Tentang Rasa

Tentang Rasa
Antara Cinta Dan Kecewa


__ADS_3

"Mbak Garnis." panggil Kairi sambil beranjak dari duduknya.


"Ella memaksa ingin pulang." kata Garnis sambil berdiri didepan Kairi.


"Kenapa Mbak? Apa karena ada aku di sini?" tanya Kairi sambil menunduk, sebenci itukah Ella padanya.


"Bukan, tidak seperti itu Kairi. Dia ingin pulang, karena merasa bosan. Katanya dia ingin beristirahat di kamarnya." jawab Garnis sambil menatap Kairi, ia tahu lelaki dihadapannya ini sangat mengharapkan Ella kembali. Ahh tapi apa yang bisa ia lakukan, adiknya memang keras kepala.


"Mbak, boleh aku bertemu dengan Gabriella, aku ingin bicara dengannya, sebentar saja." kata Kairi.


"Sebenarnya aku sangat mengizinkanmu Kai, tapi kau tahu sendiri kan Ella seperti apa. Sekarang biar aku coba berbicara dengan Ella, tapi kalau nanti aku gagal, tolong kamu jangan kecewa ya." ucap Garnis.


"Iya Mbak, terima kasih ya." kata Kairi sambil tersenyum.


Garnis menjawabnya dengan anggukan, lalu ia melangkahkan kakinya, dan kembali masuk kedalam ruangan.


Garnis mendekati Ella yang masih berbaring di ranjang. Ia menatap adiknya, sambil menghela nafas panjang.


"El, Kairi ingin bicara denganmu. Biarkan dia masuk ya." ucap Garnis.


"Aku tidak mau Mbak." jawab Ella sambil menggelengkan kepalanya.


"El jangan seperti anak kecil." kata Garnis sambil menatap Ella lekat-lekat.


"Aku belum siap jika sekarang." ucap Ella dengan pelan.


"Lalu kapan? Sekarang atau nanti itu sama saja, tidak ada bedanya." kata Garnis.


"Tapi Mbak."


"Biarkan dia masuk, dan berbicara denganmu. Atau kita tidak jadi pulang sekarang. Pulang besok saja sesuai anjuran dokter." kata Garnis, adiknya benar-benar keras kepala, ia sudah tidak punya cara lain untuk membujuk adiknya.


"Kenapa Mbak Garnis jadi membela Kairi sih." gerutu Ella sambil menatap kakaknya.


"Aku tidak membela dia El, ini aku lakukan juga demi kebaikan kamu. Biarkan dia bicara, dan menjelaskan semuanya. Setelah itu silakan kamu pilih, kembali atau pergi." kata Garnis.


Ella diam, tidak menjawab perkataan kakaknya.


"Sekarang kamu pilih, bicara dengan Kairi, atau kita pulang besok." ucap Garnis.


Ella menghela nafas panjang, ia sudah bosan berada di rumah sakit ini. Hanya berbaring, tanpa melakukan aktivitas apapun. Dan lagi, juga ada Andra dan Kairi yang selalu menunggunya diluar. Ella tidak ingin hal ini berlangsung lama.


"Baiklah, suruh dia masuk, aku mau bicara dengannya. Tapi kita pulang ya Mbak." ucap Ella sambil bangkit dari tidurnya, ia kini duduk sambil menyandarkan punggungnya.


"Iya. Kalau begitu sekarang aku suruh Kairi masuk ya. Bicara baik-baik dengannya, aku dan Masmu akan berbicara dengan dokternya, dan mengurus administrasinya." kata Garnis sambil tersenyum.


Ella menjawabnya hanya dengan anggukan.


"Ayo Mas!" ajak Garnis sambil menatap suaminya.


"Kita tinggal dulu ya El." ucap Ariel sambil menatap Ella.


"Iya Mas." jawab Ella.


Ella menatap kepergian Garnis, dan Ariel dengan jantung yang berdetak semakin cepat. Setelah pintu ruangan tertutup, Ella memalingkan wajahnya. Sebentar lagi Kairi akan masuk melewati pintu itu. Ahh apa yang harus ia lakukan sekarang? Sulit untuk menolaknya, tapi juga sulit untuk menerimanya.


Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka. Ella meliriknya sekilas, Kairi sedang berjalan mendekatinya. Jantung Ella semakin tidak beraturan, aroma parfum Kairi mulai menyeruak di hidungnya. Ella menoleh, Kairi sudah duduk didepannya. Wajah lelaki itu sangat kusut, rambutnya sedikit berantakan. Kairi menyunggingkan senyumannya, terlihat sangat manis menurut Ella. Ingin sekali ia bersandar di dadanya, dan merasakan hangatnya dekapannya. Tapi tidak, lelaki itu bukan lagi kekasihnya. Lelaki itu sudah memilih berpisah darinya. Ella menunduk, mencoba meredam semua rasa sakit dihatinya.


"Gabriella." panggil Kairi.


Ella mengangkat wajahnya, menatap Kairi yang saat itu juga sedang menatapnya. Tatapan mata mereka bertemu, dan itu membuat hati Ella berdebar-debar.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Ella dengan pelan. Rasa gugup, kecewa, juga rindu bercampur menjadi satu, dan mengacaukan perasaannya.


"Aku ingin meminta maaf, kemarin aku sudah salah paham dengan perasaan kamu. Maafkan aku Gabriella, aku tidak tahu, jika kau sudah menolak Andra." ucap Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.


"Kenapa kau tidak tahu?" tanya Ella.


"Kau tidak mengatakannya padaku, jadi mana mungkin aku bisa tahu." jawab Kairi.


"Apa kau tidak bisa memahami perasaanku Kai. Apa harus aku jelaskan dulu baru kau bisa mengerti. Tidak bisakah kau melihatku dengan hatimu, jika seperti ini, bukankah seharusnya perasaanmu yang pantas untuk diragukan Kai." kata Ella sambil menatap Kairi.

__ADS_1


Kairi tersentak kaget saat mendengar ucapan Ella. Kenapa sejauh itu tanggapan Ella tentang kesalahannya. Tapi, ucapan Ella ada benarnya juga. Kenapa ia tidak bisa melihat perasaan Ella dengan hatinya, jika seperti ini, mungkin akan sulit untuk menadapatkan maaf dari Ella.


"Maafkan aku Gabriella, kemarin aku terlalu kacau. Andra adalah adikku, aku sedih saat melihat dia terpuruk. Jadi aku sampai tidak bisa memahami kamu. Maafkan aku ya." ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Aku sudah memaafkan kamu Kai." jawab Ella.


Kairi tertegun, ternyata Ella bisa memaafkan dirinya. Bahkan ini lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Kairi menyunggingkan senyuman lebar di bibirnya.


"Jadi kau mau menerima aku lagi, dan kita bisa kembali melanjutkan hubungan kita Gabriella." ucap Kairi.


"Kau jangan salah paham Kai, aku memang memaafkan kamu, tapi aku tidak bisa kembali bersamamu. Kau masih ingat kan dengan ucapanku kemarin, saat aku sudah memutuskan pergi, aku tidak akan pernah kembali." kata Ella sambil menatap Kairi.


"Meskipun aku masih mencintai kamu, tapi kamu sudah membuatmu kecewa. Kau meragukan perasaanku, kau tidak bisa memahami diriku dengan hatimu. Jadi untuk apa aku menjalin hubungan, dengan seseorang yang tidak bisa mengerti tentang aku." batin Ella dalam hatinya.


"Apa! Gabriella tidak bisakah kau memberiku kesempatan kedua. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella.


"Aku tidak bisa Kai." jawab Ella.


"Sekali saja, Gabriella tolonglah."


"Maaf Kai aku tidak bisa."


"Gabriella, aku mohon." ucap Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.


"Malam itu aku menghargai keputusan kamu, jadi sekarang, tolong hargai juga keputusan aku." jawab Ella dengan tegas.


"Tapi..."


"Aku sudah memaafkan kamu. Jadi tolong jangan memaksakan kehendak kamu." kata Ella.


"Jika kau tidak bisa menerimaku, aku akan kembali ke London Gabriella." ucap Kairi. Ia berharap Ella akan menahannya.


Belum sempat Ella menjawab ucapan Kairi. Tiba-tiba seorang dokter sudah masuk kedalam ruangan. Dokter itu memeriksa Ella, dan kemudian mencabut slang infusnya.


"Sebenarnya keadaan Anda belum membaik Nona, tapi Anda sudah memaksa untuk pulang. Jika di rumah nanti merasa sakit, atau pusing, tolong segera hubungi kami ya." kata dokter itu.


"Baik dokter, terima kasih ya." jawab Ella sambil tersenyum.


Ella menyibak selimutnya, dan bersiap untuk turun dari ranjang.


"Aku bantu Gabriella." ucap Kairi sambil memegang lengan Ella.


"Aku bisa sendiri." jawab Ella sambil melepaskan tangan Kairi.


Kairi tertegun ditempatnya, wanita yang selalu dicintainya, kini benar-benar menolaknya. Ahh andai saja waktu bisa diputar, tentu saja dia tidak akan pernah melepaskan Ella.


Kairi tetap berdiri ditempatnya, sambil memandang Ella yang sudah berjalan menuju pintu.


Ella membuka pintu ruangannya, dan matanya langsung menatap sosok Andra yang sedang duduk di kursi. Andra mendongak kala mendengar suara pintu dibuka. Andra langsung beranjak dari duduknya, dan berjalan mendekati Ella.


"Ella, bagaimana keadaan kamu?" tanya Andra.


"Aku baik." jawab Ella sambil melangkah pergi. Sebenarnya Ella sudah tahu, jika Andra tidak bersalah. Kemarin Nadhira, dan Vino sudah menceritakan semuanya, termasuk tentang Vino yang menghajar Andra. Tapi entahlah, Ella masih tidak ingin bicara banyak dengan Andra.


Dan tak berapa lama kemudian, Kairi juga keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana Kai?" tanya Andra dengan tidak sabar.


"Dia sudah memaafkan aku, tapi menolakku, dan tidak mau kembali denganku." jawab Kairi sambil tersenyum kecut.


"Tidak boleh, ini tidak boleh terjadi. Kau dan dia harus kembali bersama!" kata Andra dengan nada yang sedikit tinggi.


"Inginku juga begitu Ndra, tapi dia menolak. Aku tidak bisa memaksanya." ucap Kairi.


"Tunggu di sini, biar aku yang bicara dengannya." kata Andra sambil melangkah pergi. Ia mengejar Ella yang sudah berjalan cukup jauh.


Andra terus mempercepat langkahnya, hingga akhirnya ia bisa menyusul Ella. Kini mereka sudah berada di halaman rumah sakit.


"Tunggu El!" kata Andra sambil berdiri didepan Ella.


Mau tidak mau Ella harus menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ada apa Ndra?" tanya Ella.


"Kau tidak boleh seperti ini, kau harus memaafkan Kairi, dan menerima dia kembali. Dia memang salah, tapi dia sangat menyesali perbuatannya El." kata Andra dengan cepat.


"Aku tidak bisa Ndra, kita sudah berpisah." jawab Ella dengan pelan.


"Dia masih mencintai kamu El, dan aku yakin kamu juga masih mencintai dia. Jadi apa salahnya jika kalian kembali menjalin hubungan!" kata Andra dengan nada yang sedikit tinggi.


"Memang tidak salah Ndra, tapi aku tidak bisa. Dia sudah meragukan perasaanku, jadi untuk apa kita masih menjalin hubungan, jika tidak lagi ada kepercayaan dan keyakinan." jawab Ella sambil menatap Andra.


"Kau jangan berlebihan El, aku tahu dia kemarin memang salah. Tapi asal kau tahu juga, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Aku tahu kau sangat menjunjung tinggi harga dirimu, tapi kau juga jangan terlalu angkuh. Kau harus memaafkan dia El." kata Andra.


"Aku sudah memaafkan dia Ndra. Tapi aku tidak bisa kembali padanya. Tolong hargai keputusan aku." ucap Ella sambil melangkahkan kakinya.


"Kau tidak boleh seperti ini El!" teriak Andra sambil mencekal tangan Ella, dan menahannya agar tidak pergi.


Ella menghentikan langkahnya, dan kemudian melepaskan cekalan Andra.


"Apa lagi sih Ndra." ucap Ella sambil memutar bola matanya.


"Kau harus memberi dia kesempatan kedua." kata Andra.


"Aku tidak mau."


"Kau harus mau!" bentak Andra.


"Aku tidak mau Ndra, kau jangan memaksa!" kata Ella dengan nada yang sedikit tinggi, ia mulai jengkel dengan sikap Andra.


"Kau harus adil El, dulu kau memberiku kesempatan kedua. Jadi sekarang kau juga harus memberikan dia kesempatan kedua!" teriak Andra dengan cukup keras. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang mulai tertuju padanya. Andra masih sama seperti dulu, sangat temperamental.


"Aku tidak bisa, kau jangan memaksaku Ndra. Minggirlah, dan biarkan aku pergi." ucap Ella sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Pergilah jika kau memang ingin pergi. Tapi asal kau tahu El, selangkah saja kau pergi, aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Kemarin kau peduli padaku, kau bilang kau masih menganggap aku sahabat. Tapi kenapa sekarang kau tidak mau mendengarkan perkataanku. Kau ingin menguburku dalam perasaan bersalah selamanya, iya El!" bentak Andra dengan nafas yang memburu. Ia benar-benar lelaki yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


Ella tertegun mendengar perkataan Andra.


"Apa maksudmu?" tanya Ella.


"Kairi salah paham denganmu, karena kau peduli padaku. Jika hal itu membuat kalian berpisah, kau fikir aku tidak merasa bersalah!


Kau ingin aku kembali terpuruk seperti waktu itu, iya El!" teriak Andra.


"Terpuruk atau tidak itu pilihanmu Ndra. Kau mau berfikir dewasa atau tidak itu juga pilihanmu." ucap Ella.


"Aku tidak akan lagi menganggapmu sahabat, jika kau tidak mau kembali dengan Kairi!" kata Andra dengan tegas.


"Baiklah, jika itu memang mau kamu." jawab Ella.


"Aku sudah menuruti satu permintaan kamu, aku sudah merelakan kamu, dan menghapus perasaanku untuk kamu. Jadi sekarang kau harus menuruti satu permintaanku. Kembali dengan Kairi." kata Andra.


"Kau menuruti permintaanku, karena kau memang sudah berjanji padaku. Tapi aku, aku tidak pernah berjanji apa-apa padamu. Jadi aku tidak bisa menuruti permintaan kamu." jawab Ella.


Andra mengepalkan tangannya dengan erat, ia sudah kehabisan kata-kata. Ia benar-benar emosi, karena tak bisa lagi merangkai kata untuk membujuk Ella. Ahh dasar wanita yang keras kepala.


"Baikalah, aku tidak akan membujukmu lagi. Tapi satu hal yang harus kau tahu El, agar kau nanti tidak menyesal karena terlambat mengetahuinya. Aku terpuruk kemarin bukan hanya karena kamu, atau karena kenyataan tentang Ayah kandungku. Tapi aku berdiam diri di apartemen itu juga karena Kairi. Aku memberi kesempatan padanya, untuk bersama Mama dan Papa tanpa adanya aku. Kau tahu, kenapa hubungan Kairi dan Mama tiba-tiba membaik?" tanya Andra sambil menatap Ella. Nada suaranya sudah normal, tidak tinggi seperti tadi.


Ella tidak menjawab, namun tatapan matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu, dan ingin tahu apa alasannya.


"Mama dan Papa menikah, karena perjodohan. Mama sama sekali tidak punya cinta untuk Papa, bahkan Mama malah membenci Papa. Mama sangat marah ketika hamil anak Papa. Mama berencana menggugurkan kandungannya, karena memang tidak mengharapkan kehadirannya. Tapi Tuhan berkehendak lain, bayi dalam kandungan Mama tetap selamat hingga ia lahir, dan dia adalah Kairi. Kau sekarang tahu, betapa terlukanya dia saat mengetahui kenyataan itu. Dia menyimpan lukanya sendirian, dan bahkan dia masih memikirkan lukaku. Kau yakin akan meninggalkan lelaki sebaik itu El." kata Andra sambil menatap Ella dengan tajam.


Ella tertegun mendengar perkataan Andra. Ternyata benar, dibalik hubungan mereka yang tiba-tiba membaik, memang ada alasan yang tidak sederhana. Tapi kenapa Kairi menyembunyikannya sendiri.


"Kairi menyimpan luka sebesar itu, tanpa memberitahukannya padaku." batin Ella sambil menggigit bibirnya.


"Sekarang pilihan ada ditangan kamu, kau ingin memaafkan dia dan memberikan kesempatan kedua padanya. Atau kau masih menolak dia, dan membiarkan dia kembali ke London dengan membawa luka. Apapun keputusan kamu, aku tidak akan ikut campur, terserah padamu saja. Yang penting aku sudah menjelaskan semuanya." kata Andra sambil memalingkan wajahnya.


Ella tidak menjawab, entah apa yang sedang ada dalam fikirannya. Ella membalikkan badannya, dan tampak di sana Kairi sedang berdiri tak jauh darinya. Ella meraba cincin dijari manisnya, ia melepasnya sambil melangkah mendekati Kairi.


Ella menghentikan langkahnya tepat dihadapan Kairi, ia meraih tangan lelaki itu, dan meletakkan cincinnya diatas telapak tangannya.


Ella memandang Kairi dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan Kairi, ia juga membalas tatapan Ella. Dengan raut sendunya ia menggenggam erat cincin yang baru saja diberikan padanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2