
Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, Yura mulai mengerjapkan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya yang masih terlelap. Perlahan ia mengangkat tangan Dimas yang melingkar erat di pinggangnya. Yura tersenyum, dan menatap wajah Dimas cukup lama.
"Kau hanya milikku Dim, jadi hanya aku, satu-satunya wanita yang boleh ada dalam fikiranmu." batin Yura sambil mengusap pipi Dimas.
Lalu Yura bangkit dari tidurnya, ia turun dari ranjang, dan melangkah menuju ke kamar mandi. Namun Yura menghentikan langkahnya saat tiba didepan pintu kamar mandi, ia menoleh menatap Dimas yang masih damai dalam mimpinya.
"Tapi sayangnya ada wanita lain yang selalu kau fikirkan. Jadi jangan salahkan aku, jika aku juga mengusik hidupnya. Aku hanya memberikan apa yang dia berikan padaku." batin Yura sambil tersenyum licik. Lalu ia melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Beberapa menit kamudian Dimas menguap sambil menggeliat pelan, ia menarik selimutnya yang sudah melorot hinga ke paha. Sebenarnya matanya masih enggan untuk diajak bangun, namun ada satu hal yang mengusik kenyamanannya.
Tangannya meraba-raba kesamping, dan kosong, tidak ada tubuh istrinya di sana.
Lalu Dimas membuka matanya, ditatapnya setiap jengkal ruangan kamar, tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya di sana. Kemana Yura? fikir Dimas kala itu.
Samar-samar ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Kemudian Dimas duduk sambil memeluk guling, rambutnya masih acak-acakan, dan matanya masih sayu.
Tak lama kemudian Yura keluar dari kamar mandi, wajahnya tampak segar dengan titik-titik air yang menetes dari rambutnya.
"Kau sudah bangun Dim?" tanya Yura sambil mendekati Dimas.
"Aku terbangun karena kau tidak memelukku." jawab Dimas sambil tersenyum.
"Manja." kata Yura sambil mencubit lengan Dimas.
"Aku serius." kata Dimas.
"Ahh sudahlah, aku mau sisiran dulu." ucap Yura sambil melangkah menjauhi Dimas, ia duduk di kursi, didepan meja riasnya.
"Ini hari Minggu sayang, kenapa kau sudah mandi? kau ada acara?" tanya Dimas sambil menatap pantulan istrinya di cermin.
"Iya, Bu Clara sedang dirawat di rumah sakit, jadi aku dan beberapa dosen lainnya berencana untuk menjenguknya. Tidak apa-apa kan, jika aku tinggal sebentar Dim." kata Yura sambil mengoleskan make up di wajahnya.
"Oh begitu, iya tidak apa-apa. Mau aku antar?" tanya Dimas.
"Tidak usah, nanti kita berangkatnya bareng-bareng kok." jawab Yura.
"Bu Clara sakit apa?" tanya Dimas.
"Demam, tapi sudah lima hari belum juga membaik." jawab Yura.
"Kasihan juga ya, itu dosen yang suaminya sudah meninggal itu kan?" tanya Dimas.
"Iya." jawab Yura sambil beranjak dari duduknya.
"Kamu mau berangkat sepagi ini?" tanya Dimas saat melihat Yura sudah meraih tasnya.
"Mau bagaimana lagi Dim, teman-teman mengajak berangkat pagi." ucap Yura sambil mendekati Dimas.
"Ya sudah tidak apa-apa." kata Dimas.
"Kalau begitu aku berangkat dulu ya Dim." kata Yura.
"Iya, hati-hati." jawab Dimas sambil tersenyum.
"Iya, titip salam ya buat Willi." kata Yura sambil tersenyum, dan melangkah pergi.
Dimas menatap kepergian Yura sambil tersenyum. Akhir-akhir ini ia tak pernah lagi mengungkit-ungkit tentang Ella. Ahh semoga saja dia sudah mengerti, jika Ella memang hanya dianggap adik, tidak lebih, dan memang sudah seharusnya dia tidak cemburu.
***
Yura melajukan mobilnya menyusuri jalan raya yang masih sedikit sepi. Tujuannya adalah apartemen mewah yang berada didekat kampus Imperium. Yura tersenyum lebar saat mengingat sosok yang akan ditemuinya.
"Sorry Dim, aku terpaksa bohong sama kamu." ucap Yura sambil terus melajukan mobilnya.
Dan tak lama kemudian Yura sudah sampai ditempat tujuannya. Ia memarkirkan mobilnya, lalu turun, dan kemudiam melangkah memasuki lift. Yura menekan angka 9, karena di lantai itulah letak apartemen seseorang yang hendak ditemuinya.
Yura mengirimkan satu pesan chat pada orang itu, dan tak lama kemudian ia mendapat balasan, jika orang itu sudah menunggunya didalam. Kemudian dengan langkah cepat, Yura keluar dari lift, dan berjalan munuju apartemen nomor 87. Tiba di sana, sang pemilik apartemen langsung membukakan pintu untuknya. Seorang wanita cantik dengan mata biru, dan rambut coklatnya yang indah, ia menyambut kedatangannya Yura dengan tersenyum manis.
"Good morning Angelina (selamat pagi Angelina)" sapa Yura sambil melangkah masuk.
"Good morning, have a seat Yura (selamat pagi, silakan duduk Yura)" jawab Angelina.
__ADS_1
Kemudian Yura duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Angelina, ia pergi ke dapur, dan membuat secangkir teh hangat, lalu membawanya ke ruang tamu. Angelina meletakkan cangkir tehnya didepan Yura.
"Thank you." ucap Yura.
Angelina mengangguk sambil tersenyum.
"How was yesterday (bagaimana kemarin)?" tanya Yura.
"Failed (gagal)" jawab Angelina singkat.
"What (apa)!" teriak Yura.
"Yeach Kairi rejected me (ya Kairi menolakku)" ucap Angelina sambil mengibaskan tangannya.
"How come (kenapa bisa begitu)?" tanya Yura.
"I don't know, she prefers Gabriella (entahlah, dia lebih memilih Gabriella)" jawab Angelina sambil mendengus kesal.
"She is really an annoying woman (dia memang wanita yang menyebalkan)" kata Yura dengan penuh kebencian. Ia tidak menyangka, jika Kairi benar-benar mencintai Ella.
"Dia hanya wanita miskin, kenapa semua lelaki menyukainya. Ini benar-benar tidak adil." gerutu Yura dalam hatinya.
"You are right, she is annoying (kau benar, dia memang menyebalkan)" ucap Angelina sambil menatap Yura.
"But you didn't give up, didn't you (tapi kau tidak menyerah kan)?" tanya Yura.
"Of course not, I love Kairi, and I need it too (tentu saja tidak, aku mencintai Kairi, dan aku juga membutuhkannya)" jawab Angelina.
"That's why I came here, I have a plan (itulah sebabnya aku datang kemari, aku punya rencana)" kata Yura.
"What plan (rencana apa)?" tanya Angelina.
Yura tampak tersenyum licik, lalu ia mencondongkan tubuhnya, dan membisikkan sesuatu di telinga Angelina.
"Wow, that's a brilliant plan (wow, itu adalah rencana yang cemerlang)" kata Angelina sambil tersenyum lebar.
"Do you agree (kau setuju)?" tanya Yura sambil menyesap tehnya hingga tandas.
"Of course (tentu saja)" jawab Angelina dengan tegas.
"Okay, this time I won't fail (baik, kali ini aku tidak akan gagal)" ucap Angelina sambil ikut berdiri.
"That is good (itu bagus)" ucap Yura sambil mengedipkan matanya.
"Yeach." kata Angelina sambil tersenyum licik.
"I'll go, see you (aku pergi dulu, sampai jumpa)" kata Yura sambil melangkah pergi.
"See you (sampai jumpa)" jawab Angelina.
"Soon you will be mine Kairi (sebentar lagi kau akan menjadi milikku Kairi)" batin Angelina sambil menatap kepergian Yura.
***
Ella menyibak tirai jendelanya, dan membiarkan cahaya surya menyeruak masuk menyinari kamarnya. Ella menggulung rambutnya, dan kemudian ia duduk di kursi. Ia membuka lembaran kertas yang berisi coretan desain yang belum ia selesaikan.
Hari ini Ella tidak pergi bekerja, karena Kairi ada rapat diluar kantor hingga tengah hari. Jadi Kairi memintanya untuk tetap diam di rumah, dan Ella mengiyakan perkataan Kairi, ia memanfaatkan waktu liburnya untuk menyelesaikan desainnya.
Ella meraih pensil yang ada didepannya, kemudian jemarinya mulai memainkan pensilnya diatas kertas dengan lincah.
Namun tak berapa lama kemudian Ella mendengar suara pintu diketuk.
"Mungkinkah itu Kairi." gumam Ella sambil beranjak dari duduknya.
Ia melangkah keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ruang tamu.
Ella membuka pintu rumahnya, dan ia mengernyit heran kala tahu siapa yang datang menemuinya. Bukan Kairi, melainkan Yura.
"Hai Ella." sapa Yura sambil tersenyum.
"Mbak Yura, mmmm silakan masuk Mbak." ucap Ella sambil membuka pintu rumahnya lebih lebar.
__ADS_1
"Terima kasih." jawab Yura sambil melangkah masuk, dan duduk di kursi ruang tamu.
Dan Ella, ia berjalan menuju dapur, dan mengambil sebotol air mineral, lalu membawanya ke ruang tamu.
"Maaf Mbak aku tidak punya kompor, jadi tidak bisa menyeduhkan teh untuk Mbak Yura." kata Ella sambil meletakkan minumannya didepan Yura.
"Tidak apa-apa El, aku kesini untuk minta maaf sama kamu." ucap Yura sambil menatap Ella.
"Minta maaf." kata Ella mengulangi ucapan Yura.
"Iya El, aku mau minta maaf, aku banyak salah sama kamu, aku sudah menyulitkan hidup kamu. Kamu mau kan memaafkan aku." ucap Yura sambil menggenggam tangan Ella.
"Mbak Yura tidak salah, tidak perlu meminta maaf." kata Ella sambil menatap Yura.
"Aku salah El, kamu harus berada dalam posisi sulit seperti ini, hanya karena rasa cemburuku yang berlebihan." ucap Yura sambil menunduk.
"Tidak Mbak, cemburu itu wajar, aku tahu Mbak Yura sangat mencintai Kak Dimas. Maaf ya kehadiranku sudah membuat Mbak Yura merasa tidak nyaman." kata Ella sambil tersenyum.
"Jangan minta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf. Dulu aku yang berniat mengajakmu kesini, dan sekarang malah aku sendiri yang menyulitkanmu, ahh aku memang kejam." ucap Yura sambil tersenyum hambar.
"Jangan bicara seperti itu Mbak, bagiku Mbak Yura adalah wanita yang baik, selama ini Mbak Yura sudah banyak membantuku, hingga aku bisa menjadi seperti sekarang." ucap Ella.
"Mungkin kemarin Mbak Yura memang salah, tapi melihat dia sekarang, sepertinya dia sangat menyesali perbuatannya." batin Ella dalam hatinya.
"Ella, maukah kamu memperbaiki hubungan kita?" tanya Yura sambil tersenyum.
"Tentu saja mau Mbak." jawab Ella sambil membalas senyuman Yura.
"Kau sudah memaafkan aku?" tanya Yura.
"Aku tidak pernah marah dengan Mbak Yura." jawab Ella.
"Terima kasih Ella, kau benar-benar gadis yang baik." kata Yura.
"Aku tidak sebaik itu Mbak." ucap Ella.
"Ella, sebagai wujud terima kasih dariku, karena kamu sudah memaafkan aku, dan kamu mau memperbaiki hubungan denganku, bagaimana kalau kita pergi keluar, dan makan bersama?" tanya Yura sambil tersenyum.
"Makan bersama?" Ella balik bertanya.
"Iya, tidak usah jauh-jauh, di restoran depan saja." jawab Yura.
"Baiklah, kalau begitu aku ganti baju dulu ya Mbak." ucap Ella.
"Iya, aku tunggu." jawab Yura.
Lalu Ella beranjak dari duduknya, dan melangkah masuk kedalam kamarnya. Ia meraih ponselnya yang masih tergeletak diatas kasur. Ia hendak menghubungi Kairi.
"Ahh mati." ucap Ella sambil meletakkan kembali ponselnya.
Ella mengganti bajunya dengan dress selutut warna biru muda, ia juga menyisir rambutnya, dan menggerainya begitu saja. Ella memegang liontin kalungnya, entah kenapa hatinya merasa resah saat tahu ponselnya mati, dan tidak bisa menghubungi Kairi.
"Kairi pernah berpesan agar aku berhati-hati dengan Mbak Yura. Tapi melihat sikapnya tadi, sepertinya dia benar-benar menyesal. Lagipula cuma makan didepan, seharusnya tidak apa-apa kan." ucap Ella dengan pelan.
Kemudian ia menyambar tasnya, dan tak lupa ia juga mengisi daya ponselnya. Lalu ia keluar dari kamarnya, dan menemui Yura di ruang tamu.
"Kamu sudah siap?" tanya Yura.
"Sudah." jawab Ella sambil mengangguk.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang ya." kata Yura sambil beranjak dari duduknya.
"Ayo." jawab Ella sambil tersenyum.
Kemudian mereka berdua melangkah keluar rumah, dan berjalan bersama menyusuri gang kecil didepan rumah Ella.
Mereka terus berjalan sambil berbincang, dan sesekali tertawa. Dan tak lama kemudian mereka sampai didekat mobilnya Yura, dipinggir jalan raya.
"Ayo naik." kata Yura sambil membuka pintu mobilnya.
Ella tersenyum, dan kemudian masuk kedalam mobil. Ia duduk disamping kemudi.
__ADS_1
Namun beberapa detik kemudian, Ella mencium bau aneh yang sangat menyengat. Ella merasakan kepalanya sedikit pusing, dan kemudian ia tak tahu apa yang terjadi didetik berikutnya.
Bersambung....