
"Lepaskan!" teriak Nadhira sambil berusaha melepaskan tubuhnya.
"Tidak Mbak, jangan bunuh diri Mbak!" jawab lelaki itu sambil tetap menahan tubuh Nadhira.
"Lepaskan, aku tidak... Vino!" kata Nadhira dengan kaget. Ia tidak menyangka jika lelaki yang telah menariknya tadi adalah Vino.
"Nadhira, kok kamu." ucap Vino sambil melepaskan tubuh Nadhira, ia mengernyit heran saat tahu jika wanita itu adalah Nadhira.
"Kau ada masalah apa? Kenapa berniat untuk bunuh diri?" tanya Vino sambil menatap Nadhira. Matanya sembap dan merah, Vino yakin jika Nadhira baru saja menangis. Mungkinkah karena Andra?
"Kau salah paham Vin, aku tidak berniat bunuh diri." jawab Nadhira.
"Kau tidak bisa membohongiku Nad, aku lihat sendiri tadi. Kau sudah bersiap terjun dari jembatan itu. Aku tadi terlalu panik, sampai tidak tahu jika itu kamu. Seharusnya kamu jangan gegabah seperti itu, masih banyak yang menginginkan kamu hidup, yang tidak rela kehilangan kamu. Jangan aneh-aneh lagi ya." kata Vino panjang lebar.
Nadhira hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Saat ini ia sedang malas untuk bicara, apalagi berdebat.
"Kau ada masalah apa?" tanya Vino dengan pelan.
"Tidak ada." jawab Nadhira sambil menggeleng.
"Nadhira, jujurlah padaku!" kata Vino sambil meraih tangan Nadhira.
"Aku tidak apa-apa Vin." jawab Nadhira.
"Apa ini karena Andra?" tanya Vino.
"Jangan sebut nama dia! Aku bilang tidak apa-apa itu berarti ya tidak apa-apa. Lagi pula kamu siapa, ingin sekali tahu masalahku!" bentak Nadhira sambil melangkah menuju mobilnya. Mendengar Vino menyebut nama Andra, emosinya langsung tersulut. Ia sampai lupa, jika Vino pernah menenangkannya waktu di Malang.
"Aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Tapi bagiku kau adalah seseorang yang paling berharga." kata Vino yang sontak saja langsung membuat langkah Nadhira terhenti.
"Kita memang tidak punya hubungan apa-apa. Tapi kau tahu, aku sakit melihatmu seperti ini. Aku tahu kau sedang terluka, aku juga tahu kau sedang bersedih. Jika Andra hanya bisa membuatmu menangis, kenapa kau masih mempertahankan dia. Kenapa kau tidak mencari lelaki lain saja, yang bisa mencintai kamu dengan tulus." sambung Vino sambil melangkah mendekati Nadhira.
"Masih ada lelaki yang mencintai kamu dengan tulus, yang menginginkan kamu bahagia, dan tidak ingin kamu terluka. Dan lelaki itu adalah aku." ucap Vino sambil sambil menyentuh bahu Nadhira dari belakang.
"Apa maksud kamu Vin?" tanya Nadhira sambil membalikkan badannya, kini ia dan Vino berdiri saling berhadapan.
"Sejak lama aku menyimpan perasaan untuk kamu, namun kau selalu mencintai lelaki lain. Sebenarnya aku rela kamu bersama dengan Andra, asal kamu bahagia. Tapi yang kulihat kau sering menangis karena Andra, jujur aku sedih Nad. Aku tidak rela kau diperlakukan seperti ini oleh dia." jawab Vino sambil menatap Nadhira.
"Kau...kau serius dengan perkataanmu Vin." ucap Nadhira dengan gugup.
"Aku serius, sejak SMA dulu aku sudah menyukaimu, tapi waktu itu kau punya kekasih. Dan belum sempat aku tahu kapan kau putus, tiba-tiba kau sudah jalan dengan Andra." kata Vino sambil tersenyum hambar.
Nadhira terdiam mendengar penjelasan yang Vino ungkapkan. Ia tidak menyangka jika selama ini Vino menyimpan perasaan untuknya.
"Kenapa kau tetap bertahan Nadhira, jika dia seringkali menyakitimu. Kenapa tidak kau lepaskan saja dia, kau juga berhak bahagia Nadhira. Apa artinya cinta dan ikatan, jika itu hanya membuatmu menangis." ucap Vino sambil memegang kedua bahu Nadhira.
"Aku sudah melepaskan dia, hubungan kita sudah berakhir Vin." kata Nadhira sambil menunduk. Ia menyembunyikan air matanya yang kembali menetes.
"Kau dan Andra berpisah?" tanya Vino tidak percaya.
"Iya, ternyata Andra mencintai Ella." jawab Nadhira dengan pelan.
"Mencintai Ella, kapan Andra mengatakannya?" tanya Vino.
"Semalam, dia bilang ternyata selama ini yang dia cintai adalah Ella bukan aku." jawab Nadhira masih tetap menunduk.
"Apakah Ella sudah pulang?" Vino kembali bertanya.
"Sudah, Ella pulang bersama kakaknya Andra, dan mereka berencana untuk menikah." ucap Nadhira.
"Andra punya kakak, kenapa aku tidak tahu." kata Vino sambil mengernyitkan keningnya. Dia mengenal Andra sudah sangat lama, namun sama sekali tidak tahu jika Andra mempunyai saudara.
"Aku tahunya juga belum lama Vin, katanya kakaknya tinggal di Perancis bersama ayahnya. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa mengenal Ella, dunia begitu sempit Vin." ucap Nadhira sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar berengsek Ndra. Dulu kau bersikeras mengatakan Ella hanyalah sahabat. Tapi sekarang disaat kau sudah punya Nadhira, dan Ella sudah punya kekasih, kau bilang kau mencintainya. Dasar lelaki tidak punya hati nurani." gerutu Vino didalam hatinya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada orang tuaku. Semua orang sudah tahu, jika aku dan Andra akan tunangan, tapi sekarang semuanya batal. Mama Papa pasti akan kecewa dan malu." ucap Nadhira dengan pelan.
"Nadhira, bolehkah aku membantumu." kata Vino sambil meraih tangan Nadhira.
"Membantu apa?" tanya Nadhira.
"Jika kau bersedia, aku siap menikahimu dihari pertunanganmu. Aku sangat mencintaimu Nadhira." jawab Vino dengan serius.
"Tapi Vin..." ucap Nadhira.
"Kenapa, apa kau tidak bisa menerimaku?" tanya Vino.
"Bukan seperti itu, tapi aku baru saja pisah dari Andra, aku masih terluka. Aku masih tidak bisa mempertimbangkan kamu, aku tidak ingin menjadikan kamu sebagai pelarian Vin." jawab Nadhira sambil menatap Vino.
"Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan. Tapi Nadhira, kau tidak harus menjawabnya sekarang, kau masih punya waktu untuk memikirkannya. Aku tidak memaksamu, tapi satu hal yang harus selalu kau tahu, aku sangat mencintai kamu." kata Vino sambil menatap Nadhira lekat-lekat.
"Baiklah, beri aku waktu. Aku akan memikirkannya." ucap Nadhira.
"Iya, aku menunggu jawabanmu." kata Vino sambil tersenyum.
***
Andra menghentikan mobilnya di garasi rumahnya. Ia mengernyit heran saat menatap mobil asing yang parkir di garasinya.
"Mobil siapa?" gumam Andra dengan pelan.
Lalu ia turun dari mobilnya, dan melangkah memasuki rumahnya.
Andra tersentak kaget saat melihat Ibunya sedang menangis di sofa ruang tamu. Ibunya tidak sendirian, melainkan ada Kairi, dan Pak Louis yang sedang duduk bersamanya.
Sontak emosi Andra langsung tersulut, dan dengan cepat ia melangkah mendekati mereka.
"Apa maksud kamu Andra, Papa tidak mengerti." kata Pak Louis sambil menatap Andra.
"Papa tidak perlu menutupinya lagi, aku sudah tahu semuanya. Papa meninggalkan Mama demi wanita lain, tapi Papa tidak mau menceraikan Mama. Papa benar-benar egois!" teriak Andra masih dengan emosinya.
"Jangan berteriak! Belajarlah untuk berbicara dengan sopan!" bentak Kairi sambil menatap Andra dengan tajam.
"Kau tidak berhak mengaturku!" teriak Andra sambil membalas tatapan Kairi. Amarahnya semakin memuncak kala ia mengingat tentang Ella, gadis yang dulu selalu ada didekatnya, kini telah pergi bersama Kairi, sangat menyebalkan.
"Kalian tenanglah! Andra silakan duduk!" kata Pak Louis sambil menatap Andra.
"Aku tidak mau. Papa sudah mengkhianati Mama, aku tidak mau lagi berbicara dengan Papa." jawab Andra.
"Kau salah paham Andra, duduklah dan kau akan tahu kebenarannya." kata Pak Louis.
"Tidak Mas, jangan lakukan ini, jangan katakan apapun pada Andra!" sahut Bu Mirna sambil menangis.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan semua ini Mirna, Andra juga berhak tahu kebenarannya." kata Pak Louis sambil menatap Bu Mirna.
"Kebenaran apa? Kenapa Mama sampai menangis?" tanya Andra dengan tetap berdiri.
"Bukan apa-apa Andra, pergilah dan jangan dengarkan omongan Papa kamu. Kamu percaya kan sama Mama, sekarang pergilah ke kamar kamu." kata Bu Mirna sambil menatap Andra.
"Baik Ma." jawab Andra sambil membalikkan badannya.
Melihat Ibunya menangis, Andra merasa tidak tega. Jadi ia tidak membantah, dan lebih memilih untuk menuruti perintahnya.
"Kamu jangan egois Mirna, kamu harus memberitahu Andra tentang kebenarannya. Andra berhak tahu siapa Ayah kandungnya. Apa selamanya kau berniat untuk memisahkan mereka." kata Pak Louis dengan nada yang sedikit tinggi.
Langkah Andra terhenti seketika, saat mendengar ucapan Ayahnya. Spontan ia langsung membalikkan badannya, dan kembali melangkah mendekati Pak Louis.
__ADS_1
Dan bukan hanya Andra, Kairi pun juga tersentak kaget saat mendengar ucapan Ayahnya. Mungkinkah Andra bukan anak kandung Ayahnya, lalu dia anak siapa?
"Apa maksud Papa?" tanya Andra sambil mendekati Ayahnya.
"Duduklah!" perintah Pak Louis.
"Mas jangan Mas, jangan bicara apapun pada Andra!" teriak Bu Mirna sambil menangis.
"Sampai kapan kau akan terus menutupinya. Anak-anak sudah dewasa, sudah saatnya mereka tahu tentang masa lalu kita. Agar mereka tidak salah paham lagi dengan sikap kita yang tidak adil ini." kata Pak Louis dengan tegas.
"Ma sebenarnya ini ada apa?" tanya Andra sambil menatap Ibunya.
Ibunya tidak menjawab, beliau hanya menangis terisak-isak.
"Kalian tenanglah, dan dengarkan Papa bercerita, ini tentang masa laluku dan Mirna." ucap Pak Louis.
30 tahun yang lalu.
Louis Da Vinci seorang pemuda kaya raya asal Perancis, yang datang ke Indonesia untuk membantu Ayahnya mengurus bisnis di negara ini. Louis adalah pemuda yang tampan dan arogan, dengan mengandalkan uang dan kekuasaan, ia tidak pernah mau menerima kegagalan. Setiap hal yang ia inginkan harus terwujud, bagaimanapun caranya, termasuk tentang wanita.
Louis jatuh cinta dengan pandangan pertamanya pada seorang gadis cantik dan anggun, yang merupakan putri dari rekan bisnis Ayahnya.
Wanita itu adalah Mirna Anggara, putri tunggal dikeluarga Anggara.
Saat itu Mirna sudah menjalin hubungan dengan Aditya Ramlan, lelaki sederhana yang bekerja sebagai karyawan di kantor milik keluarga Anggara.
Awalnya hubungan Mirna dan Adit, mendapatkan restu dari orang tuanya Mirna. Namun segalanya mulai berubah, saat Louis datang mengganggu. Perusahaan milik Anggara mengalami kebangkrutan, yang ternyata itu adalah ulah dari Louis Da Vinci. Orang tuanya Mirna kelabakan mencari bantuan kesana kemari, dan akhirnya Louis datang sebagai pahlawan. Ia berjanji akan menyelamatkan perusahaannya, dengan syarat mereka akan menikahkan dirinya dengan putrinya.
Tidak ada pilihan lain, orang tuanya Mirna menyetujui hal itu. Mirna dipaksa berpisah dengan Adit, dan dipaksa menikah dengan Louis, demi menyelamatkan perusahaan.
Louis sangat bahagia dihari pernikahannya, ia tak peduli dengan perasaan Mirna yang saat itu benar-benar hancur.
Louis adalah pemuda yang temperamental, ia tidak bisa sabar dalam menghadapi masalah, termasuk juga menghadapi Mirna. Melihat Mirna yang masih memiliki hubungan dengan Adit, membuat ia menjadi marah dan kecewa. Akhirnya Louis memaksa Mirna untuk memberikan keturunan padanya. Dalam hati Mirna menolak, namun ia tak bisa melawan Louis yang begitu kuat. Dan satu bulan setelah pernikahan, akhirnya Mirna mengandung anaknya Louis.
Kehamilan Mirna membuat Adit kecewa, lalu ia memutuskan untuk menikah dan meninggalkan Mirna. Hal itu membuat Mirna semakin hancur, ia sangat membenci bayi yang ada dalam kandungannya. Berkali-kali ia mencoba menggugurkan kandungannya, namun takdir berkata lain. Selang sembilan bulan Mirna melahirkan seorang bayi laki-laki bermata biru, persis seperti Ayahnya, dia adalah Kairi Da Vinci.
Mirna sangat tidak menginginkan kehadiran bayi itu, bahkan bisa dikatakan ia sangat membencinya. Karena bayi itulah yang menyebabkan Adit pergi meninggalkannya. Waktu terus bergulir, Kairi tumbuh menjadi bocah kecil yang pintar dan tampan. Namun Mirna semakin membencinya, karena wajah bocah itu sama persis dengan wajah lelaki yang sangat dibencinya, lelaki yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Lima tahun kemudian, hubungan Adit dan Mirna kembali membaik. Adit sudah menjadi duda, karena pernikahannya dengan istrinya hanya seumur jagung. Mereka sudah berpisah sebelum sempat memiliki keturunan. Hubungan mereka kembali dekat seperti dulu lagi, dan tak lama kemudian Mirna kembali hamil.
Hal ini membuat Louis murka, ia merasa marah karena sudah dikhianati. Dan sejak saat itu hubungan Louis dan Mirna semakin memburuk, mereka tidak pernah akur, dan selalu bertengkar.
Sembilan bulan kemudian Mirna melahirkan, seorang bayi lelaki tampan dan bermata hitam, dia adalah Andra Dwi Anggara.
Louis tahu itu bukan anaknya, oleh sebab itu ia sangat membencinya. Bahkan Louis tak mengizinkan bayi itu menyandang nama Da Vinci, oleh sebab itu Mirna memberikan nama Anggara padanya.
Tahun demi tahu terus berlalu, Kairi dan Andra tumbuh bersama-sama. Namun mereka tidak pernah akur, bahkan bisa dikatakan mereka saling membenci. Itu semua dikarenakan sikap orang tuanya yang sangat tidak adil. Mirna sangat menyayangi Andra, dan selalu memarahi Kairi. Sedangkan Louis ia sangat menyanyangi Kairi, dan tidak pernah peduli dengan Andra.
Dan tepat pada tahun 2009, saat itu Kairi baru lulus SMA, dan Andra baru lulus SD. Louis dan Mirna memutuskan untuk berpisah, dan menjalani kehidupannya sendiri-sendiri. Louis membawa Kairi ke negara asalnya, yaitu Perancis. Namun meskipun mereka sudah berpisah, namun Louis masih saja egois. Louis tidak mau menceraikan Mirna, dan tetap mempertahankan dia sebagai istrinya. Semua itu Louis lakukan agar Mirna tidak bisa menikah dengan Adit.
"Semua itu Papa lakukan, karena Papa sangat mencintai Ibu kalian. Tapi sekarang Papa sadar, tindakan Papa salah, Papa terlalu memaksakan cinta Papa. Papa minta maaf atas semua kesalahan Papa yang akhirnya menyakiti kalian." kata Pak Louis setelah beliau selesai menceritakan masa lalunya.
"Andra maafkan sikap Papa dulu, sekarang Papa akan menganggap kamu dan menyayangi kamu seperti Papa menyayangi Kairi. Mirna maafkan aku, sekarang aku terserah padamu. Jika kau memang ingin pisah, aku akan menceraikan kamu, aku akan memberikan sebagian asetku untuk Andra. Dan jika kau masih ingin bersamaku, aku berjanji akan memperlakukan kamu lebih baik lagi. Satu hal yang harus kau tahu Mirna, aku masih sangat mencintai kamu." sambung Pak Louis, karena mereka bertiga masih diam tanpa kata.
Dan hingga beberapa detik kemudian suasana masih hening. Diantara mereka belum ada yang membuka suara. Mereka larut dalam fikirannya masing-masing.
"Kamu menceraikan aku sekarang juga percuma Mas, Mas Adit sudah tiada, aku sudah tidak bisa hidup bersamanya. Sekarang semuanya sudah terungkap, Andra pasti sangat sedih mendengar kebenaran ini." batin Bu Mirna sambil menangis tersedu-sedu.
"Ternyata aku hanyalah anak yang tidak diinginkan, bahkan Mama sudah berencana untuk membunuhku sejak aku masih dalam kandungan." batin Kairi sambil menunduk, hatinya terasa sesak mendengar penjelasan Ayahnya.
"Ayahku ternyata adalah orang yang selama ini kuanggap sebagai bawahan. Pantas saja Papa tidak pernah menyayangiku, ternyata aku bukanlah anaknya. Seharusnya aku menyadari hal ini sejak awal, wajahku dan namaku berbeda dengan Kairi. Tapi kenapa baru sekarang aku tahu, disaat semuanya sudah terlambat. Om Adit sudah tiada, aku belum sempat menyayanginya, dan aku juga belum sempat mengucapkan kata maaf padanya." batin Andra sambil berusaha keras untuk menahan tangisnya.
Bersambung....
__ADS_1