Tentang Rasa

Tentang Rasa
Luka Dan Kecewa


__ADS_3

"Apakah semua ini benar Mama?" tanya Andra dengan suara yang sangat pelan, namun masih bisa didengar oleh Bu Mirna maupun Pak Louis.


"Maafkan Mama Andra, maafkan Mama." jawab Bu Mirna sambil menangis.


Andra menghembuskan nafasnya dengan kasar, kata maaf yang diucapkan Ibunya sudah cukup membuatnya paham, kalau semua ini memanglah benar.


Andra beranjak dari duduknya, tanpa berkata apapun dia langsung melangkah pergi meninggalkan keluarganya.


"Andra! Jangan pergi Andra!" teriak Bu Mirna memanggil Andra, namun Andra tak peduli, ia terus melangkahkan kakinya dan keluar dari rumahnya.


"Andra!" teriak Bu Mirna dengan tangisan yang lebih keras.


"Mirna tenanglah, Andra hanya butuh waktu untuk menerima semua ini." kata Pak Louis mencoba menenangkan Bu Mirna.


"Kenapa kamu melakukan semua ini Mas, Andra pasti sangat sedih." ucap Bu Mirna sambil menutup wajahnya.


"Dia berhak tahu siapa Ayah kandungnya, agar dia juga bisa menyayangi Ayahnya Mirna." kata Pak Louis.


"Kau tidak tahu apa-apa Mas, Adit itu sudah meninggal satu bulan yang lalu. Kebenaran yang kau katakan ini pasti membuat Andra sangat terluka." ucap Bu Mirna.


"Apa!" teriak Pak Louis dengan kaget.


"Ayahnya sudah meninggal, kasihan juga dia." batin Kairi dalam hatinya.


"Mirna maafkan aku, aku tidak tahu jika Adit sudah meninggal." kata Pak Louis sambil mencoba meraih tangan Bu Mirna.


"Tidak perlu meminta maaf, Andra sudah terlanjur tahu. Maaf kamu tidak akan merubah keadaan. Dari dulu sampai sekarang kamu memang tidak berubah Mas, tetap egois!" teriak Bu Mirna sambil beranjak dari duduknya.


"Maafkan aku Mirna, aku tahu aku salah." ucap Pak Louis terus meminta maaf.


"Aku tidak butuh maaf kamu. Karena itu tidak bisa mengubah keadaan, hidupku sudah terlanjur hancur gara-gara kamu Mas." bentak Bu Mirna sambil melangkah meninggalkan Pak Louis.


Namun baru beberapa langkah Bu Mirna berjalan, tiba-tiba beliau kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.


Untungnya Kairi dengan sigap menopang tubuh Ibunya, Kairi tersenyum saat Ibunya menatapnya.


"Aku bantu Ma." ucap Kairi. Dan Bu Mirna menjawabnya dengan anggukan.


Kairi membimbing langkah Ibunya hingga ke kamarnya, lalu Kairi membantu Ibunya berbaring di ranjang. Meskipun hatinya tersayat sakit, namun ia tahu jika Ibunya saat itu juga dalam posisi yang sulit. Kairi memang lelaki yang bisa berfikir dewasa, segala hal ia pandang dari segi positifnya.


"Mama istirahatlah, aku keluar dulu." ucap Kairi sambil melangkahkan kakinya.


"Kairi!" panggil Bu Mirna.


Kairi menoleh, dan menatap Ibunya yang saat itu sedang memandangnya. Kairi kembali melangkah mendekati Ibunya, ia duduk ditepi ranjang, disamping Ibunya.


"Ada apa Ma?" tanya Kairi.


"Maafkan Mama, maafkan kesalahan Mama. Mama tahu ini sangat berat untuk kamu, Mama benar-benar minta maaf Kairi." ucap Bu Mirna sambil bangkit dari tidurnya. Beliau memeluk Kairi sambil menangis tersedu-sedu.


Kairi membalas pelukan Ibunya, pelukan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.


"Kamu boleh marah sama Mama, kamu boleh memaki Mama. Semua itu pantas Mama dapatkan, karena Mama adalah ibu yang tidak berguna Kairi." kata Bu Mirna disela-sela isakannya.


Kairi memejamkan matanya, mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Sekian tahun lamanya ia merindukan pelukan dan kasih sayang dari Ibunya. Dan hari ini, dia mendapatkan pelukan itu, namun hari ini juga ia tahu kenyataan pahit tentang masa lalunya.


Hati Kairi terasa sangat sesak, ia juga merasa sakit dan kecewa. Sesungguhnya ia ingin sekali meluapkan emosinya, tetapi tidak, akal sehatnya yang menahan dirinya untuk melakukan semua itu. Saat ini hati Ibunya sedang hancur, ia tidak boleh menambah beban fikiran padanya. Ingin marah pada Ayahnya juga tidak mungkin, meskipun Ayahnya nyata bersalah, namun selama ini beliaulah yang berjasa atas hidupnya.


Dan Kairi hanya bisa memendam kesedihan dan kekecewaannya sendirian.


"Aku memang sakit mendengar kebenaran ini, tapi ada yang jauh lebih sakit daripada aku. Andra, dia pasti sangat terluka, saat tahu jika dirinya bukanlah anak Papa, dan terlebih lagi ayah kandungnya sudah tiada, dia pasti sangat hancur saat ini." batin Kairi dalam hatinya.


"Aku tidak marah Ma, aku mengerti dengan kesulitan Mama saat itu." kata Kairi sambil mengeratkan pelukannya.


"Selama ini aku sudah membenci kamu, tapi kamu bisa tumbuh menjadi lelaki yang sangat bijaksana. Aku semakin merasa tidak berguna Kairi." batin Bu Mirna dalam hatinya.


"Maafkan Mama Kairi!" ucap Bu Mirna sambil terus menangis. Bahkan air matanya kini sudah membasahi bahu Kairi.


"Mama jangan terus meminta maaf, juga jangan terus menangis. Aku tidak tega melihat Mama seperti ini." kata Kairi dengan lembut.


"Apakah kamu tidak membenci Mama, selama ini Mama sudah memperlakukan kamu dengan buruk." ucap Bu Mirna.


"Mama adalah Ibuku, mana mungkin aku membenci Mama. Bagiku Mama tetaplah yang terbaik. Sekarang Mama jangan menangis lagi ya, kita lupakan saja apa yang telah lalu. Sekarang kita perbaiki hubungan kita, kita mulai semuanya dari awal Ma." kata Kairi sambil melepaskan pelukannya. Kairi mengusap air mata Ibunya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Maafkan Mama Kairi!" ucap Bu Mirna sambil menggenggam tangan Kairi.


"Ma jangan terus meminta maaf. Berjanjilah untuk tidak menangis lagi Ma." kata Kairi menenangkan Ibunya yang masih saja menangis.


"Semoga kedepannya, hubungan keluarga ini bisa terus membaik. Aku bahagia akhirnya Mama bisa menyayangiku." ucap Kairi dalam hatinya.


Setelah Ibunya sudah berhenti menangis, Kairi membantunya berbaring di ranjang, dan menyelimutinya. Kairi tetap duduk disamping Ibunya, ia menemani Ibunya yang sudah hampir terlelap.


Kairi merogoh saku celananya, dan mengambil ponselnya, ia menghubungi seseorang.


"Hallo." sapa seseorang diseberang sana saat sambungan telefon sudah terhubung.


"Hallo sayang, sedang apa sekarang?" tanya Kairi.


"Lagi rebahan Kai, baru saja ikut Mas Gilang mengantarkan pesanan." jawab Ella.


"Mau aku temani?" goda Kairi.


"Jangan mulai deh Kai." jawab Ella.


"Mulai apa?" tanya Kairi.


"Mesum!" bentak Ella yang langsung saja membuat Kairi tertawa keras.


"Jangan tertawa, tidak ada yang lucu." kata Ella dengan kesal.


"Aku tertawa bukan hanya karena lucu, tapi juga karena sekarang aku sedang bahagia." ucap Kairi dengan serius.


"Bahagia kenapa?" tanya Ella.


"Kamu tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang?" Kairi balik bertanya.


"Tentu saja tidak Kai, kau di sana dan aku di sini, mana mungkin aku bisa tahu." jawab Ella.


"Coba tebak." kata Kairi sambil terkekeh.


"Mmm apa ya, mencari referensi tempat buat foto prewed mungkin." ucap Ella sambil tertawa.


"Iya sudah tidak sabar untuk menjadi Nyonya Da Vinci. Punya banyak bawahan, juga punya banyak harta, hmmm senangnya." kata Ella sambil tertawa semakin keras.


"Sayang jangan menggodaku ya." ucap Kairi dengan pelan.


"Kenapa? Kamu juga sering menggodaku, tidak adil kalau aku tidak boleh menggodamu." jawab Ella.


"Kalau jauh begini berani ya, awas saja nanti kalau sudah bertemu. Aku cium sampai menangis kamu sayang." kata Kairi.


"Jangan macam-macam ya, berani menciumku, jangan harap bisa menikahiku!" ucap Ella dengan nada ketusnya.


"Oh ya, tapi aku takut kamu akan menangis tiga hari tiga malam kalau kita gagal menikah sayang." kata Kairi sambil tertawa.


"Kamu yang menangis bukan aku!" ucap Ella.


"Menangis bersama biar adil. Sayang kamu tahu tidak, hubunganku dengan Mama sekarang membaik, sangat membaik." kata Kairi sambil menatap Ibunya yang sudah damai dalam mimpinya.


"Kamu serius Kai?" tanya Ella.


"Iya, itu sebabnya aku sangat bahagia sayang." jawab Kairi.


"Aku senang mendengarnya Kai, tapi kenapa bisa tiba-tiba membaik, kamu melakukan apa Kai?" tanya Ella.


"Ada sedikit kesalah pahaman dimasa lalu, dan kita sudah meluruskannya. Jadi sekarang hubungan kita sudah membaik." jawab Kairi.


"Kau cukup tahu tentang bahagiaku saja Gabriella, tanpa perlu kau tahu tentang lukaku. Luka ini cukup aku sendiri yang tahu, aku tidak ingin kau bersedih karena memikrkan lukaku." batin Kairi sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu Kai, aku benar-benar senang mendengarnya. Semoga dengan ini, rencana kita bisa berjalan dengan lancar." ucap Ella.


"Entah apa alasannya tiba-tiba sikap Tante Mirna menjadi baik, aku yakin itu tidak sesederhana yang Kairi ucapkan. Aku harap semua ini bisa berakibat baik pada hubunganku dan Kairi, karena mengingat Andra kemarin. Ahh semoga saja dia sudah menyerah." batin Ella sambil menghela nafas panjang.


"Aamiin, aku juga berharap begitu sayang." kata Kairi.


"Kai!" panggil Ella.


"Hmmm." gumam Kairi, namun hingga beberapa detik lamanya tidak ada jawaban dari Ella.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Kairi.


"Tidak jadi " jawab Ella.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kalau rindu katakan saja, jangan dipendam." goda Kairi.


"Tidak, aku tidak merindukanmu." kata Ella dengan cepat. Namun pipinya mulai merona, Kairi selalu tahu apa yang sedang difikirkannya.


"Maaf ya hari ini aku belum bisa menemuimu, tapi besok aku akan berkunjung ke rumahmu, kau bisa melepaskan rasa rindumu padaku." ucap Kairi.


"Aku tidak merindukanmu Kai!" teriak Ella.


"Aku mengerti, aku yang merindukanmu, dan aku yang ingin menemuimu." kata Kairi sambil tersenyum. Wanitanya ini benar-benar pemalu.


"Kai!" panggil Ella.


"Apa?"


"Kau benar." ucap Ella dengan pelan.


"Apanya yang benar?" tanya Kairi.


"Jangan banyak bertanya, yang penting kau benar." jawab Ella dengan cepat. Dan sontak saja Kairi langsung tertawa mendengar jawaban Ella.


Dan tak berapa lama kemudian, mereka memutuskan sambungan telefonnya.


***


Andra Dwi Anggara.


Ia melajukan mobilnya, dan meninggalkan rumahnya dengan membawa luka yang teramat dalam. Ia kecewa atas takdir hidupnya yang sangatlah pahit menurutnya. Andra melajukan mobilnya menuju TPU kota Surabaya, ia ingin mengunjungi Ayahnya yang sudah terbaring dibawah batu nisan. Andra terus menambah kecepatannya, ia tak peduli dengan banyaknya kendaraan yang kelabakan saat berpapasan dengannya.


Tak berapa lama kemudian, Andra sudah sampai ditempat tujuannya. Ia segera turun dari mobilnya, dan bergegas melangkah menuju pemakaman Ayahnya. Andra bersimpuh sambil memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Aditya Ramlan. Andra tak bisa lagi membendung air matanya, yang sejak tadi sudah menggenang di sana.


"Ayah, kenapa Ayah tidak pernah mengatakan kebenaran ini padaku. Aku terluka Ayah, aku tahu semua ini saat Ayah sudah tiada. Aku belum sempat membahagiakan Ayah, aku belum sempat meminta maaf pada Ayah." ucap Andra sambil menangis. Air matanya berjatuhan membasahi gundukan tanah yang ada didepannya.


Andra terus menangis sambil menggenggam bunga mawar yang masih bertaburan diatas tanah, bunga mawar yang sudah mulai mengering dan menghitam. Hatinya terasa sangat sesak kala mengingat tentang dulu. Andra sering memerintah Pak Adit, dan terkadang juga sering membentaknya. Menyuruhnya melakukan ini itu, dan jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, Andra juga tidak segan-segan untuk memarahinya.


Bayangan-bayangan tentang masa itu terus berkelebat dalam ingatannya. Membuat hatinya semakin sakit dan sesak. Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan Pak Adit dengan tidak baik, padahal sebenarnya orang itu adalah Ayah kandungnya.


"Maafkan aku Ayah, maafkan aku." ucap Andra sambil menjatuhkan kepalanya pada gundukan tanah, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi Ayahnya.


Terik mentari kini tak terlihat lagi, tertutup oleh awan hitam yang menggantung di angkasa. Sesekali suara guntur terdengar menggelegar memekakkan telinga. Suasana yang tadi cerah, kini berubah menjadi kelam, seolah alam juga ikut bersedih atas luka yang Andra rasakan.


Andra tak bergeming sedikitpun, ia tetap menangis diatas kuburan Ayahnya, ia tak peduli dengan hujan ataupun badai yang akan datang menerpa kota.


Yang ia tahu hanyalah rasa sakit, dan rasa penyesalan yang begitu menyiksa batinnya. Kenyataan jika dia hanyalah anak haram, juga kenyataan jika Ayahnya sudah tiada, membuat Andra kehilangan semangat untuk menjalani kehidupannya.


Rintik-rintik air mulai berjatuhan, semakin lama semakin deras. Guntur juga terus menggelegar semakin keras. Andra masih tidak bergeming, ia tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah basah kuyub, karena guyuran air hujan.


Andra tetap menangis, membiarkan air matanya larut bersama air hujan. Saat ini tidak ada yang bisa membuatnya semangat. Dalam hatinya ia sangat kecewa dengan Ibunya. Andai saja Ibunya bisa jujur sejak awal, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Ia akan menyayangi Pak Adit, dan menghormatinya, serta memperlakukannya dengan baik.


Tapi tidak, Ibunya sama sekali tidak pernah menyinggung hal ini. Hingga selama ini yang selalu dia rindukan adalah Pak Louis, seorang lelaki yang ternyata hanyalah orang lain bagi Andra.


"Kenapa Mama tidak pernah jujur padaku, kenapa Mama tidak pernah mengatakannya padaku!" teriak Andra seorang diri. Suara kerasnya tenggelam ditengah hujan yang turun begitu deras.


Disaat Andra sedang larut dalam kesedihannya, tiba-tiba hujan tak lagi menerpanya. Andra mengernyit heran, hujan masih turun dengan deras, namun kenapa ia tidak merasakannya. Mungkinkah Ayahnya sudah menjemputnya, dan kini ia sudah berada dialam baka?


Andra mendongak, dan ternyata diatas kepalanya ada payung hitam yang melindunginya dari hujan, siapa gerangan?


Siapa yang datang, dan masih peduli padanya?


"Andra!" panggil orang itu dengan suara yang cukup pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Andra.


"Suara itu, benarkah itu dia?


Benarkah dia peduli padaku?" batin Andra dalam hatinya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2