Tentang Rasa

Tentang Rasa
Apakah Kehadiranku Salah?


__ADS_3

Dengan jantung yang berdetak cepat, Ella membalikkan tubuhnya, ia masih menunduk, belum berani menatap Kairi.


Lelaki itu pasti marah, saat tahu jika dirinya sudah mengusik barang pribadinya.


"Kuncinya macet." ucap Kairi. Sontak Ella langsung mengangkat wajahnya, dan menatap Kairi.


Ternyata lelaki itu berdiri didepan almari besar yang berada disudut ruangan, bukan almari kecil yang Ella buka semalam.


"Kok bisa?" tanya Ella sambil mendekati Kairi, ia menghela nafas lega, ternyata Kairi tidak mempermasalahkan almari kecilnya.


"Aku juga tidak tahu, padahal aku ingin mengambil pakaianku disini." jawab Kairi sambil mengotak atik kuncinya yang macet.


"Terus bagaimana?" tanya Ella.


"Aku berteriak tadi sebenarnya ingin meminta tolong." jawab Kairi sambil menggaruk kepalanya.


"Minta tolong apa?" tanya Ella.


"Tolong ambilkan pisau." kata Kairi sambil tersenyum.


"Baiklah, tunggu sebentar ya." ucap Ella sambil berlalu pergi.


Ia setengah berlari saat menuju ke dapur. Sebelum mengambil pisau, Ella lebih dulu mengambil segelas air putih, ia menengguknya hingga tandas.


"Teriakan Kairi tadi benar-benar mengagetkanku, tenggorakanku rasanya sampai kering." gumam Ella sambil meraih pisau, dan kemudian membawanya ke kamar.


Setelah tiba di kamar, Ella langsung memberikan pisau itu pada Kairi.


Kairi menerimanya, dan mulai menggunakannya untuk mencukil pintu.


Sedangkan Ella, ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia harus secepatnya mandi, dan bersiap untuk kembali ke London.


***


Andra menggeliat pelan, tubuhnya terasa sakit, dan nyeri. Maklum semalaman ia tidur di kursi, ia harus meringkuk, karena tubuhnya lebih panjang daripada kursinya.


Andra membuka matanya perlahan, ditatapnya wanita paruh baya yang masih terbaring di ranjang.


Andra melihat Ibunya masih tertidur pulas, matanya terpejam rapat, seakan dunia mimpinya begitu damai.


Kemudian Andra beranjak dari tidurnya, ia menguap sambil mengucek matanya, sebenarnya ia masih sangat ngantuk, namun tidurnya benar-benar tidak nyaman, jadi terpaksa ia bangun lebih awal.


Andra melangkah mendekati Ibunya, ia membelai tangannya dengan pelan, lalu Andra tersenyum.


"Mama sudah tidak panas lagi, mungkin hari ini sudah bisa meninggalkan rumah sakit." gumam Andra dengan pelan.


Lalu Andra melangkah keluar, ia bermaksud jalan-jalan didepan untuk menghirup udara segar.


Andra berjalan menuju halaman disamping rumah sakit, banyak bunga mawar yang beraneka warna bermekaran di sana. Andra duduk disalah satu kursi yang disediakan di sana. Andra merogoh saku celananya, dan mengambil ponselnya.


Andra menekan satu nomor yang ada didaftar kontaknya, bukan Nadhira melainkan Ella. Andra menempelkan ponsel itu di telinga kanannya, dan beberapa detik kemudian suara dari ponselnya, membuat ia mendengus kesal.


"Kamu kemana saja sih El, sulit sekali dihubungi." gerutu Andra sambil menyimpan kembali ponselnya. Ahh Ella, sesibuk itukah dia, sampai tidak ada waktu untuk menghubunginya.


Disaat Andra masih larut dalam fikirannya, tiba tiba ada suara wanita yang memanggilnya dari belakang.


"Andra." panggil wanita itu.


Andra tersentak kaget, suara ini sangat familiar. Seperti suaranya Ella, apakah dia sudah pulang? benarkah sekarang dia ada disini?

__ADS_1


Dengan senyuman yang lebar, Andra menoleh ke belakang.


"Ella." gumam Andra sambil menoleh.


"Ella." jawab wanita itu mengulangi ucapan Andra.


Jawaban wanita itu membuat Andra tersadar. Ahh kenapa dia menganggap itu Ella, Ella berada di London, mustahil jika dia tiba-tiba berada disini. Tentu saja suara itu sangat familiar, karena itu suaranya Nadhira. Oh Andra apa yang terjadi dengan dirimu, sampai kamu tidak bisa mengenali suara kekasihmu.


"Andra, kenapa kamu diam saja?" tanya Nadhira sambil mendekati Andra.


"Maaf aku tadi tidak tahu jika itu kamu." ucap Andra sambil menggaruk kepalanya.


"Tapi kenapa kamu memanggilku Ella, kamu sedang memikirkan dia?" tanya Nadhira dengan penuh selidik.


"Tidak, bukan seperti itu, hanya saja aku tadi sedang membuka instagram, dan tidak sengaja melihat postingan Ella, jadi aku salah sebut saat manggil kamu, maklumlah aku baru saja membaca nama Ella." jawab Andra berbohong.


"Ella posting apa?" tanya Nadhira.


"Foto biasa, saat dia sedang makan." jawab Andra dengan asal.


"Kapan?" Nadhira kembali bertanya.


"Tadi malam." jawab Andra.


"Aku tahu kamu bohong Ndra." ucap Nadhira sambil tertawa hambar.


"Mak...maksud kamu apa?" tanya Andra dengan gugup.


"Tadi pagi aku juga membuka instagram Ndra, postingan terakhirnya Ella itu sudah empat hari yang lalu. Dan itu bukan foto dirinya yang sedang makan, tapi foto dirinya saat berada di bandara." ucap Nadhira sambil memalingkan wajahnya.


Andra tersentak kaget, bukan karena Nadhira mengetahui kebohongannya, tetapi ia kaget saat mendengar kata bandara, mungkinkah Ella pulang?


"Aku tidak tahu." jawab Nadhira dengan kesal.


"Memang captionnya apa?" tanya Andra sambil menatap Nadhira.


"Sepertinya kamu sangat ingin tahu, kamu merindukan dia ya." sindir Nadhira sambil memutar bola matanya.


"Kamu jangan salah paham sayang, sebentar lagi kita kan tunangan, kalau Ella sudah pulang, kita kan harus mengundangnya. Memangnya kamu tidak berharap, Ella bisa datang ke acara kita." ucap Andra sambil memegang kedua bahu Nadhira.


"Yakin alasan kamu cuma itu?" tanya Nadhira sambil menatap Andra.


"Yakin lah, masa kamu tidak percaya sih." jawab Andra.


"Tapi sepertinya Ella tidak pulang." ucap Nadhira sambil menghembuskan nafas panjang.


"Kenapa begitu?" tanya Andra dengan heran.


"Captionnya itu selamat datang kota impian, kalau mau pulang kan, seharusnya kampung halaman, bukan kota impian." jawab Nadhira.


"Kota impian." teriak Andra sambil melotot.


"Iya, kamu kenapa kaget?" tanya Nadhira dengan heran.


"Kota impian, apa mungkin Ella sedang berada di Paris ya. Dengan siapa dia kesana?


Aku yang berjanji untuk mengajaknya kesana, mana boleh dia pergi sendirian seperti ini. Tanpa mengabariku lagi." ucap Andra didalam hatinya, ia mengacak rambutnya dengan kasar, terlihat jelas jika ia sangat kesal.


"Itu tidak mungkin, dia tidak boleh kesana sendirian." teriak Andra dengan kesal. Dadanya naik turun menahan emosi.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" tanya Nadhira sambil mengernyit heran.


"Aku yang berjanji untuk mengajaknya kesana, waktu aku memakaikan kalung padanya, dia sudah..." Andra menghentikan ucapannya, ia tersadar dengan siapa dia berbicara. Aduh kenapa bisa keceplosan, Nadhira pasti salah paham.


"Kalung." gumam Nadhira sambil menatap Andra dengan tajam.


"Maksudku...maksudku." ucap Andra dengan gugup.


"Jadi ternyata Ella, wanita sederhana yang kamu belikan kalung itu, lalu kamu menjanjikan apa padanya?" tanya Nadhira sambil melipat tangannya didada.


"Dia sahabatku Nad, kamu juga tahu itu kan. Aku memberinya kalung saat dia akan pergi ke London, yah sekedar kenang-kenangan lah, dia kan mau pergi cukup lama." jawab Andra menjelaskan. Sudah terlanjur keceplosan, tidak ada pilihan selain menjelaskannya.


"Tapi kamu yang memakaikan kalungnya, ternyata hubungan kalian sedekat itu. Kamu yakin hanya menganggapnya sahabat?" sindir Nadhira dengan bibir yang manyun.


"Tentu saja yakin sayang, dia itu hanya sahabatku, dan sahabat kamu juga kan." ucap Andra sambil menggenggam tangan Nadira.


"Lalu kamu menjanjikan apa padanya?" tanya Nadhira.


"Aku...aku berjanji akan mengenalkan calon istriku padanya." jawab Andra berbohong. Dan jawaban itu terdengar sangat ajaib di telinga Nadhira.


"Kamu bohong." bentak Nadhira.


"Aku tidak bohong sayang, aku bicara apa adanya." jawab Andra.


"Aku tahu kamu bohong Ndra, kamu kaget saat aku bilang tentang captionnya Ella. Kamu tidak ingin jujur padaku." ucap Nadhira sambil menatap Andra lekat-lekat.


Andra menghembuskan nafas panjang, melihat ekspresi Nadhira saat ini, membuat Andra tak bisa berbohong lagi. Andra tersenyum sambil menggenggam tangan Nadhira lebih erat.


"Dia sangat menyukai Menara Eiffel. Kita semua tahu, jika hidupnya cukup sulit, aku berjanji untuk mengajaknya kesana, karena pada saat itu, aku berfikir hanya aku orang terdekatnya. Kamu juga tahu kan, dia tidak pernah punya pacar, tidak punya teman dekat selain kita. Sebagai sahabat aku hanya ingin membahagiakan dia." kata Andra menjelaskan.


Nadhira melepaskan genggaman Andra, ia membalikkan tubuhnya, dan membelakangi Andra.


"Aku tahu kalian bersahabat cukup lama, tapi aku tidak menyangka, jika hubungan kalian sedekat itu. Kamu tadi terlihat sangat kaget, saat tahu Ella pergi ke kota impiannya. Apa kamu menyesal tidak bisa menepati janjimu?" tanya Nadhira.


Andra melangkah mendekati Nadhira, ia membelai rambut Nadhira dengan lembut.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku menyesal. Jika sekarang Ella sudah pergi kesana, itu artinya kehidupannya cukup baik, tidak sesulit dulu. Dan aku bahagia akan hal itu. Jadi untuk apa aku menyesal." ucap Andra.


Nadhira menoleh, menatap Andra cukup lama. Nadhira mengingat masa lalu, hubungan Andra, dan Ella memang cukup dekat. Bahkan Vino, dan Riky sempat mengira jika mereka masing-masing menyimpan rasa. Dengan jantung yang berdetak cepat, Nadhira mencoba menata hatinya.


"Andra..." panggil Nadhira dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Andra.


"Apa kehadiranku ini salah Ndra. Apa aku sudah menjadi orang ketiga diantara kamu, dan Ella?" tanya Nadhira dengan gemetar.


"Apa maksud kamu, tentu saja tidak." jawab Andra dengan cepat.


"Jika memang iya katakan saja, sebelum hubungan kita terlanjur jauh. Melihat dari sikapmu, sepertinya kamu punya rasa untuknya. Dan Ella, selama ini dia tidak pernah dekat dengan lelaki lain, bisa jadi karena dia memendam rasa untuk kamu." kata Nadhira menjelaskan maksdunya.


"Kamu jangan aneh-aneh Nadhira, kita tidak mungkin seperti itu.


Aku tidak mencintainya, aku hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih. Dan dia juga sama, dia tidak mungkin mencintaiku, dia tidak pernah dekat dengan lelaki lain, karena fokus dengan sekolahnya, bukan karena aku." kata Andra dengan panjang lebar.


"Tapi aku ragu Ndra, sikap kamu seperti bertolak belakang dengan ucapan kamu. Dari banyak kisah yang pernah kudengar, dua sahabat lelaki, dan perempuan, ujung-ujungnya pasti berjodoh.


Ndra apa kehadiranku salah?


Apa aku sudah menjadi orang ketiga?" Nadhira kembali bertanya, kali ini ia lebih serius, ia menatap mata Andra lekat-lekat. Seolah ia mengharap kejujuran dari lelaki itu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2