
"El kau tenanglah dulu, dan dengarkan penjelasan aku. Aku..." kata Andra.
"Cukup! Aku bilang cukup Andra. Aku tidak mau lagi mendengar penjelasan apapun dari kamu. Sekarang pergi, pergi dari hadapanku Ndra!" bentak Ella sambil tetap menangis.
"Aku tidak akan pergi. Kau harus tahu El, ini salah paham. Aku tidak tahu jika Kairi melepaskan kamu. Kau tenanglah, aku akan meminta penjelasan darinya." kata Andra dengan nada tinggi.
"Bohong! Aku tahu kau bohong Ndra, sekarang pergi, pergi dari sini!" bentak Ella.
"Aku tidak akan pergi." jawab Andra.
"Baiklah, kalau begitu aku saja yang pergi." kata Ella sambil melangkah pergi meninggalkan Andra.
"Ella, tunggu Ella!" teriak Andra sambil mengejar Ella yang semakin mempercepat langkahnya.
Ella mengabaikan teriakan Andra, ia terus mempercepat langkahnya, dan menuju ke motornya.
Andra mencoba meraih tangan Ella yang sudah mengendarai motornya.
"El tolong dengarkan aku sebentar saja. Berhentilah dulu, dan dengarkan aku!" teriak Andra.
"Maaf Ndra." ucap Ella sambil melajukan motornya dengan cepat.
"El, Ella! Argghh!" geram Andra sambil menendang udara kosong didepannya.
Ella terlihat semakin menjauh, Andra tak mungkin lagi bisa mengejarnya, karena mobilnya diparkirkan cukup jauh dari tempatnya sekarang. Andra melirik jarum jam ditangannya, sudah pukul 02.00 siang, satu jam lagi Kairi akan berangkat ke bandara.
Lalu Andra berlari menuju mobilnya, dan melajukannya dengan cepat. Ia harus secepatnya sampai di rumah, dan menghentikan niat Kairi. Kairi harus tetap di sini, ia tidak boleh pergi, dan tidak boleh melepaskan Ella. Andra mengacak rambutnya dengan kasar, saat melihat jalanan didepannya cukup padat. Ia tak bisa lagi melajukan mobilnya dengan cepat. Berkali-kali ia melirik jarum jam ditangannya, waktu terus berkurang, sedangkan perjalanan menuju rumahnya masih cukup jauh. Andra meraih ponselnya, dan mencoba menghubungi Kairi, namun nomornya tidak aktif. Ia juga mencoba menghubungi telefon rumahnya, namun sama sekali tidak ada jawaban. Kemana mereka semua?
"Argghh!!" geram Andra dengan kesal sambil memukul kemudi mobilnya, ia terjebak dalam kemacetan yang cukup panjang. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
Andra mulai berkeringat, dan jantungnya mulai berdetak semakin cepat. Ia terus mencoba menghubungi telefon rumahnya, namun hinga berkali-kali tetap tidak ada jawaban.
***
Ella melajukan motornya sedikit lebih cepat, sesekali ia melirik kaca spionnya, takut kalau saja Andra mengejarnya. Setelah beberapa menit perjalanan, Ella merasa pusing dikepalanya, tubuhnya juga lemas seperti tidak bertenaga. Ella bermaksud menghentikan motornya, dan beristirahat sebentar. Namun belum sempat ia menghentikan motornya, pandangannya tiba-tiba sudah gelap, dan ia tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Ella terjatuh bersama motornya disebuah belokan. Selang beberapa detik, sebuah mobil warna hitam melintas dari arah yang berlawanan. Spontan mobil itu langsung berhenti, hingga bunyi decitan remnya terdengar cukup nyaring. Pengemudi mobil itu langsung turun, dan melihat Ella yang sedang tergeletak ditengah jalan. Alangkah kagetnya ia saat tahu kalau wanita yang terjatuh didepannya adalah temannya. Pengemudi mobil itu adalah Vino, dan Nadhira.
"Ella!" teriak Vino dengan kaget.
"Ada apa Vin?" tanya Nadhira sambil berlari mendekati Vino.
"Dia Ella." jawab Vino sambil mengangkat tubuh Ella, dan membawanya ke tepi jalan.
Tak berapa lama kemudian, banyak pengendara lain yang berhenti, dan ikut menolong Ella.
"Mas kenal sama mbak ini?" tanya seorang pria paruh baya, yang ikut menolong Ella.
"Kenal Pak." jawab Vino.
"Dia teman kita Pak." sahut Nadhira.
"Coba pakai ini Mbak." kata pria itu sambil menyodorkan sebotol minyak kayu putih pada Nadhira.
Nadhira menerimanya, dan mengoleskannya pada hidung Ella.
Beberapa detik kemudian, Ella mulai mengerjapkan matanya. Pengendara yang tadi ikut berhenti, kini mereka kembali meneruskan perjalanannya, setelah melihat Ella siuman.
"El, kamu baik-baik saja kan El." kata Nadhira sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Aku tidak apa-apa." jawab Ella dengan pelan.
"Kamu kenapa bisa jatuh, motor kamu bermasalah?" tanya Vino.
"Tidak, aku tiba-tiba pusing. Tadi aku sudah berniat untuk berhenti, tapi belum sempat berhenti tiba-tiba sudah gelap." jawab Ella sambil memegangi kepalanya. Rasa pusing itu masih ia rasakan sampai sekarang.
"Kita ke rumah sakit ya El." ucap Nadhira.
"Tidak usah Nad, aku pulang saja." jawab Ella sambil menggeleng.
"Kamu pucat lho El." ucap Nadhira.
"Iya El, kelihatannya kamu tidak baik-baik saja. Kita antar kamu ke rumah sakit ya." sahut Vino.
"Tidak usah, aku tidak apa-apa." jawab Ella sambil beranjak dari duduknya. Namun baru saja ia berdiri, pusing dikepalanya terasa semakin parah. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan nyaris saja terjatuh. Untung saja Vino dengan sigap menopang tubuhnya.
"El, kau kenapa El?" tanya Vino sambil menahan tubuh Ella yang sudah lemas.
"Kita ke rumah sakit ya El." sahut Nadhira dengan panik.
__ADS_1
Ella tidak menjawab, ia hanya memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit.
"Kita bawa ke rumah sakit Nad!" kata Vino sambil menggendong tubuh Ella, dan membawanya kedalam mobil.
Nadhira mengikutinya dibelakang.
Vino membaringkan tubuh Ella di kursi, dibelakang kemudi.
"Apa perlu kita menghubungi Mas Gilang, atau Kairi El?" tanya Nadhira.
"Jangan menghubungi Kairi." jawab Ella dengan pelan.
"Kenapa?" tanya Vino sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak usah." jawab Ella.
"Kenapa, dia calon suamimu kan El?" tanya Nadhira.
"Bukan lagi Nad. Dia sudah melepaskan aku karena Andra." jawab Ella masih dengan suara pelan.
"Apa!!" teriak Vino, dan Nadhira bersamaan.
"Andra, dasar laki-laki berengsek!" geram Vino dengan kesal. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
"Nadhira tolong kamu bawa Ella ke rumah sakit ya, aku akan menemui lelaki berengsek itu!" kata Vino sambil menatap Nadhira.
"Jangan Vin!" ucap Ella dengan pelan.
"Jangan melarangku El, dia sudah keterlaluan. Nadhira kamu bisa kan membawa Ella sendirian." kata Vino.
"Bisa Vin." jawab Nadhira.
"Hati-hati ya." ucap Vino.
"Iya, kamu juga hati-hati ya." jawab Nadhira.
"Iya, nanti aku akan segera menyusul, El motornya aku bawa dulu!" kata Vino sambil melangkahkan pergi.
"Kamu baik-baik ya El dibelakang, kita akan segera sampai di rumah sakit." ucap Nadhira sambil melajukan mobilnya.
"Terima kasih ya Nad." jawab Ella dengan pelan.
Sementara itu Vino mulai menaiki motor Ella, ia melajukannya dengan sangat cepat. Tujuannya adalah rumah Andra, ia sudah tidak sabar untuk menemui Andra, dan mendaratkan beberapa pukulan di wajahnya. Vino terus menambahkan laju kecepatannya, dengan lincah ia mendahului beberapa mobi yang memadati jalan.
Tak berapa lama kemudian, Vino sudah sampai didepan rumah Andra. Ia menghentikan motornya, dan dengan langkah cepat, ia langsung memasuki pintu gerbang rumah Andra. Vino terus melangkah sampai ke ambang pintu.
"Andra!" teriak Vino, kebetulan pintu rumah itu sedang terbuka lebar.
Andra yang saat itu baru saja melangkahkan kakinya di tangga, kembali melangkah menuju ruang tamu, saat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Andra melangkah mendekati Vino, dan belum sempat ia bertanya, tiba-tiba Vino sudah mendaratkan pukulan di wajahnya.
Tubuh Andra terhuyung, dan nyaris terjatuh. Namun dengan cepat Vino menarik kerah kemejanya, dan kembali mendaratkan pukulan di wajahnya.
"Dasar kamu laki-laki berengsek, laki-laki tidak punya hati. Aku menyesal pernah menjadi teman kamu Ndra!" teriak Vino sambil terus memukul Andra.
Vino menghajarnya dengan brutal, hingga Andra sama sekali tidak punya kesempatan untuk menghindar.
"Aaahhh!!" jerit Bu Mirna yang baru saja datang ke ruang tamu.
"Vino apa yang kau lakukan, lepaskan Andra!" teriak Bu Mirna sambil berusaha menahan tangan Vino.
"Dia tidak punya hati Tante, dia pantas mendapatkan semua ini. Sakit di wajahnya, tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan oleh para wanita." kata Vino sambil melepaskan kerah Andra dengan kasar.
Andra terhuyung kesamping, namun tidak sampai jatuh. Ia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kau gila Vin, kenapa kau memukulku seperti ini?" tanya Andra sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"Aku memang gila, karena punya teman yang berengsek sepertimu. Apa yang ada dalam fikiran kamu, sehingga kamu bisa setega itu.
Belum puas kamu menyakiti Nadhira, dan sekarang kamu menyakiti Ella. Dimana hati kamu Andra!" teriak Vino dengan nafas yang memburu, terlihat jelas jika ia sedang marah.
"Aku tidak mengerti dengan maksud kamu." jawab Andra sambil menatap Vino.
"Jangan pura-pura bodoh Andra, kamu menyakiti Nadhira, dan meninggalkan dia. Kau tahu, dia nyaris bunuh diri karena itu. Dan sekarang kau mengusik kebahagiaan Ella, setelah dulu kau selalu mengabaikan perasaannya. Kau tahu, dia sangat mencintai Kairi. Tapi kau malah membuat mereka berpisah, kau memaksakan egomu, dan menghancurkan kebahagiaan Ella!" teriak Vino sambil menunjuk-nunjuk wajah Andra.
Belum sempat Andra menjawab, Vino sudah kembali berteriak.
"Kau fikir dirimu pantas mendapatkan Ella, tidak Ndra, kau jangan bermimpi! Berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri, sementara Ella, dia masih menjaga kehormatannya. Apa menurutmu akan adil, jika kamu memaksa dia untuk menjadi milikmu hah!" bentak Vino.
Bu Mirna hanya menangis sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Kau salah paham Vin, aku..." ucap Andra.
"Apa lagi yang akan kau katakan! Kau ingin mengelak, kau tidak berani mengakui kesalahan kamu. Pengecut kamu Andra! Asal kau tahu Ndra, sekarang Ella sedang berada di rumah sakit." bentak Vino sambil melotot tajam.
"Ella di rumah sakit, apa yang terjadi padanya Vin?" tanya Andra.
"Apa pedulimu, kau yang membuatnya seperti itu. Bukankah sekarang kau puas Andra!" teriak Vino.
Belum sempat Andra menjawab perkataan Vino, tiba-tiba Kairi datang mendekati mereka. Ia berjalan menuruni tangga sambil membawa kopernya.
Dengan cepat Andra langsung mendekati Kairi, dan menghadang jalannya.
"Katakan apa yang terjadi! Kenapa kau melepaskan Ella, apa yang ada dalam fikiran kamu Kai!" teriak Andra sambil menatap Kairi dengan tajam.
"Ini keputusan yang terbaik Ndra. Menyingkirlah, aku harus segera pergi. Setengah jam lagi pesawatnya sudah lepas landas." ucap Kairi dengan pelan.
"Kau tidak boleh pergi Kai, kau jangan bodoh. Ella butuh kamu, dia mencintai kamu. Bukankah kalian akan menikah, kenapa tiba-tiba kau meninggalkan dia!" kata Andra masih dengan nada tinggi.
Vino menatap mereka sambil mengernyitkan keningnya, apa kira-kira Andra memang tidak bersalah.
"Apa aku sudah salah paham. Bagaimana ini, aku sudah terlanjur memukuli Andra." batin Vino dalam hatinya.
"Aku tidak bisa terus bersama Gabriella, aku tahu kau mencintainya. Dan dia juga masih menyimpan perasaan untuk kamu. Aku harus pergi, aku harap kau bisa menjaga dia. Kalian harus bahagia." ucap Kairi sambil menepuk bahu Andra.
"Kau bodoh! Kau sangat bodoh Kairi! Ella itu mencintai kamu, dia sama sekali tidak mencintaiku!" teriak Andra dengan kesal.
Kairi menatap Andra, seakan meminta penjelasan lebih atas ucapan yang baru saja ia lontarkan.
"Sehari setelah kau datang kesini untuk meminta restu dari Mama. Aku mendatangi Ella, aku mengungkapkan semua perasaanku padanya. Dia menolakku, dia sama sekali tidak menyisakan sedikitpun perasaan untukku. Satu-satunya pria yang dicintainya adalah kamu, kebahagiaan adalah bersama dengan kamu. Kenapa kamu menyakitinya, dan meninggalkan dia seperti ini." kata Andra dengan panjang lebar.
"Apa yang kau katakan ini benar Andra. Kenapa baru sekarang kau mengatakannya." ucap Kairi dengan pelan, ia tak menyangka jika Andra pernah mengungkapkan perasaannya, dan ditolak oleh Ella.
"Melihat kepedulian Gabriella waktu itu, aku fikir dia masih menyimpan perasaan untuk Andra. Aku tidak tahu jika Gabriella sudah menolaknya, kenapa tidak ada yang mengatakan hal ini padaku." batin Kairi dengan jantung yang berdetak cepat.
"Tentu saja benar Kai. Aku tidak mengatakannya, karena kufikir kau akan mengerti. Tapi aku tidak menyangka kalau kau akan sebodoh ini. Apa yang ada dalam fikiran kamu, apa untungnya kau melakukan ini!" jawab Kairi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
"Kau kemarin terpuruk seperti orang frustasi, dan setelah Gabriella datang, dan berbicara padamu, kau kembali punya semangat hidup. Dari situ aku tahu betapa berartinya dirinya bagimu, kau sangat mencintainya Andra. Aku ingin kau bahagia Ndra, aku juga ingin kau menjadi lebih baik. Dan hanya Gabriella yang bisa melakukan itu." ucap Kairi.
"Aku memang mencintainya, tapi aku tidak berniat untuk memilikinya. Dia sudah menolakku, dan lebih memilihmu. Jadi aku sudah berhenti mengejar dia, dan aku berusaha menghapus semua perasaanku untuk dia." kata Andra.
"Tapi kau sangat terpuruk waktu itu, aku tidak bisa bahagia diatas lukamu Ndra. Kau adikku." ucap Kairi.
"Aku terpuruk bukan hanya karena Ella, tapi juga karena kenyataan dalam keluarga kita. Dan aku berdiam diri di sana bukan sekedar terpuruk, tapi karena aku juga sengaja menghindar, dan memberi waktu untuk kamu. Selama ini kau tak pernah mendapatkan kasih sayang dari Mama, jadi aku memberi kesempatan padamu untuk menghabiskan waktumu bersama Mama dan Papa, tanpa adanya aku. Kau berhak mendapatkan itu Kai, karena Mama dan Papa adalah orang tua kandungmu." kata Andra sambil menunduk.
"Andra!" panggil Bu Mirna sambil mendekati Andra, dan merangkulnya. Bu Mirna menangis tersedu-sedu sambil mengusap punggung Andra.
"Maafkan Mama, semua ini karena kesalahan Mama." ucap Bu Mirna sambil tetap menangis.
Vino menatap mereka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajah Andra sudah babak belur akibat pukulannya, bahkan disudut bibirnya tampak mengeluarkan darah. Ia telah membuat kekacauan, hanya karena kesalah pahaman.
"Mama tidak salah, Mama jangan menangis lagi. Sekarang kesalah pahaman ini sudah diluruskan. Kai, semuanya sudah aku jelaskan, apa kau masih berniat pergi?" tanya Andra sambil menatap Kairi.
"Gabriella, aku bersalah sudah meragukan perasaan kamu. Apa kau masih bisa memaafkan aku." batin Kairi dalam hatinya.
"Aku harus menemuinya." ucap Kairi dengan tegas.
"Dia ada di rumah sakit. Tadi dia pingsan di jalan." sahut Vino.
"Aku harus segera kesana!" kata Kairi sambil melangkahkan kakinya, ia meninggalkan kopernya begitu saja di lantai.
"Aku pergi dulu Ndra, sorry ya, aku kira ini gara-gara kamu, ternyata bukan." ucap Vino sambil tersenyum nyengir.
"Hanya sorry Vin, setelah wajahku penuh lebam seperti ini, kau hanya mengatakan sorry. Aku jadi ragu Vin, apa kau masih temanku atau bukan." gerutu Andra dengan kesal. Ia melepaskan pelukan Ibunya, dan menatap Vino dengan tajam.
"Tadi Ella yang memberitahuku, katanya Kairi melepaskan dia karena kamu. Jadi bukan aku kan yang salah." ucap Vino.
"Tapi seharusnya kau mendengarkan penjelasanku." kata Vino.
"Sudahlah, semua sudah terlanjur. Vino tidak sengaja melakukannya, sekarang ikut Mama, biar Mama obati luka kamu." sahut Bu Mirna sambil mengusap lengan Andra.
"Terima kasih Tante, kalau begitu saya pamit dulu ya." ucap Vino sambil melangkah pergi.
"Ayo ikut Mama!" kata Bu Mirna sambil menuntun Andra.
"Papa kemana Ma?" tanya Andra sambil duduk di sofa, ia menatap Ibunya yang sedang mengambil kotak obat.
"Sedang keluar menemui teman lamanya. Mau membicarakan kerjasama bisnis katanya." jawab Bu Mirna sambil mengobati luka Andra.
Andra meringis, manahan rasa sakit, dan perih yang memenuhi seluruh wajahnya.
__ADS_1
Bersambung.......