Tentang Rasa

Tentang Rasa
Andra Dan Kesendiriannya


__ADS_3

"Dugaanku benar, Andra mencintai Gabriella. Sekarang apa yang harus aku lakukan." batin Kairi sambil mengusap wajahnya.


"Kairi!" panggil Bu Mirna sambil mendekati Kairi.


Kairi menoleh, menatap Ibunya yang sudah berdiri disebelahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ibunya dengan suara yang pelan.


"Aku baik-baik saja Ma, aku tidak apa-apa." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Satu hal yang Mama harapkan darimu, pertahankan Ella. Kalian saling mencintai, jangan sampai hatimu goyah, karena perasaan Andra. Yang Ella cintai kamu Kairi, bukan Andra." kata Bu Mirna sambil menatap Kairi.


"Ella adalah wanita yang baik, aku rasa memang Kairi yang lebih pantas mendapatkan dia. Mengingat masa lalu Andra, ahh semua itu memang salahku, aku yang sudah menghancurkan masa depan anakku." batin Bu Mirna sambil menggigit bibirnya.


"Aku mengerti Ma." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Tapi entahlah Ma, aku juga tidak bisa berjanji. Gabriella pernah mencintai Andra, dan sekarang Andra yang mencintai Gabriella. Takutnya masih ada sedikit perasaan yang Gabriella simpan untuk Andra." ucap Kairi dalam hatinya.


"Ayo sekarang turun, kita sarapan bersama!" ajak Bu Mirna.


"Iya Ma." jawab Kairi sambil mengikuti langkah Bu Mirna.


Mereka berdua turun ke lantai bawah, dan menuju ke meja makan. Bik Surti sudah menyiapkan makanannya diatas meja.


"Bik!" panggil Bu Mirna saat Bik Surti hendak melangkah ke dapur.


"Iya Nyonya." jawab Bik Surti sambil melangkah mendekati Bu Mirna.


"Tadi Bik Surti melihat Andra?" tanya Bu Mirna.


"Iya Nyonya, Tuan Andra keluar membawa mobilnya." jawab Bik Surti.


"Oh ya sudah, terima kasih Bik." kata Bu Mirna sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dari dulu Andra tidak pernah berubah, selalu saja mengedepankan emosinya setiap kali ada masalah.


"Iya Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Bik Surti sambil melangkah pergi.


"Makanlah Kairi!" kata Bu Mirna sambil tersenyum.


"Iya Ma."


***


Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Kairi sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia dalam perjalanan menuju ke rumah Ella. Sepanjang jalan hatinya terus saja gelisah, mengingat ucapan Andra tadi pagi yang menyatakan tentang perasaannya.


"Semoga perasaan Gabriella untuk Andra sudah benar-benar tiada, dan semoga Andra juga bisa menerima semua ini." ucap Kairi sambil menatap jalanan yang ada didepannya.


Belokan demi belokan Kairi lalui, hingga tak lama kemudian ia sudah sampai didepan rumah Ella. Kairi turun dari mobilnya, dan menyapa Bu Halimah yang sedang berada di toko. Mereka berbincang sebentar, Kairi meminta maaf karena belum bisa membawa Ayahnya kesini. Kairi menjelaskan bahwa hubungan orang tuanya masih belum membaik, jadi Kairi meminta sedikit waktu untuk mengajak mereka datang ke rumah ini.


Bu Halimah mengangguk sambil tersenyum, beliau mengerti dengan apa yang Kairi sampaikan.


Setelah selesai berbincang dengan Bu Halimah, Kairi masuk kedalam rumah Ella, dan menemui kekasihnya yang sedang berada di taman belakang rumahnya.


"Sangat cantik." ucap Kairi sambil mendekati Ella yang sedang memetik bunga mawar, dan meletakkannya kedalam vas.


"Aku memang cantik." jawab Ella sambil menunduk, pipinya mulai merona kala mendengar pujian yang keluar dari mulut Kairi.


"Bunganya sayang, bukan kamu." kata Kairi menggoda Ella.


Ella tidak menjawab, ia hanya menatap Kairi sambil melotot tajam.


"Katanya rindu, kenapa aku tidak disambut dengan pelukan?" goda Kairi sambil berdiri dibelakang Ella.


"Aku tidak rindu, kamu saja yang terlalu percaya diri." kata Ella dengan cepat.


"Benarkah?" ucap Kairi sambil memeluk Ella dari belakang dengan sangat erat. Ia mengecup puncak kepala Ella cukup lama, seolah ia takut jika suatu saat nanti tak bisa lagi mengecup puncak kepala itu.


"Jantungku berdetak dengan cepat sayang, apa kau juga merasakannya?" bisik Kairi tepat di telinga Ella.


Tubuh Ella mulai gemetaran, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Kairi berbisik begitu dekat dengan telinganya, hingga ia bisa merasakan hangatnya nafas Kairi yang serasa masuk kedalam telinganya. Dan lagi kepalanya menempel begitu erat dengan dada Kairi, hingga ia bisa dengan jelas merasakan detak jantung Kairi.


"Kai, jangan seperti ini." ucap Ella sambil menggenggam tangan Kairi yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa?" tanya Kairi masih dengan bisikan.


"Ini terlalu dekat." jawab Ella.


"Sebentar saja, aku sangat merindukan kamu Gabriella." ucap Kairi.


"Tapi Kai..." kata Ella.


"Aku hanya memelukmu, tidak akan melakukan yang macam-macam. Izinkan aku memelukmu lebih lama, selagi kau masih ada disampingku." ucap Kairi.


"Apa maksudmu Kai?" tanya Ella sambil mengernyit heran, entah kenapa ucapan Kairi membuat hatinya merasa tidak nyaman.


"Tidak ada. Aku hanya ingin kau diam, dan membiarkan aku memelukmu." jawab Kairi.


Ella terdiam, sepertinya ada sesuatu yang Kairi sembunyikan darinya, tetapi apa?


"Kai!" panggil Ella.


"Hmmm." gumam Kairi.


"Kau sedang ada masalah?" tanya Ella.

__ADS_1


"Tidak." jawab Kairi.


"Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku Kai. Katakan saja jika memang kau punya beban." kata Ella.


"Tidak ada Gabriella. Aku hanya terlalu mencintaimu, hingga setiap saat aku selalu takut kehilangan kamu." ucap Kairi sambil melepaskan pelukannya.


Ia membalikkan tubuh Ella, dan kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Aku tidak akan pergi darimu, jadi kau tidak akan kehilangan aku." kata Ella sambil tersenyum.


Kairi tak menjawab, ia hanya menatap Ella sambil membalas senyumannya.


"Gabriella!" panggil Kairi setelah beberapa detik kemudian.


"Ada apa?" tanya Ella.


"Bolehkah aku memintanya, sedikit saja." kata Kairi sambil menyentuh bibir Ella.


"Tapi Kai." ucap Ella sambil memundurkan langkahnya.


"Tidak apa-apa jika kau tidak bisa, aku mengerti sayang, maafkan aku." kata Kairi sambil tersenyum.


Ella tampak kebingungan, entah harus mengizinkannya atau tidak.


"Kai!" panggil Ella sambil menyentuh lengan Kairi.


Kairi menoleh, dan menatap Ella dengan lembut.


"Iya." ucap Ella sambil mengangguk.


"Kau serius?" tanya Kairi.


"Iya." jawab Ella sambil mengangguk. Jantungnya berdetak dengan cepat, saat Kairi tersenyum dan mulai meraih pinggangnya.


Kairi membawa tubuh Ella kedalam pelukannya, lalu ia menempelkan bibirnya di bibir Ella, sangat singkat, hanya seperti sentuhan saja. Kemudian Kairi menarik tengkuk Ella dan mendekapnya di dada.


"Sudah sayang." ucap Kairi.


"Sudah, hanya seperti itu saja." batin Ella didalam hatinya.


Ia menenggelamkan wajahnya di dada Kairi, menghirup aroma mint yang menguar dari tubuh kekasihnya. Ella memejamkan matanya, saat tangan Kairi mengusap kepalanya dengan lembut. Seindah inikah cinta?


Beberapa detik kemudian, Kairi melepaskan pelukannya. Lalu mereka duduk disebuah kursi panjang yang berada di taman itu.


"Aku buatkan minum dulu ya." kata Ella sambil beranjak dari duduknya.


"Tidak usah, di sini saja dan temani aku." ucap Kairi sambil menahan tangan Ella.


"Sebentar saja Kai." kata Ella.


"Kau hari ini kenapa Kai?" tanya Ella sambil kembali duduk disebelah Kairi.


"Aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?" Kairi balik bertanya.


"Terlalu manja." jawab Ella dengan cepat.


"Tapi kau suka kan?" goda Kairi sambil merangkul Ella bahu Ella.


"Tidak!" jawab Ella sambil tersenyum, dan menyandarkan kepalanya di bahu Kairi.


"Apa kita sedang melepas rindu Kai." ucap Ella setelah beberapa detik kemudian.


"Tidak." jawab Kairi.


"Lalu?" tanya Ella sambil mendongak, menatap rahang Kairi yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Kita sedang berpelukan, jika melepas rindu bukan hanya seperti ini sayang." jawab Kairi sambil tersenyum miring.


"Diam!" kata Ella dengan cepat. Ia melepaskan pelukan Kairi, dan menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kau kesal sayang?" goda Kairi.


"Tidak lucu Kai." jawab Ella.


"Baiklah, terserah apa katamu. Tapi jangan dilepas, tetaplah begini." kata Kairi sambil kembali merangkul Ella, dan menyandarkan kepala Ella di bahunya.


"Selagi aku masih bisa, aku ingin selalu memelukmu." ucap Kairi dengan pelan, namun Ella masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa maksudmu Kai, dari tadi kau bicara seperti itu terus, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ella dengan jantung yang berdetak cepat.


"Mungkinkah Kairi tahu, jika Andra mencintaiku. Tapi apa masalahnya, bukankah aku sudah menolaknya." batin Ella didalam hatinya.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dihari esok. Aku sangat mencintaimu, itu sebabnya aku sering merasa takut, takut jika suatu saat kita tidak bisa seperti ini lagi." jawab Kairi sambil mengecup puncak kepala Ella.


"Bayangan tentang foto kamu, dan bayangan tentang ucapan Andra sangat mengganggu hatiku Gabriella. Kau dan Andra adalah orang yang kusayangi, aku tidak ingin diantara kalian ada yang terluka, karena kalian sama-sama pernah menyimpan rasa. Bukannya aku mengharapkan perpisahan, hanya saja aku harus menyiapkan diri, jika suatu saat kita memang harus berpisah." batin Kairi dalam hatinya.


"Kau jangan bicara macam-macam Kai, kita akan terus seperti ini. Kau mencintaiku, dan aku juga mencintaimu, jadi kita akan menjaga hubungan kita. Sesulit apapun jalan yang nanti akan menguji kita, kita akan melewatinya bersama, dan kita pasti akan bisa. Percayalah padaku, aku selalu ada disamping kamu, aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu." kata Ella dengan serius. Ia harus menegaskan bahwa perasaannya memang hanya untuk Kairi.


"Aku mengerti." jawab Kairi dengan singkat.


"Semoga hatimu, dan ucapanmu selalu sama." batin Kairi dalam hatinya.


"Kai!" panggil Ella.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Kairi sambil mengusap-usap bahu Ella.


"Kapan kau membawa Om Luis kesini, kau bilang setelah kita sampai di Indonesia, kau akan segera menikahiku." kata Ella.


"Sekarang hubungan Mama dan Papa masih belum membaik, beri aku waktu satu minggu, aku akan datang membawa orang tuaku kesini." ucap Kairi.


"Satu minggu ya, tidak boleh lebih." kata Ella.


"Iya." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Mungkin dengan mempercepat pernikahan, itu akan lebih baik pada hubungan kita. Aku tidak ingin Kairi terus merasa ragu padaku." batin Ella sambil menghela nafas panjang.


"Aku bahagia melihat keseriusanmu Gabriella. Jika memang perasaanmu hanya untukku, dan tidak ada sisa untuk Andra. Aku tidak akan gelisah lagi, aku akan mempertahankan kamu, dan tidak akan melepaskan kamu." batin Kairi sambil tersenyum.


Lalu Ella melepaskan dirinya dari pelukan Kairi, ia menatap kekasihnya sambil tersenyum.


"Ayo bantu aku!" kata Ella.


"Kemana?" tanya Kairi sambil mengernyit heran.


"Sebenarnya aku tadi mau menanam ini." jawab Ella sambil menunjuk benih bunga yang berada dibawah kursi.


"Ditanam dimana?" tanya Kairi.


"Sebelah sana, masih kosong kan." jawab Ella sambil menunjuk ke sudut taman.


"Baiklah, ayo!" kata Kairi sambil beranjak dari duduknya.


Ella tersenyum, lalu ia membawa benih bunganya ke sudut taman. Ia berjongkok disebelah Kairi yang sedang membuat lubang.


"Bunga ini akan tumbuh menjadi bunga yang paling indah." ucap Ella sambil memasukkan benih bunganya kedalam lubang.


"Kenapa begitu?" tanya Kairi.


"Karena ditanam dengan cinta." jawab Ella sambil tertawa.


"Apa kau sedang menggodaku sayang?" tanya Kairi sambil menaikkan alisnya.


"Tidak." jawab Ella sambil tetap tertawa.


"Tapi aku tergoda." kata Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.


"Kai, jangan macam-macam ya!" teriak Ella.


"Satu macam saja, kau tahu apa itu?" goda Kairi sambil mendekatkan wajahnya pada kekasihnya.


"Jangan aneh-aneh Kai, ingat ya kita belum halal." kata Ella dengan cepat.


"Memangnya aku mau melakukan apa, ahh kurasa fikiranmu yang sudah kemana-mana sayang." ucap Kairi sambil tersenyum miring.


"Kau menyebalkan Kai!" bentak Ella dengan bibir yang manyun.


"Iya aku memang menyebalkan, dan kau menyukai pria yang menyebalkan." ucap Kairi dengan santainya.


"Diamlah! Teruskan saja pekerjaanmu." bentak Ella.


"Iya ini aku juga sambil bekerja, kau tenang saja, aku suka membuat lubang, apalagi..." Kairi sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Kai, jaga bicaramu!" bentak Ella.


"Kita hanya membicarakan lubang pada tanah untuk menanam bunga. Apa itu salah sayang?" goda Kairi.


"Diam!" bentak Ella.


"Kurasa fikiranmu memang bermasalah sayang, terlalu kemana-mana, atau memang aku yang terlalu tampan, hingga membuatmu mudah berimajinasi." kata Kairi dengan santainya.


"Kau tidak diam, aku akan pergi!" bentak Ella sambil melotot.


Dan Kairi hanya menanggapinya dengan tertawa keras.


***


Sang rembulan menggantung indah di angkasa. Menyemburatkan cahaya jingganya pada mega mega putih yang mengelilinginya. Ribuan bintang tampak bertabur indah di langit luas, berkedip indah tanpa merasa lelah. Andra menyibakkan tirai kamarnya lebih lebar lagi, ia mendongak menatap keindahan malam yang jauh lebih indah daripada jalan hidupnya.


Kedua jemarinya menggapit rokok yang baru saja disulutnya. Entah sudah berapa banyak rokok yang ia hisap hari ini. Andra tak lagi menyentuh alkohol, karena terakhir kali ia menengguk minuman laknat itu, ia malah menyakiti Nadhira. Kali ini, Andra hanya menjadikan rokok sebagai pelariannya.


Andra menyesap rokoknya dengan pelan, menikmati aroma nikotin dalam setiap hisapannya. Andra berdiri didekat jendela kamarnya, membiarkan dinginnya angin malam menyapu wajahnya yang kusut. Entah dirinya yang terlalu rapuh, atau memang takdirnya yang terlalu pahit. Andra tidak peduli mana yang benar, tapi satu hal yang pasti, saat ini hatinya sedang kacau, dan hancur.


"Maafkan aku Ma, mungkin kepergianku membuat Mama khawatir. Tapi aku butuh waktu untuk sendiri, aku butuh waktu untuk menenangkan diriku. Lagipula sekarang juga sudah ada Kairi yang menemani Mama." ucap Andra sambil tersenyum getir. Ia kembali menyesap rokoknya lebih dalam lagi, seolah hanya benda itulah yang bisa mengerti dengan perasaannya.


Sambil menikmati hisapan rokoknya, Andra mengingat kembali tentang masa lalunya. Betapa buruk kepribadiannya dulu, entah berapa banyak gadis yang ia renggut kesuciannya, lalu ia tinggalkan begitu saja. Entah sudah berapa banyak alkohol yang masuk kedalam tubuhnya, mungkin kini sudah menyatu dengan darahnya. Ahh tapi salah, tidak hanya dulu, melainkan juga sekarang. Bukankah kemarin ia juga masih menengguk alkohol, dan menyakiti wanita. Hah dia memang selalu buruk, tidak seperti Kairi yang nyaris sempurna.


"Kau benar El, terkadang kesalahan dimasa lalu bisa mejadi penyesalan seumur hidup. Kau tahu, saat ini aku sedang menyesali kesalahanku, dan kesalahan itu adalah menyia-nyiakan kamu." ucap Andra dengan pelan.


"Andai saja dari dulu yang kulihat hanya kamu, dan aku tidak melihat gadis lain. Mungkin aku bisa berkepribadian baik sepertimu. Aku bisa lulus sekolah, dan aku juga bisa memperlakukan Om Adit dengan baik, maksudku Ayah. Dan disaat aku tahu kebenaran ini, aku tidak begitu menyesal, seandainya saja hubunganku dengan Ayah cukup baik. Dan lagi, aku juga tidak perlu menata hati untuk merelakan kamu bersama orang lain." ucap Andra sambil menunduk.


Andra menghela nafas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar.


"Tapi sekarang aku hanya bisa menyesal El, Ayah sudah tiada, dan tidak mungkin hidup lagi. Dan kau juga sudah bersama Kairi, lelaki yang jauh lebih baik daripada aku. Dan Mama Papa sekarang juga sudah punya Kairi, sedangkan aku, aku hanya bisa sendiri seperti ini." kata Andra sambil mengacak rambutnya.


Lalu ia melemparkan puntung rokoknya, dan kembali menyulut rokok yang baru saja diambilnya.


"Aku akan menghisapmu sampai habis, sama seperti takdir yang juga menghisap kebahagiaanku hingga tak tersisa." ucap Andra sambil menatap rokoknya yang mengepulkan asap.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2