Tentang Rasa

Tentang Rasa
Eva Melahirkan


__ADS_3

Enam Bulan Kemudian...


Di kamar kost yang tidak begitu besar itu, Kiran meringkuk sendiri. Memeluk bantal guling sembari menutup matanya yang sama sekali tidak bisa tidur. Ia hanya mencoba untuk tertidur, namun tak bisa.


Di pikirannya kini sedang bermukim seseorang, seseorang yang selama kurang lebih dua tahun itu bagitu dirindukannya.


Ia tak ingin beranjak dari tempatnya sekarang, ia memilih berbaring seperti itu sembari mengikuti alur pikirannya yang sama sekali tak lepas dari bayangan masa lalunya bersama Rizal.


Lagi dan lagi, Rizal lah yang mampu membuatnya seperti itu. Rizal lah yang mampu menghentikan seluruh kemampuannya untuk beraktivitas di malam hari. Di luar sana sedang riuh, di sini ia malah asyik dengan memoar masa lalunya.


Diraihnya sebuah pulpen dan buku diary diatas meja dekat tempat tidurnya lalu menuliskan segala perasaannya di atas kertas halaman buku yang masih kosong itu.


Mungkin saja kamu ingat!


Sudah kulewatkan banyak waktu.


Menghabiskan siang malam,


Menghitung Tanya. Lalu sunyi.


Doa-doa menghambur dari bibir ini


Terucap satu kalimat khusus untukmu : Tuhan, jaga dia untukku!


Betapa harapku masih segar

__ADS_1


Seperti wangi tanah kebasahan,


sehabis hujan, Merenda Rindu.


Walau makian sepi kian beradu


Nyanyi rindu membiru


Berdenting di ujung waktu


Dan pecahlah segala angkuh


Sekeping kenangan ini,


Dan kukantongi pulang, mungkin saja kamu ingat!


"Yah mungkin saja kamu ingat..." ucapnya lirih dan menutup lembaran halaman buku yang sudah ditulisnya itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun matanya masih engga untuk terlelap. Ia terbaring terlentang menghadap ke langit-langit kamarnya. Entah apa yang tengah dipikirkannya saat ini. Entah masih dengan Rizal atau hal lain, entahlah...


Namun, tiba-tiba saja ingatannya tertumbuk pada Eva, bagaimana kabar Eva sekarang yah? Terakhir ia menengok Eva perutnya sudah sangat buncit dan bahkan diprediksi akan segera melahirkan.


"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa denganmu Va..." desahnya dalam hati.


Perasaannya begitu gelisah ketika ia tiba-tiba saja teringat pada sahabatnya yang satu itu. Semoga saja tidak terjadi sesuatu.

__ADS_1


Keesokan harinya ia terbangun karena suara gaduh dari arah pintu kamarnya. Ia heran kenapa sepagi ini sudah ada yang membuat keributan di depan kamarnya.


Dengan perasaan enggan ia beranjak dari tempat tidurnya lalu perlahan membuka pintu tersebut.


"Kiran, gawat...!" ucap ibu kostnya.


"Ibu, gawat kenapa Bu? Kanapa tiba-tiba panik seperti ini?"


"Barusan ada telepon buat kamu, katanya itu suruhan nenek kamu di kampung."


Mendengat ibu kostnya menyebut nenek di kampung, perasaannya mulai tidak enak dan secepat itu ia ingin memastikan apa sebenarnya yang terjadi.


"Iya Bu, ada apa dengan nenek saya di kampung?"


"Orang itu telepon dan mencarimu katanya kamu di suruh pulang ke kampung nenek kamu karena sesuatu telah terjadi, orang itu kurang jelas menyebutkan tapi aku mendengar ada yang melahirkan dan setelah itu ibu tidak jelas lagi apa maksudnya. Namun dari nada bicara orang itu, nampaknya ia sangat panik dan ketakutan. Sepertinya kamu harus segera ke sana."


Kiran langsung teringat pada Eva, apa mungkin Eva telah melahirkan? Alhamdulillah jika demikian, mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu lebih dari itu.


"Iya Bu, terima kasih atas informasinya."


Tanpa pikir panjang lagi, seusai mandi ia pun bergegas untuk berangkat. Sopir yang biasa ia panggil kebetulan ada halangan, akhirnya ia pun harus rela untuk merogoh kocek yang banyak demi bisa cepat sampai sana.


Mengendarai mobil Panther yang melaju sangat cepat, ia yakin ia akan lebih cepat dari perjalanannya yang sebelum-sebelumnya.


Di tengah perjalanan ia tak habis-habisnya melantunkan doa untuk Eva dan kelahiran bayinya. Semoga tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2