
" Mbok, jangan bercanda!" kata Netta yang tidak percaya dengan ucapan Murni.
" Saya bicara sebenarnya, Nyonya! Mana berani saya bohong!" jawab Murni.
" Mbok...serius?" tanya Netta dengan mata membulat.
" Iya, Nyonya!" jawab Murni dibarengi anggukan kepalanya.
" Tuan Max pindah kesini sekitar 4 tahun yang lalu, Nyonya Muda!" kata Maman yang datang dari arah depan. Netta menatap Maman dengan dalam, dia mencari kebenaran dimata pria tengah baya itu.
" Tapi..."
Netta tidak menyelesaikan ucapannya, dia pergi keruang tamu untuk mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Dicarinya nama mamanya lalu ditekannya nomor tersebut.
" Halo, ma!"
" Ya, sayang?"
" Kenapa mama nggak cerita semua tentang Max? Kenapa hanya sebagian saja?
" Apa kamu sudah tahu?"
" Tahu apa?"
" Kalo dia tidak menikahi Vina?"
" Jadi itu benar?"
" Iya! Setelah kejadian di hari ulang tahun perusahaan, yang mama dengar Max memang menyembunyikan Vina tapi kemudian melepaskannya! Dia mencarimu seperti orang gila, Sayang!"
(Netta terduduk disofa)
" Dia...?"
__ADS_1
" Iya, sayang! Dia melawan semua orang dan bersujud meminta restu pada mama, papa juga kakakmu!"
" Apa? Ber...su...jud?"
" Iya! Dia memohon-mohon agar hubungannya dengan kamu kami restui, tapi papa sama kakakmu sangat marah dengan apa yang telah dia lakukan padamu dan keluarga kita!"
" Max...melakukan...itu?"
" Iya! Apa kamu akan memaafkan dia, sayang?"
" Aku akan menelpon mama lagi!"
Netta mematikan panggilannya, dia meletakkan ponselnya di meja dengan perasaan bercampur aduk. Tanpa bisa ditahan lagi, airmatanya jatuh begitu saja di kedua pipinya.
Sementara itu Max membersihkan tubuhnya dibawah siraman air hangat shower. Dia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun yang banyak. Dia tidak mau bertemu dengan Netta dalam keadaan seperti tadi. Setelah mandi cukup lama, dia memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Dia terkejut saat keluar dari kamar mandi dan melihat Netta duduk di sofa kamarnya. Glekkk! Netta menelan salivanya melihat tubuh kekar Max yang menurutnya selalu bisa memancing gairahnya, meskipun tubuh itu tidak sebesar dulu.
Max menatap Netta sejenak lalu masuk dalam walk in closetnya dan memakai pakaian sementara Netta masuk ke dalam kamar mandi. Netta terkejut saat berada di dalam, karena disana telah tertata rapi semua peralatan mandi dengan merk yang biasa dipakainya. Max! batin Netta. Hatinya terasa nyeri mengingat semua sikap buruknya pada pria itu.
Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Max berjalan kearah pintu dan membukanya. Terlihat Murni sedang tersenyum sambil membawa nampan.
" Letakkan di meja!" kata Max.
Murni masuk dan meletakkan nampan dan isinya di atas meja.
" Trima kasih, Mbok!" jawab Max.
" Sama-sama, Tuan Muda! Permisi!" kata Murni lalu pergi meninggalkan Max yang menutup pintu kamarnya. Hampir satu jam Netta berada di kamar mandi, sedangkan Max berdiri di pintu balkon sambil merokok dengan air hujan sesekali menerpa wajahnya. Netta keluar dengan memakai sebuah handuk saja lalu masuk ke dalam walk in closet milik Max. Dia terkejut saat melihat banyaknya pakaian wanita yang ada disana. Dia meraih sebuah lingerie dan memakainya. Dengan pelan dia keluar dan melihat Max yang asyik berdiri dipintu balkon dengan tangan masih memegang rokok.
" Apa kamu tidak merasa dingin?" tanya Netta memeluk Max dari belakang.
Deg..deg..deg...deg...deg!!!!
Jantung Max berdetak sangat cepat merasakan ada 2 benda kenyal yang menekan punggungnya.
__ADS_1
" Kenapa kamu minum-minum?" tanya Netta yang masih memeluk pinggang Max.
" Suka saja!" jawab Max datar.
Max kesal jika mengingat kedekatan Netta dengan Dewa.
" Kamu kenapa?" tanya Netta lagi.
" Pergilah! Dokter Dewa pasti sudah menunggumu!" kata Max melepas pelukan Netta setelah mematikan rokoknya.
Dia berjalan ke ranjangnya dan berbaring disana. Netta tahu, jika Max pasti menganggapnya sebagai wanita gampangan karena kejadian di kantor. Max menutup matanya, dia tidak menghiraukan Netta bahkan dia tidak memandang Netta sama sekali. Jangan sebut gue Arnetta kalo hanya Max saja gue nggak bisa menaklukan. Netta melepaskan outernya lalu mendekati ranjang dan merangkak ke atas tubuh Max. Max merasakan tubuh Netta merangkak diatasnya. Deg! Dia menelan salivanya saat merasakan 2 benda asing menempel menyusuri tubuhnya. Max berusaha menahan hasratnya sekuat tenaga. Kelemahan Max yang terbesar hanya ada pada Netta, bukan wanita lain. Dia tidak akan pernah tertarik pada tubuh wanita manapun atanpa terkecuali. Netta menyentuh dada Max yang dibalut kaos slim berwarna putih. Max menahan ******* yang hampir keluar dari bibirnya. Karena Max tidak bereaksi, Netta mengusap dada itu dan menyentuh benda kecil disana. Kembali Max menahan desahannya sekuat tenaga. Dia menggigit bibirnya dan Netta bisa melihat itu. Perlahan Netta menurunkan tangannya ke perut, mengusapnya lembut perut sixpack itu dan dengan sangat pelan dia lebih turun lagi ke bawah. Shiittttt! Kalau dia terus turun aku nggak akan bisa menahan lagi. Netta tidak menyadari jantung Max yang berdetak seperti lonceng gereja karena suara hujan yang turun dengan kerasnya. Saat Max masih juga tidak bereaksi, Netta menurunkan tangannya tapi segera ditangkap oleh Max yang membuka matanya.
" Apa mamumu?" tanya Max dengan suara serak. Dia menahan ketidak mampuannya menolak seorang Arnetta.
" Aku mau kamu!" bisik Netta terang-terangan.
Max mendorong pelan Netta dan bengun dari ranjangnya.
" Kita bukan suami-istri!" kata Max yang berdiri dan keluar dari kamarnya.
Netta yang merasa jika Max kecewa padanya mengejar pria itu walau hanya memakai lingerie saja. Max bergegas turun menuju ke dapur untuk meminta Murni membuatkannya kopi sebelum masuk ke ruang kerjanya, tapi Murni tidak ada. Dia membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral untuk melepaskan dahaga akibat sentuhan Netta yang membuat sesuatu di tubuhnya menggeliat setelah sekian lama tertidur. Netta juga bergegas turun untuk menyusul Max untuk menyelesaikan semuanya. Dilihatnya pria yang dicintainya itu sedang minum di depan lemari es. Max membuang botol minuman itu ke tempat sampah setelah menghabiskannya. Dia memutar tubuhnya untuk pergi ke ruang kerjanya. Betapa terkejutnya Max saat dilihatnya Netta turun dengan memakai lingerie seksi di tubuhnya. Glekkk! Max kembali menelan salivanya lagi, dia segera sadar jika dirumah itu dia tidak sendiri. Dengan cepat ditariknya Netta ke ruang kerjanya sebelum Maman melihat.
" Auchhh, Max! Sakit!" teriak Netta saat Max mencekal tangannya dan menariknya.
" Apa kamu sengaja ingin memamerkan tubuhmu?" teriak Max marah sambil menuju ke ruang kerjanya.
" Apa? Mema..."
Netta melihat dirinya di kaca yang ada dipintu ruang kerja Max saat smereka sudah masuk ke dalamnya. Dia lupa jika dia sedang memakai lingerie.
" Aku..." Netta meneteskan airmatanya sambil menatap pria itu saat mengingat jika Max berteriak padanya. Max yang tadinya sangat marah, merasa menyesal karena berteriak hingga menyebabkan wanitanya menangis.
" Ku mohon, Arnetta, pergilah! Bukankah kamu sedang dengan Dr. Dewa?" kata Max yang memutar tubuhnya, membelakangi Netta.
__ADS_1
" Aku bukan mainan, Arnetta! Aku juga memiliki hati! Aku bukan patung!" kata Max merana.