
Terik mentari yang cukup menyengat. Berpadu dengan langit biru yang tampak membentang luas, dengan hiasan awan-awan putih yang menggantung dibeberapa titik. Kairi berdiri di dekat jendela ruangannya, sesekali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kairi kembali menatap gelang jam yang melingkar di tangannya, sudah jam dua siang, namun ia masih enggan untuk meninggalkan kantornya.
Kairi baru saja menyelesaikan rapatnya. Dan hasil rapat itulah yang membuatnya bimbang. Perusahaan Da Vinci mendapatkan penawaran untuk bekerjasama membangun sebuah hotel bintang lima di Pulau Reunion. Pulau Reunion adalah sebuah pulau kecil di Samudra Hindia. Terletak disebelah timur Madagaskar, sekitar 200 Km sebelah barat daya Mauritius. Secara administratif, pulau ini merupakan sebuah departement d'outre-mer Prancis.
Pulau Reunion adalah pulau yang memiliki banyak pegunungan, serta memiliki sejuta destinasi wisata yang sangat mempesona. Salah satu wisata favoritnya adalah gunung berapi aktif yang terletak di pesisir selatan dari pulau ini. Selain itu pulau ini juga memiliki hutan alami yang sangat cantik, serta wisata air yang dapat memanjakan para wisatawan untuk melakukan scuba diving.
Letaknya cukup jauh dari Kota Paris, dan hal itu membuat Kairi merasa bimbang. Istrinya tidak bisa tidur, jika tidak ia temani. Lalu bagaimana jika ditinggal selama dua hari, atau tiga hari.
Kairi kembali mengusap wajahnya. Sebenarnya kerjasama ini sangat menguntungkan, mengingat Pulau Reunion adalah pulau dengan sejuta destinasi wisata. Membangun hotel di sana adalah salah satu bisnis yang sangat menggiurkan. Terlebih lagi, letaknya di dekat pantai, sangat strategis. Namun bagaimana dengan Ella, maukah ia ditinggal?
Dengan langkah gontainya Kairi melangkah keluar dari ruangannya. Ia berjalan menuju parkiran, ia akan mencoba membicarakan hal ini dengan istrinya. Siapa tahu nanti Ella akan mengizinkan. Dia pergi juga tidak akan lama, hanya dua atau tiga hari saja. Ia kesana hanya untuk melihat lokasinya, sekaligus menyusun sketsa desainnya.
Tiba di parkiran, Kairi langsung naik kedalam mobilnya. Ia melaju meninggalkan area kantor, dan bergegas menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan Kairi merasa gelisah, takut jika Ella akan salah paham dengan niatnya.
Sekitar setengah jam kemudian, ia menghentikan mobilnya di halaman apartemen. Lalu ia turun dari mobilnya, dan berjalan menuju lift.
Kairi berhenti di lantai tujuh, ia keluar dan melangkah menuju apartemennya. Kairi membuka pintunya dengan pelan, tidak ada istrinya di ruang tamu, mungkin ia sedang berada di kamar. Kemudian Kairi berjalan menuju kamarnya, dan ternyata benar. Baru saja membuka pintu kamarnya, ia sudah menangkap sosok istrinya yang sedang duduk didepan meja rias.
"Kau sedang apa sayang?" tanya Kairi sambil mendekati Ella, memeluknya sekilas, dan mencium keningnya.
"Aku sedang memoleskan sedikit make up, katanya kau akan mengajakku jalan-jalan." jawab Ella sambil tersenyum.
"Iya, kita akan jalan-jalan." ucap Kairi sambil berusaha tersenyum. Hatinya masih gelisah, masih ragu untuk membicarakan tentang pekerjaannya pada Ella.
"Kau kenapa Kai?" tanya Ella saat melihat Kairi yang hanya diam sambil menggaruk kepalanya.
"Aku tidak apa-apa." jawab Kairi.
"Kau sepertinya sedang gelisah, ada apa? Apa ada masalah di kantor, apa itu karena kemarin kau tidak masuk kerja selama dua hari, aku bersalah ya Kai." ucap Ella sambil menatap Kairi lekat-lekat.
"Tidak, bukan itu. Kau tidak salah Gabriella, ini tidak ada hubungannya dengan kamu." kata Kairi sambil menggenggam kedua tangan Ella.
"Lalu, kau kenapa?"
"Gabriella, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Ini mengenai pekerjaan, aku harap kau tidak salah paham." kata Kairi sambil tetap menggenggam tangan Ella.
"Katakan saja Kai."
"Rekanku menawarkan kerjasama yang cukup menggiurkan. Jika bisnis ini berjalan dengan lancar, kita akan meraup banyak keuntungan." kata Kairi mengawali pembicaraannya.
"Lalu, apa masalahnya? Jika itu menguntungkan, kenapa tidak kau terima?" tanya Ella sambil menatap Kairi.
Kairi menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kerjasamanya adalah membangun hotel di Pulau Reunion, pulau kecil dengan sejuta destinasi wisata. Jika aku menerima kerjasamanya, aku harus ikut meninjau lokasinya, baru menyusun sketsa desainnya. Letak pulau itu cukup jauh dari sini, membutuhkan waktu selama dua atau tiga hari untuk menyelesaikan urusannya. Itu yang membuatku bimbang sayang." ucap Kairi sambil menatap Ella.
"Jika kamu merengek ingin ikut, mau tidak mau aku harus mengajakmu. Tapi jika kau menolak, dan tidak mengizinkan aku pergi. Dengan terpaksa, aku harus membatalkan kerjasama ini." ucap Kairi dalam hatinya.
"Kau mengkhawatirkan aku Kai?" tanya Ella sambil tersenyum.
"Aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian, apa kau ikut bersamaku saja. Sekalian aku akan mengajakmu jalan-jalan di sana, banyak tempat wisata yang sangat mempesona di sana." kata Kairi sambil bernafas lega, ternyata Ella tidak merajuk seperti biasanya.
"Aku di rumah saja, kau kesana untuk urusan kerja kan Kai. Lagipula dokter menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan jauh, takutnya nanti tubuhku akan lemah." ucap Ella sambil tersenyum.
"Aku tidak boleh membuat Kairi dalam kesulitan, aku akan berusaha untuk tidak terlalu manja. Kerjasama ini pasti sangat penting bagi bisnisnya, aku harus memudahkan urusan Kairi, aku tidak boleh menyulitkannya. Selama ini dia sudah menyayangiku, dan mencintaiku dengan setulus hati. Lagipula hanya tiga hari, aku pasti bisa melewatinya sendirian." ucap Ella dalam hatinya.
"Kau mengizinkan aku pergi, dan kau tidak ingin ikut sayang?" tanya Kairi memastikan jawaban Ella. Ia sedikit heran melihat perubahan sikap Ella yang tidak seperti biasanya. Ia bahkan bisa tersenyum, tanpa merajuk, dan tanpa merengek. Ternyata benar, hormon wanita hamil itu sangat mudah berubah-ubah.
"Iya, hanya tiga hari kan." jawab Ella.
__ADS_1
"Iya, dan aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku dengan lebih cepat, setelah itu aku akan segera pulang." kata Kairi sambil memegang kedua bahu Ella.
"Kapan kau berangkat?" tanya Ella.
"Besok pagi sayang, pesawatnya akan terbang pukul 07.00. Kau yakin mengizinkan aku pergi, kau tidak apa-apa aku menerima kerjasama ini?" tanya Kairi, rasanya ia masih ragu untuk meninggalkan istrinya sendirian.
"Aku tidak apa-apa Kai, percayalah aku akan baik-baik saja di rumah. Mungkin terkadang aku memang manja, tapi aku juga berusaha mengerti posisi kamu. Maaf ya jika selama ini sikapku merepotkan kamu." kata Ella sambil menatap Kairi.
"Kau tidak pernah merepotkan sayang, aku tidak keberatan dengan sikap manjamu. Doakan aku, semoga semuanya berjalan lancar, dan aku bisa segera pulang." ucap Kairi sambil menangkup kedua pipi Ella.
"Aku selalu mendoakanmu Kai." jawab Ella sambil menggenggam tangan Kairi yang berada di pipinya.
Kairi mendekatkan wajahnya, dan kemudian ia mencium bibir Ella dengan lembut. Setelah itu ia memeluk Ella dengan erat, seakan ada perasaan gelisah yang mulai menyeruak didalam hatinya. Meninggalkan Ella sendirian, sesungguhnya ia sangat keberatan, takut jika nanti akan terjadi sesuatu padanya. Namun ini ia lakukan, karena tuntutan pekerjaan. Ia melakukan ini juga untuk masa depan mereka.
"Gabriella!"
"Hmmmm."
"Apa lebih baik kau tinggal di rumah saja, di sana pelayannya lebih banyak, keamanannya juga lebih terjamin. Hanya selama aku tidak ada, setelah aku pulang kita akan kembali lagi kesini." ucap Kairi sambil mengusap rambut Ella yang berada dalam pelukannya.
"Tidak usah Kai, aku lebih suka di sini. Ada Bibi yang menemaniku, aku akan baik-baik saja." jawab Ella.
"Kau yakin akan tetap di sini?" tanya Kairi.
"Iya Kai."
"Baiklah, tapi aku akan menyuruh satu pelayan lagi untuk tinggal di sini, dan menemanimu. Dengan begitu, aku akan lebih tenang saat meninggalkan kamu." kata Kairi.
"Iya aku setuju, selama aku tetap di sini, aku tidak akan menentang keputusan kamu." ucap Ella sambil melepaskan pelukannya, ia menatap Kairi sambil tersenyum.
"Kau sangat menyukai tempat ini Gabriella."
"Kau sangat menggemaskan." kata Kairi sambil mengusap pipi Ella.
"Bersiaplah Kai, katanya kau akan mengajakku jalan-jalan." ucap Ella.
"Aku masih betah menatap wajahmu sayang." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Jangan aneh-aneh Kai. Kita akan jalan-jalan, bukan ke atas ranjang." kata Ella dengan kesal.
"Fikiranmu terlalu jauh sayang." sahut Kairi sambil tertawa, lalu ia beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Ella menatap kepergian Kairi sambil menghela nafas panjang.
"Meski ini berat, tapi aku harus mengizinkan kamu pergi. Ini demi pekerjaan, dan juga demi masa depan." ucap Ella dengan pelan.
***
Senja sudah berlalu. Sang surya tak lagi menampakkan cahaya jingganya. Sang malam mulai menyapa, bersama ribuan bintang, dan bulan separuh yang menggantung di angkasa raya. Lampu-lampu kota berpendar dengan indahnya, meyorotkan sinarnya ditengah kegelapan malam. Ella dan Kairi sedang duduk bersama disebuah kursi panjang, di bawah Menara Eiffel.
Ella berdecak kagum saat menatap menara itu, menara besi yang menjulang tinggi dengan cahayanya yang amat mempesona. Berpijak di kota impiannya, bersama seseorang yang sangat dicintainya, adalah sebuah anugerah yang sangat indah, dan sangat berharga dalam hidupnya.
"Sayang, cepatlah makan, tidak enak jika sudah dingin!" kata Kairi sambil menatap Ella.
Ella mengangguk sambil tersenyum, lalu ia menggigit crepes coklat yang sedang digenggamnya. Hari ini Kairi benar-benar memanjakannya, ia diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Entah berapa banyak baju, dan gaun yang ia beli. Bahkan Kairi juga mengajaknya membeli perlengkapan bayi, meskipun ia belum tahu jenis kelaminnya apa, namun Kairi ngotot untuk membelinya.
Setelah belanja, Kairi mengajaknya makan di restoran khas Prancis. Kairi memesan Ratatouille, dan Soupe a L'oignon sup, makanan khas Prancis yang cukup populer. Ratatouille adalah makanan dengan bahan utama berupa sayur-sayuran, dipanggang dengan bumbu yang diracik khas Prancis. Sedangkan Soupe a L'oignon adalah sup dengan kuah kental yang dibuat dengan kaldu sapi. Rasanya manis, dan gurih.
Keluar dari restoran, Kairi mengajaknya pergi ke toko roti. Kairi membeli beberapa buah Croissant, dan Baguette, yang kemudian dibungkus, dan dibawa pulang. Lalu Kairi mengajaknya pergi ke taman, dibawah menara. Namun sebelum itu ia berhenti saat melihat pedagang crepes yang sedang berjualan di pinggir jalan. Crepes adalah camilan khas Prancis yang sangat disukai Kairi, mereka membelinya, dan menikmatinya dibawah menara.
__ADS_1
"Kai!" panggil Ella sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kairi.
"Ada apa?" tanya Kairi sambil mengusap lengan Ella.
"Apa yang sedang kau fikirkan sekarang?" Ella balik bertanya.
"Tidak ada, aku terlalu bahagia saat bersamamu, hingga aku tidak bisa memikirkan hal lainnya." jawab Kairi.
"Kau merayuku Kai."
"Tidak, aku bicara apa adanya. Memang seperti itulah yang aku rasakan, saat ini tidak ada hal apapun yang aku fikirkan. Karena kau sudah berada di sampingku." kata Kairi sambil merangkul Ella dengan erat.
"Aku sedang memikirkan masa lalu Kai, setiap kali aku menatap menara itu, aku selalu teringat kala kau melamarku. Aku tidak menyangka, kisah cintaku akan berawal dari kota impianku." ucap Ella sambil tangannya merangkul pinggang Kairi.
"Sejak bertemu denganmu di bandara, aku menduga kau menyukai tempat ini. Itu sebabnya aku menyatakan cintaku di sini. Kau masih ingatkan dengan pertemuan kita di bandara waktu itu?" tanya Kairi.
"Tentu saja ingat, kau adalah orang paling tampan yang pernah aku temui. Jadi mana mungkin aku akan lupa." jawab Ella sambil tertawa.
"Kau selalu seperti itu Gabriella, hanya memuji ketampananku saja, tidak pernah memuji hatiku, atau kepribadianku." kata Kairi pura-pura merajuk.
"Karena katampananmu mencapai batas maksimal Kai, sedangkan hatimu biasa saja." ucap Ella dengan tawa yang lebih keras.
"Oh ternyata begitu ya." kata Kairi seraya tangannya menggelitik pinggang Ella.
Ella berteriak sambil berusaha beranjak dari duduknya. Namun Kairi menahannya, dan terus menggelitiknya.
"Kai geli Kai, lepaskan aku!" teriak Ella.
"Berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi." kata Kairi.
"Aku janji Kai, tapi lepaskan aku sekarang juga!" teriak Ella. Dan tak lama kemudian Kairi melepaskan tubuhnya.
"Kau kebiasaan Kai!" kata Ella dengan bibir yang manyun.
"Kau juga kebiasaan. Duduklah, jangan berdiri manyun seperti itu!" ucap Kairi sambil terkekeh.
Lalu Ella kembali duduk di sebelah Kairi, ia mencubit lengan Kairi dengan cukup keras. Dan Kairi menanggapinya hanya dengan kekehan.
"Aku selalu nyaman setiap kali bersandar di bahumu Kai." kata Ella sambil menyandarkan kembali kepalanya.
"Kau harus selalu merasa nyaman sayang. Baik saat bersamaku, dan bersandar di bahuku, atau disaat kau sedang sendiri, dan aku tidak ada disampingmu." jawab Kairi.
"Kenapa kau bebicara seperti itu, kau punya niatan untuk meninggalkan aku?"
"Tidak, kau jangan salah paham. Aku hanya bicara tentang kenyataan. Di dunia ini tidak ada yang abadi, semua yang pernah ada akan hilang, jika sudah tiba pada batas waktunya. Meski kita selalu berusaha untuk bersama, tapi bila masanya telah tiba. Kau akan meninggalkan aku, atau aku yang akan meninggalkan kamu." ucap Kairi sambil memainkan rambut Ella dengan jemarinya.
Ella terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tempat yang paling utama untuk bersandar adalah Allah, Tuhan dari seluruh alam. Karena hanya Allah yang tetap abadi, dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Mungkin perpisahan itu pahit, dan kehilangan itu sakit. Tapi selama kita menyandarkan hidup kita kepada Tuhan, kita pasti bisa melewati takdir kita. Seberat apapun cobaan yang Allah berikan, kita pasti bisa melewatinya, selama kita yakin akan kebesaran-Nya." sambung Kairi.
Ella mengangkat kepalanya, ia menoleh, menatap Kairi yang sedang tersenyum padanya. Suasana seperti ini mengingatkannya pada saat di London. Kairi juga mengatakan hal semacam ini sewaktu mereka duduk bersama di tepi danau. Yang dikatakan Kairi sebenarnya adalah hal nyata, namun selalu saja membuat hati Ella gelisah.
"Kai!"
"Hmmm."
"Jika kau meninggalkanku terlebih dahulu, aku berjanji tidak akan pernah menikah lagi. Kau ada ataupun tiada, suamiku tetaplah kau selamanya. Kau sudah bertahta didalam hatiku Kai, kau tidak akan pernah terganti." ucap Ella sambil menggenggam tangan Kairi dengan erat.
"Aku juga demikian sayang. Kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Lebih baik aku hidup sendiri, daripada hidup bersama dengan wanita lain. Aku tidak akan sanggup menodai ikatan cinta kita." jawab Kairi sambil merangkul Ella, dan mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
****Bersambung****.........