Tentang Rasa

Tentang Rasa
Tragedi


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Kairi sedang duduk di ruang tamu sambil menyesap kopi hitam yang dibawanya dari dapur. Ella duduk di sebelahnya, semua barang-barang yang dibutuhkan Kairi, sudah ia masukkan ke dalam koper. Ella menatap wajah suaminya dari samping, tiga hari kedepan ia tak bisa lagi bermanja pada suaminya. Ada perasaan resah, dan juga gelisah yang berkecamuk dalam hatinya.


"Aku pasti bisa di rumah sendirian, Kairi melakukan ini demi masa depan. Aku tidak boleh menyulitkannya." batin Ella sambil memejamkan matanya.


"Sayang!" panggil Kairi.


"Iya."


"Aku berangkat sekarang ya." ucap Kairi sambil meletakkan cangkir bekas kopinya.


"Iya, hati-hati ya Kai. Kabari aku, jika kau sudah sampai di sana." kata Ella sambil tersenyum.


"Iya, aku nanti akan mengabarimu." jawab Kairi.


Lalu ia duduk berjongkok didepan Ella, Kairi mengusap perut Ella, dan menciumnya berkali-kali.


"Papa akan pergi, jaga Mama ya di rumah. Berjanjilah pada Papa untuk selalu baik-baik saja, buatlah Mama tersenyum selama Papa tidak ada. I love you baby." ucap Kairi seraya mencim perut Ella cukup lama.


Ella tersenyum, ia mengusap rambut Kairi dengan lembut. Ada perasaan nyaman, setiap kali Kairi mencium perutnya dengan hangat.


Lalu Kairi beranjak dari duduknya, ia merangkul Ella dengan sangat erat.


"Jaga diri baik-baik ya sayang selama aku tidak ada. Jangan telat makan, jangan lelah, dan jangan memikirkan yang macam-macam. Aku ingin kalian berdua selalu baik-baik saja." ucap Kairi sambil mencium kening Ella.


"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik ya di sana." jawab Ella.


"Iya, ya sudah aku berangkat ya. Assalamu'alaikum." ucap Kairi sambil melepaskan pelukannya.


"Waalaikumsalam." jawab Ella dengan senyuman manisnya.


Lalu Kairi mulai melangkah pergi, menyeret kopernya, dan berjalan meninggalkan apartemen.


Ella memandangannya dengan tatapan nanar, rasa sedih tiba-tiba menyeruak kedalam hatinya. Tanpa permisi, buliran bening mulai menetes membasahi kedua pipinya.


"Kairi hanya bekerja, dan dia pergi hanya tiga hari. Kenapa aku menjadi secengeng ini." ucap Ella sambil mengusap air matanya. Lalu ia melangkah menuju ke kamarnya.


Ella merebahkan tubuhnya di ranjang, beristirahat sejenak, pasti bisa menenangkan fikirannya yang sedikit kacau. Ella menutup tubuhnya dengan selimut coklat bermotif panda, ia memeluk guling yang berada di sampingnya. Lalu Ella memejamkan matanya, dan tak lama kemudian, ia sudah terlelap dalam mimpinya.


***


Andra duduk termenung di kursi kerjanya. Ia menopang dagunya dengan tangan kanannya. Andra menatap beberapa berkas yang menumpuk di mejanya, lalu ia menghela nafas panjang. Dua hari terakhir pekerjaannya benar-benar melelahkan, ia bahkan pulang sudah larut malam.


"Capek!" keluh Andra sambil meraih secangkir kopi yang tinggal setengah. Andra menyesapnya hingga tandas.


Andra merogoh sakunya, dan mengambil ponselnya. Ia sangat penat, ia ingin istirahat sebentar saja. Lalu Andra menyandarkan punggungnya di kursi, seraya menelfon seseorang yang tinggal jauh di sana.


Tak lama kemudian sambungan telefon mulai terhubung. Andra tersenyum kala mendengar suara wanita yang akhir-akhir ini mengisi hatinya.


"Hallo Ndra!" sapa Suci dari seberang sana.


"Hallo Suci, kamu sedang apa?" tanya Andra.


"Mmm aku sedang bekerja Ndra." jawab Suci dengan ragu-ragu.


"Oh sibuk ya."

__ADS_1


"Sedikit."


"Kalau begitu aku matikan saja ya." ucap Andra.


"Jangan marah ya Ndra." kata Suci.


"Tidak."


"Maaf, aku memang sedikit sibuk, lagi banyak ini pekerjaannya Ndra, dan harus selesai sore ini. Nanti kalau aku sudah selesai, aku kabari ya, aku telfon kamu." kata Suci menjelaskan dengan panjang lebar, takut jika Andra akan kecewa padanya.


"Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf, aku mengerti Ci. Tapi tetap jaga kesehatan ya, jangan terlalu lelah, dan jangan sampai lupa makan, karena pekerjaan." jawab Andra.


"Iya Ndra, terima kasih ya. Kalau begitu tidak apa-apa kan aku tutup telfonnya." ucap Suci.


"Iya, tutup saja. Tapi nanti setelah pekerjaannya selesai, jangan lupa untuk menelfonku ya, aku menunggumu Ci." kata Andra.


"Iya, pasti Ndra." jawab Suci. Dan tak lama kemudian sambungan telefon terputus.


Andra menatap layar ponselnya sambil memijit pelipisnya. Ia merasa ada yang aneh dengan Suci, sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Suci bilang dia ada Thailand, tapi Andra meragukannya. Waktu di Thailand tujuh jam lebih cepat daripada waktu London. Jika Suci benar-benar ada di Thailand, seharusnya di sana sekarang sudah malam, bukan sore. Karena saat ini di London sudah menunjukkan pukul 02.00 siang.


Namun Andra merasa seakan tidak ada perbedaan waktu antara dirinya dengan Suci. Kapanpun Andra menelfon, Suci tak pernah protes bahwa di sana masih terlalu pagi, atau sudah larut malam. Andra ingat betul, dulu waktu Ella di London, mereka sedikit kesulitan untuk saling menelfon, karena perbedaan waktu yang cukup jauh. Dan waktu di Tahiland, tidak berbeda jauh dengan waktu di Indonesia.


"Apa sebenarnya dia juga berada di Eropa, tapi kenapa dia berbohong padaku." ucap Andra sambil memijit pelipisnya. Berkali-kali ia menanyakan hal ini pada Suci, namun ia tak pernah menjawabnya dengan jujur, seringkali Suci malah mengalihkan pembicaraan.


"Nanti aku akan menanyakan hal ini lagi, kali ini Suci harus mengatakan yang sebenarnya. Sekarang aku harus kembali bekerja, aku tidak ingin pulang larut seperti kemarin." ucap Andra sambil meletakkan ponselnya. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang cukup melelahkan.


Disaat Andra sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar. Ternyata Reymond yang datang.


Ia memberitahu Andra, bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya di luar. Andra menghela nafas panjang, ia hampir saja melupakan janjinya.


"Alamat pulang larut lagi hari ini." batin Andra sambil beranjak dari duduknya.


Andra menyambar beberapa berkas penting, yang dibutuhkan dalam pembahasan kerjasama kali ini. Lalu Andra melangkahkan kakinya, dan keluar dari ruangan, Reymond mengikutinya di belakang.


Andra menemui rekannya, dan mengajaknya masuk kedalam ruangan khusus di lantai bawah, ruangan yang memang disediakan untuk menemui tamu.


Setelah hampir dua jam saling bertukar pendapat, akhirnya mereka mencapai satu kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Tak lama kemudian mereka saling berjabat tangan, dan rekannya pamit untuk undur diri.


Andra bernafas lega, ia melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 04.00 sore, dan pekerjaannya masih sangat menumpuk.


"Sabar, aku harus menyelesaikannya. Aku harus bisa menjadi seperti Kairi, aku tidak boleh mengecewakan Mama lagi." ucap Andra sambil beranjak dari duduknya.


***


Ella menggeliat sambil menguap. Ia mengucek matanya yang masih sedikit terpejam. Samar-samar ia melirik jarum jam yang berada di atas meja, sudah jam 05.00 sore. Ella tersentak kaget, dan spontan ia langsung bangkit dari tidurnya. Ia tidur sejak pukul setengah sembilan, itu artinya ia terlelap hampir sembilan jam. Ahh kenapa bisa seperti ini?


"Aku hanya ingin istirahat sebentar, kenapa sampai selama ini aku tertidur." ucap Ella sambil turun dari ranjangnya.


Ia melangkah menuju sofa, ia duduk di sana sambil meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ella mengernyitkan keningnya, tidak ada satupun pesan dari Kairi. Hanya membutuhkan waktu delapan jam dari Paris menuju ke Reunion. Penerbangan jam 07.00, seharusnya sudah sejak tadi Kairi tiba di sana. Tapi kenapa Kairi belum menghubunginya?


Kemudian Ella menyentuh layar ponselnya, ia mencoba menghubungi Kairi. Apa dia terlalu sibuk, hingga tidak sempat menghubunginya terlebih dahulu.


Dan Ella menghela nafas panjang, kala mendengar sambungan telefonnya dijawab oleh operator. Nomor Kairi sedang tidak aktif, dan berada diluar jangkauan. Ella mencoba menghubunginya berkali-kali, namun hasilnya tetaplah sama, nomor Kairi tetap tidak aktif. Kenapa? Apa ia lupa menghidupkan ponselnya, setelah turun dari pesawat?


Ella memijit pelipisnya, kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman seperti ini. Ahh baru saja Kairi pergi satu hari, tapi rasanya sudah sangat resah, dan sedih. Lalu Ella beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju ke kamar mandi. Cukup lama Ella merendam tubuhnya dalam air hangat. Menghirup wanginya aroma sabun, membuat ia sedikit melupakan kegundahan hatinya.

__ADS_1


Lebih dari setengah jam Ella menghabiskan waktunya di kamar mandi. Ia keluar sambil menggosok wajahnya dengan handuk kecil. Ella mengambil dress selutut warna kuning, ia memakainya, lalu ia menyisir rambutnya. Ella meraih ponselnya, ia kembali menghubungi Kairi. Namun hasilnya masih tidak berubah, nomor Kairi tetap tidak aktif.


"Kamu kemana Kai, katanya akan mengabariku jika sudah sampai, tapi kenapa sampai saat ini nomormu masih tidak bisa dihubungi. Apa tadi ada kendala, terus penerbangannya ditunda ya. Kau membuatku khawatir Kai." ucap Ella sambil menatap foto Kairi yang terpampang jelas di layar ponselnya.


Lalu ia beranjak dari duduknya, ia keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ke dapur. Ella melihat Bik Darmi, dan Bik Ida sedang menyetrika di ruang tengah.


"Mau makan Nyonya?" tanya Bik Darmi sambil menghampiri Ella.


Dua pelayan yang bekerja di apartemennya adalah orang Indonesia.


Kairi sengaja menyuruh mereka, karena pelayan lainnya adalah orang asli Prancis yang tidak terlalu paham dengan bahasa Inggris. Akan kesulitan jika bekerja di sini, karena Ella sama sekali tidak bisa bahasa Prancis.


"Tidak Bik, hanya ingin membuat teh saja." jawab Ella.


"Tunggulah di sini Nyonya, biar saya saja yang menyiapkan." kata Bik Darmi sambil tersenyum.


"Baiklah Bik, saya tunggu di kamar ya." jawab Ella.


"Iya Nyonya." jawab Bik Darmi sambil mengangguk.


Ella kembali melangkah menuju ke kamarnya, mengingat Kairi yang belum bisa dihubungi, membuat hatinya semakin gundah gulana.


"Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan Kai, kenapa kau tidak menghubungiku, kenapa nomormu tidak aktif, kau baik-baik saja kan Kai." batin Ella sambil menggigit bibirnya.


Ella berdiri di dekat jendela kamarnya. Senja sudah meredup, sebentar lagi malam akan datang membayang. Ella menatap Menara Eiffel yang mulai bercahaya, tampak mempesona. Namun saat ini Ella tidak sedang menikmati keindahan menara, melainkan ia mengingat tentang semalam. Ia dan Kairi bercanda mesra di bawah menara, mereka menghabiskan waktunya cukup lama di sana.


"Kairi, kamu kemana? Aku khawatir, kamu senang ya melihat aku gelisah seperti ini." gerutu Ella sambil memejamkan matanya, seraya tangannya mencengkeram bingkai jendela dengan erat. Bayangan tentang Kairi terus melintas dalam ingatannya, senyumannya, tawanya, keusilannya, dan kelembutan sikapnya yang selalu membuat Ella merasa nyaman.


Ella menghentakkan kakinya, banyak yang bilang menunggu itu membosankan, dan ternyata memanglah benar. Ella merasa sangat bosan, resah, gelisah, dan entah perasaan apa lagi yang bercampur didalam hatinya. Satu hal yang ia harapkan saat ini hanyalah kabar dari Kairi. Ia hanya butuh kepastian bahwa suaminya itu baik-baik saja.


Ella melangkah menjauhi jendela. Ia duduk di sofa sambil meraih remot tv. Menonton drama mungkin bisa meringankan beban hatinya. Ella mulai menekan tombol di remotnya, mencari saluran yang menurutnya menarik. Namun tiba-tiba ia tersentak kaget, jantungnya berdetak dengan cepat, saat ia melihat saluran tv yang menayangkan berita tentang pesawat jatuh.


Ella beranjak dari duduknya, ia berdiri terpaku menatap layar tv yang ada didepannya. Jantungnya semakin berdetak cepat, saat telinganya menangkap satu kalimat bahwa pesawat yang jatuh itu adalah jurusan Paris-Reunion. Ella terus menatap layar tv itu tanpa kedip, pesawat dengan nomor sekian sekian, dari Paris menuju Pulau Reunion terjatuh di Samudra Hindia pada pukul 09.00 waktu Paris. Pesawat kehilangan kendali, dan terjatuh dua jam setelah lepas landas.


"Kairi." gumam Ella dengan sangat pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, mungkinkah itu pesawat yang membawa Kairi? Jam terbangnya sama persis, namun bukankah tidak hanya satu, pesawat yang terbang kesana dengan jam yang sama. Semoga ini bukanlah pesawat yang membawa Kairi, harap Ella kala itu.


Ella masih menyimak berita itu, dengan perasaan yang tidak karuan. Jantungnya berdetak cepat, hatinya berdebar-debar, dan tubuhnya lemas tak bertenaga. Dalam berita itu diterangkan bahwa dari 100 penumpang, 29 orang sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Sedangkan 71 penumpang lainnya masih dalam pencarian.


Tubuh Ella membeku seketika, dan fikirannya seakan melayang entah kemana, saat melihat daftar nama korban yang belum ditemukan. Diantara sekian banyaknya orang, Kairi adalah salah satunya. Ella melihat dengan jelas, nama Kairi Da Vinci tertera dalam daftar itu.


"Tidak, ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin!" teriak Ella sambil menutup mulutnya.


Tubuh Ella bergetar, kenyataan ini terlalu pahit untuk ia terima. Baru saja ia dan Kairi menikmati manisnya hidup, tapi kenapa ada cobaan yang begitu mengerikan. Ella berharap semua ini hanyalah bagian dari mimpi buruknya. Namun tidak, rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba datang membuatnya tersadar bahwa ini adalah nyata, dan bukan hanya mimpi.


"Aw! Ah sakit." rintih Ella sambil memegangi perutnya.


Bik Darmi yang baru saja masuk kedalam kamar, terlihat panik, dan langsung berlari mendekati Ella.


"Nyonya, kenapa Nyonya!" teriak Bik Darmi sambil menopang tubuh Ella yang sudah lemas.


"Ah!" Ella tak mampu lagi menjawab pertanyaan Bik Darmi. Ia hanya merintih sambil memegangi perutnya yang luar biasa sakitnya.


Ella menunduk, samar-samar ia melihat ada darah yang mengalir di kakinya.


Fikiran Ella semakin kacau, ditambah lagi rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi. Dalam hitungan detik, ia merasa dunianya menjadi gelap. Ia tak ingat lagi apa yang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2