Tentang Rasa

Tentang Rasa
Sah


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Gabriella Tamara Binti Almarhum Prasetyo dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai." kata Kairi juga dengan suara yang lantang.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!" jawab mereka semua bersamaaan.


"Alhamdulillah, sekarang mari kita panjatkan puja, dan puji syukur kita kepada Allah swt, karena sudah memberikan kelancaran pada pernikahan ini." kata pak penghulu. Kemudian beliau memimpin doa, dan shalawat, bersyukur atas bersatunya dua insan dalam ikatan yang halal. Ikatan suci yang diridhai oleh Illahi.


Setelah selesai membaca doa, dan shalawat. Ella menyalami tangan Kairi, dan kemudian menciumnya. Kairi tersenyum, lalu ia menunduk dan mencium kening Ella.


Ella memejamkan matanya saat Kairi mencium keningnya, memang ini bukanlah yang pertama kali. Namun setelah status mereka berubah menjadi suami istri, ciuman itu rasanya sangat jauh berbeda. Seperti ada sesuatu yang menyiram hatinya, yang membuat ia merasa nyaman, dan tenang.


"Seperti inikah rasanya punya suami. Ya Allah terima kasih, telah engkau kirimkan seorang lelaki sebaik Kairi untuk menjadi imamku." batin Ella dalam hatinya.


Kemudian Kairi membuka kotak perhiasan yang terletak diatas meja. Ia mengambil cincinnya, dan menyematkannya di jari Ella. Cincin yang selama ini sudah melingkar di sana, namun tadi pagi sempat dilepaskan, dan dikembalikan padanya.


Lalu Kairi mengambil gelang emas yang menjadi mahar pernikahannya. Kairi meraih tangan kiri Ella, dan kemudian ia memakaikan gelangnya di sana. Ella tersenyum saat melihat gelang itu sudah melingkar manis di tangan kirinya.


"Jangan pernah dilepaskan." kata Kairi sambil tersenyum.


"Tidak akan." jawab Ella sambil membalas senyuman Kairi.


Kemudian mereka beringsut dari tempat duduknya. Ella menghampiri Ibunya, dan kemudian memeluknya dengan erat. Rasa haru, dan bahagia membuat Ella tak bisa lagi membendung air matanya.


"Kamu sudah dewasa nak, kamu sekarang sudah menjadi istri. Berbaktilah pada suamimu, dan jangan pernah menyakitinya. Ladang pahalamu sekarang ada padanya nak." ucap Bu Halimah sambil mengusap punggung anaknya.


Bu Halimah juga tampak menitikkan air mata, meskipun beliau bahagia melihat anaknya menikah, dan menempuh lembaran baru. Namun jauh didalam hatinya, Bu Halimah juga merasa sedih, dan kehilangan. Anak gadisnya sudah menjadi milik orang, beliau tak punya lagi hak, dan kuasa atas diri Ella.


"Iya Bu, aku akan berbakti padanya. Tanpa mengurangi rasa baktiku pada Ibu. Doakan semoga rumah tanggaku selalu diberi kemudahan ya Bu." kata Ella sambil mengeratkan pelukannya.


"Iya nak, Ibu pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." jawab Bu Halimah.


Setelah berpelukan cukup lama, kini Ella melepaskan pelukan Ibunya. Lalu ia menghampiri Gilang, dan memeluknya. Kakak lelakinya yang tadi menjadi walinya, yang menjadi wakil dari almarhum ayahnya.


"Mas Gilang." ucap Ella sambil menangis. Berada dalam pelukan Gilang, Ella jadi teringat akan Ayahnya. Andai saja Ayahnya masih ada, pasti beliau sangat bahagia melihatnya menikah.


"Jangan menangis, ini hari bahagiamu El." kata Gilang sambil mengusap punggung adiknya.


"Ayah Mas." ucap Ella dengan pelan.


"Ayah pasti bahagia melihatmu menikah. Tapi Ayah akan sedih, jika melihatmu menangis seperti ini. Hapus air matamu, dan tersenyumlah. Kau tidak boleh menangis dihari pernikahanmu." kata Gilang sambil melepaskan pelukannya. Lalu ia menghapus air mata Ella dengan kedua tangannya.


"Tersenyumlah!" ucap Gilang.


"Selamat ya El, kamu sekarang sudah menjadi istri." kata Garnis sambil memeluk Ella.


"Aku bahagia Mbak, tapi aku juga ingin menangis." ucap Ella dalam pelukan kakaknya.


"Kau ini ada-ada saja." kata Garnis sambil melepaskan pelukannya.


Diwaktu yang sama, Kairi sedang memeluk Bu Mirna dengan sangat erat. Bu Mirna tampak menangis sambil mengusap-usap rambut Kairi.


"Maafkan sikap Mama selama ini ya nak. Mama tidak pernah mendampingi kamu, sampai kamu sudah sedewasa ini. Mama tidak pernah mengajarimu apa-apa, tapi kau tumbuh menjadi lelaki yang sebaik ini. Sekarang kamu sudah menikah, jaga istrimu dengan baik. Dia sangat disayangi oleh keluarganya, dan sekarang dia sudah menyerahkan hidupnya padamu. Jadi kamu harus menyayangi dia, dan membahagiakan dia. Jangan pernah sekalipun menyakitinya." kata Bu Mirna disela-sela tangisnya.


"Mama jangan menangis, Mama tidak bersalah. Tersenyumlah Ma, ini adalah hari bahagiaku, jadi Mama juga harus bahagia. Aku akan selalu menyayangi istriku Ma, aku akan selalu membahagiakannya, dan aku tidak akan pernah menyakitinya." ucap Kairi sambil melepaskan pelukannya.


Lalu ia beralih memeluk Ayahnya.


"Papa kagum padamu, kau adalah lelaki yang pemberani. Jaga istrimu dengan baik, sayangi dia, dan jangan pernah melakukan kesalahan seperti Papa. Papa percaya kau akan lebih daripada Papa." kata Pak Louis.


"Aku mengerti Pa, aku berjanji, aku tidak akan pernah mengecewakan siapapun." jawab Kairi sambil melepaskan pelukannya.


Lalu ia beralih memeluk Andra, ia memeluknya dengan erat. Karena ia tahu, dibalik senyumannya, adiknya pasti menyimpan sedikit banyak luka atas pernikahannya.


"Bahagiakan dia, aku yakin kau bisa Kai. Aku percaya padamu." bisik Andra tepat di telinga Kairi.


"Aku tidak akan menodai kepercayaan kamu. Terimakasih Andra." jawab Kairi juga dengan bisikan.


Kemudian ia menghampiri Bu Halimah, wanita paruh baya yang sekarang sudah menjadi Ibu mertuanya. Kairi memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memilih Ella, tolong jaga dia ya nak. Bimbing dia ke jalan yang benar, dan jika dia melakukan kesalahan tolong ingatkan dia. Sekarang kau yang berhak atas dirinya, Ibu hanya bisa berpesan, agar kau selalu menjaga dia. Ibu percaya, kau adalah lelaki yang paling tepat untuk Ella." kata Bu Halimah sambil melepaskan pelukannya.


"Saya berjanji akan selalu menjaga dia Bu, saya akan membahagiakan dia, dan saya tidak akan pernah menyakiti dia. Terima kasih ya Bu, sudah mengizinkan saya untuk memilikinya." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Iya nak, karena Ibu percaya kamu tidak akan mengecewakan Ibu." kata Bu Halimah.


"Tidak akan Bu." jawab Kairi dengan tegas.


Ella menghampiri Bu Mirna, sambil tersenyum ia memeluk Ibu mertuanya.


"Akhirnya impian Mama terwujud sayang, dari dulu Mama sangat menginginkan kamu bisa menjadi menantuku. Dan hari ini kamu mewujudkan impian Mama, Mama benar-benar bahagia sekarang." kata Bu Mirna sambil memeluk Ella dengan erat.


Ella sedikit gugup mendengar Bu Mirna mengucapkan kata 'mama'


Karena selama ini ia selalu memanggilnya dengan sebutan tante. Tapi sekarang ia sudah menikah dengan Kairi, tidak mungkin memanggil Bu Mirna dengan sebutan tante.


"Aku juga sangat bahagia Ma." jawab Ella dengan pelan.


Ia memang merasa sangat bahagia, menikah dengan orang yang sangat dicintainya, punya mertua yang sangat menyukainya. Ahh benar-benar anugerah terindah dalam hidupnya.


Lalu Ella melepaskan pelukannya, dan kemudian ia menyalami Pak Louis, lelaki paruh baya yang sekarang menjadi Ayah mertuanya.


"Terima kasih nak, kamu sudah mau menerima Kairi. Hidupnya kembali bahagia, karena kehadiran kamu. Kairi sangat beruntung bisa memiliki istri seperti kamu." ucap Pak Louis sambil menatap Ella.


"Saya tidak sebaik itu Pa. Justru saya yang merasa lebih beruntung, bisa memiliki suami sebaik Kairi." jawab Ella sambil menunduk.


Ketika Ella hendak kembali duduk ditempatnya, matanya menatap Andra yang duduk disebelah Kairi. Andra tampak tersenyum padanya, namun Ella tahu, jauh didalam hatinya Andra pasti sedang terluka.


"Selamat ya El, selamat menempuh lembaran baru, dan selamat datang dikeluargaku. Sekarang kau sudah sah menjadi kakak iparku. Aku turut bahagia atas pernikahan kamu." ucap Andra sambil menatap Ella.


"Terima kasih Ndra." jawab Ella sambil membalas senyuman Andra.


"Aku ingin acara ini segera berakhir El, kau tahu betapa sulitnya aku tetap bertahan di sini. Melihat kamu menikah dengan kakakku, hatiku rasanya sangat sakit El. Tapi aku tidak ingin egois, ini adalah pilihanmu, aku harus menghargainya demi kebahagiaan kamu. Aku memang bodoh, tak pernah melihat perasaanmu, padahal kau berdiri sangat dekat denganku." batin Andra sambil menunduk.


"Maafkan aku Ndra, aku tahu kau terluka, aku tahu pernikahan ini menyakiti kamu. Tapi mau bagaimana lagi, perasaanku untuk kamu sudah tidak ada sama sekali, kini perasaanku hanya untuk Kairi. Sekian lama aku menunggu kamu, namun kau tak pernah memahamiku. Maafkan aku Andra, meskipun aku tidak bisa menerima perasaan kamu, tapi kamu tetaplah sahabatku. Kamu tetaplah berjasa dalam hidupku." batin Ella sambil duduk disamping Kairi.


Tak lama kemudian pak penghulunya pamit untuk undur diri. Nadhira, dan Vino mendekati Ella, dan Kairi untuk memberikan selamat kepada mereka. Setelah itu mereka juga pamit pergi. Dan tak berselang lama, Bu Mirna sekeluarga, serta Garnis dan Ariel, mereka juga pamit untuk pulang.


Setelah ruang tamu kembali rapi, Ella mengajak Kairi untuk masuk kedalam kamarnya. Sebenarnya sedikit canggung, dan malu. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang Kairi sudah menjadi suaminya. Mana mungkin mereka akan tidur terpisah.


"Masih berantakan Kai." ucap Ella saat mereka sudah sampai didalam kamar.


Ada tumpukan baju diatas kursi, baju yang baru saja kering, dan belum sempat Ella lipat. Juga sprei, dan sarung bantal yang sudah kusam. Ella sedikit malu, andai saja Kairi tidak menikahinya dengan cara mendadak seperti ini, pasti Ella sudah menggantinya dengan yang baru.


"Ini rapi sayang, apanya yang berantakan." kata Kairi sambil menatap setiap jengkal kamar Ella. Semuanya rapi, hanya tumpukan baju itu saja yang memang sedikit berantakan.


Ella tak menghiraukan perkataan Kairi. Ia membuka almarinya, dan mencari sprei baru yang ia simpan di sana.


"Apa yang kau lakukan sayang?" tanya Kairi saat melihat Ella mengambil sprei baru dari almarinya.


"Aku akan menggantinya Kai." jawab Ella.


Kairi mendekati Ella, dan memegang lengannya.


"Jangan seperti ini sayang, kau tidak perlu menggantinya." kata Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.


Jantung Ella berdetak dengan cepat, jarak mereka begitu dekat. Dan sekarang lelaki itu sudah menjadi suaminya, apa yang akan dilakukannya?


"Tapi Kai..."


"Kembalikan!" kata Kairi dengan pelan, namun juga tegas.


Dan mau tidak mau, Ella menurutinya. Ia letakkan kembali sprei itu kedalam almari.


Ella menutup kembali almarinya, dan saat ia menoleh, ia sangat terkejut saat melihat Kairi yang sudah melepaskan jas, dan juga kemejanya. Pipi Ella memerah seketika, kala melihat Kairi yang bertelanjang dada didepannya, dan sekarang mereka hanya berdua saja didalam kamar.


"A...apa yang kau lakukan Kai?" tanya Ella dengan gugup, ia memalingkan wajahnya. Ia tak berani menatap Kairi.


"Aku merasa gerah sayang, tapi, hei kenapa kau memalingkan pandanganmu. Apa kau sedang memikirkan sesuatu sayang?" goda Kairi.

__ADS_1


"Tidak ada!" jawab Ella dengan cepat.


Lalu ia melepaskan jilbabnya, juga ikatan rambutnya. Ia tetap berdiri didekat almari, ia tak berani mendekati ranjang, karena ada Kairi yang sedang berbaring di sana.


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" tanya Kairi sambil menatap Ella dari belakang.


"Aku sedang sisiran." jawab Ella sambil meraih sisir diatas meja.


"Kau datang kesini sendiri, atau perlu aku yang menggendongmu." kata Kairi.


"Apa maksudmu! Jangan menggendongku, aku tidak mau!" teriak Ella sambil menoleh menatap Kairi.


"Kalau begitu kemarilah, kau belum sembuh total, kau butuh istirahat. Aku suamimu, kau tidak perlu takut padaku." kata Kairi sambil menatap Ella.


Ella menunduk, dengan pelan ia melangkah mendekati ranjang. Jantungnya terus berdetak semakin cepat, melihat Kairi yang berbaring sambil bertelanjang dada membuat tubuh Ella menjadi panas dingin karenanya.


Dengan pelan Ella naik ke atas ranjang, ia duduk disamping Kairi yang sedang berbaring.


"Kemarilah, aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya ingin memelukmu." ucap Kairi sambil menarik pinggang Ella, dan membawanya kedalam pelukannya. Jantung Ella seakan terlepas dari tempatnya, saat wajahnya menempel erat dengan dada Kairi. Ahh perasaan macam apa ini, sangat nyaman, juga sangat menyenangkan, namun kenapa tubuhnya terasa semakin panas.


"Aku tahu kau masih sakit, aku tidak akan melakukannya sekarang." kata Kairi dengan santainya.


Apa maksudnya dia? Apa yang akan dilakukannya?


"Aku masih kesal sama kamu Kai." ucap Ella mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa?"


"Malam itu dengan tiba-tiba kau meminta pisah. Lalu kau meminta maaf, dan meminta kembali. Saat aku sudah menerimamu, kau malah meninggalkan aku begitu saja. Dan kau berencana menikahiku, tapi tanpa memberitahuku. Kau fikir aku tidak kesal." gerutu Ella sambil melepaskan pelukannya. Kini mereka berbaring sambil bertatapan mata.


"Aku bermaksud memberikan kejutan untukmu sayang." jawab Kairi.


"Kejutan kalau yang lain tidak masalah Kai, tapi ini pernikahan."


"Tapi kau menyukainya kan, hemm?" goda Kairi sambil mengusap pipi Ella.


Ella tidak menjawab, ia hanya memanyunkan bibirnya, karena godaan Kairi sukses membuatnya kembali merona.


"Tapi aku tadi memang ditelfon Mama sayang, memang tidak ada rapat, namun ada acara yang tidak kalah pentingnya." kata Kairi sambil memainkan rambut Ella.


"Acara apa?"


"Mama dan Papa menikah."


"Hah!" teriak Ella sedikit kaget.


"Mama dan Papa memutuskan untuk rujuk. Dulu Papa terlalu memaksa Mama, dan bukannya mendapatkan cinta, tapi malah dibenci. Tapi sekarang Papa mencintai Mama dengan kelembutan, tidak memaksa seperti dulu, dan ternyata Mama malah bisa menerimanya. Memang secara hukum mereka masih suami istri, tapi secara agama mereka sudah bercerai. Jadi harus ijab qabul lagi kalau ingin rujuk." ucap Kairi.


"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya Kai. Akhirnya hubungan dalam keluarga kamu bisa membaik." kata Ella sambil tersenyum.


"Aku juga senang sayang, dan aku lebih senang lagi karena hari ini aku bisa menghalalkan kamu. Aku sangat bahagia bisa menjadi suami kamu." ucap Kairi sambil menatap Ella dengan lembut.


"Tapi waktu itu kamu melepaskan aku, sedih tahu Kai." gerutu Ella.


"Maafkan aku ya, aku salah paham dengan perasaan kamu. Melihat Andra terpuruk, fikiranku jadi kacau sayang. Tapi kamu tenang saja, mulai sekarang aku berjanji, aku akan selalu menjaga kamu. Tidak akan menyakiti kamu, apalagi melepaskan kamu. Kita akan menua bersama, cukup maut saja yang boleh memisahkan kita." ucap Kairi sambil menangkup pipi Ella.


Kairi semakin mendekatkan wajahnya, dan jantung Ella berdetak dengan cepat saat nafas Kairi sudah menghangat diwajahnya. Tangan Kairi meraih tengkuknya, dan menariknya untuk lebih mendekat, hingga tak ada lagi jarak diantara keduanya. Bulu kuduk Ella terasa meremang saat bibir Kairi mulai menempel di bibirnya.


Ella memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Kairi yang lembut, dan hangat. Ia mengalungkan tangannya di leher Kairi, saat lelaki itu mulai memainkan bibirnya.


***


Jarum jam diatas meja Andra menunjukkan pukul setengah lima sore. Andra baru saja tiba di rumahnya, dan kini ia sedang duduk di sofa sambil menatap jarum jam yang terus saja berputar. Tak terasa ia mulai menitikkan air mata, luka dihatinya kembali menganga. Andra meraih sebingkai foto yang ada diatas meja, gadis cantik, dan sederhana yang sedang tersenyum manis dalam rangkulannya.


"Kau adalah wanita pertama yang membuatku benar-benar jatuh cinta El, tapi tak kusangka ternyata cinta ini berujung luka. Kau sekarang sudah menjadi istri, kau tidak bisa kuharapkan lagi. Aku tulus mencintai kamu El, aku rela terluka asalkan kau selalu bahagia. Kau tahu El, sesak rasanya menyaksikan kamu menikah dengan kakakku. Tapi aku tidak punya pilihan lain, yang kau cintai adalah dia bukan aku." ucap Andra sambil mengusap foto Ella dengan pelan.


"Aku memang bodoh, begitu lama kau mencintaiku, tapi sedetikpun aku tak pernah menyadarinya. Ella, entah bisa atau tidak, aku menghapus perasaan ini untukmu. Semua itu terlalu sulit, kau sudah menempati seluruh ruang dalam hatiku. Aku malah takut, kalau aku tidak bisa jatuh cinta lagi, karena sudah tidak ada ruang kosong dalam hatiku untuk ditempati wanita lain." ucap Andra sambil mengusap wajahnya.


Lalu ia letakkan kembali foto itu keatas meja. Andra merebahkan tubuhnya di sofa. Sambil menatap langit kamar, ia mengingat kembali tentang pernikahan Ella beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Kau sudah menikah El, apa gerangan yang sedang kau lakukan sekarang." ucap Andra dengan pelan, tatapannya tampak kosong, dan datar


Bersambung...


__ADS_2