Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kemarahan Dimas.


__ADS_3

Yura membalikkan tubuhnya, dan berusaha tersenyum semanis mungkin.


"Dimas, kau sudah pulang ya." ucap Yura menutupi kegugupannya.


"Jelaskan padaku, tentang semua kebohongan yang telah kamu lakukan!" kata Dimas sambil mendekati istrinya.


"Ap....apa maksudmu Dim, aku tidak mengerti." ucap Yura sambil melangkah mudur. Raut wajah Dimas terlihat datar, dan dingin. Yura tahu jika suaminya ini sedang menahan emosi.


"Kau tidak bisa mengelak lagi Yura. Aku tidak menyangka kamu bekerjasama dengan Jordan, dan berkhianat dibelakangku hanya demi menjebak Ella." kata Dimas dengan nada dingin. Ia terus mendekati istrinya yang sudah merapat di dinding.


"Aku minta maaf Dim, aku....aku melakukan ini, karena aku sangat mencintai kamu." ucap Yura sambil menangis. Ia tak punya alasan lagi untuk mengelak. Ia hanya bisa menangis, dan meminta maaf, agar Dimas tak lagi menyalahkannya.


"Cinta kamu bilang Yura. Jika memang kamu mencintaiku, kamu akan menghargai aku, bukan berkhianat seperti ini. Kau tahu, aku yang sudah menyebabkan Ayahnya meninggal, dan sekarang kamu menyulitkan hidupnya. Kamu ingin aku terkubur dalam dosa selamanya, iya!" teriak Dimas sambil menatap istrinya dengan tajam. Dadanya terasa sesak mendapati kenyataan ini. Kenapa harus istrinya?


"Kamu terlalu memperhatikannya Dim, aku cemburu. Aku hanya ingin kamu jauh darinya, hanya itu tujuanku." ucap Yura sambil menangis. Belum pernah Dimas membentaknya, ini adalah pertama kalinya.


"Kamu seorang dosen Yura, seharusnya bisa berfikir lebih dewasa. Bukan kekanak kanakan, dan licik seperti ini. Aku kecewa sama kamu." ucap Dimas sambil membalikkan badannya, dan melangkah pergi.


"Tunggu Dimas!" teriak Yura.


"Apa lagi?" tanya Dimas tanpa menoleh.


"Aku tahu aku salah, tapi aku melakukan ini, karena aku sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu perhatian, dan dekat dengan wanita lain, termasuk Ella. Aku cemburu Dim, tolong kamu mengerti perasaanku." ucap Yura sambil menggenggam tangan Dimas.


"Jika memang cemburu, kau bisa mengatakannya padaku secara baik baik, bukan seperti ini Yura. Kau tahu bagaimana usaha dia, untuk bertahan sendirian diluar sana, itu pasti tidak mudah Yura. Dan kamu juga membuat perusahaanku sampai bangkrut, karena cemburu. Alasan kamu tidak masuk akal Yura." kata Dimas sambil menatap Yura.


"Dim, maafkan aku Dim, aku tahu aku salah, tolong maafkan aku." ucap Yura semakin terisak.


"Mengucapkan kata maaf memang mudah, tapi memperbaiki keadaan, apa kamu fikir juga mudah?" sindir Dimas.


"Apa yang perlu diperbaiki, uang perusahaanmu ada dalam tabunganku, aku akan mengembalikannya padamu, dan kamu tidak akan bangkrut. Jadi sudah beres kan." kata Yura sambil menatap Dimas.


Dimas tersenyum kecut, "Kamu memang egois Yura. Kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri." ucapnya dengan nada yang tertahan.


"Apa maksud kamu?" tanya Yura.


"Kamu dan Ella sama sama wanita, tidak bisakah kamu memikirkan dia. Kamu menyuruh Johan untuk menculiknya, dan Johan hampir saja menyentuhnya. Jika tidak ada yang menolong, dia sudah kehilangan kesuciannya, dan kamu bisa bayangkan bagaimana masa depannya, hancur Yura. Dan kamu malah membuat seolah olah dia bekerjasama dengan Johan, kamu keterlaluan Yura." kata Dimas dengan nada tinggi.


Yura hanya memalingkan muka sambil mengusap air matanya.


"Kamu tahu betapa sulitnya dia hidup diluar sana, dia tidak punya pekerjaan, bahkan kontrakannya saja adalah rumah yang sudah tidak layak dihuni. Tidak pernahkah kamu memikirkan semua itu Yura." sambung Dimas sambil menatap istrinya.


"Dia bekerja di kantor Da Vinci, bukankah itu cukup bagus." ucap Yura dengan kesal.


"Tapi Kairi Da Vinci adalah orang lain, bagaimana bisa...." belum sempat Dimas meneruskan kalimatnya, Yura sudah lebih dulu menyahut.

__ADS_1


"Kamu juga orang lain Dimas, kalian tidak ada ikatan saudara. Jadi kamu juga tidak perlu mempedulikan dia. Lupakan dia, istri kamu itu aku, bukan dia." teriak Yura. Kesabarannya sudah habis, rasa cemburu benar benar telah menguasai hatinya.


"Aku sudah membunuh Ayahnya, aku bertanggung jawab atas masa depannya." bentak Yura.


"Itu bukan kesalahan kamu, itu kecelakaan, itu musibah Dimas." teriak Yura tidak mau kalah.


"Tapi aku yang menjadi penyebab kecelakaan itu." jawab Dimas masih dengan nada tinggi.


"Cukup Dimas, cukup! Aku seperti ini karena kamu, sikap kamu yang membuat aku melakukan ini, kamu selalu menomor duakan aku, aku cemburu Dimas. Aku cuma ingin menjauhkan dia dari kamu." teriak Yura.


"Rasa cemburu kamu tidak masuk akal Yura. Aku kecewa sama kamu. Sekarang renungkan kesalahan kamu, dan jangan pernah mengulanginya lagi. Atau aku akan menceraikanmu." ucap Dimas dengan tegas.


Yura tersentak kaget, ia tak menyangka, jika suaminya akan tega mengatakan kata cerai.


"Kamu sampai bilang cerai, hanya karena wanita itu Dim." kata Yura dengan gemetar.


"Bukan karena Ella, tapi karena sikap kamu. Kamu dosen, tapi kelakuan kamu sangat licik, seharusnya kamu tidak pantas menyandang gelar itu." kata Dimas sambil melangkah pergi meninggalkan Yura.


Yura masih tertegun ditempatnya, rasanya ia tidak percaya dengan semua yang telah terjadi. Rencana yang sudah hampir mencapai puncaknya, malah terbongkar dengan mudahnya. Ahh kenapa ia bisa sebodoh ini?


Kenapa ia begitu ceroboh saat menelefon Johan?


"Semua ini gara gara Ella, lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan sama dia. Dia harus membayar atas rasa sakit, yang aku alami sekarang." gerutu Yura dengan penuh emosi.


***


Hati Dimas seakan hancur berkeping keping pada saat itu, karena keegoisannya, ia telah merampas nyawa seseorang. Dan gadis kecil itu yang menjadi korbannya, gadis itu adalah Ella. Dimas merasa sangat bersalah atas kejadian itu, dan dia berjanji akan bertanggung jawab atas masa depannya Ella.


Tetapi kini, Dimas kembali membuat kesalahan atas hidup Ella. Dimas membawanya kesini, dan sekarang menelantarkannya begitu saja.


Sekejam inikah kamu Dimas?


"Kenapa kamu berubah Yura." gumam Dimas dalam kesendiriannya. Wanita anggun yang telah dicintainya selama bertahun tahun, malah menghianatinya, dan melakukan hal licik dibelakangnya.


Dalah hati ia merasa sangat marah pada Yura, namun bagaimanapun juga, Yura adalah istrinya, ia telah melahirkan darah dagingnya.


Dimas bukanlah tipe lelaki yang temperamental, yang dengan mudahnya menampar, atau menyakitinya diranjang, saat wanitanya berbuat salah.


Dimas lebih memilih untuk mendiamkannya saja, karena wanita juga pantas untuk dihargai.


Dimas juga bukan tipe lelaki, yang menjadikan minuman sebagai pelarian, ia lebih memilih merenung dalam kesendirian, saat hatinya sedang kacau. Dimas memang sosok lelaki yang sempurna, wajar jika Yura sangat takut kehilangannya.


"Yura tadi bilang, jika Ella tidak ada dikontrakannya. Lalu dimana dia?" gumam Dimas dengan pelan.


Dimas berfikir dengan keras, mencoba menduga duga dimana keberadaan Ella.

__ADS_1


Dan setelah beberapa detik kemudian, ia teringat akan satu nama, Kairi Da Vinci, dia pasti tahu dimana Ella berada.


Lalu Dimas beranjak dari duduknya, dan keluar meninggalkan ruangannya.


***


Pukul 06.00 pagi waktu Indonesia.


Andra sudah duduk dimeja makan sambil menyantap sarapannya.


Bu Mirna yang duduk didepannya, menatap Andra sambil tersenyum.


"Ini masih sangat pagi Ndra. Kenapa kamu terburu buru?" tanya Bu Mirna.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku secepatnya Ma, nanti aku akan menemani Nadhira untuk mencari gaun, dan juga cincin." jawab Andra sambil mengunyah makanannya.


"Oh begitu. Kamu pasti lelah ya Ndra, pekerjaan kamu jadi menumpuk. Apa Mama carikan orang saja, untuk menggantikan Adit, agar kamu tidak terlalu capek." kata Bu Mirna.


"Tidak usah Ma, aku sudah nyaman dengan Om Adit. Lagipula sekarang kan Om Adit sudah membaik, pasti sebentar lagi bisa masuk kerja." ucap Andra sambil tersenyum.


"Yah mudah mudahan saja. Mama juga berharap dia lekas sembuh." ucap Bu Mirna.


"Om Adit pasti akan sembuh secepatnya, Om Adit pasti sudah tidak sabar untuk menatap wajah cantiknya Mama." goda Andra.


"Andra, berani ya menggoda Mama." ucap Bu Mirna sambil menatap anaknya, ia berpura pura kesal, namun wajahnya bersemu merah.


Andra hanya tertawa menanggapi ucapan Ibunya.


"Andra." panggil Bu Mirna.


"Ya Ma." jawab Andra sambil mengusap bibirnya dengan tisu.


"Bagaimana kabar teman kamu?" tanya Bu Mirna.


"Teman siapa?" Andra balik bertanya. Ia tidak tahu siapa yang dimaksud Ibunya, Vino, atau Riky.


"Ella." jawab Bu Mirna.


Andra tertegun mendengar jawaban Ibunya. Entah kenapa tiba tiba hatinya berdebar. Sudah lama rasanya mereka tidak berhubungan. Andra juga tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Dan tanpa permisi, rasa rindu itu kembali menghampirinya.


"Ella kenapa aku selalu merindukanmu, saat kita tidak berhubungan dalam waktu yang cukup lama. Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?


Ella kapan kamu kembali?" gumam Andra didalam hatinya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2