
"Apa maksud kamu Suci?" tanya Andra dengan cepat, sambil menatap Suci dengan tajam. Jantung Andra berdetak dengan cepat, kenyataan bahwa Suci hamil anaknya, itu sudah cukup mengguncang jiwanya. Dan sekarang, Suci bilang anaknya sudah damai dalam tidurnya. Semoga saja semua ini tidak seperti yang Andra bayangkan.
"Dia lahir prematur Ndra. Kondisinya sangat lemah, dan dia sering sakit. Dia menghembuskan nafas terakhirnya empat tahun yang lalu, disaat usianya baru sebelas bulan." jawab Suci sambil menunduk.
"Apa!" kata Andra sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa selalu saja ada kenyataan pahit, yang terlambat ia ketahui. Pertama perasaan Ella, kedua tentang Ayah kandungnya, dan sekarang tentang anak kandungnya. Kenapa takdir begitu suka memainkan perasaannya. Apakah kira-kira masih ada lagi, kenyataan pahit lainnya, yang belum ia ketahui.
"Maaf aku tidak bisa mempertahankan dia." ucap Suci dengan sangat pelan.
"Saat itu hidupku benar-benar sulit, dan aku tidak punya cara lagi untuk menjelaskan semuanya padamu. Kau sudah memilih pergi Ndra, aku tak bisa lagi menahanmu." batin Suci dalam hatinya.
"Ini bukan salahmu, aku yang salah. Aku bahkan tidak percaya, bahwa kau benar-benar mengandung anankku." kata Andra sambil menggenggam tangan Suci dengan erat.
"Bisakah kau mengantarkan aku ke pemakamannya Suci?" ucap Andra sambil menatap Suci.
"Ayo!" ajak Suci sambil mengangguk.
Lalu ia kembali melangkah menuju pemakaman anaknya, dan Andra, ia mengikutinya dari belakang.
Tak lama kemudian, mereka berhenti didekat batu nisan yang bertuliskan Bintang A.H.
Andra duduk berjongkok sambil mencengkeram batu nisan itu dengan erat. Dadanya terasa sangat sesak, seakan tak ada lagi ruang untuk bernafas.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini. Ayahku meninggal sebelum aku sempat meminta maaf padanya, dan belum sempat aku memperlakukannya dengan baik. Lalu sekarang, anakku sudah meninggal, sebelum aku sempat melihat seperti apa wajahnya." batin Andra sambil menunduk.
Andra mencengkeram batu nisan itu semakin erat. Lelaki macam apa dia, dia sudah menghancurkan hidup Suci. Dia adalah lelaki yang merenggut kesuciannya, dia yang menghamilinya, dan dia tidak bertanggungjawab atas perbuatannya. Masihkah Suci bisa memaafkan dirinya? Masihkah anaknya bisa memaafkan dirinya?
"Maafkan Ayah nak, Ayah tidak pernah tahu seperti apa wajahmu. Ayah tidak pernah hadir dalam hidupmu, kau hanya hidup bersama Ibumu. Aku tidak tahu sesulit apa Ibumu melewati semua ini sendirian. Aku benar-benar lelaki berengsek." ucap Andra dalam hatinya.
"Dia sudah tenang di sana Ndra." ucap Suci sambil memegang bahu Andra.
Andra menoleh, menatap Suci yang sedang tersenyum padanya.
"Maafkan aku Suci, aku sudah menghancurkan hidup kamu, aku sudah merampas masa depan kamu. Tampar aku, pukul aku, aku tidak akan marah, aku pantas mendapatkannya." kata Andra sambil menatap Suci yang duduk dihadapannya.
"Aku tidak akan melakukan itu Ndra. Dulu kita melakukannya suka sama suka, kau tidak pernah memaksaku, jadi aku juga bersalah dalam hal ini." jawab Suci sambil tersenyum.
"Kau mau memaafkan aku?" tanya Andra.
"Tentu saja." jawab Suci sambil menatap Andra.
"Sebenarnya aku sangat marah, dan sangat enggan untuk memaafkan kamu. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya, hatiku selalu saja luluh padamu. Mungkin aku memang bodoh, sangat mencintai lelaki seperti kamu." batin Suci dalam hatinya.
"Suci!" panggil Andra.
"Hmmm." gumam Suci.
"Apakah kita...kita masih bisa berteman?" tanya Andra dengan gugup.
Suci memegang bahu Andra sambil tertawa renyah.
"Itu hanya masa lalu Ndra, kenapa kamu jadi segugup ini. Tentu saja bisa, kita akan tetap berteman. Aku memang sedih saat kehilangan Bintang, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah takdir. Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan jalan yang terbaik untukku." ucap Suci sambil tersenyum.
"Aku benar-benar tidak bisa menolakmu Ndra, perasaanku masih tetap seperti dulu, masih sangat mencintai kamu. Tapi kau benar, kita hanya berteman, aku sudah tidak berani mengharapkan kamu sebagai kekasihku. Dengan keadaanku sekarang, bisa dekat denganmu saja aku sudah bahagia Ndra. Kamu satu-satunya lelaki yang selalu ada dalam hatiku." batin Suci dalam hatinya.
"Dia masih bisa tersenyum padaku, setelah apa yang aku lakukan padanya. Kenapa banyak sekali wanita baik disekitarku, dan bodohnya aku, wanita wanita itu selalu saja aku sakiti." ucap Andra dalam hatinya.
Andra kembali menatap batu nisan yang ada dihadapannya. Ada seikat bunga lili putih yang diletakkan di sana, mungkin Suci yang melakukannya. Andra memejamkan matanya, mencoba menahan buliran bening, agar tak menetes membasahi pipinya.
"Ndra, dimana Ayahmu?" tanya Suci.
__ADS_1
"Tidak jauh dari sini." jawab Andra dengan pelan.
"Maafkan Ayah nak, semoga kamu bisa memaafkan Ayah." batin Andra sambil tetap menatap batu nisan itu.
"Aku ikut jika kau kesana." ucap Suci.
"Iya, ayo!" jawab Andra sambil beranjak dari duduknya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju pemakaman Ayahnya, dan Suci mengikutinya dibelakang.
Andra menghentikan langkahnya setelah sampai didekat batu nisan yang bertuliskan Aditya Ramlan.
Andra duduk berjongkok, dan Suci juga ikut duduk disebelahnya.
"Ayah meninggal satu bulan yang lalu." ucap Andra sambil menatap Suci.
"Aku turut berduka Ndra. Maaf aku tidak hadir saat itu, aku tidak tahu jika Ayahmu tiada." kata Suci.
"Tidak apa-apa." jawab Andra.
"Jangankan kamu Ci, aku saja juga tidak tahu kalau yang meninggal itu Ayahku." batin Andra sambil tersenyum getir.
"Kau terlihat sangat sedih Ndra. Andai saja suatu saat nanti, aku yang terbaring dibawah batu nisan, apa kau juga akan sesedih itu. Aku tidak tahu, sampai kapan Tuhan akan mengizinkan aku untuk menatapmu, tapi kurasa itu tidaklah lama Ndra. Bukannya aku pesimis, tapi memang seperti itulah kenyataannya." batin Suci sambil menatap Andra yang sedang menunduk.
"Suci!" panggil Andra sambil menoleh menatap Suci.
"Hmmm."
"Kenapa kamu tidak marah, kenapa kamu masih mau berteman denganku? Aku sudah sangat kejam padamu Ci. Sudah terlambatkah jika aku ingin menebus kesalahanku sekarang. Maukah kamu jika aku ingin menikahimu sekarang?" tanya Andra sambil menggenggam tangan Suci.
"Meskipun aku tidak mencintainya, tapi aku sudah sangat bersalah padanya. Lagipula aku sudah tidak punya harapan untuk bersama dengan Ella." batin Andra dalam hatinya.
Jantung Suci mulai berdetak dengan cepat, genggaman tangan Andra terasa menghangat di tangannya. Dan rasa hangat itu mulai menjalar, menyeruak ke dalam hatinya. Andai saja dari dulu Andra bisa menggenggamnya sehangat ini, setulus ini. Pasti dia akan menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi sekarang, semuanya sudah berubah. Banyak hal yang terjadi padanya, yang tak Andra ketahui. Dan lagi Andra ingin menikahinya hanya karena merasa bersalah, bukan karena perasaan cinta tulus seperti yang ia harapkan. Hal itu membuat hati Suci sedikit teriris sakit.
"Kau tidak perlu memaksakan perasaanmu hanya karena merasa kasihan padaku. Kau berhak bahagia bersama orang yang kau cintai, dan aku, aku juga berhak bahagia bersama orang yang mencintaiku." sambung Suci sambil tersenyum.
"Kali ini bukan lagi pernikahan yang aku inginkan, melainkan cukup perasaan saja. Akan aku biarkan semuanya berjalan, dan mengalir seperti air. Aku akan menunggu perasaan itu tumbuh dengan tulus dari hati kamu. Aku berharap cinta itu ada, sebelum aku menutup mata Ndra." batin Suci dalam hatinya.
"Maafkan aku Suci! Maafkan aku!" kata sambil memeluk Suci dengan erat.
"Aku sudah memaafkan kamu Ndra." jawab Suci sambil mengusap punggung Andra.
***
Sang senja sudah mulai menyapa. Memperlihatkan sinar jingganya yang teramat elok, dan mempesona. Namun seindah apapun senja, Andra tak berniat menatapnya. Hatinya kacau, dan hancur. Semua kenyataan dalam hidupnya, memaksa dirinya untuk tenggelam dalam rasa penyesalan yang tiada dasarnya. Andra berjalan gontai saat memasuki pintu rumahnya. Kepalanya tetap menunduk, menatap ujung sepatunya yang sedikit berlumpur.
Samar-samar telinganya mendengar suara berisik dari ruang tengah, mungkin keluarganya sedang berkumpul di sana. Perlahan Andra berjalan menuju ruang tengah. Ia mengangkat wajahnya, dan matanya menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa. Tak hanya orang tuanya, Ella dan Kairi juga ada di sana. Mereka sedang melihat sebuah bingkai foto yang sangat besar. Foto Ella dan Kairi saat mereka berada di Paris. Mereka menggunakan foto itu sebagai foto prewed.
Andra berjalan mendekati Ibunya, dan kemudian ia memeluk Ibunya dengan sangat erat. Ia sudah tak mampu memendam luka itu sendirian, ia butuh seseorang untuk dijadikan tempat bersandar.
"Andra kamu kenapa?" teriak Bu Mirna dengan kaget. Anaknya tiba-tiba datang, tanpa permisi langsung memeluknya dengan sangat erat. Apa yang terjadi padanya?
"Andra! Jawab Mama kamu kenapa?" tanya Bu Mirna sambil mengguncang tubuh Andra yang masih berada dalam pelukannya.
Pak Louis, Ella, dan Kairi, mereka menatap Andra dengan heran. Mereka saling berpandangan, dan bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang terjadi?
"Maafkan Andra Ma." ucap Andra dengan pelan. Bu Mirna mulai merasakan ada tetesan air yang jatuh dibahunya. Bu Mirna semakin kebingungan, kenapa Andra sampai menangis? Apa yang terjadi padanya?
"Kamu ini kenapa Ndra? Jawab Mama, jangan membuat Mama kebingungan!" teriak Bu Mirna. Beliau sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari Andra.
Pak Louis beranjak dari duduknya, beliau memegang bahu Andra, dan mengusapnya dengan pelan.
__ADS_1
"Andra kau adalah lelaki nak, jangan mudah meneteskan air mata. Katakan dan jelaskan apa yang terjadi padamu. Kita di sini selalu ada untuk kamu, kita akan selalu mendukungmu." kata Pak Louis dengan tegas.
Dan tak lama kemudian, Andra melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya sambil duduk di sofa. Andra mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah kertas yang dilipat kecil. Andra menyodorkan kertas itu pada Ibunya.
"Ini apa Ndra?" tanya Bu Mirna sambil meraih kertas itu. Bu Mirna membuka lipatan itu dengan jantung yang berdetak cepat, melihat sikap Andra, sepertinya ini bukanlah hal baik.
"Apa!" teriak Bu Mirna saat beliau sudah selesai membaca tulisan dalam lembaran itu. Bu Mirna menatap Andra dengan sangat tajam. Bibirnya tampak bergerak-gerak, seakan ada banyak kata yang hanya tercekat dalam tenggorokan, dan tak mampu untuk diungkapkan.
"Pukul aku Ma, tampar aku, marahi aku. Aku pantas mendapatkan semua itu." ucap Andra dengan pelan.
Ella dan Kairi saling berpandangan, mereka mengernyitkan keningnya, benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi. Sebuah lembaran kertas, apakah itu tagihan hutang dengan jumlah yang cukup besar?
"Ada apa Ma?" tanya Pak Louis sambil meraih kertas yang digenggam Bu Mirna. Beliau membacanya, dan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ini benar Andra?" tanya Pak Louis.
"Benar Pa." jawab Andra sambil mengangguk.
"Dulu kamu bilang itu bukan anak kamu, tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini Ndra! Apa yang sebenarnya terjadi, katakan pada Mama Andra!" teriak Bu Mirna sambil berdiri. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi.
"Ma, tenanglah Ma." ucap Ella sambil mendekati Bu Mirna, dan mengajaknya duduk kembali.
"Aku lupa jika aku pernah melakukannya saat mabuk. Dulu dia pernah dekat dengan pengusaha kaya, kufikir mereka ada hubungan, dan itu anaknya dia, tapi ternyata aku salah." kata Andra sambil menunduk.
"Apakah ini tentang Suci, apakah sebenarnya dia benar-benar hamil anaknya Andra? Jika memang iya, kau benar-benar keterlaluan Ndra." batin Ella dalam hatinya.
"Dulu kamu bilang dia gadis nakal, kau yakin itu bukan anakmu, dan kau hanya dijebak. Kenapa sekarang menjadi seperti ini. Apa ini rekayasa dia, atau kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama?" teriak Bu Mirna sambil menatap Andra dengan tajam.
Andra semakin menunduk, ia tidak berani mengangkat wajahnya, atau menatap Ibunya.
"Jawab Andra!" bentak Bu Mirna.
"Maaf Ma, waktu itu aku berbohong." jawab Andra dengan sangat pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Bu Mirna.
"Sekarang katakan dengan jujur!" kata Bu Mirna. Matanya mulai berkaca-kaca, menghadapi sikap anaknya yang sangat parah, membuat emosi Bu Mirna terasa menyulut sampai ke ubun-ubun.
"Suci sebenarnya bukan gadis yang nakal Ma. Aku yang sudah merusaknya, aku yang sudah merampas kesuciannya. Waktu itu aku berbohong pada Mama, agar Mama percaya kalau itu bukan anakku. Aku tidak siap menikahinya, aku tidak mencintainya Ma, dan aku tidak pernah ceroboh saat melakukannya. Lalu aku melihat dia bersama lelaki lain, kufikir mereka memang punya hubungan, karena waktu itu hubunganku dengan Suci sudah merenggang." ucap Andra dengan tetap menunduk.
"Sekarang dimana wanita itu, dan dimana anak kamu?" tanya Bu Mirna sambil sambil memegangi kepalanya. Rasanya otaknya nyaris meledak memikirkan kelakuan Andra yang buruknya sudah melewati batas maksimal.
"Suci ada Ma, tapi anakku sudah tiada. Dia meninggal sudah empat tahun yang lalu." jawab Andra dengan sangat pelan.
"Pergi, pergi dari hadapan Mama!" teriak Bu Mirna sambil memegangi dadanya. Rasanya dadanya sangat sesak setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Andra.
"Maafkan aku Ma." ucap Andra sambil menatap Ibunya.
"Pergi!" teriak Bu Mirna sambil beranjak dari duduknya. Beliau melangkah menuju ke kamarnya, dengan air mata yang berderai membasahi pipinya. Pak Louis mengejar istrinya, beliau tahu jika istrinya sedang kacau menghadapi kenyataan ini.
Sementara itu di ruang tengah hanya tersisa Andra, Ella dan Kairi. Andra masih tetap menunduk, wajar jika Ibunya marah, kelakuannya kali sudah melewati batas. Jangankan Ibunya, dirinya saja seakan tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Kairi meraih kertas putih yang menggeletak di sofa, ia membacanya, dan kemudian menghela nafas panjang.
"Andra, bagaimana nasib wanita ini sekarang?" tanya Kairi sambil menatap adiknya.
"Dia baik-baik saja Kai, tadi dia masih tersenyum padaku. Tadi aku juga berniat menikahinya, tapi dia tidak mau. Aku benar-benar merasa bersalah padanya, tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya menebus kesalahanku padanya." jawab Andra.
"Aku tidak tahu lagi harus berkata apa Ndra. Dimana hati, dan otak kamu, kenapa hanya emosi dan nafsu yang ada dalam diri kamu. Karena dia tersenyum, kau fikir dia baik-baik saja. Dia hamil diluar nikah, melahirkan sendirian, lalu kehilangan anaknya juga masih sendirian. Bayangkan Ndra, itu menyakitkan. Tapi kau bilang dia baik-baik saja, apa kau fikir semua itu hanya lelucon, seperti drama begitu!" sahut Ella dengan nada yang tinggi.
"Semua wanita punya harga diri Ndra. Wajar dia tidak mau kau nikahi, karena kau menikahinya atas dasar kasihan, dan perasaan bersalah, bukan atas dasar cinta. Semua wanita ingin dicintai Ndra, bukan hanya ditiduri. Kau tahu betapa berharganya kehormatan bagi setiap wanita. Jika kau ingin menebus kesalahan kamu, belajarlah untuk mencintai dia.Aku tidak menyangka, selama ini nasihatku hanya kau anggap angin lalu. Seharusnya dari dulu kita memang tidak pernah bersahabat Andra!" sambung Ella dengan nada yang semakin tinggi.
__ADS_1
Bersambung......