Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kembali Bersama


__ADS_3

Jantung Ella berdetak dengan cepat, hatinya berdebar keras. Mungkinkah penantiannya akan berujung sia-sia? Ella beralih menatap Kairi, lelaki itu tampak sedang membuka mulutnya, ia hendak berbicara.


Namun belum sempat Kairi mengutarakan kalimatnya, tiba-tiba Andra sudah lebih dulu membuka suara.


"Siapa kau? Jangan pernah mencoba untuk menggoda Kairi!" bentak Andra sambil melangkah mendekati mereka, ia berdiri disebelah Ella.


Melihat Kairi datang bersama wanita hamil, emosinya seakan membuncah hingga ke ubun-ubun. Selama ini Ella menunggunya dalam kerapuhan, mungkinkah sekarang Kairi akan mengkhianatinya.


"Ndra kamu..." ucapan Kairi terhenti, karena wanita itu dengan cepat menjawab perkataan Andra.


"Apa maksudmu?" tanya wanita itu juga dengan nada yang tinggi.


"Kairi sudah punya keluarga, jangan pernah bermimpi untuk memilikinya. Apa selama ini kau yang menolong Kairi, aku berterima kasih padamu. Tapi jangan sekalipun mengusik rumah tangganya." kata Andra sambil menatap wanita itu dengan tajam.


"Aku tidak mengusik rumah tangganya, aku hanya..." jawab wanita itu.


"Hanya apa? Kau yang menolong Kairi, dan sekarang kau hamil. Kau ingin Kairi bertanggungjawab kan, jangan mimpi! Katakan berapa banyak yang kau inginkan, aku akan membayarnya saat ini juga. Tapi kau harus pergi jauh dari kehidupan Kairi!" bentak Andra sambil mengepalkan tangannya.


"Andra kamu..." kata Kairi.


"Kamu diam dulu Kai, aku senang kau kembali dengan selamat, tapi aku juga tidak suka dengan caramu. Sekian lama Ella menunggumu, dia terpuruk dalam kesedihannya. Dan sekarang kau datang membawa luka, inikah yang dulu kau sebut cinta. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu menjaganya, kenapa kau melakukan semua ini Kai!" teriak Andra.


"Andra aku..." ucap Kairi.


"Cukup! Jangan pernah merendahkan aku, aku bukan perempuan murahan seperti yang kau bayangkan! Aku hamil dengan suamiku, aku sudah menikah, aku sama sekali tidak tertarik dengan dia." kata wanita itu dengan nada yang tinggi. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi.


"A...apa!" ucap Andra dengan gugup, mungkinkah ia sudah melakukan kesalahan.


"Bu, tolong maafkan dia. Dia adalah adikku, dia tidak bermaksud seperti itu." ucap Kairi sambil mengusap wajahnya. Andra tetap saja temperamental.


"Dia adik kamu Mas, tapi kenapa kelakuannya sangat jauh berbeda dengan kamu. Ahh sudahlah, aku akan pulang. Ini obatnya, minum sesuai dengan resepnya." kata wanita itu dengan kesal. Ia merogoh kantong plastik berisi obat-obatan dari dalam tasnya, lalu ia menyerahkannya pada Kairi, dan bergegas pergi meninggalkan mereka.


"Bu Sarah, tunggu Bu!" teriak Kairi. Namun yang dipanggil tetap melangkah pergi, seolah suara Kairi hanyalah angin lalu.


Andra tertegun, sepertinya ia sudah salah paham. Tapi semuanya sudah terlanjur, entah siapa wanita itu, yang jelas ia terlihat sangat marah. Andra menatap Kairi yang sedang memijit pelipisnya, lalu ia duduk berjongkok sambil menggaruk kepalanya.


"Kai, aku minta maaf, aku kira kamu." ucap Andra dengan gugup.


"Kamu masih tidak berubah Ndra, sangat temperamental. Dia dan suaminya adalah orang yang menolongku, tanpa mereka mungkin aku sudah mati Ndra." kata Kairi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maaf aku salah, tapi kau pulang bersama wanita hamil." ucap Andra.


"Lalu kenapa?"


"Kufikir..."


"Kau fikir aku yang menghamilinya, ingat ya Ndra aku bukan kamu!" kata Kairi dengan tegas.


"Siapa tahu kau amnesia."


"Kau berharap aku amnesia!" kata Kairi dengan cepat.


"Tidak bukan seperti itu." jawab Andra.


Karena meladeni omongan Andra, Kairi sampai tidak sadar jika Ella masih menangis dihadapannya. Lalu Kairi menatap istrinya dengan lembut, ia mengusap air mata Ella dengan kedua tangannya.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Sekarang aku sudah kembali, maaf jika selama ini aku membuatmu bersedih." kata Kairi sambil tersenyum.


Tanpa bicara, Ella langsung menghambur ke pelukan Kairi. Sambil tetap menangis, ia memeluk suaminya dengan sangat erat.


Kairi membalas pelukan Ella seraya tangannya mengusap-usap punggung istrinya. Andra berdiri, ia tersenyum melihat mereka saling berpelukan. Meskipun sekarang ia terabaikan, tapi ia sangat bahagia melihat Kairi kembali, dan tetap menjadi milik Ella.

__ADS_1


Bu Halimah yang saat itu baru saja berjalan menuju ruang tamu, tersentak kaget saat melihat Ella sedang memeluk Kairi. Beliau berlari sambil tetap membawa Billa didalam gendongannya.


"Nak Kairi!" teriak Bu Halimah sambil menangis. Beliau duduk bersimpuh ditengah lantai. Rasa haru, dan bahagia yang datang tanpa diduga, membuatnya seperti kehilangan tenaga. Kakinya lemas seakan tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.


Mendengar teriakan Ibunya, Ella melepaskan pelukannya. Dan Kairi, ia iuga tersentak kaget, ia menatap Ibu mertuanya tanpa kedip. Ada bocah kecil yang berada dalam gendongannya, matanya biru, dan rambutnya kecoklatan. Mungkinkah itu anaknya?


"Sayang..." ucap Kairi.


"Iya, dia Billa, dia anak kita." jawab Ella sambil tersenyum. Ia berdiri, dan mendorong kursi roda Kairi. Ia membawa suaminya mendekati Ibu, dan anaknya.


Kairi menitikkan air matanya. Gadis kecil itu menatapnya tanpa kedip. Waktu dirinya pergi, Ella masih mengandung empat bulan, dan sekarang anaknya sudah sebesar ini. Bagaimana sulitnya Ella melewati semua itu sendirian.


"Sayang, anak Papa." ucap Kairi sambil mengulurkan tangannya. Namun Billa malah menoleh, dan menyembunyikan wajahnya dipelukan Neneknya. Billa merangkul Bu Halimah dengan sangat erat.


Ella melangkah mendekati anaknya, ia meraihnya, dan membawanya ke dalam gendongannya. Ella mengajak Billa duduk didepan Kairi, ia menatap anaknya lekat-lekat.


"Billa, dia adalah Papa. Papa sangat merindukan kamu sayang." ucap Ella dengan lembut.


Namun Billa menggelengkan kepalanya, dan merengek minta digendong Andra.


Andra melangkah mendekatinya, lalu menggendongnya.


"Papa." ucap Billa sambil memeluk Andra dengan erat.


"Dia memanggilmu Papa?" tanya Kairi sambil menatap Andra.


"Iya, tapi kau jangan salah paham. Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu, aku hanya ingin Billa tumbuh seperti anak lainnya. Punya Mama, dan juga punya Papa. Kau tenang saja, aku memang menganggap Billa seperti anakku, tapi aku tidak pernah menganggap Ella seperti istriku." jawab Andra dengan panjang lebar. Billa sudah berhenti merengek, ia sudah merasa tenang didalam gendongan Andra.


"Terima kasih sudah menjaga mereka." kata Kairi, dan Andra menggapinya dengan anggukan, dan senyuman.


"Billa hanya anak kecil Kai, selama ini dia belum pernah bertemu denganmu. Jika nanti sudah terbiasa, dia pasti akan suka denganmu." ucap Ella sambil tersenyum.


"Ibu maafkan aku, selama ini mungkin aku sudah membuat Ibu khawatir. Aku juga tidak bisa menemani Gabriella saat hamil, dan melahirkan. Aku benar-benar minta maaf Bu." ucap Kairi sambil membungkuk, ia memegang lengan Bu Halimah yang saat itu masih bersimpuh di lantai.


"Kamu jangan meminta maaf nak, kamu tidak salah. Ibu sangat senang melihat kau kembali dengan selamat. Apa yang selama ini terjadi padamu nak, maafkan kami yang tidak bisa menemanimu saat kau dalam kesulitan." kata Bu Halimah sambil menangis.Terharu sekali rasanya melihat Kairi kembali dengan selamat. Ella pasti sangat bahagia.


"Kita duduk di sana Bu, jangan di lantai. Saya akan menceritakan semua yang saya alami." jawab Kairi sambil tersenyum.


Perlahan Bu Halimah beranjak dari duduknya, beliau melangkah ke sofa, dan duduk di sana. Andra mengikuti Bu Halimah, sambil menggendong Billa ia ikut duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Ella, ia mendorong Kairi, dan membawanya mendekati sofa. Lalu ia duduk disebelah Ibunya.


"Apa yang terjadi Kai?" tanya Ella sambil menatap Kairi lekat-lekat.


"Anston, dan Sarah wanita yang tadi mengantarkan aku. Mereka adalah orang yang menemukan aku, katanya waktu itu aku pingsan, dan tubuhku penuh dengan luka. Mereka membawaku ke rumah sakit di Maritius, kebetulan Anston adalah dokter, dan Sarah adalah perawat. Aku koma, hingga satu minggu aku belum sadar." kata Kairi mengawali ceritanya. Mereka semua masih diam, mendengarkan Kairi yang sedang berbicara.


"Lalu mereka membawaku ke Lyon, karena sebenarnya rumah mereka ada di Lyon, dan mereka juga bekerja di rumah sakit Lyon. Waktu itu mereka ke Maritius hanya untuk mengunjungi orang tuanya. Mereka merawatku di rumah sakit Lyon, dan selama satu tahun lebih aku mengalami koma." sambung Kairi sambil menghela nafas panjang.


"Kai, kau terluka selama itu." ucap Ella sambil menggenggam tangan Kairi.


"Iya, tapi Allah masih mengizinkan kita untuk bersama. Sekarang aku masih bisa kembali menemani kamu Gabriella." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Setelah empat belas bulan akhirnya aku sadar, tapi sebagian ingatanku hilang. Aku tidak tahu siapa diriku, dan dimana tempat tinggalku. Anston merawatku, dan mengobatiku hingga aku bisa mengingat kembali siapa diriku." kata Kairi sambil menghela nafas panjang. Melihat yang lainnya masih diam, Kairi kembali meneruskan kalimatnya.


"Aku baru dua minggu berhasil mendapatkan kembali ingatanku. Aku langsung meminta tolong kepada mereka untuk mengantarkan aku pulang. Awalnya mereka menolak, karena aku masih lumpuh. Tapi aku bersikeras untuk pulang, aku teringat dengan Gabriella sedang hamil. Akhirnya Anston mengizinkan aku pulang, dan memberikan aku surat rujukan. Agar aku bisa dengan mudah memeriksakan kakiku di rumah sakit Paris, tidak perlu jauh-jauh ke Lyon." sambung Kairi.


"Tapi tadi yang mengantarmu hanya seorang wanita, dimana Anston?" tanya Andra.


"Anston adalah dokter spesialis, kebetulan hari ini pasiennya sedang kritis. Jadi dia tidak bisa mengantarku. Dia hanya menyuruh istrinya, dan supirnya. Tapi aku tidak menyangka kau akan gegabah seperti tadi Ndra, kau sudah mengecewakan dia." kata Kairi sambil menatap Andra.


"Aku tidak sengaja Kai, aku fikir dia hamil anakmu." ucap Andra sambil tersenyum nyengir.


"Aku tidak sebodoh itu, aku sudah punya istri, tidak mungkin aku mengkhianatinya. Lagipula aku masih lumpuh, kau fikir aku bisa melakukan hal itu." kata Kairi dengan cepat.

__ADS_1


"Aku tadi tidak tahu Kai, maaf." ucap Andra.


"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah padanya. Besok kau harus datang ke rumah sakit Lyon, kau harus meminta maaf secara resmi kepada mereka." kata Kairi.


"Tapi Kai."


"Ndra, mereka sudah menolongku. Ucapanmu tadi sudah menyakiti dia, kau haru minta maaf padanya." kata Kairi tanpa mau dibantah.


"Baiklah, besok aku akan kesana." jawab Andra mengalah.


"Ya sudah nak Kairi, sekarang beristirahatlah. Kau baru saja melakukan perjalanan jauh, tapi sebelum itu hubungilah Ibumu, beliau sangat sedih saat kehilangan kamu." ucap Bu Halimah sambil menyeka sisa-sisa air matanya.


"Baik Bu, setelah ini aku akan menelfon Mama." jawab Kairi.


"Billa ikut Mama ya sayang." kata Ella sambil mendekati Billa, dan mengulurkan tangannya. Lalu ia membawa Billa kedalam gendongannya, kemudian mendorong Kairi menuju ke kamarnya.


Andra dan Bu Halimah, mereka masih duduk di sofa ruang tamu.


Tak lama kemudian, Ella dan Kairi sudah tiba di dalam kamar. Ella menurunkan Billa di ranjang, dan memberinya boneka beruang kesayangannya. Kairi mengernyit heran saat menatap dua koper yang berada di samping sofa.


"Sayang itu apa?" tanya Kairi sambil menatap koper itu.


"Aku berencana pulang ke Indonesia Kai, aku sudah memesan tiketnya, dan kami akan berangkat besok pagi." jawab Ella sambil menunduk.


"Kau akan pulang?"


"Iya, tapi itu rencanaku kemarin, sekarang tidak lagi Kai. Kau sudah kembali, aku tidak mungkin meninggalkan kamu." ucap Ella sambil menatap Kairi.


"Aku senang mendengar jawabanmu. Tapi Gabriella, aku sekarang lumpuh. Meskipun dokter bilang lumpuh ini tidak permanen, tapi aku juga tidak tahu kapan aku akan sembuh. Apakah kau masih bisa menerimaku Gabriella?" tanya Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.


"Apa yang kau katakan Kai, apapun keadaan kamu, aku selalu mencintai kamu. Selagi hatimu tidak berubah, hatiku juga tidak akan berubah Kai. Apapun yang terjadi padamu, aku tetap mencintaimu." jawab Ella sambil menggenggam tangan Kairi.


"Terima kasih sayang." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Papa!" panggil Billa sambil menatap Kairi tanpa kedip, tangan mungilnya mengangkat boneka beruang, dan menunjukkannya pada Kairi.


"Billa, kau memanggil Papa, kau mengajak Papa bermain?


Sayang tolong bawa dia kesini, aku akan menggendongnya!" kata Kairi sambil tersenyum senang.


Ella juga ikut tersenyum, ia memgangkat tubuh Billa, dan menyerahkannya pada Kairi. Kairi tersenyum sambil menatap Billa yang sekarang berada dalam gendongannya.


"Papa sangat menyayangimu nak, maafkan Papa sudah meninggalkan kamu begitu lama." ucap Kairi sambil menciumi anaknya. Rasa haru, sedih, dan bahagia bercampur menjadi satu dalam hatinya. Ia menatap mata biru Billa yang begitu bening, ahh wajahnya benar-benar mirip dengan dirinya. Lalu Kairi memeluk Billa dengan sangat erat, mengusap punggungnya, juga membelai rambutnya yang kecoklatan.


***


Keesokan harinya. Sang surya baru saja menyorotkan cahaya jingganya. Semilir angin pagi masih terasa sedikit dingin. Sambil menenteng jaket birunya, Andra berjalan menuju parkiran apartemen. Ia akan pergi ke Kota Lyon, menuruti perintah Kairi untuk meminta maaf kepada Anston, dan Sarah.


Andra sengaja berangkat pagi-pagi sekali, karena menuju ke Lyon membutuhkan waktu sekitar lima jam. Andra ingin segera meminta maaf, dan segera kembali sebelum malam. Karena orang tuanya sudah dalam perjalanan ke Paris, setelah mendapat kabar bahwa Kairi kembali, mereka langsung memesan tiket, dan terbang menuju ke sini.


Andra naik kedalam mobilnya, dan duduk didepan kemudi. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Andra terus melajukan mobilnya, mengikuti arah yang ditunjukkan oleh ponselnya. Andra belum terlalu paham dengan negara ini, jadi dia menggunakan google maps untuk menemukan rumah sakit di Kota Lyon, rumah sakit tempat Anston dan Sarah bekerja.


Hampir tengah hari Andra baru tiba di rumah sakit itu. Ia memarkirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke dalam. Setelah mendapatkan informasi dimana letak ruangan Pak Anston, Andra bergegas pergi menuju ke sana. Ia berharap semoga Bu Sarah bisa memaafkannya, dan tidak memperpanjang urusannya.


Andra berhenti didepan ruangan yang bertuliskan Mr.Anston. Kebetulan saat itu pintu ruangan sedikit terbuka, dan samar-samar Andra mendengarkan suara dua orang yang sedang berbincang. Tangan Andra yang hendak mengetuk pintu terhenti seketika, saat pendengarannya menangkap satu kalimat yang cukup mengagetkan.


Andra tercengang, tubuhnya seakan membeku saat itu juga, dan hanya jantungnya yang terus berdetak semakin cepat.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2