar.


" Iya! Maaf!" kata Max lembut.


" Kenapa minta maaf?" tanya Netta masih belum mengerti.


Tiba-tiba Max duduk di brankar Netta dan mengambil sebuah kotak bludru merah dari balik jasnya.


" Will you marry me?" tanya Max lembut.


Netta terkejut tidak menyangka jika Max akan melamarnya didepan putra mereka.


" What do you think...Axon?" tanya Max.


" You..."


" Would you happy if you have a father?" tanya Max tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


" Father?" ucap Axon membeo.


" Yes, boy! I am your daddy!" kata Max tegas.


Netta menatap pada kedua laki-laki beda usia dihadapannya itu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


" Dad...dy?" sekali lagi Axon membeo ucapan Max.


Sejenak anak itu menundukkan kepalanya. Hati Max seperti tersayat melihat putra kandungnya menolaknya. Max berdiri dari duduknya dan menatap Netta dengan penuh kesedihan.Netta juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia takut jika putranya akan merasa tidak disayangi lagi olehnya.


" I am sorry! I wish you 2 always happy! Please, forgive me! Maafkan semua kesalahanku dulu!" tutur Max dengan airmata yang menetes di sudut matanya.


Pria itu berjalan menuju pintu setelah melihat putranya yang masih menundukkan kepalanya.


" Sorry, son!" ucap Max lirih.


Max bergerak perlahan menjauhi kedua orang yang sangat dicintainya.


" Daddy!"


Langkah Max terhenti saat tangannya menyentuh gagang pintu. Semua mata menatap pada makhluk kecil diatas brankar.


" Apa daddy akan pergi lagi?" tanya Axon memutar tubuhnya menghadap Max.


Dengan air mata bercucuran, Max memutar tubuhnya dan berlari ke arah Axon.


" No! No! I wont go anywhere anymore!" ucap Max memeluk putranya yang sangat mirip dengannya.


" You promise?" tanya Axon menatap wajah Max.


" Promise! Apalagi mommy akan punya baby!" kata Max.


Airmata Netta yang bercucuran langsung terhenti mendengar ucapan Max. Dia membulatkan matanya tidak percaya.


" A...baby?" tanya Netta.


" Baby?" ucap Axon masih tidak mengerti.


" Yes! Kamu akan memiliki adik!" kata Max lagi.


" You happy?" tanya Max tersenyum.


Max lalu menggendong putranya itu dengan perasaan bahagia. Dia menciumi seluruh wajah Axon dan anak itu tertawa terbahak-bahak karena kegelian. Netta semakin tersedu melihat keluarganya yang saat ini terasa telah lengkap.


" Kamu belum menjawab lamaranku, sayang!" kata Max menatap penuh cinta pada Netta.


" Iya! Tentu saja iya!" jawab Netta bahagia.


Max memakaikan cincin berlian ke jari manis Netta dan mencium mesra Netta sambil menutup mata putranya.


" Gelap, Daddy!" protes Axon.


" Hahaha!" tawa Netta memenuhi ruangan.


" Selamat, Ta!" kata Diana memeluk sahabatnya itu.


" Harus aku akui, kalian memang berjodoh!" kata Mike mengulurkan tangan pada Max dan Max membalas jabat tangannya.


" Trima kasih pada kalian berdua terutama lu Mike! Karena telah menjaga dan melindungi Netta dan anak gue!" kata Max dengan jujur.


" Iya! Mana tega gue ngebiarin mereka!" kata Mike sinis.


Diana melotot pada suaminya yang pasti akan bicara masa lalu.


" Mereka sudah seperti adik dan keponakan bagiku!" kata Mike.


" Apakah sakit Daddy?" tanya Axon menyentuh sudut bibir Max yang lebam dan sedikit sobek.


" Tentu saja tidak, Son! Daddymu ini sangat kuat!" ujar Max tersenyum.

__ADS_1


" Kemarikan wajahmu!" kata Netta. Max sebenernya nggak mau, karena dia tahu jika sesuatu akan terjadi.


" Ini nggak apa-apa, sayang!" kata Max menghindar.


" Kemari aku bilang!" kata Netta.


Max langsung mendekatkan wajahnya pada Netta dan meletakkan Axon di brankar Netta.


" Kenapa terluka seperti ini?" tanya Netta dengan mata membulat.


" Tidak apa-apa, sayang! Hanya luka kecil!" kata Max.


" Boy!" panggil Netta pada putranya. Max melihat ke arah Axon dan memberikan kedipan mata pada putranya itu.


" Axon nggak tahu, mommy!" jawab Axon lalu turun dan pergi pada Ella.


" Dad memukul Daddy Max, Mommy!" kata Ella tanpa rasa bersalah.


Mata Netta membulat menatap Mike yang menutup mulut putrinya.


" Kenapa lu memukul Max, Mike?" tanya Netta menyebar aura hitam disekitar mereka.


Diana yang tahu jika suaminya salah hanya diam saja walau Mike melihat dirinya seakan meminta bantuan.


" Itu! Mikaela hanya bergurau, Ta!" jawab Mike tersenyum kecut.


" Apa kamu meragukan kejujuran putrimu?" tanya Netta membuat Mike terpojok.


" Iya! Aku yang memukulnya! Aku kira dia membuat kamu celaka!" kata Mike akhirnya.


" Kali ini gue akan memaafkan lu!" kata Netta pada Mike, membuat pria itu merasa lega.


Sebulan kemudian eh salah karena Orang tua Max tidak ingin berlama-lama, sehingga mereka mempercepat pernikahan mereka menjadi 2 minggu kemudian.


" Sist!" panggil Ken pada adiknya yang sedang dirias.


" Kak Ken!" ucap Netta tersenyum.


Lalu Netta berdiri dan memeluk kakaknya itu.


" Kakak baru datang?" tanya Netta.


" Iya!" jawab Ken.


" Apa Kak Vina ikut?" tanya Netta.


" Tidak! Dia sedang ada pesanan pakaian untuk pejabat!" kata Ken.


" Nicholas ikut?" tanya Netta.


" Iya! Dia sedang bermain dengan Axon dan Ella!" jawab Ken.


" Aku senang kakak datang!" kata Netta tersenyum.


" Kamu akan jadi pengantin paling cantik di dunia!" kata Ken tersenyum getir.


" Apa kakak ada masalah?" tanya Netta.


" Apakah begitu terlihat?" tanya Ken.


" Aku ingin kakak bahagia bersamaku!" kata Netta tegas.


" Iya! Maafkan kakak yang tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu!" kata Ken.

__ADS_1


" Kakak salah! Kakak adalah kakak yang hebat bagiku sampai kapanpun!" puji Netta.


Mereka berpelukan lagi dan hampir menangis.


__ADS_2