
"Dia hanya tertidur, jangan khawatir" ucap Cindy dan Albian mengangguk lega.
Cindy datang ketika Rena tak sadarkan diri. Albian mengira Rena pingsan, kenyataannya dia tertidur akibat pengaruh obat tidur yang Rena minum sebelum Albian datang.
Rena kini sudah di baringkan di ranjang di kamarnya. Cindy duduk di tepi ranjang, sedangkan Albian berdiri di sisi ranjang dengan tatapan yang tak beralih dari Rena.
"Kak Rena sering mengkonsumsi obat tidur setelah kecelakaan 7 tahun lalu" ujar Cindy menjelaskan.
"Kecelakaan?" Tanya Albian meminta penjelasan lebih.
"Iya kecelakaan dengan pacarnya" ucap Cindy menatap Albian.
"Bagaimana dengan pacarnya?"
"Ga ada yang tau saat ini dia dimana. Tapi kakak yakin dia masih hidup. Keluarganya begitu menutupi semuanya" ucap Cindy yang kini ikut beralih menatap Rena.
"Apakah karena dia sudah beristri jadi menutupi semuanya demi nama baik?" Tanya Albian.
"Darimana kamu mengetahui itu?" Cindy cukup terkejut Albian mengetahui itu. Pasalnya dia sangat tahu bagaimana Rena menutupi ini semua.
Albian menghembuskan nafas beratnya lalu mengalihkan pandangannya kembali dimana Rena berbaring di ranjang.
"Sebelum tertidur, dia mengatakannya. Entah dia sadar atau tidak. Tatapannya tampak kosong saat mengatakan itu"
"Sebenarnya apa yang membuat kakak kembali terpuruk?" Gumam Cindy…
"Siang tadi ada seorang pria datang. Setelah pria itu pergi, Rena terlihat berbeda" ucap Albian.
Cindy menoleh menatap Albian.
"Pria?" Tanya Cindy
Albian hanya mengangguk.
Tiba-tiba ponsel Cindy berdering.
"Halo mah"
"Sudah dimana nak?" Tanya Ratna.
"Masih di kampus mah. Udah mau pulang kok" jawab
__ADS_1
"Yasudah mama tunggu ya. Hati-hati di jalan ya sayang"
"Ya mah siap" sahut Cindy terkekeh kemudian menaruh ponselnya di tas kembali setelah panggilan Ratna berakhir.
"Kak, aku harus pulang. Aku ga bilang mama mau kesini. Kalau mama tau keadaan kak Rena bisa repot urusannya" ucap Cindy
Albian hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku titip kak Rena ya. Ingat jangan macam-macam" ucap Cindy sambil menunjuk ke wajah Albian.
"Iya-iya siap" jawab menunduk sambil terkekeh.
Setelah Cindy pulang, Albian duduk di sofa tepat disebrang ranjang Rena. Pandangan tak beralih dari Rena.
Rena tampak gelisah dalam tidurnya. Bulir-bulir keringat
Albian menghampiri Rena dan mengusap keningnya. Tiba-tiba Rena menggenggam tangan Albian dan kembali tertidur.
Cukup lama posisi Albian yang terus memandang sendu Rena. Tangannya dibiarkan terus digenggam Rena. Hingga akhirnya Albian ikut terlelap.
….
Lalu Rena beranjak dari ranjangnya keluar kamar. Rena mendapati Albian sedang memasak di dapurnya.
Albian yang menyadari Rena pun menoleh dan tersenyum.
"Ternyata sudah bangun?" Tanya Albian.
Rena hanya mengangguk.
"Mandilah, setelah kamu mandi sarapannya selesai aku masak" ucap Albian.
Rena masih tetap tak bersuara hanya mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Setelah sampai kamar mandi, Rena mencium aroma bunga yang menenangkan. Air dalam bathup pun sudah terisi.
Rena tersenyum "Apa dia yang telah menyiapkan semua ini?"tanyanya dalam hati.
Rena benar-benar menikmati mandi air hangat dan aroma terapi yang menenangkn. Hampir satu jam lamanya dia mandi.
Setelah mandi dan berpakaian Rena kembali ke dapur. Dan benar saja sarapan sudah tersaji di meja makan.
__ADS_1
Albian tersenyum melihat Rena dan mengajaknya untuk sarapan.
"Ayo kita sarapan" ucap Albian yang sudah menarik kursi untuk di duduki Rena.
"Terima kasih" sahut Rena lirih, setelah mendudukkan dirinya di kursi.
Albian dan Rena duduk berhadapan. Tak ada obrolan sepanjang mereka sarapan. Albian sesekali menatap Rena yang terus menunduk.
Seusai meraka sarapan Albian membereskan piring bekas mereka makan.
"Biar aku saja" ucap Rena.
"Kamu duduk aja, biar aku yang selesaikan" Albian kekeh ingin membersihkan piringnya.
Rena kembali duduk dan terus memandangi punggung Albian yang sedang mencuci piring.
"Kenapa kamu ga bertanya?" Tanya Rena.
Albian menghentikan mencuci piringnya. Dia berbalik badan dan menatap Rena.
"Bukan aku ga ingin bertanya, aku hanya ingin kamu mengatakannya dengan keinginan kamu sendiri. Karena aku tahu itu pasti sulit."
Mendengarkan kata-kata Albian Rena kembali meneteskan air matanya. Albian pun menghampiri Rena dan memeluknya.
Rena menangis didalam pelukan Albian. Dia benar-benar meluapkan semuanya lewat tangisannya.
Albian terus memeluknya tanpa mengatakan apapun hingga Rena kembali tenang dan melepaskan pelukan Albian.
"Maaf, sudah buat baju kamu basah"
"Aku rela kok basah kuyup demi kamu" ucap Albian.
Rena tertawa ringan mendengar ucapan Albian.
"Terima kasih ya"
"Untuk apa?" Tanya Albian.
"Untuk semalam dan pagi ini"
Albian tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1