Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab:12


__ADS_3

Sekira pukul satu siang ia pun sampai di rumah neneknya. Namun ia sangat heran melihat banyak sekali kerumunan orang yang nampak sedang duduk dan berdiskusi di halaman rumah neneknya beserta di beranda rumah neneknya.


Ia tidak ingin berpikiran macam-macam, namun bendera kuning yang berdiri bersisian dengannya mau tak mau harus membuat ia yakin bahwa telah terjadi sesuatu di rumahnya.


Dengan langkah yang cepat ia segera menerobos kerumunan orang dan mencari-cari dimana Eva dan neneknya.


Tak lama kemudian, ia pun menemukan keduanya sedang berada di ruang tengah. Ia melihat neneknya sedang menggendong bayi mungil yang masih merah.


Sedangkan di depan neneknya terbaring seseorang yang ditutupi dengan kain mulai dari kepala hingga kakinya.


Kiran masih tidak mengerti, neneknya ada, seorang bayi juga telah lahir, lantas mana Eva? Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan satu-satu dan ia harus segera menemukan jawabannya.


"Nek...!" panggilnya.


Neneknya melihat ke arah Kiran dengan tatapan kosong dan raut wajah yang sangat sedih.

__ADS_1


"Nak... Eva..."


"Eva kenapa, Nek?" tanyanya kemudian setengah memaksa.


"Ini bayi Eva kan? Terus mana Eva, Nek?" cecarnya lagi.


"Eva... Eva... meninggal Nak, setelah melahirkan bayi mungil yang sedang ada dalam pangkuan Nenek."


Seketika itu juga langit di atasnya seolah runtuh dan tatapannya berubah kosong dan ia tak percaya dengan semua kenyataan ini.


"Ini gak mungkin Nek, itu bukan Eva, kan?" sergahnya dengan air mata yang sudah merembesi kedua pipinya.


"Kami harus ikhlas, Nak. Eva sudah berusaha dengan sekuat tenaganya. Eva bahkan sudah mengikhlaskan semua yang kelak terjadi pada dirinya. Eva kehabisan oksigen ketika detik-detik kelahiran bayinya. Sehingga Eva harus merelakan dirinya demi anaknya lahir kedunia ini... kamu harus ikhlas, Nak." ucap neneknya sembari menatap Kiran dengan penuh haru.


Perlahan dibukanya kain yang menutupi seluruh tubuh Eva. Ia tak percaya bahwa tubuh kaku yang sedang terpajang di hadapannya kini adalah benar itu tubuh sahabatnya, tubuh orang yang sudah dianggapnya seperti saudara, tubuh Eva yang sudah menjadi teman hari-harinya.

__ADS_1


"Va... Bagaimana aku harus menjelaskan ini semua pada ibu kamu, Va? Setelah sekian lama kamu menghilang dari mereka dan lantas aku harus mengabarkan pada mereka kabar kematianmu. Ini gak mungkin Va, aku gak mungkin tega ngelakuin ini semua. Va, bangun Va... Bangunnn! Anakmu butuh kamu, Va...!" ratapnya


Rupanya hanya dia yang ditunggu sampai mayat Eva belum dimandikan. Sekarang, karena ia sudah berada di sini, akhirnya neneknya pun memerintahkan kepada juru mandi jenazah untuk memandikan jenazah Eva.


"Dik, jenazahnya harus segara dimandikan..." ucap juru mandi itu.


"Va..." ucapnya lirih.


Dengan perasaan serba kacau dan seperti tak ingin menerima semua kejadian ini. Kiran menjadi histeris dan menangis sejadi-jadinya. Apa lagi ketika jenazah Eva kini telah di giring untuk dibawa ke pemakaman.


Ia hendak mengantar, namun tiba-tiba saja kesadarannya hilang dan jatuh berdebam dilantai. Kesedihan yang begitu mendalam itu membuat Kiran lemah.


Setelah pemakaman, rumah neneknya kembali lenggang. Hanya beberapa orang saja yang masih menemani mereka. Di tangannya kini sedang memangku seorang bayi kecil nan mungil.


Bayi Eva yang tak sempat dilihatnya. Ia masih berlinang air mata ketika ia harus memandang wajah mungil yang sedang di gendongnya itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia harus di tinggal Eva seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2