
Kairi keluar dari apartemennya, dan kemudian masuk kedalam apartemen Ayahnya. Saat membuka pintunya, ia melihat sang Ayah sedang duduk di sofa ruang tamu, sambil menyesap secangkir kopi.
Kairi langsung menghampiri Ayahnya, dan duduk disebelahnya.
"Bagaimana kabar Papa ?" tanya Kairi sambil memeluk Pak Louis.
"Papa baik baik saja, dan akan lebih baik lagi, jika segera menimang cucu." jawab Pak Louis dengan terkekeh.
Kairi menanggapinya dengan senyuman, tidak mendengus kesal seperti biasanya. Ayahnya memang seperti itu, sudah dari dulu beliau menginginkan Kairi cepat cepat menikah.
"Doakan Kairi Pa, semoga semuanya berjalan dengan lancar, biar Papa segera menimang cucu." ucap Kairi sambil tersenyum, dan melepaskan pelukannya.
Pak Louis menatap Kairi tanpa kedip.
"Kamu sudah punya calon istri ?, apa dia Angelina ?" tanya Pak Louis penasaran.
"Bukan Pa." jawab Kairi sambil menggeleng.
"Bukan Angelina ?, lalu siapa ?" tanya Pak Louis sambil menatap Kairi.
"Seseorang Pa, tapi juga belum bisa disebut calon istri." jawab Kairi sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Terus tadi kenapa minta doa. Ahh terserah kamu saja, silakan kalau memang mau membujang sampai tua, capek Papa mengharapkan cucu dari kamu." kata Pak Louis dengan kesal.
"Ahh Papa, doain anak sendiri kok jelek begitu." gerutu Kairi.
Pak Louis tidak menjawab, beliau hanya mencibir ucapan Kairi.
"Aku mencintainya Pa, tapi aku tidak tahu, dia mencintaiku atau tidak." gumam Kairi.
"Kalau kamu mencintainya, ya ungkapkan dong, jangan diam saja. Biar kamu tahu perasaan dia seperti apa." kata Pak Louis.
"Aku akan segera mengungkapkannya Pa, tapi aku juga menunggu waktu yang tepat. Aku masih berusaha membuat dia jatuh cinta padaku Pa." jawab Kairi.
"Itu bagus. Satu hal yang harus selalu kau ingat Kai, jangan pernah memaksakan cinta. Karena wanita juga berhak memilih, kita harus menghargai mereka." kata Pak Louis sambil menepuk bahu Kairi.
"Iya Pa, aku mengerti." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Dia orang London, atau Perancis ?" tanya Pak Louis penasaran.
"Bukan dua duanya Pa. Dia orang Indonesia." jawab Kairi pelan, sambil melirik Pak Louis.
"Indonesia. Kau yakin dengan pilihanmu Kai ?" tanya Pak Louis sambil menatap putranya.
"Aku yakin Pa. Aku sudah mengikhlaskan semua luka yang terjadi padaku dimasa lalu. Sekarang aku sadar, yang menyakitiku hanya satu orang Pa, jadi kenapa aku harus menghindari banyak orang, hanya karena mereka berpijak dinegara yang sama." jawab Kairi.
"Bagus kalau kamu bisa berfikir sebijak itu. Papa bangga sama kamu. Tapi ngomong ngomong kenapa kamu membawa tasmu kemari ?" tanya Pak Louis sambil menatap tas ransel yang dibawa Kairi.
"Aku tidur disini Pa. Papa tidak keberatan kan ?" tanya Kairi sambil melirik Pak Louis.
"Papa tidak salah dengar. Biasanya kamu tidak mau meninggalkan kamar kamu itu." sindir Pak Louis.
"Kamarku sekarang lagi dihuni seseorang Pa." kata Kairi sambil tersenyum miring.
"Maksud kamu ?" tanya Pak Louis sambil menatap Kairi lekat lekat.
__ADS_1
"Seseorang yang aku cintai sedang tidur disana Pa." jawab Kairi sambil tersenyum lebar.
"Kamu serius ?, kamu membawanya pulang Kai. Besok kamu bawa dia kesini, Papa sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya." kata Pak Louis dengan antusias.
"Jangan dulu Pa. Kalau dia sudah menerima cintaku, baru aku mengenalkannya sama Papa. Lagi pula kita kesini untuk urusan kerja kok Pa." ucap Kairi.
"Terserah kamu lah. Tapi Papa ingatkan ya, kalau memang cinta segera ungkapkan. Kalau lama lama, nanti keburu diambil orang, gigit jari kamu." kata Pak Louis dengan tegas.
"Ya Pa." jawab Kairi.
*****
Sang surya mengintip malu malu diufuk timur. Sinar jingganya bersemburat indah menyapu kota. Ella berdiri didekat jendela kamar. Menatap menara besi yang menjulang tinggi. Meskipun tak lagi bersinar seperti semalam, namun menara itu tetap terlihat menakjubkan.
Ella teringat akan Andra, dulu Andra lah yang berjanji akan mengajaknya kesini. Namun ternyata, belum sempat Ella bertemu kembali dengan Andra, dia sudah lebih dulu datang ke tempat ini.
"Aku sudah melihat Menara Eiffel yang sebenarnya Ndra. Kamu tidak perlu lagi menepati janjimu. Aku hanya berharap, kamu selalu bahagia bersama Nadhira. Aku bahagia, karena akhirnya bisa menghapus perasaanku untuk kamu. Mungkin takdir kita, memang hanya sebatas sahabat Ndra." gumam Ella dengan pelan.
Lalu Ella melangkah menjauhi jendela, dan masuk ke kamar mandi.
Tak berapa lama kemudian, Ella keluar dari kamar mandi, ia memakai dress selutut warna biru muda, dengan hiasan pita kecil dipinggangnya. Rambutnya digerai begitu saja, terlihat lebih cantik dengan olesan make up tipis di wajahnya.
Ella keluar dari kamarnya, dan menuju ke dapur. Perutnya sudah keroncongan, namun ia tidak menemukan apapun disana. Hanya ada teh, kopi hitam, dan juga gula. Ella menghela nafas panjang, ahh mau tidak mau ia harus menghubungi Kairi. Ella meraih ponselnya, lalu mencoba menelefon Kairi, namun hingga beberapa kali panggilan, Kairi tak juga menjawab telefonnya.
Karena desakan dari perutnya, akhirnya Ella melangkah keluar dari apartemen. Ia menatap apartemen sebelahnya masih tertutup rapat. Ella mengurungkan niatnya untuk menemui Kairi, karena ia ingat jika Kairi tinggal bersama Ayahnya. Malu rasanya jika Ayahnya Kairi tahu, ia mencari Kairi disaat hari masih pagi.
Lalu Ella memutuskan untuk kembali masuk kedalam apartemen.
Namun belum sempat Ella melangkah masuk, tiba tiba pintu apartemen sebelah terbuka.
Meskipun sudah tua, tapi kadar ketampanannya masih terpancar jelas dari wajahnya. Mata birunya sangat serasi dipadu dengan rambut coklatnya yang sudah beruban. Tak heran Kairi tumbuh menjadi lelaki yang sangat tampan, karena Ayahnya ternyata juga setampan ini.
"Good morning Sir." sapa Ella sambil tersenyum.
"Selamat pagi nak." jawab Pak Louis sambil terkekeh.
"Apa, Pak Louis juga bisa bahasa Indonesia ?. Ahh iya, mereka kan pembisnis besar, bukan hal yang aneh." batin Ella.
"Kairi sudah menunggumu didalam, katanya akan mengajakmu sarapan bersama. Maaf ya saya tidak bisa menemani kalian, saya ada rapat penting pagi ini." kata Pak Louis.
"Oh iya Pak, terima kasih." jawab Ella gugup.
"Cepatlah masuk." ucap Pak Louis sambil tersenyum lebar.
Ella mengangguk, dan mulai melangkahkan kakinya. Pak Louis memandangnya dengan menahan senyum.
"Aku harap kau bisa membahagiakan Kairi gadis manis. Kasihan dia, dulu selalu terluka, sudah saatnya dia merasakan bahagia." gumam Pak Louis saat Ella sudah tak terlihat lagi.
Ella menghentikan langkahnya di ruang tamu, ia menatap meja makan yang terlihat dari sana. Tidak ada apa apa diatas meja, bahkan segelas air putih pun juga tidak ada. Lalu dimana Kairi menunggunya untuk sarapan ?
Dan kenapa apartemennya sangat sepi, dimana Ibunya ?
"Kairi...." panggil Ella dari ruang tamu.
Beberapa detik Ella menunggu, namun tidak ada jawaban dari Kairi. Kemana gerangan lelaki itu ?
__ADS_1
Lalu Ella kembali melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Tak berapa lama kemudian, Ella sudah sampai disana. Ia melihat seorang lelaki sedang sibuk memasak di dapur. Benarkah itu Kairi ?
"Kai...." panggil Ella dengan pelan.
Kairi menoleh, dan sedikit kaget melihat kedatangan Ella. Pasalnya dia akan memanggil gadis itu, saat masakannya sudang matang. Dan sekarang gadis itu sudah berdiri dihadapannya, saat ia baru saja memulai masak.
"Kau disini ?" tanya Kairi sambil mengernyitkan keningnya.
"Maaf aku mengganggumu, aku akan pergi dulu." ucap Ella dengan gugup. Kini ia sadar, rupanya Pak Louis tadi sudah membohonginya. Aduh jika Kairi salah paham, bagaimana ?
"Tunggu.'' teriak Kairi saat Ella sudah membalikkan tubuhnya.
"Maaf aku buru buru." ucap Ella sambil memepercepat langkahnya.
Namun belum jauh ia melangkah, Kairi sudah menarik tangannya, dan memeluknya dari belakang.
Jantung Ella berdetak dengan cepat, ia memejamkan matanya, kenapa ia tidak bisa menolak pelukan Kairi ?
"Jangan pergi, temani aku memasak." ucap Kairi dengan pelan, nyaris seperti bisikan.
"Lepaskan aku." kata Ella. Ia tidak bisa berlama lama dalam pelukan Kairi, karena pelukan lelaki itu seperti sihir baginya. Akal sehatnya bisa terkikis habis, dan Ella tidak mau hal itu terjadi.
"Jangan pergi, temani aku memasak." jawab Kairi, mengulang ucapannya.
"Aku temani, tapi lepaskan aku." kata Ella sambil tetap memejamkan matanya. Ia berusaha keras mengontrol dirinya sendiri.
Lalu Kairi melepaskan pelukannya, dan mengajak Ella kembali ke dapur.
"Kau memasak apa ?" tanya Ella mencoba menutupi kegugupannya.
"Soto daging." jawab Kairi sambil memasukkan bumbu kedalam panci.
"Dari mana dia tahu bumbu soto. Apa makanan itu juga ada di Perancis ?. Kalau di London kan sangat jarang, empat tahun aku disana, baru sekali menemukan penjual soto. Itupun memang di warung khas Indonesia. Dan orang seperti Kairi, aku yakin tidak mungkin pernah makan di warung sederhana seperti itu. Ahh aku merasa, kau sangat familiar dengan negara Indonesia Kai." gumam Ella dalam hatinya.
"Kai..." panggil Ella.
"Hemm." jawab Kairi dengan gumaman pelan.
"Kenapa sepi, dimana Ibumu ?" tanya Ella sambil menatap Kairi.
"Mamaku sudah tidak ada Gabriella." jawab Kairi dengan pelan. Ella bisa melihat raut kesedihan terpancar jelas diwajah Kairi.
"Maaf." ucap Ella.
"It's okay." jawab Kairi sambil tersenyum, namun Ella tahu senyuman itu hanya untuk menutupi kesedihannya.
"Jangan bersedih, beliau sudah bahagia disana. Kau tahu, Ayahku juga sudah tiada, sejak aku masih kecil. Dan aku mengikhlaskan hal itu. Karena aku tahu, Tuhan tidak akan pernah memberikan hal yang salah pada setiap hambanya. Pasti ada hikmah, dibalik musibah, percayalah." kata Kairi sambil memegang lengan Kairi.
Kairi menatap Ella sambil tersenyum. Gadis ini memang luar biasa, rasanya Kairi sampai malu pada dirinya sendiri.
Gadis yang sudah tidak memiliki Ayah, dan berjuang sendiri demi mengejar cita citanya, masih bisa tersenyum ditengah kesulitan, dan kekurangan.
Sementara dirinya, hanya tidak punya Ibu saja, sampai hampir frustasi, dan menyalahkan takdir. Padahal segala sesuatu yang diinginkan, bisa dia gapai dengan mudah. Karena ia memang memiliki harta yang lebih.
__ADS_1
Bersambung.......