Tentang Rasa

Tentang Rasa
Misteri Tentang Kairi


__ADS_3

Ella mulai menyalakan kran air, dan mencuci piring kotornya. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Ahh sudahlah, aku menjalin hubungan dengan Kairi masih dalam hitungan jam. Mungkin memang belum saatnya, aku tahu banyak tentang masa lalunya." gumam Ella didalam hati.


Disaat Ella masih larut dalam fikirannya, tiba tiba ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud melukai hatimu." ucap Kairi sambil memeluk Ella.


Ella masih diam terpaku, kepalanya menunduk, tak mengucapkan kata sepatah pun.


Hening, hingga dalam waktu yang cukup lama. Hanya suara kran air yang terdengar di telinga mereka.


Lalu Kairi melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuh kekasihnya, kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Indonesia pernah memberiku luka, hingga aku tak mau lagi berurusan dengan negara itu. Tapi kehadiranmu merubah pandanganku Gabriella, aku bersedia kembali menginjakkan kakiku disana berkat kamu. Kamu yang sudah menyembuhkan luka lamaku Gabriella." kata Kairi sambil menggenggam kedua tangan Ella.


"Siapa yang memberimu luka?" tanya Ella dengan suara yang pelan. Ia mendongak, seolah meminta kejujuran lewat tatapan matanya.


"Seorang wanita." jawab Kairi dengan suara yang tertahan, terlihat jelas, jika luka itu masih membekas dihatinya.


Ella menunduk, menata hatinya yang mulai kacau. Kairi menyimpan luka yang mendalam, hanya karena seorang wanita. Siapakah wanita itu?


"Kau bilang kekasihmu hanya Angelina Kai, dan aku rasa Angelina bukanlah orang Indonesia." gumam Ella dengan pelan, hanya seperti bisikan.


"Dia bukan kekasihku." jawab Kairi dengan cepat.


Ella masih tetap menunduk, entah kenapa hatinya mulai ngilu. Fikirannya menerawang jauh, membayangkan sosok wanita yang dimaksud Kairi.


"Lalu dia siapa? apakah cinta pertamamu, yang menolakmu begitu?" tanya Ella sambil tertawa hambar.


Kairi tampak berfikir sejenak, kemudian ia menghembuskan nafas panjang, dan memberikan jawaban untuk Ella.


"Yah, mungkin memang bisa dikatakan demikian. Dia adalah cinta pertama yang menolakku, karena kenyataannya dia memang tidak pernah menganggapku." ucap Kairi sambil menggaruk kepalanya.


"Dengan mudahnya kau ucapkan kalimat itu Kai. Sebesar itukah rasa cintamu padanya, hingga kau merasa sangat terluka saat dia tak menganggapmu. Lalu bagaimana perasaanmu sekarang Kai, kau benar mencintaiku, atau hanya menjadikanku pelarian." batin Ella didalam hatinya.


"Kenapa kau bisa mengenalnya?" tanya Ella.


"Papa pernah punya bisnis di Indonesia." jawab Kairi.


"Sepertinya kau sangat mencintainya." gumam Ella sambil memalingkan wajahnya.


Kairi yang menyadari perubahan raut wajah kekasihnya, langsung menangkup kedua pipinya. Kairi menatap wajah Ella dengan pandangan lembut.


"Kamu jangan salah paham, jangan berfikiran yang macam-macam. Untuk saat ini, dan juga nanti, kamu adalah satu satunya wanita yang aku cintai. Aku akan menikahi kamu, menjagu kamu, dan membahagiakan kamu seumur hidupku. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu, dan tidak akan pernah menyakiti kamu. Percayalah." ucap Kairi sambil mengusap pipi Ella dengan mesra.


"Aku tidak tahu yang kau katakan benar, atau tidak Kai. Tapi saat ini, aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa mempercayai kamu, karena aku sudah terlanjur melangkah sejauh ini. Semoga cinta yang kali ini, tidak membawaku dalam kekecawaan." batin Ella didalam hatinya.


"Sayang, percayalah padaku." ucap Kairi sambil menatap mata Ella.


"Aku percaya, aku harap kau tidak akan membuatku kecewa." jawab Ella, tatapan mata Kairi seakan menghanyutkannya, seolah dia tak mampu berpaling barang sedetikpun.

__ADS_1


"Kau sangat berharga bagiku, aku tidak mungkin mengecewakanmu." ucap Kairi sambil tersenyum.


Ella juga tersenyum, meski hatinya masih ragu, namun ia mencoba untuk yakin dengan pilihannya.


Kairi kembali mengusap pipi Ella dengan lembut, lalu ia menurunkan tangan kanannya, dan meraih pinggang Ella. Kairi menarik tubuh Ella kedalam pelukannya, dan mengecup keningnya dengan mesra. Ella memejamkam matanya, menghirup nikmat aroma parfum yang menguar dari tubuh Kairi.


"Cinta ini terlalu indah, dan dada ini juga terlalu nyaman untuk bersandar. Semoga hubungan ini bisa bertahan hingga ke pelaminan. Aku terlalu takut kehilangan dia." gumam Ella didalam hatinya.


Kairi hendak melepaskan pelukannya, namun niatnya tertahan saat menyadari tangan Ella mulai melingkar di pinggangnya. Kairi tersenyum kala merasakan hangatnya usapan Ella di punggungnya.


"Kai." panggil Ella.


"Hmmm." gumam Kairi sambil memainkan rambut Ella dengan jemarinya.


"Sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Ella.


"Kenapa kau tanyakan itu?" jawab Kairi balik bertanya.


"Aku hanya ingin tahu." jawab Ella.


"Sejak pertama kali bertemu denganmu di bandara." ucap Kairi sambil menunduk, dan menempelkan dagunya dipuncak kepala Ella, ia tersenyum kala melihat kekasihnya memeluk erat dirinya.


"Benarkah, kenapa kau bisa mencintaiku? padahal kau belum tahu seperti apa sifatku." tanya Ella.


"Entahlah, rasa itu datang begitu saja. Kau tahu, sejak hari itu wajahmu selalu hadir dalam ingatanku, namun aku mencoba untuk menepisnya, karena dalam waktu yang cukup lama, takdir belum juga mempertemukan kita lagi." kata Kairi.


"Bagaimana perasaanmu saat tender waktu itu?" Ella kembali bertanya.


"Kai, boleh aku bertanya satu hal lagi?" tanya Ella.


Kairi tersenyum, "Bertanyalah, sebanyak yang kamu mau." ucapnya.


"Sejak kita bertemu dipernikahannya Kak Dimas, kau seolah menghilang, kau kemana?" tanya Ella.


"Maaf, saat itu aku harus pulang. Aku mengurus bisnis disini, karena Papa sedang sakit." jawab Kairi.


"Om Louis sakit apa?" tanya Ella sambil mendongak menatap Kairi.


"Diabetnya kambuh, dan cukup lama dirawat di rumah sakit, tapi setelah aku menjanjikan satu hal, Papa langsung sembuh, dan sehat sampai sekarang." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Kau menjanjikan apa?" tanya Ella sambil mengerutkan keningnya.


"Kau sungguh ingin tahu?" tanya Kairi sambil menaikkan satu alisnya.


"Tentu saja." jawab Ella sambil mengangguk.


"Memberikan cucu." jawab Kairi dengan santainya.


"Hah!!" teriak Ella sambil melepaskan pelukannya.


"Jangan kaget." ucap Kairi sambil tersenyum miring.

__ADS_1


"Apa maksudmu memberikan janji itu?" sambung Ella sambil melangkah kesamping, mematikan kran air yang sejak tadi dibiarkan menyala.


"Sudah lama Papa menginginkan aku menikah. Sudah tidak sabar ingin menggendong cucu katanya. Jadi ya begitu, biar cepat sembuh aku beri janji yang baik saja." jawab Kairi sambil tertawa.


"Tapi kau tidak punya istri, bagaimana mungkin bisa punya anak." protes Ella.


"Tapi waktu itu aku sudah punya calon." ucap Kairi tak mau kalah.


"Siapa?" tanya Ella dengan heran.


"Kau." jawab Kairi singkat.


"Jangan sembarangan." kata Ella dengan kesal.


"Aku tidak sembarangan, saat itu aku sudah memberimu kalung kan." ucap Kairi sambil melangkah mendekati Ella.


"Tapi kita tidak tidak punya hubungan apa apa." kata Ella.


"Tapi kamu sudah menerima kalung dariku, dan kamu juga memakainya hingga aku kembali, benar kan." ucap Kairi sambil tersenyum.


Ella menghembuskan nafasnya dengan kasar, itu memang kesalahannya. Memakai kembali kalungnya, dan tidak sengaja bertemu dengan Kairi. Jadi salah paham kan dia. Tapi mau bagaimana lagi, menjelaskannya pun dia juga tidak akan percaya.


"Aku mengantuk Kai, kau pergilah, aku mau tidur." ucap Ella sambil menatap Kairi.


"Kau mengusirku sayang." goda Kairi sambil tersenyum.


"Aku tidak berani, apartemen ini bukan mlilikku." jawab Ella dengan kesal.


"Aku bercanda sayang. Ya sudah, aku pergi dulu ya. Tidur yang nyenyak, dan mimpi yang indah. I love you Gabriella." ucap Kairi sambil mengecup kening Ella dengan singkat.


"I love you too Kairi." jawab Ella sambil tersenyum.


Kemudian Kairi melangkahkan kakinya keluar apartemen, dan Ella juga melangkah menuju kamarnya.


Ella duduk termenung di ranjangnya, sambil menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Perkataan Kairi masih mengganggu dihatinya. Siapa sebenarnya wanita itu?


Ella memutar bola matanya, sambil mendengus kesal, seperti inikah rasanya cemburu?


Lalu tak sengaja matanya menatap almari kecil yang terletak disamping cermin. Cukup lama Ella terpaku menatap almari itu.


"Apa aku salah, jika mencari tahu tentang wanita itu. Siapa tahu Kairi masih menyimpan sesuatu tentangnya." ucap Ella dengan pelan.


Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya mendekati almari itu, dengan pelan Ella mulai membukanya.


Ella menemukan beberapa buku yang menumpuk disana, ia melihat satu persatu. Dan tak lama kemudian ia menemukan sebuah album, Ella mulai membukanya. Lembar demi lembar ia buka, dan hanya foto Kairi, dan Pak Louis yang ada, tidak ada foto wanita sama sekali.


Ella mengembalikan album itu, dan mulai melihat buku yang lainnya, tidak ada tanda apapun tentang wanita itu. Tapi beberapa detik kemudian, mata Ella menatap lembaran kertas. Jantung Ella berdegub kencang saat membaca tulisan yang tertera dikertas itu.


"Kairi." gumam Ella dengan pelan.


Tangannya sampai bergetar saat memegang lembaran itu.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2