
"Ndra, kamu kenapa?" tanya Riky saat menatap Andra hanya menunduk sambil terdiam.
"Aku tidak apa-apa." jawab Andra.
"Bagaimana hubunganmu dengan Nadhira?" Riky kembali bertanya.
Dan belum sempat Andra menjawab, tiba-tiba seorang wanita cantik datang menghampiri mereka. Riky terkejut saat melihat wanita itu mulai mendekati Andra.
"Andra." panggil Suci sambil memegang bahu Andra.
"Bukankah dia wanita yang waktu itu mengaku hamil anaknya Andra. Kenapa dia ada di sini? Kelihatannya hubungannya dengan Andra kembali dekat, sebenarnya apa yang telah terjadi." ucap Riky dalam hatinya.
"Suci, kamu cantik sekali malam ini." ucap Andra sambil tersenyum. Bukan hanya untuk menyenangkan Suci, tapi malam ini Suci memang terlihat cantik dengan balutan gaun merahnya. Walaupun kecantikannya memang tidak melebihi Ella.
"Dari dulu kamu tidak berubah, pandai merayu." cibir Suci sambil menyelipkan rambutnya dibelakang telinga, saat itu rambutnya hanya digerai begitu saja.
"Ndra, dia..." kata Riky sambil menatap Andra.
"Iya dia Suci, kamu pernah bertemu dengannya dulu." jawab Andra dengan cepat.
Riky menatap Suci sambil tersenyum kaku. Lalu ia mengulurkan tangannya.
"Riky." kata Riky memperkenalkan dirinya.
"Suci." jawab Suci sambil menyalami tangan Riky.
"Oh ya Ndra, kenalkan ini sepupuku, namanya Varrel. Dulu dia teman kuliahnya Ella di London." kata Riky sambil menatap Andra.
"Varrel." ucap Varrel sambil mengulurkan tangannya.
"Andra." jawab Andra sambil tersenyum.
"Jadi benar dia adalah Andra, sahabatnya Ella. Dia tampan, dan tidak terlihat seperti lelaki buruk. Pantas saja Ella pernah mencintainya cukup lama." batin Varrel sambil menatap Andra dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
Tak lama kemudian Ella, dan Kairi berjalan menuruni anak tangga. Mereka menatap semua tamu undangan sambil tersenyum lebar. Ella dan Kairi berjalan menghampiri Andra yang sedang berbincang dengan temannya.
"Riky, Varrel!" panggil Ella sambil mendekati mereka.
"Hai El, kamu terlihat sangat can..." Riky tidak melanjutkan ucapannya. Nyalinya seketika langsung menciut saat melihat Kairi yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Dia temanku Kai." sahut Andra sambil menepuk bahu Kairi, ia tahu jika Kairi sedang cemburu.
"Aku tidak peduli." jawab Kairi dengan asal.
"Tuan Da Vinci selamat ya, saya turut berbahagia dengan pernikahan ini. Terima kasih sudah berkenan mengundang saya dalam acara ini." kata Varrel sambil tersenyum.
"Terima kasih, saya senang Anda sudi hadir dalam acara ini." jawab Kairi sambil membalas senyuman Varrel.
"Callista dimana Rel?" tanya Ella, ia celingukan kesana kemari namun tidak menemukan sosok sahabatnya.
"Dia sedang sakit El. Maaf ya dia tidak bisa hadir dihari bahagia kamu, dia hanya menitipkan salam untukmu." jawab Varrel.
"Tidak apa-apa, sakit apa dia?" tanya Ella.
"Mual dan pusing, badannya lemas." jawab Varrel.
"Dia hamil?"
"Sepertinya begitu." jawab Varrel sambil tersenyum.
"Wah senangnya, nanti aku akan menelfonnya." ucap Ella sambil tersenyum.
"Ella!" panggil seorang wanita yang sejak tadi ikut berdiri diantara mereka.
Ella menoleh, ia menatap Suci cukup lama. Wanita itu, dulu pernah membuatnya terluka, pernah membuat Ella kehilangan semangatnya. Tapi, sebesar apapun luka yang Ella rasa, tak sebanding dengan luka yang dirasakan oleh Suci. Andra terlalu kejam memperlakukan wanita itu.
"Mbak...mmm..." Ella sedikit kesulitan saat menyapa Suci, karena umur wanita itu setahun lebih tua darinya. Namun ia sekarang berpasangan dengan Andra, yang notabennya adalah adik iparnya.
"Panggil Suci saja." ucap Suci sambil tersenyum.
"Baiklah, terima kasih ya Suci, kamu sudah mau datang ke acaraku." kata Ella.
"Aku senang bisa hadir di sini." jawab Suci.
Dan tak lama kemudian, acara sudah dimulai. Pak Louis, Bu Mirna, Kairi, dan Ella, mereka naik ke atas panggung. Memberikan beberapa sambutan untuk mengisi acara malam ini. Sementara itu, Andra membawa Suci ke lantai atas.
Andra mengajak Suci menuju ruangan terbuka di lantai dua. Mereka duduk di kursi sambil menatap bintang yang bertabur di angkasa. Andra menyalakan lilin kecil yang diletakkan diatas meja. Lalu ia menata makanan, dan minuman yang tadi sempat ia bawa dari lantai bawah. Suci tersenyum, ia merasa suasana ini seperti dinner romantis.
"Kau kenapa mengajakku kesini Ndra, acaranya kan di lantai bawah?" tanya Suci sambil menatap Andra yang sudah duduk dihadapannya.
"Aku tidak terlalu suka acara seperti itu, berisik. Aku lebih suka suasana yang sunyi." jawab Andra.
__ADS_1
"Aku ingin berdua dengan kamu, aku ingin belajar mencintai kamu. Dan, aku juga tidak nyaman berada di sana. Menatap Ella, dan Kairi bahagia dengan pernikahannya, hatiku terasa sedikit sesak." ucap Andra dalam hatinya.
"Suci!" panggil Andra sambil menggenggam tangan Suci yang berada diatas meja.
"I...iya Ndra." jawab Suci dengan gugup, hatinya berdebar-debar saat Andra menggenggam tangannya dengan hangat.
"Mulai sekarang aku berjanji akan selalu ada buat kamu. Jika kau sedang ada masalah, atau sedang dalam kesulitan, cerita saja padaku. Aku bahagia, jika kau mau berbagi bebanmu denganku." ucap Andra sambil menatap Suci.
"Apa maksud ucapanmu ini Ndra, kau seolah-olah menginginkan aku, tapi kau tak menyatakan cinta padaku." batin Suci.
"Jangan seperti ini, sikapmu akan membuatku salau paham Ndra." jawab Suci sambil menunduk.
"Jika salah paham itu membuatmu nyaman, kenapa tidak. Silakan saja salah paham, kau tidak akan kecewa." kata Andra sambil tersenyum.
"Aku tidak mengerti dengan maksudmu Ndra." ucap Suci sambil mengangkat wajahnya. Ia menatap lelaki yang sejak dulu selalu saja berhasil meluluhkan hatinya.
"Kali ini aku tidak akan mengecewakan kamu lagi Suci." jawab Andra dengan serius.
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku yang sekarang tidak seperti aku yang dulu. Yang dengan mudahnya mengucapkan kata cinta, meski aku sendiri sebenarnya masih ragu. Sekarang aku kesulitan menyatakan kata itu, karena perasaanku masih untuk wanita lain." batin Andra sambil menghela nafas panjang.
"Entah ucapanmu benar atau tidak, tapi aku selalu saja percaya padamu Ndra." kata Suci sambil tersenyum.
"Sekarang perasaanku menjadi lebih nyaman Ndra, dan keinginanku untuk sembuh kian menggebu." batin Suci dalam hatinya.
"Aku tidak akan menodai kepercayaanmu." jawab Andra sambil melepaskan tangan Suci.
"Ayo makan!" ajak Andra sambil menuangkan minuman kedalam gelas, lalu ia meletakkannya dihadapan Suci.
"Terima kasih." ucap Suci sambil tersenyum.
Andra membalas senyuman Suci, dan mereka mulai menyuap makanannya.
"Ndra!" panggil Suci.
"Hmmm." gumam Andra.
"Dulu kufikir kau menyukai Ella. Melihat hubungan kalian yang begitu dekat, rasanya mustahil jika itu sekedar persahabatan, tanpa melibatkan perasaan." ucap Suci sambil mengunyah makanannya.
"Aku ingin tahu, seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan Ella." batin Suci.
Andra tertegun sejenak, ia tidak langsung menjawab ucapan Suci.
"Suci juga menganggap kalau aku mencintai Ella. Ternyata dari dulu memang hanya aku yang bodoh, aku bahkan tidak dapat menyadari perasaanku sendiri." batin Andra sambil menunduk.
"Ndra!" panggil Suci.
"Lalu Nadhira?" tanya Suci dengan hati-hati. Ia tahu Andra sempat menjalin hubungan dengan Nadhira sampai hampir tunangan, namun tiba-tiba sekarang Nadhira akan menikah dengan Vino. Kisah percintaan yang cukup sulit untuk difahami.
"Semakin kesini kita semakin tidak cocok. Dan Vino, dia mencintai Nadhira, jadi mereka menjalin hubungan sekarang." jawab Andra.
"Oh begitu."
"Iya."
"Ndra!"
"Hmmm."
"Bulan depan aku akan ke luar negeri." ucap Suci sambil menatap Andra, ia ingin tahu bagaimana reaksi lelaki itu, saat tahu bahwa dirinya akan pergi.
"Untuk apa? Apakah lama?" tanya Andra dengan cepat.
"Ada sedikit pekerjaan yang harus kulakukan untuk membantu Papa. Kira-kira ya, sekitar satu tahun." jawab Suci.
"Maaf Ndra, soal ini aku tidak bisa jujur. Aku takut kau akan kembali meninggalkan aku. Maaf aku sedikit egois, tapi semua itu aku lakukan, karena aku sangat mencintai kamu." ucap Suci dalam hatinya.
"Jika itu memang harus kamu lakukan, lakukanlah! Aku berharap apapun yang menjadi tujuanmu segera tercapai, agar kau bisa secepatnya pulang. Suci, aku menunggumu!" kata Andra sambil menatap Suci lekat-lekat.
Jantung Suci mulai berdetak dengan cepat, seakan ada sesuatu yang menyiram hatinya, sesuatu yang segar dan membuatnya merasa lebih nyaman. Menunggu, Andra akan menunggunya? Perasaannya sekan melayang dengan bebas, kala mendengar Andra mengucapkan kalimat itu.
"Aku akan berjuang keras untuk sembuh, aku akan kembali padamu. Kuharap kau tidak mengecewakan aku Ndra." batin Suci sambil tersenyum.
"Apa menunggu yang kau maksud, sama seperti yang aku fikirkan Ndra?" tanya Suci.
"Iya." jawab Andra sambil mengangguk.
"Apakah yang kau rasakan, juga sama dengan yang aku rasakan Ndra?" Suci kembali bertanya.
"Aku sedang berusaha untuk menyamakannya. Mungkin aku memang butuh waktu, tapi tidak lama, dan hasilnya tidak akan membuatmu kecewa." jawab Andra dengan tegas.
"Aku senang mendengarnya." jawab Suci sambil menunduk. Ia menyembunyikan wajahnya yang mulai merona.
__ADS_1
Sementara itu di lantai bawah. Acara masih berlangsung dengan lancar. Beberapa tamu masih setia mendengarkan beberapa sambutan, sambil menyantap makanan yang telah dihidangkan. Dan diantara banyaknya tamu, ada Riky dan Vino yang sedang berbincang disudut ruangan. Saat Nadhira dan Varrel sedang bergabung dengan tamu yang lain, Riky memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara dengan Vino.
"Vin, apa yang terjadi dengan Andra?" tanya Riky.
"Tidak terjadi apa-apa padanya." jawab Vino dengan asal.
"Vin kita ini teman, aku juga ingin tahu apa terjadi pada Andra. Kenapa dia tiba-tiba punya kakak, dan kenapa Ella bisa menjadi kakak iparnya. Terus kenapa kau tiba-tiba berencana menikah dengan Nadhira, dan Andra kenapa dia kembali dengan Suci?" tanya Riky dengan cepat.
"Kau tidak berubah ya Rik, tetap cerewet!" sindir Vino sambil menengguk minumannya.
"Aku serius Vin." ucap Riky.
"Ceritanya sangat panjang Rik, yang jelas Kairi itu memang kakaknya, hanya saja dulu dia ikut ayahnya yang tinggal di Perancis. Soal Ella, aku juga tidak tahu kenapa mereka bisa berjodoh." kata Vino.
"Kenapa mereka tidak mirip?"
"Mana kutahu, membuatnya dengan gaya yang berbeda mungkin." jawab Vino sambil tersenyum miring.
"Lalu Nadhira, Suci?" tanya Riky.
"Andra dan Nadhira putus saat mereka sudah hampir tunangan, dan aku mencintainya, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku menikahinya. Mereka berpisah lebih dulu, jadi bukan aku yang merusak hubungan mereka. Kalau Suci, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa kembali dengan Andra." jawab Vino.
"Kenapa Andra dan Nadhira putus?" tanya Riky.
"Kau cerewet!"
"Aku ingin tahu Vin."
"Andra mencintai wanita lain, dan wanita itu adalah Ella. Tapi Ella lebih mencintai Kairi." jawab Vino.
"Hah! Kamu serius Vin!" teriak Riky.
"Jangan berteriak, kamu mau Andra mendengarnya." kata Vino sambil melotot.
"Kaget aku Vin, tapi aku tidak takut kalau yang mendengar Andra, asal bukan Kairi, ihh seram sekali. Kamu tahu, waktu dipernikahnnya Varrel gigiku hampir dirontokin sama dia." ucap Riky.
"Kok bisa?"
"Karena aku memeluk Ella."
"Salah kamu sendiri pacar orang dipeluk-peluk." ucap Vino sambil terkekeh.
"Kita kan teman Vin, terus bagaimana cerita selanjutnya? Aku dengar dari Varrel, Ella itu sangat mencintai Andra dulu." kata Riky.
"Varrel tahu darimana?" tanya Vino.
"Dari Ella sendiri. Kamu tahu, dulu Varrel itu sudah lebih dari lima kali ditolak sama Ella, dan itu karena Ella mencintai Andra." jawab Riky.
"Andra memang bodoh." ucap Vino dengan santainya.
***
Detik waktu terus bergulir menjadi menit, jam, dan juga hari. Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dua minggu sudah berlalu sejak berlangsungnya pesta pernikahan Ella, dan Kairi pada malam itu. Dan semalam, mereka sekeluarga hadir diacara pernikahannya Nadhira, dan Vino.
Pagi ini, Ella dan Kairi sedang mengemasi barang-barangnya. Nanti sore mereka akan terbang ke Paris. Mereka akan menjalani kehidupannya di sana, sambil mengurus bisnis yang dulu dalam kendali Ayahnya. Sedangkan Pak Louis, beliau akan menetap di Indonesia, beliau akan membantu pekerjaannya Bu Mirna. Dan Andra, dia akan dibimbing oleh Pak Louis, sebelum nanti ia akan dipercaya mengurus bisnisnya yang berada di London. Bisnis yang dahulu dipercayakan pada Kairi.
"Kai!" panggil Ella.
"Hmmm." gumam Kairi sambil memasukkan bajunya kedalam koper.
"Nanti di sana, kita tinggal di apartemen saja ya." ucap Ella.
"Kenapa di apartemen? Di rumah lebih nyaman sayang, tempatnya lebih luas. Renovasinya sudah selesai, itu hasil desain kita berdua pada waktu itu lho." kata Kairi.
"Tapi aku lebih suka di apartemen, karena dekat dengan menara Kai. Setiap saat bisa menatap menara, hanya dengan menyibakkan tirai kamar saja, itu sangat menyenangkan Kai." ucap Ella sambil tersenyum.
"Hanya karena itu, apa perlu kita membeli rumah baru saja, yang dekat dengan menara." kata Kairi.
"Jangan Kai, di apartemen itu saja suduh cukup kok." jawab Ella.
"Apartemen itu sempit sayang, jika rumah itu lebih luas." kata Kairi.
"Ya sudah, kalau begitu tinggallah di rumahmu, biarkan aku tinggal sendiri di apartemenmu. Katanya dulu akan mengajakku bulan madu di kamarmu, kau bohong!" gerutu Ella dengan kesal.
Kairi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menatap istrinya yang sedang cemberut. Akhir-akhir ini Ella sering sekali merajuk, hanya karena masalah yang sepele. Entah apa yang terjadi padanya.
"Baiklah, kita nanti akan tinggal di apartemen." ucap Kairi mengalah, sambil mengusap rambut Ella dengan lembut. Ia menatap istrinya yang sedang menunduk.
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu sayang, aku tidak punya maksud apa-apa. Jika kau memang lebih senang tinggal di apartemen, baiklah kita akan tinggal di sana. Tapi dengan satu syarat, tersenyumlah! Jangan cemberut seperti ini." sambung Kairi sambil memeluk Ella, dan mencium puncak kepalanya.
Dalam dekapan Kairi, Ella menyunggingkan senyum di bibir ranumnya. Entah kenapa akhir-akhir dia ingin sekali dimanja. Tak terkecuali pagi ini, ia ingin sekali bersandar di dada Kairi. Tapi jika langsung memintanya, Kairi pasti akan mengajaknya berakhir di ranjang. Namun lain halnya, jika diawali dengan merajuk, Kairi akan memeluknya dengan lembut, dan hangat, tanpa mengajaknya melakukan yang macam-macam. Ella semakin melebarkan senyumannya, saat Kairi mendekapnya semakin erat.
__ADS_1
"Kau benar-benar sempurna Kai, aku sangat bahagia bisa memilikimu." ucap Ella dalam hatinya.
Bersambung......