
"Ada apa Ndra?" tanya Nadhira sambil memegang lengan Andra.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Om Adit meninggal, dan Mama pingsan!" jawab Andra sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Apa!" teriak Nadhira tidak percaya. Karena dari kabar yang ia dengar, dua hari ini keadaan Pak Adit sudah membaik, kenapa sekarang tiba tiba meninggal.
Andra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena jarak menuju rumah sakit, masih cukup jauh. Nadhira memejamkan matanya, mencoba menepis rasa takut didalam hatinya.
Empat puluh menit kemudian, Andra dan Nadhira sudah sampai di rumah sakit. Andra memarkirkan mobilnya, dan bergegas turun meuju ruangan ICU.
Nadhira mengekorinya dibelakang, ia juga mempercepat langkahnya, mengimbangi langkah kaki Andra.
Didepan ruangan ICU, Andra melihat Bik Surti yang sedang mondar mandir sendirian.
"Bagaimana keadaan Mama Bik?" tanya Andra saat ia sudah tiba didepan ruangan ICU.
"Nyonya belum siuman Tuan, dan dokter masih memeriksanya sekarang." jawab Bik Surti.
"Lalu Om Adit?" tanya Andra.
"Sudah dibawa ke kamar jenazah." jawab Bik Surti.
"Aku akan melihat Om Adit dulu Bik, jika dokter sudah selesai memeriksa Mama, tolong hubungi aku." kata Andra sambil menatap Bik Surti.
"Baik Tuan." jawab Bik Surti sambil mengangguk.
"Ayo Nadhira!" ajak Andra sambil menggandeng tangan Nadhira.
Nadhira mengangguk, dan mengikuti langkah Andra.
Mereka terus berjalan melewati lorong rumah sakit, dan akhirnya mereka masuk kedalam kamar jenazah.
Andra melihat seorang lelaki yang sedang berjaga disana.
"Dimana Pak Adit?" tanya Andra.
"Apa maksud Anda Aditya Rahman, seorang lelaki berumur 60 tahun, yang baru saja meninggal beberapa menit yang lalu?" tanya penjaga itu.
"Benar." jawab Andra.
"Mari ikut saya." kata penjaga itu sambil melangkahkan kakinya.
Andra mengikutinya dibelakang. Sedangkan Nadhira, ia menggenggam tangan Andra dengan sangat erat, melihat banyak mayat yang berjajar diruangan itu, Nadhira merasakan bulu kuduknya mulai meremang.
Tak lama kemudian penjaga itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Andra.
"Silakan." ucap penjaga itu.
Andra mengangguk, lalu menatap sebujur tubuh yang sudah ditutupi kain putih. Dengan tangan yang gemetaran, Andra membuka kain itu.
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, saat ia menatap wajah Pak Adit yang sudah pucat tanpa nyawa.
Tanpa terasa air matanya mulai menetes, kenapa begitu cepat beliau pergi?
Andra teringat akan hari harinya bersama Pak Adit, dia sering kali menyulitkan pria itu, dan belum sempat ia meminta maaf, pria itu sudah lebih dulu meninggalkannya.
Andra memeluk tubuh Pak Adit, meskipun beliau hanyalah orang lain, namun Andra merasa sangat kehilangan. Ia sudah terbiasa bergantung pada pria itu.
Dan Air matanya mengalir semakin deras, saat ia teringat akan Ibunya.
__ADS_1
Pak Adit adalah orang yang dicintainya, Pak Adit adalah semangat hidupnya, dan kini beliau telah pergi untuk selama lamanya. Bisakah Ibunya menerima semua takdir ini?
"Kenapa Om Adit pergi secepat ini, kenapa Om Adit tega meninggalkan aku, dan Mama. Mama sudah cukup menderita dengan masa lalunya, aku harap Om Adit selalu membahagiakan Mama. Tapi kenapa sekarang Om Adit malah meninggalkan Mama." ucap Andra didalam hatinya.
"Bangun Om, bangun!" teriak Andra disela sela isakannya.
Ia seperti tak sanggup menerima kenyataan ini.
Nadhira mengusap punggung Andra dengan pelan, ia tahu kekasihnya sangat sedih menghadapi semua ini.
Nadhira membantu Andra untuk bangun, dan melepaskan pelukannya pada Pak Adit, dilihatnya wajah Andra sudah basah karena air mata. Nadhira membantu mengusapnya dengan tisu yang dibawanya. Lalu Nadhira kembali menutup wajah Pak Adit, dan dia menatap Andra, sambil menggenggam kedua tangannya.
"Aku tahu kamu sangat kehilangan, tapi jangan menangis seperti ini. Ini akan membuat beliau sedih, ikhlaskan, dan doakan beliau, semoga beliau mendapatkan tempat yang indah disisi-Nya." ucap Nadhira dengan lembut.
"Bagaimana dengan Mama." gumam Andra sangat pelan.
"Kenapa dengan Tante Mirna?" tanya Nadira kurang mengerti.
"Mama pasti sangat sedih, buktinya saja sekarang sampai pingsan. Apa Mama akan sanggup menerima semua ini." ucap Andra, dan matanya kembali berkaca kaca.
"Maksud kamu?" tanya Nadhira, ia semakin tidak mengerti dengan perkataan Andra. Ia tahu Bu Mirna pingsan, tapi apa hubungannya dengan kematian Pak Adit. Nadhira hanya menganggap jika Bu Mirna pingsan, karena kelelahan.
"Om Adit, dan Mama saling mencintai. Om Adit adalah semangat hidupnya Mama." jawab Andra.
Nadhira tersentak kaget, ia sampai membuka mulutnya. Satu kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. Selama ini Nadhira mengira, jika hubungan mereka hanyalah sebatas atasan, dan bawahan.
Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa Andra bisa dengan mudahnya bisa menerima semua itu. Karena yang Nadhira tahu, Andra sangat menginginkan Ayahnya pulang, dan orang tuanya kembali bersama.
Belum sempat Nadhira bertanya lebih jauh, tiba tiba ponsel Andra berdering, ternyata Bik Surti.
Beliau memberitahukan bahwa dokter seudah selesai memeriksa Bu Mirna.
"Kita ke tempat Mama sekarang!" kata Andra sambil menatap Nadhira.
Lalu mereka melangkah meninggalkan ruangan itu, dan kembali menuju ruangan ICU. Andra bergegas masuk kedalam ruangan, ia melihat Bik Surti, dan seorang dokter sedang berdiri disamping Bu Mirna yang masih memejamkan matanya.
"Bagaimana keadaan Ibu saya dokter?" tanya Andra.
"Sudah membaik, mungkin sebentar lagi akan sadar. Bu Mirna terlalu lelah, dan beban fikirannya terlalu banyak. Jika sudah sadar tolong usahakan untuk beristirahat dengan cukup." jawab dokter itu.
"Baik dokter." ucap Andra.
"Dan satu lagi, tolong bantu Bu Mirna untuk santai, jangan biarkan dia berfikir terlalu keras." kata dokter itu.
"Baik dokter." jawab Andra.
"Saya permisi dulu, silakan panggil saya, jika butuh sesuatu." ucap dokter itu sambil tersenyum.
"Baik." jawab Andra sambil mengangguk.
Lalu Andra melangkah mendekati Bu Mirna, saat dokter sudah melangkah keluar.
Andra membelai rambut Bu Mirna, sambil menggenggam tangannya.
"Mama cepat sadar ya, aku butuh Mama. Mama harus kuat, Mama pasti bisa menghadapi semua ini." ucap Andra sambil menatap Bu Mirna dengan lembut. Matanya kembali berkaca kaca.
"Yang sabar ya Ndra, Tante Mirna pasti segera sadar." ucap Nadhira sambil mengusap punggung Andra.
"Terima kasih ya Nad." ucap Nadhira.
__ADS_1
Nadhira menanggapi ucapan Andra dengan anggukan, dan senyuman.
***
Disebuah ruangan terbuka dilantai dua. Diatas kursi rotan yang unik, dan sederhana. Ella dan Kairi sedang duduk bersama, menikmati segelas minuman dingin sambil menatap hamparan rumput hijau dibelakang rumahnya.
Mereka sedang berada di rumah Kairi, menyelesaikan desain yang kemarin sempat tertunda.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, mereka baru saja menyantap makan siangnya, dan kini mereka tinggal menikmati minumannya saja.
"Gabriella." panggil Kairi.
"Hmmm." jawab Ella sambil menoleh.
"Dimas itu siapa?" tanya Kairi. Beberapa menit yang lalu, ia mendapatkan telfon dari Dimas. Lelaki itu menanyakan tentang Ella padanya, dari nada bicaranya lelaki itu seperti sedang frustasi, tentu saja Kairi curiga. Apa sebenarnya hubungan mereka?
Mungkinkah Dimas menyimpan perasaan lain untuk kekasihnya?
"Kak Dimas." gumam Ella sambil mengerutkan keningnya. Ia sedikit heran, kenapa tiba tiba Kairi menanyakan tentang Dimas.
"Iya, aku hanya ingin tahu seperti apa hubungan kalian. Aku ingin tahu banyak tentang kamu Gabriella." ucap Kairi sambil tersenyum.
"Hubungan kita memang membuat banyak orang menjadi salah paham. Banyak yang berfikir kebaikan Kak Dimas, karena ada maksud lain. Tetapi sebenarnya semua itu hanya berdasarkan rasa bersalah." ucap Ella sambil menatap Kairi.
"Rasa bersalah, maksud kamu?" tanya Kairi.
"Dulu Ayahku bekerja sebagai satpam, dan terkadang juga merangkap sebagai supir di rumahnya Kak Dimas. Saat itu aku masih kelas 2 SD, dan Kak Dimas kelas 3 SMP." kata Ella, ia menghembuskan nafas panjang, sebelum meneruskan kembali ceritanya.
"Pada suatu malam, saat pesta kelulusan, Kak Dimas pulang larut malam, dan sialnya malam itu tiba tiba hujan turun dengan sangat deras. Kak Dimas dan teman temannya tidak membawa mobil, karena mereka lebih menyukai motor. Mereka tidak bisa pulang dengan motor, jadi mereka menghubungi orang rumah untuk menjemputnya, termasuk juga Kak Dimas." sambung Ella. Ia menjeda kalimatnya, menunggu tanggapan Kairi.
"Lanjutkan!" ucap Kairi.
"Orang tuanya Kak Dimas sedang diluar kota, dan Kak Dirga sedang sakit waktu itu, jadi Ayah yang menjemput Kak Dimas. Dan naas, ditengah perjalanan Ayah mengalami kecelakaan, mobilnya menabrak tiang listrik, dan Ayah terjepit didalam mobil. Karena malam sudah cukup larut, dan hujan juga turun cukup deras, bantuan datang sedikit terlambat." ucap Ella sambil mengusap bulir bening yang mulai membasahi pipinya. Mengingat masa itu selalu saja membuatnya menangis.
"Ayah dilarikan ke rumah sakit, namun karena lukanya memang cukup parah, Ayah mengalami koma yang cukup lama. Dan setelah dua minggu, Ayah sudah tidak tertolong lagi, Ayah sudah meninggal." kata Ella sambil terisak.
Kairi meraih tubuh Ella, dan membawanya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku sudah membuatmu mengingat masa masa yang pahit." ucap Kairi sambil mengusap rambut Ella.
"Tidak apa apa, kamu memang berhak tahu.
Sejak saat itu Kak Dimas selalu menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa kalau kecelakaan itu disebabkan olehnya. Malam itu Kak Dimas memang sedikit memaksa, tapi kita juga tidak bisa menyalahkannya, karena Ayah memang bekerja untuk keluarganya. Orang tuanya Kak Dimas bermaksud memberi kompensasi uang dengan jumlah yang cukup besar, tapi Ibu menolak. Ibu bilang jika semua itu adalah musibah, lagipula Ayah sudah merusakkan mobilnya Om Bram, dan biaya rumah sakit, juga Om Bram yang menanggung. Jadi Ibu tidak mau menerima uang sedikitpun." kata Ella didalam pelukan Kairi.
"Tidak heran kamu tumbuh menjadi gadis yang baik, ternyata Ibu kamu juga sangat luar biasa." ucap Kairi dengan pelan.
"Tapi hal itu malah membuat Kak Dimas semakin merasa bersalah, berhari hari Kak Dimas mengurung dirinya di kamar. Ia sangat sedih, terlebih saat melihat aku sakit, dan dirawat di rumah sakit selama satu bulan." kata Ella.
"Kamu sakit selama itu?" tanya Kairi dengan nada kaget.
"Iya, aku sangat sedih saat Ayah pergi. Aku benar benar merasa kehilangan. Dan sejak saat itu Kak Dimas berjanji akan selalu menjagaku, Kak Dimas akan bertanggung jawab atas masa depanku. Itu sebabnya dia membawaku kesini, dan membantuku merintis karier. Kak Dimas ingin aku menjadi orang yang sukses." kata Ella menjelaskan.
"Oh begitu ya." gumam Kairi.
"Iya, tapi sekarang aku merasa kurang nyaman. Keberadaanku membuat Kak Dimas, dan Mbak Yura bertengkar. Padahal aku ingin mereka selalu bahagia." ucap Ella sambil melepaskan pelukannya.
Ia mengusap sisa sisa air matanya.
"Kamu tidak salah, dia saja yang tidak bisa berfikir dewasa." kata Kairi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kau terlalu polos Ella, kau masih saja menganggap Yura itu baik. Kau tidak tahu, jika selama ini dia sudah merencanakan banyak hal untuk menjebak kamu. Tapi sekarang kamu tenang saja, kamu sudah menjadi milikku, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu." ucap Kairi didalam hatinya.
Bersambung.......