
Ella membuka matanya dengan perlahan, samar-samar ia menatap Andra, dan Dimas yang sedang berdiri di sampingnya. Ella memijit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pening.
"Akhirnya kamu sadar juga El, aku sangat mengkhawatirkanmu." kata Andra sambil mengusap wajahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ella dengan suara yang pelan.
"Kau pingsan." jawab Andra.
"Aku tahu kau sangat kehilangan El, tapi kau jangan seperti ini. Kau hamil, kau harus menjaganya. Kau boleh bersedih, tapi jangan berlebihan, itu tidak baik untuk kandungan kamu." sahut Dimas sambil mengusap rambut Ella.
"Iya El, Kak Dimas benar. Dokter bilang kandungan kamu sangat lemah, jika kau terus-terusan seperti ini. Itu...itu tidak baik." ucap Andra sambil menatap Ella.
"Maaf." kata Ella dengan singkat. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Sesungguhnya ia juga sangat mengkhawatirkan bayinya, ia tidak ingin terpuruk seperti ini. Tapi, kehilangan Kairi begitu menyakitkan. Ella tak mampu mengendalikan dirinya untuk tidak menangis, ataupun bersedih. Rasa sakit itu benar-benar menyesakkan dadanya, dan menghimpit rongga nafasnya.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tahu ini berat untuk kamu, dan sebenarnya berat juga untukku. Tapi ini ujian El, kita harus bisa melewatinya. Yakinlah, akan ada hikmah dibalik musibah. Percayalah, Kairi pasti akan kembali." ucap Andra sambil menggenggam tangan Ella.
"Apa yang Andra katakan itu benar El. Kau harus kuat, kau harus bisa melewati semua ini. Jaga diri kamu dengan baik, jaga bayi kamu. Itu adalah salah satu wujud dari cinta kamu padanya. Jika kau tidak bisa menjaga bayimu, apa yang akan kau katakan nanti saat dia kembali. Dia akan kecewa kalau kamu tidak bisa merawat bayimu dengan baik." sahut Dimas sambil menatap Ella lekat-lekat.
Ella menatap Andra, dan Dimas secara bergantian. Ia menghela nafas panjang, sambil memejamkan matanya.
"Aku mengerti, aku pasti akan menjaganya. Demi anakku, aku pasti bisa melewati semua ini." ucap Ella sambil mengusap perutnya dengan pelan.
"Itu bagus, aku akan selalu menemanimu, kamu tidak sendirian El." kata Andra sambil tersenyum.
"Aku juga akan mendukung kamu, meskipun aku tidak bisa setiap saat ada disamping kamu, tapi aku berusaha selalu ada saat kamu butuhkan El." sahut Dimas sambil tersenyum.
"Terima kasih Kak Dimas, Andra." jawab Ella.
"Maafkan Mama nak, Mama sudah membuatmu tidak nyaman. Tapi Mama juga rapuh, Papamu entah dimana, Mama sangat sedih setiap kali mengingatnya. Tapi mulai sekarang, meskipun hati Mama masih terluka, tapi Mama tidak akan mengabaikan kamu. Mama akan menjaga kamu dengan sangat baik. Tumbuhlah dengan sehat, dan lahirlah dengan selamat. Kehadiran kamu, mungkin bisa mengobati luka hati Mama." batin Ella dalam hatinya.
***
Empat bulan kemudian.
Pencarian terhadap Kairi Da Vinci sudah dihentikan. Ia dan dua korban lainnya tidak berhasil ditemukan. Mereka dicatat sebagai korban meninggal. Kecelakaan pesawat yang cukup mengerikan, karena tidak ada satupun korban yang selamat.
Namun dibalik semua itu, keadaan Ella kini sudah semakin membaik. Kondisi tubuhnya, serta bayinya sangat sehat. Fikirannya juga tidak sekacau waktu itu, ia sudah banyak bicara, dan juga banyak tersenyum. Meskipun terkadang ia terlihat murung, namun ia tak pernah mengabaikan kesehatannya. Ia selalu makan, dan istirahat tepat pada waktunya. Saat ini kandungannya sudah berusia 8 bulan.
Sejak tiga bulan yang lalu Pak Louis sudah keluar dari rumah sakit, kondisinya sudah membaik. Dan sekarang, Bu Mirna dan Bu Halimah sedang berada di Paris. Mereka menjenguk Ella, dan menemaninya untuk beberapa hari kedepan. Pak Louis kemarin sempat ikut, namun hanya dua hari saja, karena beliau harus mengurus bisnisnya yang berada di Indonesia. Sedangkan Andra, ia juga masih berada di Paris, ia mengurus bisnis di sini, meskipun terkadang ia pergi ke London untuk mengurus bisnis yang ada di sana.
Saat ini Ella sedang duduk di ranjang kamarnya, menatap teriknya sinar mentari yang menyinari bumi. Meskipun Bu Mirna mengajaknya tinggal di rumah, namun Ella menolak. Ia lebih memilih tinggal di apartemennya. Tempat paling indah yang pernah Ella pijak. Ia tak akan mampu meninggalkan kamar ini, kamar yang menyimpan banyak kenangan bersama Kairi.
Ella beranjak dari duduknya, ia berjalan mendekati sofa, dan kemudian duduk di sana. Ella meraih sebingkai foto pernikahan yang dipajang di atas meja. Kairi terlihat tampan dengan balutan jas, dan kemaja putihnya, bersanding dengan dirinya yang tampak anggun dalam balutan jubah, dan kerudung warna putih. Ella tersenyum, seraya tangannya mengusap foto itu dengan pelan.
"Sudah empat bulan Kai, tapi kau belum juga kembali. Kau dimana? Masih bolehkah aku mengharapkanmu Kai?" ucap Ella sambil menatap foto itu lekat-lekat. Senyuman Kairi terlihat begitu nyata, Ella benar-benar merindukannya.
__ADS_1
Ella menunduk, menatap perutnya yang semakin membuncit. Ia teringat saat dulu, Kairi selalu mengusapnya, dan menciumnya dengan hangat. Ella tersenyum hambar, menyedihkan sekali nasibnya. Baru saja beberapa waktu ia menikmati kebahagiaan, kini semuanya sudah terenggut tanpa sisa. Hanya bayi dalam perutnyalah yang membuat ia tegar, dan bertahan sampai saat ini.
Disaat Ella masih larut dalam fikirannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata Bu Mirna yang datang. Beliau tersenyum sambil melangkah mendekati Ella.
"Kamu sedang apa El?" tanya Bu Mirna sambil duduk di sebelah Ella. Bu Mirna tersenyum getir, saat melihat Ella menggenggam sebingkai foto pernikahan.
"Aku tidak melakukan apa-apa Ma, baru saja istirahat." jawab Ella sambil meletakkan kembali fotonya di atas meja.
"Makan yuk, Bik Darmi sudah selesai menyiapkan makanannya." kata Bu Mirna seraya tangannya mengusap rambut Ella.
Beliau tahu bagaimana perasaan Ella. Perasaan yang tak jauh dengan dirinya sendiri. Bu Mirna juga sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada Kairi. Anak yang sejak dulu selalu disia-siakan, dan belum lama bisa saling memaafkan. Kini hilang entah bagaimana keadaannya. Dalam hati Bu Mirna sangat berharap kalau Kairi masih hidup, dan suatu saat nanti bisa kembali. Namun logikanya juga menyangkal, jika tubuhnya saja tidak berhasil ditemukan, bagaimana mungkin ia masih bernyawa.
"Aku belum lapar Ma, aku makan nanti saja ya." jawab Ella sambil menoleh.
"Ini sudah siang lho El, kamu tidak boleh telat makan, kasihan bayinya." ucap Bu Mirna.
"Mama kamu benar El, makan sekarang yuk!" sahut Bu Halimah yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
Bu Halimah menatap anaknya, sambil berjalan mendekatinya.
"Ayo makan, apa perlu Ibu mengambilkannya, dan membawanya kesini?" tanya Bu Halimah sambil duduk didekat Ella.
"Tidak usah Bu, baiklah aku makan sekarang." ucap Ella sambil menghela nafas panjang. Menolak perintah Ibunya adalah sesuatu yang sangat sulit.
"Nah begitu dong, Mama senang kalau kamu menurut seperti ini." sahut Bu Mirna sambil tersenyum lebar.
"Iya, Ibu tunggu di sini." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.
Ella melangkah menuju ke kamar mandi, sejak kandungannya mencapai usia delapan bulan, ia lebih sering buang air kecil. Menurut perkiraan dokter, Ella akan melahirkan bulan depan. Ella hanya berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar, ia sangat menantikan kehadiran buah hatinya.
"Ella selalu menurut kalau sama Mbak Halimah." kata Bu Mirna setelah Ella masuk ke kamar mandi.
"Iya, semoga saja dia selalu menurut. Aku terkadang khawatir dengan kondisinya Bu, aku sering melihatnya termenung. Semua ini pasti terasa berat baginya." jawab Bu Halimah sambil menghela nafas panjang.
"Iya Mbak, mereka masih pengantin baru. Ella pasti sangat kehilangan, sama sepertiku. Aku belum lama memperlakukan Kairi dengan baik, aku benar-benar Ibu yang bodoh." kata Bu Mirna sambil menyeka air matanya yang mulai menetes.
"Jangan begitu Bu, semua orang pernah melakukan kesalahan. Meskipun Kairi adalah menantuku, tapi aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Aku juga sangat kehilangan, tapi kita hanyalah manusia, kita tidak bisa melawan takdir. Kita tidak punya pilihan lain, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Kairi. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk dia." ucap Bu Halimah sambil merangkul Bu Mirna.
"Iya Mbak, aku sekarang sudah pasrah. Entah Kairi masih ada, atau sudah tiada, aku serahkan semuanya pada Allah. Aku tidak berani berharap lebih, sudah empat bulan tidak ada kabar tentangnya. Jika terus berharap, aku takut harapanku malah akan membuatku rapuh." kata Bu Mirna dengan pelan.
Tak lama kemudian, Ella keluar dari kamar mandi. Bu Mirna menyeka air matanya hingga kering. Beliau tidak ingin Ella melihat kesedihannya.
"Sudah selesai nak?" tanya Bu Halimah sambil menatap Ella.
"Sudah Bu." jawab Ella.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo makan!" ajak Bu Mirna sambil beranjak dari duduknya.
Ella mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka bertiga melangkah keluar kamar, dan menuju ke meja makan. Ternyata Andra sudah menunggunya di sana. Kemarin Andra datang, ia tinggal di apartemen sebelah, di apartemennya Pak Louis.
Ella duduk di sebelah Ibunya, sedangkan Bu Mirna, beliau duduk di sebelah Andra.
"Makan yang banyak El." kata Bu Mirna.
"Iya Ma." jawab Ella sambil menyendok capcay yang ada di depannya.
"El!" panggil Bu Mirna.
"Iya Ma." jawab Ella.
"Besok Mama akan pulang, tidak apa-apa kan? Nanti setelah kamu lahiran, Mama akan kesini lagi sama Papa. Untuk sementara, hanya Mbak Halimah yang menjaga kamu." kata Bu Halimah sambil menyuap makanannya.
"Tidak apa-apa Ma, terima kasih ya Mama sudah menemaniku cukup lama." jawab Ella sambil tersenyum.
"Aku juga akan sering kesini kok Ma. Meskipun besok aku kembali ke London, tapi hanya beberapa hari saja, setelah pekerjaannya selesai aku akan kembali lagi kesini." sahut Andra.
"Fokus saja dulu sama pekerjaan kamu Ndra, di sini juga sudah ada Ibu. Kalau terus-menerus bolak-balik, kamu akan capek. Sekarang yang memegang kendali penuh atas bisnis ini adalah kamu, kalau kamu sakit, malah akan repot Ndra." kata Ella.
"Aku tidak capek El, aku masih bisa melakukannya." jawab Andra sambil tersenyum.
***
Sang surya telah kembali ke peraduannya, kini berganti bulan dan bintang yang menghiasi angkasa raya. Ditengah hembusan angin malam yang dingin, dan cukup membuat tubuh menggigil, Andra duduk di atas pagar tembok, di pinggir jalan. Ditemani terangnya lampu-lampu kota yang berpendar indah, juga ditemani Menara Eiffel yang bercahaya terang.
Andra duduk termenung sendirian, hati dan fikirannya sangat kacau. Banyak beban yang ia pendam sendirian, yang tak tahu harus kemana ia akan membaginya. Sejak Kairi kecelakaan, ia kehilangan kabar tentang Suci. Entah kemana wanita itu, segala usaha dan cara telah ia lakukan, namun hasilnya nihil, tidak ada secercahpun titik terang untuk menemukan wanita itu.
Andra mengacak rambutnya dengan kasar, takdir ini begitu sangat menyulitkannya. Butuh usaha yang sangat keras untuk menghapus perasaannya pada Ella. Dan disaat ia nyaris berhasil, keadaan malah menyudutkannya. Kairi menghilang, Suci juga menghilang. Andra takut jika suatu saat nanti ia tak bisa mengendalikan perasaannya. Ella adalah kakak iparnya, apapun yang terjadi pada Kairi, Ella tetaplah kakak iparnya. Tidak pantas baginya untuk berharap bisa memiliki Ella. Namun dengan keadaan yang seperti ini, mampukah kiranya ia tetap berfikir dengan akal sehatnya.
Melihat Ella yang sering termenung dalam kesedihan, ingin sekali rasanya Andra datang padanya, menghiburnya, mengisi hatinya, dan membuatnya kembali ceria. Namun ia masih punya logika, ia masih punya fikiran yang rasional. Semua itu tidak pantas, sangat tidak pantas untuk ia lakukan. Kairi dan Ella sudah menikah, mereka bukan sekedar pacaran.
Saat ini Andra hanya bisa mengharapkan keajaiban, semoga keadaan ini cepat berlalu, semoga Tuhan mengembalikan Suci, ataupun Kairi. Perihal cinta terkadang bisa membuat seseorang khilaf. Andra takut jika suatu saat ia juga khilaf, saling sendiri, dan pernah saling mencintai. Andra takut jika seiring berjalannya waktu, ia tak bisa lagi menahan perasaannya.
"Ahh tidak, tidak! Apa yang aku fikirkan. Dia kakak iparku, dia istrinya Kairi, aku tidak boleh bermimpi untuk memilikinya. Aku pasti akan menjaganya selama Kairi tidak ada, tapi menjaga sebagai keluarga, bukan menjaga sebagai seseorang yang dicinta. Ya Allah, kuatkanlah hatiku, semoga aku bisa menahan perasaanku." ucap Andra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Andra mendongak, menatap langit yang telah tertutup awan. Bulan, dan bintang tak lagi terlihat. Hanya awan-awan hitam yang menutupi langit luas. Dalam hitungan detik, Andra merasakan tetesan air mulai membasahi wajahnya.
Andra melompat turun, ia melangkahkan kakinya dengan cepat. Gerimis turun semakin deras, memaksa Andra untuk kembali ke apartemennya.
Andra tidak langsung kembali ke apartemennya, ia lebih dulu mampir ke apartemen Ella. Kebetulan tadi ia membeli buah apel merah, ia akan memberikannya pada Ella. Andra membuka pintu apartemen, lalu ia melangkah masuk. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu, kemana mereka?
Andra terus berjalan, dan tak sengaja ia melihat Ella yang sedang duduk termenung di kamarnya. Kebetulan saat itu pintu kamarnya sedikit terbuka. Ella duduk sambil memandang foto yang sedang digenggamnya. Meskipun jaraknya agak jauh, namun Andra tahu jelas, bahwa saat itu Ella sedang menangis. Buliran-buliran bening, menetes membasahi kedua pipinya. Andra menggigit bibirnya, hatinya kembali sesak melihat Ella yang hancur seperti ini.
__ADS_1
"Andai saja Tuhan memberikan pilihan, lebih baik aku saja yang menggantikan Kairi. Aku rela menderita, ataupun tiada, asal semua itu bisa membuatmu bahagia El!" ucap Andra dengan pelan, tangannya mencengkeram kantong plastik yang dibawanya dengan sangat erat.
Bersambung......