
Ella menghela nafas panjang, sambil menata hatinya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, Kairi tidak mungkin meninggalkannya, Kairi sangat mencintainya.
Sambil menggigit bibirnya, Ella kembali mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Kai..." panggil Angelina, karena Kairi masih belum membuka suara.
"I can not (aku tidak bisa)" kata Kairi dengan cepat.
"Why (kenapa)?" tanya Angelina.
"I have a lover, soon we will get married (aku punya kekasih, sebentar lagi kita akan menikah)" jawab Kairi sambil menjauhkan tangan Angelina dari tangannya.
"But I still love you (tapi aku masih mencintai kamu)" ucap Angelina.
"But I do not, I already love another woman (tapi aku tidak, aku sudah mencintai wanita lain)" jawab Kairi mulai kesal.
"Kairi please think about my feeling, have you forgotten our beatiful memories (Kairi tolong fikirkan perasaanku, apa kau sudah lupa dengan kenangan indah kita)?" tanya Angelina sambil menatap Kairi lekat-lekat.
"Yes I forgot, and you must forget it too (iya aku sudah lupa, dan kau juga harus melupakannya)" jawab Kairi dengan tegas, sambil melipat tangannya di dada.
"You have the heart to water Kairi (kau tega Kairi)" kata Angelina dengan nada yang sedikit keras.
"Have the heart? didn't I just obey your wishes. You chose to go, and you told me to forget you right (tega? bukankah aku hanya menuruti kemauanmu. Kau yang memilih pergi, dan kau yang menyuruhku untuk melupakanmu kan)" ucap Kairi sambil menaikkan alisnya.
Angelina menghembuskan nafas panjang, waktu itu ia memang bodoh, melepaskan lelaki seperti Kairi demi lelaki lain yang ternyata hanya bisa memberikan noda padanya.
"I'm sorry, that time I was wrong (maafkan aku, waktu itu memang salah)" kata Angelina sambil menunduk, terlihat jelas jika ia sangat menyesali perbuatannya.
"I've forgiven you, for that don't bother anymore (aku sudah memaafkanmu, untuk itu jangan lagi menggangguku)" jawab Kairi.
"Kairi..." gumam Angelina pelan, ia menatap Kairi dengan sendu.
"I used to respect your decision, so now I hope you respect mine too (dulu aku menghargai keputusanmu, jadi kuharap sekarang kau juga menghargai keputusanku)" kata Kairi dengan nada datar.
Angelina tidak menjawab, ia hanya menatap Kairi dengan tajam. Seolah ia ingin menyampaikan ketidak relaannya lewat tatapan matanya.
"I'm already happy with my lover ( aku sudah bahagia dengan kekasihku)" sambung Kairi saat melihat Angelina diam tanpa kata.
"Okay, than I'll go (baiklah, kalau begitu aku akan pergi)" kata Angelina sambil beranjak dari duduknya.
"Okay, be careful (baik, hati-hati)" jawab Kairi.
Angelina melangkah meninggalkan ruangan Kairi dengan hati yang kesal. Ia tak menyangka lelaki itu akan tetap teguh pada pendiriannya. Mengingat dulu Kairi sangat mencintainya, rasanya masih tidak percaya, jika sekarang lelaki itu sudah berpaling, dan mencintai wanita lain. Terlebih wanita itu hanya wanita sederhana seperti Ella.
"I won't give up, you have to be mine again Kairi. I'm the one deserves you more than Gabriella (aku tidak akan menyerah, kau harus menjadi milikku lagi Kairi. Aku yang lebih pantas memilikimu, bukan Gabriella)" batin Angelina sambil terus melangkahkan kakinya.
Setelah Angelina keluar, dan menghilang dari balik pintu, Ella juga keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan menuju kursi kerjanya dengan wajah yang ditekuk.
Kairi meliriknya sambil tersenyum lebar, ia tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya.
"Kau kenapa Gabriella?" tanya Kairi sambil mendekati kekasihnya yang sudah menyalakan kembali komputernya.
"Tidak apa-apa." jawab Ella singkat.
"Apa kau sedang cemburu?" tanya Kairi menggoda Ella.
"Tidak." jawab Ella.
"Oh ya sudah kalau begitu, aku kembali ke tempatku lagi ya." kata Kairi sambil melangkah menjauhi Ella.
"Kairi!!" teriak Ella.
"Ada apa?" tanya Kairi sambil menoleh, dan tersenyum lebar.
"Kamu tidak peka." jawab Ella masih meninggikan suaranya.
"Hahaha." Kairi tertawa lepas sambil mendekati Ella, dan duduk disebelahnya.
"Kamu menyebalkan." sungut Ella dengan bibir yang manyun.
__ADS_1
"Kamu sangat lucu kalau sedang cemburu sayang." goda Kairi sambil merapikan rambut Ella yang sedikit berantakan.
"Aku tidak cemburu." kata Ella dengan cepat.
"Lalu?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
Ella terdiam, hingga beberapa detik kemudian ia belum juga membuka suara. Lalu ia menatap Kairi, lelaki itu sedang tersenyum padanya. Ahh, senyuman yang sangat manis, wajar saja jika Angelina masih terpesona olehnya.
"Kairi." panggil Ella dengan pelan. Raut wajahnya berubah drastis, jika tadi ia terlihat sangat kesal, kini ia lebih terlihat seperti sedang menahan kesedihan.
"Hmmmm." gumam Kairi sambil menatap Ella.
"Angelina cantik." ucap Ella sambil menunduk. Sebenarnya banyak kata yang ingin ia sampaikan, namun nyatanya hanya dua kata itu yang mampu ia ucapkan.
"Tidak melebihi kecantikanmu Gabriella." kata Kairi dengan cepat.
"Kau bohong, dia sangat cantik, mata birunya sangat indah, dia sexy, anggun, glamour, sedangkan aku hanya seperti ini." ucap Ella sambil menunduk menatap kakinya yang saat itu sedang mengenakan high heels yang sudah kusam.
"Sudah?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
Ella tidak berani membalas tatapan Kairi, ia lebih memilih untuk menunduk.
"Sekarang aku tanya, apa gunanya cantik, jika tidak bisa menjaga harga dirinya? kamu tahu kan, dulu dia meninggalkan aku karena apa, dan sekarang tanpa rasa malu dia bilang masih cinta, dan ingin kembali lagi." kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella.
"Tapi Kai." ucap Ella masih menunduk.
Kairi melepaskan genggamannya, ia meraih dagu Ella, dan membimbingnya untuk mendongak. Kairi tersenyum saat mata mereka saling bertatapan.
Kairi menangkup kedua pipi Ella dengan lembut.
"Bagiku kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Asal kau tahu Gabriella, cantik yang sesungguhnya adalah cantik yang dilihat dari hatinya, bukan dari wajah, atupun penampilannya." ucap Kairi sambil mengusap-usap pipi Ella.
Ella masih diam, belum menjawab sepatah kata pun.
"Aku sangat mencintaimu Gabriella. Percayalah padaku, aku tidak akan meninggalkan kamu." sambung Kairi sambil memeluk Ella dengan erat.
"Terima kasih Kai, aku juga mencintai kamu." jawab Ella dengan pelan, nyaris seperti bisikan.
"Sekarang tersenyumlah, aku tidak suka melihatmu bersedih seperti ini." kata Kairi sambil melepaskan pelukannya.
"Aku tidak sedih." jawab Ella dengan cepat.
"Terus?" tanya Kairi.
"Biasa saja." jawab Ella pura-pura kesal.
"Aku hitung sampai tiga, kalau bibir kamu masih belum tersenyum, aku cium saat itu juga." kata Kairi sambil menatap Ella.
Dan ucapannya sukses membuat pipi Ella memerah.
"Pergilah ke tempatmu, dan lanjutkan pekerjaanmu!" teriak Ella sambil memalingkan wajahnya, ia sungguh malu mendengar kalimat yang baru saja Kairi ucapkan.
"Aku masih ingin bersantai denganmu sayang." goda Kairi sambil memainkan ujung rambut Ella.
"Kerja Kairi!" kata Ella masih dengan nada yang tinggi.
"Sebentar lagi sayang." jawab Kairi.
"Jangan malas, katanya kau mau menikahiku, harus giat bekerja, aku tidak mau hidup susah." kata Ella dengan kesal.
"Tanpa bekerja pun kita tidak akan susah sayang, uangku sudah banyak." ucap Kairi sambil tersenyum lebar.
"Masih kurang, aku butuh uang yang sangat banyak, jadi kau harus bekerja dengan keras." kata Ella.
"Oh ya, memangnya sebanyak apa?" tanya Kairi menggoda Ella.
Ella mendengus kesal, kenapa akhir-akhir ini Kairi menjadi semakin menyebalkan. Ella diam sejenak, ia memikirkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kairi. Dan akhirnya ia tersenyum, saat ada satu kalimat yang melintas difikirannya.
"Sebanyak cintamu padaku." ucap Ella sambil menoleh menatap Kairi.
__ADS_1
Kairi menggaruk kepalanya, ia hanya membuka mulutnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tidak heran kau bisa kuliah hanya dengan mengandalkan beasiswa, ternyata kau cukup cerdas Gabriella." batin Kairi sambil menahan senyumannya.
"Baiklah, kau benar, aku harus bekerja sekarang." kata Kairi.
"Silakan." jawab Ella sambil tersenyum penuh kemenangan.
Dan tidak ada pilihan lain, akhirnya Kairi bernjak dari duduknya, dan melangkah menuju kursi kerjanya.
***
Pukul 16.00 waktu Indonesia.
Vino melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menikmati perjalanannya sambil mendengarkan musik klasik. Musik yang sangat pas untuk dijadikan teman saat hati sedang gelisah. Vino tersenyum hambar saat mengingat sosok Nadhira, wanita yang sudah dicintainya sejak remaja, dan kini dia akan tunangan dengan sahabat dekatnya.
Sesakit inikah cinta?
Sekuat apapun Vino berusaha menghapus perasaannya, namun nyatanya rasa cintanya untuk Nadhira masih juga bertahta dihatinya.
"Bagaimana kabar hati kamu El, sakit karena masih mencintai, atau sembuh karena sudah berhasil melupakan?
Kalau aku masih sakit El." gumam Vino dengan pelan.
Ia teringat akan Ella, gadis baik, dan sederhana yang sangat terluka, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Sama seperti dirinya, cintanya juga bertepuk sebelah tangan hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka benar-benar punya nasib yang sama.
Vino membelokkan mobilnya menuju pusat perbelanjaan, ia akan mampir sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan, titipan Ibunya.
Vino memarkirkan mobilnya, lalu turun, dan kemudian melangkah masuk. Dengan cepat Vino mengambil beberapa barang, dan bahan makanan, yang kemudian ia bawa menuju kasir.
Setelah selesai membayar, Vino membawa keluar kantong belanjaannya, ia melangkah menuju parkiran.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya menangkap satu sosok yang sedang berdiri dipinggir jalan. Sosok wanita yang sedang kerepotan membawa belanjaannya.
Tanpa fikir panjang, Vino langsung melangkah mendekati wanita itu.
"Nadhira." panggil Vino saat ia sudah berdiri tepat disebelahnya Nadhira.
"Vino." ucap Nadhira sambil menoleh.
"Kamu tidak bawa mobil?" tanya Vino.
"Tidak, mobilku sedang di bengkel." jawab Nadhira sambil menggeleng.
"Tunggulah disini, aku ambil mobil dulu, kita pulang bersama." kata Vino sambil melangkah menjauhi Nadhira.
"Ahh untunglah ada Vino, menunggu taxi, sampai beruban juga belum datang." ucap Nadhira dengan sedikit kesal. Pasalnya taxi online yang ia pesan, sudah hampir satu jam belum juga datang.
Tak lama kemudian mobil Vino datang, dan berhenti disebelahnya. Nadhira langsung masuk sambil membawa belanjaannya.
"Andra kemana?" tanya Vino saat mereka sudah duduk bersebelahan. Vino mulai melajukan kembali mobilnya.
"Andra masih di rumah sakit, Tante Mirna kan belum sembuh Vin." jawab Nadhira.
"Oh." ucap Vino sangat singkat.
Lalu hening hingga beberapa saat, baik Vino, maupun Nadhira tidak ada yang membuka suara.
"Kapan kalian tunangan?" tanya Vino sambil sekilas menatap Nadhira.
"Masih ditunda, menunggu Tante Mirna sembuh." jawab Nadhira.
"Kenapa kita tidak seakrab dulu sih Nad?" ucap Vino dalam hatinya.
Vino ingat, sejak bertengkar waktu kuliah dulu, hubungannya dengan Nadhira sedikit renggang. Seolah wanita itu memang menjaga jarak dengannya. Sesekali Vino menoleh menatap Nadhira, wanita itu sedang tersenyum sambil memainkan ponselnya. Mungkin dia sedang chatingan dengan Andra, fikir Vino kala itu.
Vino menghela nafas panjang, sebesar itukah rasa cintanya Nadhira untuk Andra. Sampai ia tidak menganggap keberadaannya, yang sekarang jelas nyata ada disebelahnya.
"Jika memang bersama Andra bisa membuatmu bahagia. Aku tidak punya pilihan lain Nad, selain merelakan kamu. Aku bahagia, asal kau juga bahagia." batin Vino sambil menatap Nadhira yang masih asyik dengan ponselnya, dan tidak peduli padanya.
__ADS_1
Bersambung.......