Tentang Rasa

Tentang Rasa
CURIGA


__ADS_3

Keesokan harinya Maman datang bersama Mirna.


" Tuan Muda!" sapa Maman dan Mirna saat menjenguk Max di Rumah Sakit.


" Pak Maman! Mbok mirna? Kalian kesini? tanya Max lemah, dia menahan rasa sakit yang masih menyerang perutnya.


" Iya, Tuan Muda!" jawab Maman.


" Maaf, saya tidak bisa duduk!" kata Max sedih.


" Tidak apa, Tuan Muda! Tuan Muda tiduran saja!" jawab Marni sedih.


" Ini Marni bawa makanan kesukaan Tuan Muda!" kata Maman.


" Letakkan saja di atas nakas!" jawab Max.


" Apa Nyonya Besar..."


" Jangan, mbok! Tolong! Aku tidak apa-apa, besok juga pulang!" kata Max bohong.


" Tapi, Tuan Muda..."


" Aku tidak ingin mama sedih, mbok! Cukup sudah selama ini mama sedih dan kecewa karena kelakuanku!" kata Max dengan mata berkaca-kaca.


Mirna tahu betapa hancur kehidupan Max selama beberapa tahun ini, mamanya yang sangat menyayanginya menjadi ikut-ikutan sedih akibat kejadian itu.


" Kalian pulang saja! Rumah nggak ada yang jaga!" kata Max.


" Tapi, Tuan..."


" Saya baik-baik saja!" ucap Max memaksakan senyumnya.


" Baik Tuan Muda! Tuan Muda cepat sembuh, ya!" kata Marni.


" Iya, mbok! Trima kasih sudah mau datang!" kata Max.


" Sama-sama!" jawab Marni.


" Kami pamit, Tuan Muda! Besok kami datang lagi!" kata Maman.


Max hanya mengangguk saja, dia tidak mungkin melarang Maman dan Marni untuk datang, karena mereka adalah pengganti orang tuanya.


" Bisa tolong kalian bawakan aku pakaian?" pinta Max.


" Iya, sampai lupa! Ini, Tuan!" kata Marni mengambil sebuah tas koper kecil.


" Saya masukkan dulu kelemari!" kata Marni dijawab dengan anggukan kepala oleh Max.


" Trima kasih!" jawab Max meringis. Mereka langsung pamit pergi karena tidak tega melihat keadaan majikan mereka. Marni menangis di taman Rumah Sakit karena merasa iba pada majikannya.


" Sudah, Marni! Nggak enak banyak yang lihat!" kata Maman.


" Aku hanya kasihan sama dia, kang! Hanya kita yang Tuan Muda punya!" jawab Marni.


Sebuah tangan kecil memberikan tissue pada pasangan itu. Maman dan Marni melihat ke arah tangan itu dan menerimanya, dilihatnya seorang gadis kecil yang cantik berdiri di depan mereka.


" Mikaela! El..."


" Mommy!" panggil Ella.


" Ah, disini kamu rupanya!" kata Diana.


" Maafkan putri saya, Pak! Bu!" kata Diana.


" Tidak apa, Nyonya! Dia sangat baik dan cantik!" kata Maman.


" Maaf kalo boleh tahu, kenapa Ibu menangis?" tanya Diana kepo.


" Apa ada yang gawat dengan keluarga kalian?" tanya Diana lagi.


Mereka berdua hanya diam saja, karena Max sudah berpesan agar tidak ada yang tahu keberadaannya.

__ADS_1


" Tidak ada, Nyonya! Maaf, kami harus pergi!" kata Maman.


" Diana!" panggil seorang wanita.


" Ya! Aku disini!" kata Diana melihat ke arah wanita itu.


" Aku kira kamu...Pak Maman?" kata wanita itu.


" Nona...Netta!" jawab Maman terkejut.


" Kalian saling kenal?" tanya Diana terkejut.


" Iya! Panjang ceritanya! Kenapa dia menangis?" tanya Netta.


" Tidak apa-apa, Nona! Ini istri saya, Marni!" kata Maman.


" Apa ada yang terjadi?" tanya Netta.


" Ti...tidak, Nona! Kami permisi!" kata Maman gugup lalu pergi meninggalkan Netta dan Diana.


" Wierd couple!" kata Diana.


Netta hanya terdiam saja.


" Let's go!" kata Diana lagi.


" Pergilah dulu, aku masih ada keperluan!" kata Netta.


" Ok!" jawab Diana kemudian berjalan bersama putrinya menuju ke kamar Axon.


Netta mengeluarkan ponselnya dari dalam celana jeansnya.


" Frans! Kamu diluar?"


" Iya, Nyonya!"


" Sebentar lagi ada seorang wanita dan pria separuh baya yang keluar dengan memakai pakaian batik coklat! Ikuti dia dan selidiki kenapa mereka disini?"


" Siap, Nyonya!"


" Maaf! Saya... Axel?" ucap Netta terkejut, setelah sekian lama dia bertemu lagi dengan teman kuliahnya itu.


" Netta! Kamu beneran Netta?" tanya Axel terkejut.


(Terkejut terusssssss...xixixi)


" Iya, Xel! Ini gue, Netta!" kata Netta tersenyum.


Axel dengan reflek memeluk Netta dan Netta yang kaget merasa kikuk dengan keadaan itu. Segera dia melepaskan pelukan Axel.


" Sorry! Gue kelepasan! Gue cuma seneng aja ketemu sama lu" jawab Axel.


" Siapa yang sakit?" tanya Netta membayangkan perkataan Maman kemarin jika Max sakit.


" Yang sakit adalah ...teman!" jawab Axel gugup.


" Teman? Wanita? Kekasih ato istri lu? Ato..."


" Bukan! Hanya teman saja!" kata Axel mencoba untuk tidak salah tingkah di hadapan Netta.


" Ow!" sahut Netta.


" Lu gimana kabarnya?" tanya Axel.


" Baik!" jawab Netta.


" Bisa kita duduk disitu, Net?" tanya Axel menunjuk bangku yang diduduki Maman tadi dengan setengah memohon.


" Boleh! Ketemu kawan lama harus di manfaatkan!" kata Netta.


Kawan lama? Apa kamu hanya menganggapku seperti itu? batin Axel. Sedangkan Max? Bagaimana perasaanmu padanya sekarang? batin Axel lagi.

__ADS_1


" Lu sekarang tinggal dimana?" tanya Axel.


" Gue tinggal di sini, tapi hanya sementara saja karena gue akan kembali ke Italy!" jawab Netta.


" Ow! Apa lu bahagia dengan pernikahan lu?" tanya Axel.


" Tentu! Anak gue satu!" jawab Netta enteng, tapi terasa sangat menyayat di hati Axel.


" Baguslah kalo lu bahagia! Gue sebenernya malu sama lo, Net!" kata Axel.


" Kenapa?" tanya Netta.


" Karena kelakuan Max ke lo!" jawab Axel.


" Sudahlah! Itu hanya masa lalu! Gue udah ngelupain semua!" kata Netta datar, dia selalu berusaha melupakan semua yang terjadi antara dia dan Max.


Mulai saat ini dia ingin mengubur masa lalunya dalam-dalam dan melupakan jika dia pernah mengalami hal itu.


" Netta! Apa lu tahu jika sejak dulu gue suka sama lu?" tanya Axel langsung. Dia sudah tidak bisa lagi menahan semua isi hatinya.


Netta terkejut dengan pengakuan Axel tentang peeasaannya.


" Sorry! Gue nggak tahu!" kata Netta.


" Axel!" panggil seorang gadis.


Axel dan Netta menoleh kearah gadis tersebut.


" Kamu kemana saja? Aku cari-cari!" kata gadis itu.


" Siapa dia?" tanya gadis itu tidak senang saat melihat Netta.


" Dia teman kuliah gue! Tapi apa gunanya gue bilang sama lu?" kata Axel sewot.


" Dia siap Xel?" tanya Netta.


" Gue tunangan Axel!" jawab gadis itu tegas.


" Jangan ngaku-ngaku, ya! Bukan, Netta! Dia hanya cewek manja!" jawab Axel dan Netta bisa melihat betapa kecewanya gadis itu saat mendengar Axel bicara seperti itu padanya.


music....


What would i do


" Hallo!"


" Saya sudah mendapatkan infonya Nyonya!"


" Bagus!"


" Kirim ke saya!"


" Siap, Nyonya!"


Netta yang mendapatkan panggilan telpon dari Frans mematikan panggilannya dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.


" Sepertinya kalian ada yang harus dibicarakan, sebaiknya gue cabut dulu!" kata Netta datar.


" Tapi gue masih pengen ngobrol, Netta!" kata Axel lagi.


" Dengar Xel! Gue rasa lu tahu kita nggak seharusnya ngobrol berdua, karena lu tahu persis alasannya kenapa!" kata Netta malas, lalu pergi meninggalkan Axel yang merasa kesal pada Max dan gadis yang baru datang tadi.


" Lu tu ya! Udah gue bilang nggak usah ngikutin gue!" kata Axel kesal.


" Tapi, sayang..."


" Sudah! Nggak usah panggil-panggil sayang lagi! Lu tahu gue nggak pernah cinta sama lu!" kata Axel marah.


" Kenapa kamu marah-marah, sayang? Apa karena dia? Apa dia wanita yang kamu cintai hingga aku gak ada artinya sama sekali?" tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


" Cukup! Lu pengen tahu? Ok, gue akan kasih tahu! Denger ucapan gue baik-baik! Dia Arnetta, dia memang wanita yang membuat gue pertama kali jatuh cinta sampai sekarang dan selamanya! Lu nggak akan bisa membuang dia dari hati gue!" tutur Axel kasar. Seketika airmata dari gadis itu jatuh dikedua pipinya dengan deras.

__ADS_1


__ADS_2