Tentang Rasa

Tentang Rasa
Tentang Perasaan


__ADS_3

"Ayo masuk ke rumah," ajak Ella sambil melangkahkan kakinya.


"Tidak, di sini saja," kata Andra sambil menahan tangan Ella.


Ella menoleh, ia tersenyum sambil melepaskan tangannya dari genggaman Andra.


"Baiklah, kalau begitu ayo duduk di sana!" ajak Ella sambil menunjuk rumput hijau yang tumbuh dibawah pohon mangga.


"Ayo," jawab Andra sambil tersenyum.


Kemudian mereka berdua duduk di atas rerumputan, di bawah pohon mangga.


Andra tersenyum saat menatap pohon mangga yang tumbuh rindang di atasnya. Dulu ia sering sekali memanjat pohon itu, memetik buahnya dan melemparkan pada Ella yang menunggu di bawah.


"Kau masih ingat, dulu aku sering memetik buah mangga ini untukmu," kata Andra mengawali pembicaraannya.


"Iya," jawab Ella singkat. Untuk apa Andra membicarakan masa lalu.


"Dulu persahabatan kita cukup dekat ya, El," ucap Andra sambil menatap Ella yang sedang duduk di sebelahnya.


"Iya," jawab Ella.


"Apa sebenarnya maksud Andra?" batin Ella sambil mengernyit heran.


"Tapi akhir-akhir ini ... kau menjauhiku, El," kata Andra.


"Aku tidak menjauhimu," jawab Ella.


"Kau memblokir akunku dan kau juga jarang mengangkat telfonku," kata Andra sambil tetap menatap Ella.


"Aku tidak menjawab telfonmu karena aku sibuk, Ndra. Dan soal akunmu, maaf, aku tidak sengaja," jawab Ella sambil menghembuskan napas kasar.


"Begitu ya, lalu kenapa tidak mengabariku kalau kau pulang?" tanya Andra.


"Aku belum sempat, rencananya aku mengabarimu saat sudah sampai di rumah. Tapi aku tidak menyangka kau adalah adiknya Kairi, jadi kita bertemu lebih awal, sebelum aku sempat mengabarimu," jawab Ella sambil berusaha tersenyum.


"Kairi, luwes sekali kau menyebut namanya, El. Tidakkah kamu tahu, hatiku sangat sakit saat mendengar kau menyebut namanya," batin Andra sambil mendengus kesal.


"Kapan kau punya waktu luang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kau masih ingat kan dengan janjiku dulu," kata Andra sambil tersenyum.


"Janji apa?" tanya Ella sambil mengernyitkan keningnya.


"Mengajakmu ke Paris," jawab Andra.


Ella tersentak kaget, kenapa Andra masih mengingat hal itu, padahal ia saja sudah melupakannya.


"Kenapa kau menganggap itu serius, Ndra?" tanya Ella sambil tertawa.


"Aku selalu serius, El, jadi kapan kau punya waktu? Aku akan mengajakmu ke sana," kata Andra sambil tersenyum.


"Aku tidak bisa, Ndra," jawab Ella sambil menggeleng.


"Kenapa?" tanya Andra.


"Aku sudah pernah ke sana," jawab Ella.


"Dengan siapa?" tanya Andra.


"Kairi," jawab Ella.


"Oh," kata Andra singkat.


"Lagi-lagi Kairi. Kau benar-benar menyebalkan," gerutu Andra dalam hatinya.


"Ngomong-ngomong terima kasih ya, Ndra, kamu sudah mau menerimaku sebagai calon kakak ipar kamu," ucap Ella sambil tersenyum.


"Kakak ipar, sepertinya kau sudah salah paham, El," kata Andra.


"Apa maksudmu?" tanya Ella sambil mengernyit heran.


"Aku datang ke sini bukan untuk merestui hubunganmu dengan Kairi, tapi aku punya kepentingan lain," jawab Andra.


"Kepentingan apa?" tanya Ella.


Andra tersenyum sambil mengubah posisi duduknya, kini ia duduk menghadap ke Ella sambil menggenggam tangannya.


"Aku datang ke sini untuk bicara tentang perasaan. Rindu yang selama ini kupendam, ternyata bukan rindu yang biasa. Ella, maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku. Tapi percayalah, perasaan ini tumbuh dari dasar hatiku. Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu," ucap Andra sambil menatap Ella lekat-lekat.


Ella tersentak kaget, dan dengan cepat ia langsung menarik tangannya.


"Baru saja aku tersenyum, karena kukira semuanya akan berjalan lancar. Tapi kenapa tiba-tiba Andra datang dan mengatakan cinta, bagaimana jika Kairi tahu," batin Ella dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan, Ndra, aku sudah bersama Kairi. Dan kau juga sudah bersama Nadhira. Kita sudah punya pasangan masing-masing, kenapa kau bilang cinta padaku?" kata Ella dengan nada yang sedikit tinggi.


"Aku tidak mencintai Nadhira, yang aku cintai kamu El. Kamu bisa 'kan mempertimbangkan perasaanku," ucap Andra sambil tetap menatap Ella.


"Aku tidak bisa!" sahut Ella dengan cepat sambil beranjak dari duduknya.


"Kenapa?" tanya Andra sambil ikut berdiri.


"Kenapa katamu, Ndra, kau tahu aku sudah bersama Kairi. Aku sudah mencintai dia, seharusnya kau tidak mengusikku," jawab Ella sambil menatap Andra.


"Tapi aku yang lebih dulu mengenalmu, aku yang lebih tahu tentang kamu. Aku sangat mencintai kamu, Ella, tolong pertimbangkan perasaan aku. Aku ingin memiliki kamu, aku ingin menikah dengan kamu," kata Andra.


"Aku tidak bisa, Ndra, aku sudah mencintai Kairi. Tolong kamu jangan memaksaku," bentak Ella. Lama-lama ia merasa kesal mendengar kata cinta yang Andra ucapkan. Tujuh tahun Ella menanti kata-kata itu, dan Andra tak pernah mengucapkannya. Kini saat Ella sudah bahagia, dengan seenaknya Andra datang memaksakan cintanya.


"Apa yang kau lihat dari dia, kau belum lama mengenalnya, dia tidak sebaik yang kau kira. Aku adalah lelaki yang sudah kau kenal sejak lama, aku yang dulu selalu ada untuk kamu, kenapa kamu lebih memilih dia?" teriak Andra. Emosinya mulai tersulut saat mendengar Ella terus menolak perasaannya.


"Aku memilihnya karena aku mencintai dia. Mungkin bagimu dia tidak baik, tapi bagiku dia adalah yang terbaik,"" jawab Ella dengan nada tinggi.


"Apa ini alasannya kenapa selama ini kamu menjauhiku, apakah dia yang sudah membuatmu memblokir akunku, dan tidak pernah menjawab telfonku. Jawab, Ella!" teriak Andra, ia benar-benar marah, tidak menyangka jika Ella akan menolak cintanya.


"Semua itu tidak ada hubungannya dengan dia," jawab Ella.


"Bohong, aku tahu kau sengaja melakukannya. Dia kan yang sudah menyuruhmu untuk menjauhiku?" tanya Andra dengan napas yang memburu, terlihat jelas kalau ia sedang menahan amarah.


"Sudah kubilang ini tidak ada hubungannya dengan dia!" teriak Ella.


"Aku tidak menyangka kamu seperti ini, Ella. Dari dulu aku yang selalu ada untuk kamu, aku yang selalu mengerti tentang kamu. Tapi kenapa sekarang kamu tidak bisa mengerti aku, kenapa kamu tidak bisa mempertimbangkan aku?


Kelihatannya kau polos, tapi sebenarnya kau sangat kejam, Ella," kata Andra sambil mendekati Ella, ia berbicara tepat di depan wajah Ella.


Ella benar-benar emosi mendengar perkataan Andra, dan tanpa basa basi ia langsung menampar pipi Andra dengan keras.


Andra tersentak kaget, ia tak menduga Ella akan menamparnya. Jika semalam Ella mencetak rekor menjadi wanita pertama yang membuatnya menangis, kini Ella kembali mencetak rekor menjadi wanita pertama yang berani menamparnya.


Rasa panas yang menjalar di pipinya, tak begitu Andra hiraukan. Ia hanya memikirkan tentang hatinya yang terasa sakit saat mendapatkan perlakuan kasar dari Ella.


"Kau salah, Andra, sesungguhnya dari dulu sampai sekarang kau sama sekali tidak pernah mengerti tentang aku. Kau benar, aku memang sengaja menjauhimu, tapi itu bukan karena Kairi, tapi karena dirimu sendiri. Jika menurutmu aku kejam, lalu bagaimana dengan dirimu?" teriak Ella sambil menunjuk-nunjuk muka Andra. Ia juga melemparkan cokelatnya tepat ke dada Andra. Kini coklat itu jatuh begitu saja di atas rerumputan.


"Mungkin kau harus tahu semuanya, Andra, agar kau mau berhenti memaksakan perasaan kamu," batin Ella dalam hatinya.


"Apa maksudmu?" tanya Andra sambil lebih mendekati Ella.


Ella memundurkan langkahnya, lalu berbalik membelakangi Andra.


"Aku mengerti, El, kau menyuruhku untuk menghargai waktu, dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Aku sudah melakukan itu, El, aku sudah menjadi pribadi yang lebih baik, aku tidak seperti dulu lagi," jawab Andra sambil menatap Ella dari belakang.


"Kau salah, Ndra. Sebenarnya waktu yang aku maksud adalah diriku sendiri. Aku berharap kau bisa menghargai aku, selagi aku masih ada untuk kamu. Namun ternyata, kau tidak pernah menghargai aku, bahkan sampai aku sudah memutuskan untuk pergi," ucap Ella sambil tersenyum hambar.


"Apa maksudmu, katakan apa maksudmu, El, aku benar-benar tidak mengerti," kata Andra sambil melangkah maju, kini ia berdiri dihadapan Ella.


"Kau seorang direktur, aku yakin kau tidak bodoh. Masihkah kau bertanya apa maksudku, Ndra?" tanya Ella menyindir Andra.


"Aku benar-benar tidak mengerti, tolong, El, katakan apa maksudmu," kata Andra sambil berusaha memegang tangan Ella, namun Ella selalu menepisnya.


"Kau tahu, kenapa dulu aku selalu menutup hati untuk semua laki-laki yang mendekatiku?" tanya Ella.


"Karena kau ingin fokus dengan sekolahmu,"" jawab Andra.


"Kau benar, tapi aku juga punya alasan lain. Aku selalu menutup hatiku karena sudah ada seseorang yang aku cintai," ucap Ella.


"Seseorang yang kau cintai?" kata Andra mengulang ucapan Ella.


"Iya, dan sekarang apakah kau masih ingin bertanya siapa orang itu. Apakah kau memang sebodoh itu, Andra?" kata Ella sambil menatap Andra.


"Mungkinkah orang itu...aku..." ucap Andra dengan gugup.


"Iya, orang itu adalah kamu. Sejak aku mengenal kamu di bangku SMP, aku sudah menyukai kamu, tapi kamu tidak pernah mengerti. Kau selalu asyik dengan duniamu sendiri, hingga kau tak pernah melihat aku yang selalu mengharapkan kamu," kata Ella.


"Ella, kau..." ucap Andra sambil mencoba menggenggam tangan Ella, namun Ella masih saja menepisnya.


"Setiap saat aku menahan sakit, karena melihatmu asyik dengan gadis lain. Dan puncaknya saat Suci datang mengaku hamil anak kamu, meski itu bukan anakmu, tapi aku tahu satu fakta, kau sering tidur dengan banyak gadis. Kau bisa bayangkan betapa kecewanya aku, Ndra. Tapi aku masih memaafkan kamu," kata Ella sambil melangkah sedikit menjauhi Andra.


Kini ia berdiri dan menyandarkan tubuhnya di pohon mangga.


"Meski kau sudah melukaiku, namun aku masih mencintaimu dan aku masih menunggu suatu saat kamu bisa membalas perasaanku. Tapi itu tidak berlangsung lama, Ndra, baru setahun aku tinggal di London, aku kembali menelan kekecewaan, saat tahu kau menjalin hubungan dengan Nadhira," sambung Ella sambil menatap Andra.


"Saat itulah aku mulai menyerah, aku tidak mau lagi berharap pada hal yang tidak pasti. Aku mulai menjauhi kamu, karena itulah satu-satunya cara agar aku bisa menghapus perasaanku untuk kamu. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka itu, Ndra, sampai akhirnya aku mengenal Kairi. Perlahan aku bisa melupakan kamu dan bisa membuka hati untuk Kairi," ucap Ella, karena Andra masih terdiam tanpa kata.


"Sekarang aku sudah bisa mencintai Kairi dan aku bahagia bersama dia. Lalu kau datang memaksakan perasaan, sampai mengatakan aku kejam. Kau benar-benar egois, Andra," kata Ella sambil menatap Andra dengan tajam.


"Maaf, saat itu aku tidak tahu, El. Tapi kenapa kamu tidak mengungkapkan perasaanmu padaku?" tanya Andra sambil menatap Ella.

__ADS_1


"Aku wanita, Ndra. Aku punya harga diri, tidak mungkin melakukan itu," jawab Ella.


"Tapi, El..." ucap Andra.


"Sudah kubilang 'kan, dari dulu sebenarnya kamu tidak pernah mengerti tentang aku. Kau tidak bisa memahami perasaanku, padahal Vino saja bisa paham, Ndra," kata Ella sambil tersenyum hambar.


"Vino..." ucap Andra.


"Iya, Vino bisa paham dengan perasaanku. Dia tahu kalau aku mencintai kamu. Padahal hubunganku dengan Vino, tidak sedekat hubunganku dengan kamu," kata Ella.


"Dari dulu Vino selalu mengingatkan tentang perasaanku dan Ella. Jadi sebenarnya dia sudah tahu, jika Ella memang mencintaiku, bodoh sekali aku tidak bisa menyadari semua ini," batin Andra dalam hatinya.


"Maafkan aku, Ella, saat itu aku benar-benar tidak tahu. Tolong beri aku satu kesempatan lagi, aku tidak akan mengecewakan kamu," ucap Andra sambil mendekati Ella.


"Tidak, Ndra, aku tidak bisa. Kau datang sudah sangat terlambat, perasaanku untuk kamu sekarang sudah tidak ada. Sekarang yang aku cintai hanyalah Kairi, hanya Kairi," ucap Ella dengan tegas.


"Tapi, El, aku mencintai kamu, aku berjanji akan membahagiakan kamu," kata Andra.


"Aku sudah bahagia bersama Kairi, tolong jangan memaksaku, Ndra. Tolong cintai Nadhira dan bahagiakan dia. Dulu kau sudah berjanji padaku tidak akan menyakiti dia," ucap Ella.


"Tapi sekarang berbeda, El. Sekarang yang kucintai adalah kamu, aku sakit melihat kamu bersama dengan Kairi. Tolong hargai perasaan aku," kata Andra memohon kepada Ella.


"Aku tidak bisa, Ndra. Aku sudah punya Kairi, aku tidak ingin menyakiti dia, karena aku sangat mencintai dia," ucap Ella.


"Tapi, El..." kata Andra.


"Kau masih ingat dengan janji kamu. Dulu kau berjanji akan menuruti satu permintaanku, dan sekarang aku menagihnya, Ndra," ucap Ella serius.


"Kau ingin meminta apa?" tanya Andra dengan harap-harap cemas. Sepertinya permintaan Ella bukanlah sesuatu yang baik.


"Tolong hapus semua perasaan kamu untukku dan jangan lagi mengusikku. Cintai Nadhira dan biarkan aku bahagia dengan Kairi," jawab Ella dengan cepat.


"Tapi aku tidak bisa, El," ucap Andra.


"Kau sudah berjanji, Ndra, kau harus menepatinya," kata Ella.


"Tidak bisakah kau mempertimbangkan aku, El, tidak adakah sisa perasaanmu untukku?" tanya Andra.


"Tidak, Andra. Kau masih ingat 'kan, apa yang kukatakan padamu kala itu. Waktu tidak akan pernah kembali saat ia sudah berlalu pergi. Dan waktu yang aku maksud adalah diriku. Saat aku sudah memutuskan untuk pergi, aku sudah menghapus semua perasaanku untuk kamu, dan aku sudah melupakan semua tentang kamu," jawab Ella.


"Kau bohong, El, pasti kau masih punya sedikit perasaan untukku. Buktinya kau masih menyimpan barang dariku!" teriak Andra. Emosinya kembali tersulut, karena Ella masih bersikeras menolaknya.


"Tidak ada, Ndra, aku sudah tidak menyimpan apapun darimu," jawab Ella.


"Bohong, kau masih menyimpan kalung dariku, El, kau masih memakainya!" teriak Andra.


"Kau salah paham, Ndra, kalung dari kamu sudah kuberikan pada orang lain. Yang aku pakai sekarang adalah kalung dari Kairi," ucap Ella yang sontak saja membuat Andra tersentak kaget.


"Kau pasti membohongiku, El," kata Andra dengan pelan.


"Aku serius, Ndra," jawab Ella.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa hebatnya dia dibandingkan dengan aku? Aku juga bisa seperti dia, andai saja kamu memberikan kesempatan untukku!" teriak Andra sambil menatap Ella dengan tajam.


"Cukup, Andra!!" bentak Ella sambil kembali menampar Andra.


"Ella, kau..." ucap Andra.


"Seburuk apapun dia di mata kamu, tapi dia tidak pernah menyakiti aku. Dia selalu menghargaiku, dan selalu mencintaiku. Aku tahu kamu sakit hati dengan jawabanku, tapi itu semua tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan dulu. Aku sakit hati karena kamu selama tujuh tahun, Ndra, sedangkan kamu, baru semalam saja kau sudah marah-marah seperti ini. Kau laki-laki pengecut, Andra, pergi kamu dari sini!" teriak Ella sambil mendorong tubuh Andra.


"Ella...aku..."


"Pergi! Sebelum aku kembali menampar kamu, cepatlah pergi dari hadapanku!" bentak Ella sambil melotot tajam.


"Tampar saja jika itu bisa membuatmu lega," jawab Andra.


"Pergi sekarang, atau aku akan membencimu selama-lamanya!" bentak Ella.


"Kau tidak jadi menampar?" kata Andra.


"Pergi, Andra!" teriak Ella.


"Tidak!" jawab Andra.


"Baiklah, tak apa jika kau tak mau pergi, biar aku saja yang pergi," kata Ella sambil melangkah menuju rumahnya.


Ia tak peduli dengan Andra yang terus memanggil namanya.


Biarkan saja Andra tetap berdiri di sana, dan tidak mau pulang. Jika memang betah, lakukan saja. Ella sudah cukup kesal dengan sikap Andra yang menurutnya sangat egois.


Andra memandang kepergian Ella dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Kenapa hubungan kita berakhir seperti ini, Ella?" gumam Andra dengan pelan.


Bersambung


__ADS_2