Tentang Rasa

Tentang Rasa
HUKUMAN


__ADS_3

" Aku mau laporan kemarin!" kata Netta cuek lalu masuk ke dalam ruangannya.


" Iy...iya, Boss!" jawab Ayu.


Kenapa dengan Boss? Dia...seksi banget! Batin Ayu.


" Hei! Ngapain? Habis liat apa?" tanya Aris mengejutkan Ayu.


" Haissss! Kamu ini bikin jantungan aja!" kata Ayu.


" Abis, kayak liat setan aja!" balas Aris.


" Emang! Setan seksi!" jawab Ayu sekenanya.


" Hah? Ckkk! Obat kamu abis?" kata Aris tertawa.


" Sialan!" sahit Ayu.


Tok! Tok! Suara pintu ruangan Netta diketuk dari luar saat jam menunjuk angka 8 pagi. Netta yakin jika itu adalah Aris dan...Max! batin Netta.


" Masuk!" ucap Netta dari dalam ruangan.


Deg! Jantung Max seletika berdetak sangat kencang mendengar suara Netta. Kenapa suara Boss seperti suara...dia? Batin Max. Max masih sangat mengenal suara wanita yang dicintainya walau Netta hanya menjawab dengan sebuah kata saja. Ah, mungkin hanya kebetulan saja! Batin Max menepis praduganya itu. Aris membuka pintu ruang kerja Netta. Kaki Max rasanya tidak bisa digerakkan saat dilihatnya sosok yang sedang melihat ke arah luar kaca dan berdiri membelakanginya. Dia sangat tahu dan yakin walau hanya melihat bagian belakang Netta saja. Max merasa sangat malu dan memyesal dengan semua perbuatannya di masa lalu karena telah menyakiti hati Netta. Aris yang melihat penampakan Bossnya yang seksi, melongo dwngan mata melotot. Seksi banget! Batin Aris.


" Pak Aris?" panggil Max sambil menyenggol, dia tahu jika Aris pasti melihat pakaian Bossnya.


" Ah, eh, iy...iya! Ehm, selamat Pagi, Boss! Ini Pak Max, orang yang ingin bertwmu dengan Boss!" jelas Aris.


Max merasa kesal juga karena Netta memakai pakaian seksi begitu. Apa suaminya tidak melarangnya? Batin Max. Netta memutar tubuhnya, jantungnya berdetak tak beraturan, entah rasa apa yang saat ini memenuhi rongga hatinya, tapi dendam dalam dadanya sangatlah besar. Dia sedikit kurusan, ada jambang serta kumis memenuhi wajahnya, seperti pria yang tidak terurus. Mantan Boss besar? Apa yang terjadi denganmu? Ah, perduli amat! Batin Netta.


" Se...lamat Pagi, Boss!" sapa Max gugup tanpa berani melihat mata Netta.


Deg..deg! Deg..deg! Netta merasa jantungnya kembali berdetak seperti saat pertama kali melihat Max dulu. Dan detakan itu masih sama, walau setelah sekian lama. Aris masih dengan mode menatap Netta.


" Kamu bisa pergi, Ris!" kata Netta.

__ADS_1


" Eh,...iy, Boss!" jawab Aris kemudian dia pergi dari ruangan Netta.


Sial! Pake disuruh pergi lagi! Batin Aris kecewa.


" Angkat wajahmu Kalo sedang berbicara dengan atasan!" kata Netta tegas.


Max memejamkan matanya, lalu perlahan dia mengangkat wajahnya. Deg! I miss you so much, Arnetta Johanson! Kamu semakin terlihat cantik. Kamu pasti sudah hidup bajagia! batin Max dengan wajah sedih. Netta duduk di sofa, sedangkan Max masih berdiri ditempatnya. Wajah Netta menatap tajam mantan kekasihnya.


" Ada apa kamu ingin bertemu saya?" tanya Netta datar.


Sekuat tenaga dia menahan diri untuk menumbuhkan rasa benci dan dendamnya pada sosok dihadapannya itu.


" Saya mau minta maaf jika pekerjaan saya kurang baik menurut Boss. Dan saya ingin tahu keinginan Boss dalam membuat proposal agar sesuai dengan yang Boss harapkan!" jawab Max dengan sekali nafas.


Netta hanya terdiam setelah Max bicara.


" Hm? Jika kamu adalah seorang pegawai yang handal, seharusnya kamu bisa membuat proposal seperti yang saya inginkan!" jawab Netta tegas.


" Maaf kalo saya banyak memiliki kekurangan! Karena itu saya ingin tahu apa yang ada di benak Boss, jadi saya bisa membuat proposal itu sesuai yang Boss inginkan!" jawab Max, membuat Netta kesal.


Max sedikit terkejut mendengar sikap tegas Netta, karena yang dia tahu Netta adalah wanita yang lembut, bukan keras dan kejam.


" Baik! Beri saya waktu, saya akan memperbaiki semua!" kata Max pasrah.


" Aku beri kamu waktu hanya sampe hari ini! Kalau kamu masih belum bisa memberikan revisi itu, angkat barang-barangmu dari sini!" kata Netta lagi.


" Baik, Bos! Saya janji nanti sore pasti sudah selesai!" jawab Max meyakinkan Netta.


" Bagus! Pergilah!" kata Netta berdiri dari duduknya.


" Permisi, Boss!" ucap Max yang menatap sendu pada wanita yang hingga saat ini masih menghuni relung hatinya. Kamu sangat seksi, baby! Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk memohon ampunanmu atas perbuatan bodohku? Max bermonolog.


" Apa ada yang lain?" tanya Netta yang sejujurnya merasa jantungnya semakin berdentum keras saat Max menajamkan tatapannya.


" Tidak! Permisi!" pamit Max.

__ADS_1


Dia memutar tubuhnya dan menyentuh gagang pintu.


" Maaf, jika saya pernah menyakitimu!" kata Max pelan, tapi cukup terdengar ditelinga.


Tubuh Netta terhuyung kebelakang dan kembali terduduk di sofa. Netta memejamkan matanya dan memegang dadanya. Dia begitu kurus dan tidak rapi! Apakah benar dia ayah dari putraku? Kenapa dia...Apa dia...Tidak! Aku tidak boleh lemah! Dia pasti sangat bahagia dengan anak istrinya hingga mampu membuat aku hidup menderita! batin Netta melawan rasa kasihan dalam dirinya.


Jam sudah menunjukkan angka 5 sore, semua karyawan meninggalkan ruangannya untuk pulang.


" Pak Max! Apa bapak belum selesai?" tanya salah seorang pegawai pria yang satu divisi dengan Max.


" Iya, Pak! Bapak sudah membuatnya hingga 5 kali dan menurut saya proposal itu sudah sangat sempurna!" kata yang lain.


" Tidak apa-apa! Kalo kalian mau pulang, kalian pulang saja! Kasihan keluarga kalian! Saya masih mengerjakan sedikit lagi!" kata Max tersenyum.


" Boss kita itu benar-benar keterlaluan! Beberapa kali dia menyiksa divisi kita terutama Pak Max! Padahal divisi lainnya nggak gitu amat!" kata pegawai yang wanita.


" Sudah! Jangan menyalahkan Boss, dia hanya berusaha untuk memajukan perusahaan!" sahut Max yang tidak terima Netta dijelekkan.


" Tapi nggak seperti ini, Pak! Ini kerja rodi namanya!" kata pegawai wanita itu lagi.


" Sudah! Kalian pulang saja!" kata Max. Uhuk! Uhuk! Hatsi! Hatsi! Max batuk-batuk dan bersin-bersin.


" Apq nggak sebaiknya bapak pulang aja, minta izin ngerjakan besok? Sepertinya bapak kurang sehat!" kata pegawai wanita yang lain.


" Saya nggak apa-apa, Wen! Hanya sedikit masuk angin saja, gara-gara kehujanan di Singaraja kemarin!" kata Max.


" Saya akan menemani Pak Max!" kata Wenny.


" Baiklah, kalo gitu kami pamit dulu, Pak!" kata yang lain.


" Kamu pulang saja, Wen!" kata Max.


" Nggak papa, Pak! Saya kan masih single!" sahut Wenny.


Max hanya diam saja dan melanjutkan pekerjaannya. Tinggal mereka berdua di dalam ruangan. Max fokus pada layar laptopnya, sementara Wenny memandang Max dengan penuh damba. Aku yakin jika jambang itu di cukur habis, kamu pasti terlihat sangat tampan Pak Max! batin Wenny.

__ADS_1


__ADS_2