
"Bagaimana keadaan Suci?" tanya Andra dengan cepat.
Anston menghela nafas panjang, dan mengusap wajahnya, sebelum ia menjawab pertanyaan Andra.
"Keadaannya masih sangat kritis, tapi detak jantungnya mulai normal." jawab Anston.
"Suci masih bisa diselamatkan kan Mas, Suci pasti baik-baik saja kan Mas!" teriak Sarah sambil menggenggam lengan Anston dengan erat.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin Sarah. Tapi aku tidak bisa memastikan hasilnya bagaimana, kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan, kita doakan yang terbaik untuk dia." jawab Anston sambil memegang kedua bahu Sarah.
"Aku berharap dia bisa sembuh Mas, kasihan dia." ucap Sarah sambil menangis.
"Aku akan berusaha, kamu tenang ya, jangan seperti ini. Fikirkan kondisi bayi kamu, kamu jangan terlalu stres." kata Anston sambil mengusap air mata Sarah.
"Semua ini gara-gara kamu! Kamu yang sudah membuat Suci menderita! Seharusnya kamu yang sekarat, bukan dia!" bentak Sarah sambil menatap Andra.
"Maaf." ucap Andra dengan pelan.
"Sudah, kita tenang, dan jangan saling menyalahkan. Andra, bisakah saya minta tolong satu hal sama kamu." kata Anston sambil menatap Andra.
"Boleh, apa yang bisa saya lakukan?" tanya Andra.
"Kamu punya pengaruh penting bagi Suci. Waktu itu kondisinya semakin membaik, karena hubungannya dengan kamu juga membaik. Dan hari ini, detak jantungnya kembali normal setelah kamu menemuinya. Jadi tolong temani dia, beri dukungan, dan semangat untuk dia." kata Anston.
"Baiklah, saya akan melakukannya." jawab Andra dengan tegas.
"Terima kasih, saya tidak tahu ini akan banyak membantu atau tidak. Tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya." kata Anston sambil memijit pelipisnya.
"Tolong selamatkan dia, saya akan melakukan apa saja, asal itu bisa membantu dia untuk sembuh." jawab Andra.
"Iya, silakan masuk. Saya akan kembali sebentar lagi!" kata Anston.
"Baik." jawab Andra.
Lalu Andra melangkah masuk kedalam ruangan. Ia berjalan mendekati Suci yang masih berbaring di ranjang. Rasa sakit, dan ngilu kembali menusuk direlung hatinya. Keadaan saat ini lebih menyakitkan, dibandingkan waktu Ella yang koma. Apakah perasaannya kini sudah berubah?
Andra duduk di kursi, disamping ranjang. Ia meraih tangan Suci, dan menggenggamnya dengan erat. Suci jauh lebih kurus dibandingkan waktu di pantai kala itu.
"Kenapa aku tidak pernah menyadari segala hal yang ada disekitarku. Kenapa aku selalu terlambat mengetahuinya. Aku yang terlalu bodoh, atau memang takdir yang tidak mau berpihak padaku." ucap Andra sambil menunduk.
__ADS_1
"Semua orang yang ada disekitarku, mereka menderita gara-gara aku. Aku yang berlumur dosa, tapi kenapa mereka yang menderita. Kenapa tidak mati saja aku, daripada dihadapkan pada kenyataan yang sepahit ini." ucap Andra sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Tak lama kemudian, Andra mengangkat wajahnya, menatap Suci yang masih setia memejamkan matanya. Andra membelai rambut Suci yang kusut, lalu ia mengusap pipinya yang terlihat lebih cekung.
"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku, apa seperti ini caramu menghukumku Suci? Bangunlah, kita lewati semua ini bersama-sama, aku berjanji akan selalu ada untuk kamu. Kau tahu, aku sangat takut kehilangan kamu. Bantu aku untuk menjawabnya Suci, apakah seperti ini yang disebut cinta?" ucap Andra dengan mata yang berkaca-kaca.
Kemudian Andra beranjak dari duduknya, ia berdiri sambil menunduk. Ia mencium kening Suci dengan lembut.
"Aku menunggumu Suci, cepatlah sembuh, dan menikahlah denganku!" bisik Andra sambil meneteskan air matanya.
Selang beberapa detik, Andra melihat ada buliran bening yang merembes disudut mata Suci. Jantung Andra berdetak dengan cepat, waktu itu Ella sadar setelah ia meneteskan air matanya. Mungkinkah ini juga pertanda bahwa Suci akan sadar secepatnya.
"Suci, kamu mendengarku. Buka matamu, aku ada di sini, aku ada disamping kamu!" kata Andra dengan cepat.
Tak lama kemudian Anston kembali masuk kedalam ruangan. Ia langsung memeriksa kondisi Suci.
"Dia menangis, dia menangis!" kata Andra dengan cepat.
"Iya, detak jantungnya semakin membaik, kau datang tepat pada waktunya." jawab Anston sambil tersenyum.
"Apa itu artinya Suci pasti bisa diselamatkan?" tanya Andra.
"Iya, saya akan selalu mendoakan dia. Tapi Pak, kemana orang tuanya? Kenapa saya sama sekali tidak melihat mereka, Suci sedang koma, tidak mungkin kan dia ditinggal sendirian, hanya dengan Pak Anston, dan Bu Sarah." tanya Andra dengan hati-hati. Sejak tadi ia sudah penasaran dengan hal ini, ia ingin tahu kenapa orang tuanya Suci tidak ada di sini.
"Banyak hal yang tidak kau tahu, dan saya tidak berhak memberitahukannya padamu. Tanyakan padanya, saat ia sudah sembuh, biarkan dia sendiri yang menjelaskan semuanya padamu." jawab Anston sambil menghela nafas panjang. Sekilas matanya melirik Suci, ada sebersit rasa kasihan yang ia pancarkan lewat sorot matanya.
Andra tertegun saat mendengar jawaban dari Anston. Apa lagi ini, mungkinkah masih ada kenyataan pahit lainnya yang belum ia ketahui. Andra mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya kembali kacau, kenangan tentang sifat buruknya dimasa lalu, kembalu melintas dalam ingatannya.
"Ya Allah, izinkanlah hamba menebus kesalahan hamba dimasa lalu, selamatkanlah Suci, izinkan hamba untuk membahagiakan dia." ucap Andra dalam hatinya.
***
Sang surya telah kembali ke peraduannya. Berganti dengan sang rembulan, dan kemerlip bintang yang bertabur indah di angkasa. Ella, dan Kairi sedang duduk bersama di ranjang kamarnya. Mereka menatap Billa yang sudah terlelap dalam tidurnya.
"Dia sangat mirip denganmu Kai." ucap Ella mengawali pembicaraannya.
"Tidak juga, bibirnya sangat mirip denganmu sayang." jawab Kairi sambil menatap Ella.
"Benarkah? Menurutku itu mirip denganmu." kata Ella.
__ADS_1
"Baiklah, anggap saja dia mirip dengan kita. Sayang kemarilah!" ucap Kairi sambil menepuk ranjang di depannya.
Ella menurut, ia beringsut mendekati Kairi.
"Ada apa?" tanya Ella sambil menatap Kairi lekat-lekat.
"Terima kasih untuk semuanya sayang. Kau masih setia menungguku sampai saat ini. Kau sendirian melewati semua ini, itu pasti sangat sulit bagimu. Kau wanita yang luar biasa Gabriella." kata Kairi sambil menangkup kedua pipi Ella.
"Aku sudah pernah bilang padamu Kai, kau adalah satu-satunya suamiku. Kau adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai, sampai kapanpun aku pasti akan menunggumu. Dan jika takdir berkata lain, aku akan memilih kesendirian, dari pada membuka hati untuk cinta yang lain, aku tidak bisa Kai." ucap Ella sambil menggenggam tangan Kairi.
"Aku pula akan melakukan hal yang sama sayang." kata Kairi sambil tersenyum.
Lalu ia semakin mendekatkan wajahnya, hingga kini jarak di antara keduanya telah terkikis habis.
Jantung Ella berdetak dengan cepat, nafas Kairi yang memburu mulai menghangat di wajahnya. Ella memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Kairi yang mulai mendarat di bibirnya.
Namun baru sedetik saja mereka saling menempelkan bibirnya, tiba-tiba ponsel Kairi berdering dengan keras. Ella hendak melepaskan diri dari Kairi, namun Kairi menahannya.
"Jangan!" kata Kairi.
"Siapa tahu itu penting Kai, Mama dan Papa masih dalam perjalanan kan." ucap Ella.
"Baiklah!" kata Kairi sambil membuang nafasnya dengan kasar.
Ella beranjak dari duduknya, ia mengambil ponsel Kairi yang berada di atas meja. Ella mengernyit heran, ternyata Andra yang menelfonnya. Lalu Ella kembali ke ranjang, dan menyodorkan ponsel itu pada Kairi
"Andra." ucap Ella.
"Ada apa, kenapa dia menelfonku." kata Kairi.
"Angkat saja." ucap Ella.
Lalu Kairi mengangkat telfonnya, satu detik, dua detik, tiga detik, Kairi masih diam. Namun tak lama kemudian, ia tiba-tiba berteriak dengan keras.
"Apa!" teriak Kairi.
"Ada apa Kai?" tanya Ella dengan cepat, ia sangat kaget mendengar Kairi berteriak. Terlebih lagi ia juga melihat raut wajah Kairi yang sangat panik.
Bersambung.....
__ADS_1