
"Kai ada apa? Jawab!" teriak Ella sambil menggenggam lengan Kairi dengan erat.
Kairi menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu ia mengusap wajahnya, dan menatap Ella lekat-lekat.
"Kamu harus ke Lyon sayang." kata Kairi.
Ella mengernyitkan keningnya, ke Lyon, untuk apa dia kesana?
"Untuk apa aku kesana Kai?" tanya Ella dengan heran.
"Andra sedang rapuh, kau harus menemaninya, beri dukungan untuk dia. Larut nanti Mama, dan Papa akan sampai. Besok pergilah ke Lyon bersama Mama, dan temani Andra di sana." kata Kairi dengan serius.
"Memangnya Andra kenapa, bukankah dia kesana hanya untuk meminta maaf?" tanya Ella.
"Dia bertemu Suci sayang, tapi Suci sedang kritis. Andra sangat kacau saat ini." jawab Kairi.
"Apa! Suci!" teriak Ella spontan. Ia tersentak kaget mendengar nama Suci, dan keadaannya yang kritis. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku yakin ada banyak hal lain yang terjadi. Suara Andra terdengar sangat kacau. Tapi satu yang hal pasti, Suci ternyata menderita kanker darah, dan keadaannya sudah sangat kritis." ucap Kairi dengan pelan.
"Apa!" kata Ella sambil menutup mulutnya. Kabar ini benar-benar mengagetkannya, ia tak percaya jika wanita yang selalu terlihat cantik, dan bugar itu ternyata menyembunyikan penyakit parah seperti ini.
"Untuk itu besok pergilah kesana, aku tidak ingin Andra terpuruk sendirian." ucap Ella sambil menggenggam tangan Ella.
"Tapi Kai." kata Ella sambil duduk di depan Kairi.
"Keadaanmu juga seperti ini. Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendirian. Meskipun ada Bik Ida, dan Bik Darmi, tapi aku tidak tega. Aku akan tetap di sini untuk merawatmu Kai, sekaligus menjaga Billa." sambung Ella sambil melirik Billa sekilas.
"Ada Papa yang menemaniku sayang, kau jangan khawatirkan aku." ucap Kairi.
"Aku tidak mau Kai." jawab Ella dengan cepat.
"Dirinya saja sedang sakit, kenapa malah menyuruhku menemani Andra. Tidak, aku tidak akan mau." gerutu Ella dalam hatinya.
"Gabriella dengarkan aku!" kata Kairi sambil menarik tangan Ella, dan mengajaknya untuk duduk lebih mendekat.
"Andra bukanlah lelaki yang tegar, dia adalah lelaki yang rapuh. Dia butuh dukungan untuk melewati semua ini. Dan yang bisa melakukannya adalah kamu Gabriella. Kau ingat kan waktu dia terpuruk, hanya kamu yang bisa menuntunnya untuk keluar dari kubangan luka. Dia sudah menemanimu, dan menjagamu selama aku tidak ada. Sekarang dia yang rapuh, tolong beri dukungan untuk dia." kata Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Tapi Kai." jawab Ella sambil menghela nafas panjang.
"Saling menguatkan satu sama lain, itukan gunanya sahabat." ucap Kairi.
__ADS_1
Ella tersentak, ia terpaku sejenak saat mendengar kalimat yang Kairi ucapkan. Sahabat, apa maksudnya dia?
"Apa maksudmu?" tanya Ella.
"Kau sahabat terbaiknya, hanya kau yang bisa membawa dia dalam kebaikan. Dan dia, dia juga sahabat terbaikmu kan. Meskipun kau mencintaiku, tapi dia tetap berharga dalam hidupmu, dia tetap berjasa dimasa lalumu." kata Kairi sambil menatap Ella.
Ella seakan membeku saat itu juga. Kalimat ini, seperti kalimat yang pernah ia ucapkan pada Andra, sewaktu ia, dan Kairi akan berangkat ke Paris. Mungkinkah saat itu Kairi mendengarnya? Tapi mereka hanya saling berbisik, dan Kairi berdiri cukup jauh dari mereka.
"Kai, kamu?" tanya Ella dengan gugup. Jantungnya berdetak cepat, mungkinkah Kairi salah paham padanya?
"Iya, aku mendengar semuanya. Meskipun kau tidak bisa menerima perasaannya, tapi dia tetap berharga dalam hidupmu." jawab Kairi sambil menyelipkan rambut Ella ke belakang telinganya.
"Ap...apa? Kai, aku tidak bermaksud, aku hanya, aku hanya." ucap Ella dengan gugup. Ia kesulitan meneruskan kalimatnya. Jantungnya semakin berdetak cepat, apa yang harus ia lakukan kalau nanti Kairi salah paham dengannya. Akan sulit untuk menjelaskan maksudnya yang sebenarnya.
"Aku mengerti, dan aku paham apa maksudmu." kata Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Dia adalah lelaki yang selalu hadir dimasa lalu kamu, dan aku tidak bisa mengubah hal itu. Bukan hal yang aneh, jika kau menganggap dia berharga, karena dia adalah sahabat kamu, dia adalah lelaki yang kau jadikan sandaran saat kau dalam kesulitan. Aku mencoba memahami hubunganmu dengannya Gabriella." ucap Kairi dengan pelan.
Tanpa terasa air mata Ella mulai menetes. Hatinya terasa sakit, seakan ia sudah mengkhianati tulusnya cinta Kairi. Ella menunduk, terlalu takut untuk menatap mata birunya Kairi yang menyejukkan, namun juga menenggelamkan.
"Maafkan aku, tapi tidak seperti itu Kai." kata Ella dengan nada yang tertahan.
"Aku percaya perasaan cintamu hanya untukku. Tapi aku juga tahu, selamanya kau masih menganggap Andra itu sahabat yang berharga. Aku tidak mempermasalahkan hal itu Gabriella, aku tidak masalah kau tetap bersahabat dengan dia." kata Kairi sambil mengusap pipi Ella, seraya menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
"Kai, aku..." Ella menggantungkan kalimatnya, ia kesulitan merangkai kata yang tepat untuk bicara dengan Kairi.
"Kau mengenal dia, jauh sebelum kau mengenal aku. Aku tidak apa-apa kau tetap bersahabat dengan dia. Karena aku percaya dengan cintamu, aku juga percaya kau tidak akan mengkhianatiku." ucap Kairi.
"Aku sangat mencintaimu Kai." kata Ella dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan.
"Aku mengerti. Sekarang kau sudah setuju kan untuk pergi ke Lyon, dan menemani Andra di sana." ucap Kairi.
"Aku tahu Andra sedang terpuruk, dan hanya Gabriella yang bisa membuatnya tetap tegar. Aku percaya dengan mereka berdua, meskipun tetap bersahabat, tapi mereka tidak akan melewati batas. Selama ini Andra sudah menjaga Gabriella untukku, tidak mungkin aku diam saja, saat ia sedang kesulitan seperti ini." batin Kairi dalam hatinya.
"Aku berat meninggalkan kamu Kai, kau sedang sakit, dan lagi aku juga harus menjaga Billa." jawab Ella.
"Ada Papa yang menemaniku, lagipula aku juga tidak sakit, hanya kakiku saja yang masih tidak bisa berjalan. Biarkan Billa bersamaku, dengan menghabiskan banyak waktu untuk bersama, hubunganku dan dia akan semakin dekat." kata Kairi sambil tersenyum.
Belum sempat Ella menjawab perkataan Kairi, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Ella beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati pintu, dan membukanya. Ternyata Pak Louis, dan Bu Mirna yang datang.
"Mama, Papa." sapa Ella.
__ADS_1
"Ella, dimana Kairi?" tanya Bu Mirna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu Ma." jawab Ella sambil menunjuk ke atas ranjang.
Bu Mirna menangis sambil berlari mendekati Kairi. Beliau langsung memeluknya dengan erat, dan menumpahkan tangisnya dengan semakin keras.
"Mama sangat merindukan kamu nak, Mama sangat takut kehilangan kamu!" kata Bu Mirna disela-sela tangisnya.
"Maafkan aku ya Ma, aku sudah membuat Mama khawatir." ucap Ella sambil memeluk Ibunya dengan semakin erat.
"Jangan meminta maaf, semua ini salah Mama." jawab Bu Mirna.
Pak Louis duduk disebelah Kairi, untuk pertama kalinya beliau meneteskan air mata. Anak yang sangat disayanginya, yang kemarin sempat dikira tiada. Kini sudah kembali, berada nyata dihadapannya. Perlahan tangan Pak Louis menyentuh kepala Kairi, dan menguspnya dengan pelan.
"Maafkan Papa yang tidak bisa menjagamu Kai." ucap Pak Louis seraya menyeka air matanya.
Bu Mirna melepaskan pelukannya, dan Kairi langsung memeluk Ayahnya.
"Aku merindukan Papa." ucap Kairi dengan pelan.
"Maafkan Papa, seharusnya Papa bisa menjagamu dengan baik." jawab Pak Louis.
"Ini bukan salah Papa, mungkin memang aku yang terlalu ceroboh." ucap Kairi sambil mengeratkan pelukannya.
Ella duduk di sofa sambil menitikkan air mata, ia ikut terharu menyaksikan Kairi yang berpelukan dengan orang tuanya.
Setelah cukup lama saling melepas rindu, Bu Mirna duduk di samping Billa. Beliau menciumi pipi Billa yang sedang tertidur.
"Oh ya Kai, dimana Andra? Dari tadi Mama belum melihat batang hidungnya." tanya Bu Mirna sambil menatap Kairi.
"Andra tidak ada di apartemen Ma." jawab Kairi.
"Kemana dia?" tanya Bu Mirna.
"Dia sedang berada di rumah sakit Lyon. Suci sakit kanker darah, dan keadaannya sangat kritis sekarang." jawab Kairi sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Entah bagaimana tanggapan Ibunya, beliau pasti sangat kaget.
"Apa!" teriak Bu Mirna sambil menutup mulutnya.
"Kenapa cobaan yang menimpa keluargaku, seperti tidak pernah berakhir? Ya Allah dengan cara apa aku menebus kesalahanku dimasa lalu, agar anak cucuku tidak ikut merasakan karma atas perbuatanku." batin Bu Mirna dalam hatinya.
Bersambung......
__ADS_1