Tentang Rasa

Tentang Rasa
Akhir Yang Bahagia (Happy Ending)


__ADS_3

Andra mondar-mandir di depan ICU, keringat dinginnya bercucuran, dan jantungnya berdetak cepat. Sudah satu jam Suci dirawat di dalam, namun belum ada tanda-tanda Dokter Lee keluar, dan menemuinya.


Andra mengacak rambutnya dengan kasar, baru saja ia merengguk manisnya kehidupan. Akankah takdir kembali mempermainkannya, akankah kebahagiaan itu kembali pergi dari sisinya.


"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Suci. Sembuhkanlah dia Ya Allah." ucap Andra disela-sela kepanikannya.


Tak lama kemudian, seorang lelaki muda, dan tegap berlari mendekatinya. Dia adalah Anston, dokter yang selama ini menangani penyakitnya Suci. Kebetulan saat ini dia sedang bertugas di London, jadi ia bisa segera datang saat Andra menghubunginya.


"Pak Anston, Suci sudah satu jam lebih lima menit berada di dalam. Tapi dokternya sama sekali belum keluar." kata Andra dengan cepat.


"Tolong tenang ya, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Suci. Tadi saya sudah bicara dengan Dokter Lee via telfon. Dan sekarang saya akan masuk melihat kondisinya." jawab Anston.


"Iya, silakan! Tolong selamatkan dia." kata Andra.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin." jawab Anston sambil tersenyum. Lalu ia membuka pintu ruangan, dan melangkah masuk ke dalam.


Andra kembali dalam kesendirian, ia terduduk lesu di kursi tunggu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Perasaan sedih, dan sesak kembali menyeruak dalam relung hatinya. Andai saja waktu bisa diputar ke masa lalu, ia tak akan pernah mengambil jalan salah, meski jalan hidupnya terlampau berat. Ia tidak ingin tenggelam dalam penyesalan, dan perasaan bersalah seumur hidupnya. Ia tidak ingin terkubur dalam kubangan luka, yang entah dimana dasarnya.


Andra mulai menitikkan air mata, ia tidak peduli dengan pandangan orang yang akan menganggapnya lemah, atau manja. Semua ini memang terasa sangat berat baginya.


Andra kembali melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Dua jam sudah berlalu, namun Dokter Lee ataupun Anston, belum ada yang keluar dari dalam ruangan. Separah itukah keadaan Suci? Akankah ia kembali koma seperti waktu itu?


"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Suci harus sembuh, dia tidak boleh sakit lagi!" kata Andra sambil memegangi kepalanya. Hati, dan fikirannya sangat kacau, ia benar-benar takut jika maut akan memisahkan dirinya dengan Suci.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Anston tampak berdiri di ambang pintu, bintik-bintik keringat terlihat membasahi keningnya. Dengan cepat Andra beranjak dari duduknya, ia mendekati Anston dengan jantung yang berdetak tak beraturan.


"Bagaimana keadaan Suci?" tanya Andra dengan nafas yang terengah-engah, sangat takut jika jawaban Anston tidak sesuai dengan harapannya.


"Keadaan Suci sangat baik, dia lemah, dan sampai pingsan karena..." jawab Anston.


"Karena apa Pak Anston? Bukan hal buruk kan?" tanya Andra dengan cepat.


"Bukan." jawab Anston sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Rencana Tuhan memang selalu indah. Rejeki yang ditakarkan untuk kita, terkadang datang dari sisi yang tidak pernah kita duga. Sungguh sebuah anugerah yang sangat besar Andra, saat ini Suci sedang hamil." ucap Anston sambil tersenyum.


"Ha...hamil." kata Andra dengan ragu. Ia sungguh tidak percaya dengan kabar yang ia dengar. Saat itu Anston mengatakan kalau Suci akan sulit untuk memiliki anak, tapi sekarang dia hamil disaat pernikahan mereka baru berjalan selama satu bulan.


"Anda tidak bercanda kan Pak?" tanya Andra sambil memegang lengan Pak Anston.


"Tentu saja tidak. Itulah yang saya sebut, rencana Tuhan itu indah. Menurut prediksi saya Suci memang bisa hamil, tapi sulit dan membutuhkan waktu yang lama, sekitar satu atau dua tahun. Tapi ternyata hanya butuh waktu satu bulan, ini jauh lebih baik dari yang saya bayangkan. Saat ini kandungannya masih berusia tiga minggu. Meskipun Suci terlihat lemah, tapi janin dalam kandungannya sangat sehat, dan normal. Luar biasa." kata Anston dengan panjang lebar.


"Terima kasih Ya Allah." ucap Andra sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Boleh saya menemuinya sekarang Pak?" tanya Andra sambil tersenyum lebar.


"Silakan!" jawab Anston sambil mengangguk.


Lalu Andra melangkah masuk, ia mendekati Suci yang sedang berbaring di ranjang. Suci tampak tersenyum saat Andra menatapnya.


"Sayang kamu hamil." ucap Andra sambil mengusap kening Suci dengan lembut.


"Iya Ndra, rasanya aku masih tidak percaya. Ada anak kita di sini." jawab Suci sambil meraba perutnya yang masih rata. Air matanya mulai menetes, merasakan kebahagiaan yang sungguh tak terkira.


"Katakan apa saja yang kau inginkan, aku akan berusaha keras untuk memenuhinya. Kali ini aku akan menjagamu dengan sangat baik sayang." ucap Andra sambil menuduk, dan memeluk Suci dengan erat.

__ADS_1


"Selama ini kamu juga sudah menjagaku Ndra. Aku sangat bahagia bisa menjadi istri kamu." jawab Suci dengan pelan.


Lalu Andra melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Suci yang masih menetes. Kemudian ia mengusap perut Suci, dan menciumnya cukup lama.


"Tumbuhlah dengan sehat nak, Papa menunggumu di sini." ucap Andra sambil menatap perut Suci. Ada perasaan bahagia, dan haru yang bercampur didalam hatinya.


Suci tersenyum mendapat perlakuan yang begitu hangat dari Andra. Tidak seperti dahulu, ia ditolak, dan harus hamil sampai melahirkan sendirian. Mengingat tentang masa lalu, terkadang hatinya masih teriris sakit. Namun perasaan cintanya untuk Andra terlalu besar, hingga mengalahkan logikanya. Meskipun akalnya tahu, bahwa Andra adalah lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Namun hatinya selalu menyangkal kenyataan itu. Dan Suci, ia memilih untuk mengikuti kata hatinya. Ia menyandarkan hidupnya pada yang namanya cinta.


"Andra!" panggil Suci.


"Kenapa sayang? Kau menginginkan sesuatu, lapar, atau haus?" tanya Andra.


"Tidak." jawab Suci sambil menggeleng.


"Lalu?"


"Aku mengantuk, temani aku istirahat ya." ucap Suci.


"Iya, tidurlah!" kata Andra sambil menyelimuti tubuh Suci. Lalu ia duduk di sebelahnya, dan mengusap keninganya. Sedangkan tangan kanannya, digenggam erat oleh Suci.


Sekitar lima belas menit kemudian, Suci mulai memejamkan matanya. Genggaman tangannya juga mulai melemah, rupanya ia mulai terlelap dalam tidurnya.


"Tidurlah yang nyenyak sayang, kau dan bayi kita harus selalu baik-baik saja." ucap Andra sambil tersenyum.


Setelah cukup lama Suci terlelap, Andra beranjak dari duduknya. Ia keluar ruangan bermaksud mencari minuman untuk membasahi tenggorokannya. Namun sesampainya di ambang pintu, ia sedikit terkejut saat melihat Kairi, dan Ella sudah berada di sana. Mereka sedang berbincang dengan Anston.


"Ternyata kalian sudah sampai." ucap Andra sambil tersenyum.


"Iya, baru saja kita sampai." jawab Kairi.


"Aku senang mendengar Suci hamil." sahut Ella sambil memangku Billa yang sedang tertidur.


"Andra, saya akan pergi ke ruangannnya Dokter Lee. Jika butuh sesuatu, silakan panggil saya." kata Anston.


"Baik Pak." jawab Andra sambil mengangguk.


Lalu Anston melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Bagaimana keadaan Suci?" tanya Ella.


"Tubuhya sedikit lemah, tapi janinnya sangat sehat. Dia sedang beristirahat sekarang." jawab Andra sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu." sahut Kairi.


"Ndra, bisakah aku melihatnya?" tanya Ella.


"Tentu saja bisa, tapi bergantian ya." jawab Andra.


"Iya, Kai aku masuk dulu ya. Tolong kamu pangku Billa sebentar." kata Ella sambil meletakkan Billa di pangkuan Kairi. Namun bocah itu malah terjaga dari tidurnya, dan menangis. Lalu Kairi menggendongnya, dan mengajaknya berdiri.


"Kamu masuk saja, Billa biar bersamaku." ucap Kairi.


"Kamu mau kemana?" tanya Ella.


"Aku ajak ke depan, biar dia tidur lagi." jawab Kairi sambil melangkah pergi, membawa Billa yang masih menangis dalam gendongannya.


Kini tinggal Andra, dan Ella yang masih berdiri di depan ruang ICU. Ella mulai membuka pintunya, dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Dan Andra, ia menunggunya di kursi tunggu.

__ADS_1


Ella melangkahkan kakinya dengan pelan, takut mengganggu Suci yang sedang beristirahat. Ella tersenyum saat menatap wanita itu.


"Akhirnya, kamu mendapatkan kebahagiaanmu Ndra. Begitu banyak hal pahit yang telah kamu lalui, semoga ini menjadi awal yang indah untukmu." ucap Ella dengan pelan.


Setelah cukup lama melihat Suci, kini Ella melangkah keluar dari ruangan. Ia kembali duduk di kursi, disebelah Andra.


"Selamat ya Ndra, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." ucap Ella sambil menatap Andra.


"Terima kasih ya El."


"Iya, aku sudah tidak sabar untuk melihat keponakanku lahir. Dia akan menjadi teman bermainnya Billa." ucap Ella sambil tertawa renyah.


"Ella!" panggil Andra dengan tiba-tiba.


"Kenapa Ndra?"


"Terima kasih untuk semua hal yang telah kamu lakukan untukku. Tanpa kamu, mungkin aku tidak bisa menjadi seperti sekarang. Aku larut dalam penyesalan, dan kedukaan, dan kamu yang berhasil membantuku keluar dari sana. Hingga akhirnya aku bisa mendapatkan Suci. Dari dulu, kau selalu membawaku dalam kebaikan El. Hanya saja dulu aku sangat bodoh, tidak pernah mendengarkan perkataan kamu." kata Andra dengan serius.


Ella tersenyum, "Andra, kau adalah sahabatku, sudah seharusnya aku melakukan hal itu. Seperti juga dirimu, tanpa kamu mungkin aku tidak bisa bertahan hingga saat ini. Kau tahu, betapa rapuhnya aku saat Kairi pergi. Aku seperti kehilangan sebagian jiwaku, dan kau yang membantuku untuk tetap berdiri." ucap Ella.


"Rencana Tuhan memang selalu indah El." kata Andra menirukan perkataan Anston.


"Begitu banyak hal yang telah kita lalui bersama, entah itu suka, entah itu duka. Kita pernah saling menyimpan rasa, namun perasaan itu datang dimasa yang berbeda. Dan sekarang aku sadar, hubungan persahabatan inilah yang terbaik untuk kita. Kita akan saling menguatkan, dan saling menuntun saat dalam kesulitan. Berjanjilah untuk tetap menjadi sahabatku El." sambung Andra sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"Untuk apa Ndra, aku sudah menjadi sahabatmu sejak dulu." ucap Ella sambil mengernyitkan keningnya.


"Sekarang kita sudah memiliki pasangan masing-masing, kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Tapi aku sangat berharap, kau masih bisa menjadi sahabatku. Berjanjilah!" kata Andra.


"Baiklah, aku berjanji akan selalu menjadi sahabatmu. Kau adalah sahabat terbaikku Ndra." ucap Ella sambil menautkan jari kelingkingnya.


"Semoga kebahagiaan dalam keluarga kita, akan abadi seperti persahabatan kita." kata Andra.


"Aamiin!" jawab Ella.


"Kalian membuat aku salah paham." ucap Suci yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu, sambil membawa infusnya.


Sontak Ella, dan Andra langsung menarik jari kelingkingnya masing-masing.


"Aku juga melihatnya, bagaimana kau akan menjelaskannya sayang?" sahut Kairi yang tiba-tiba sudah berdiri didekat mereka, sambil menggendong Billa yang sudah tertidur.


"Ehm kita hanya..." jawab Ella, dan Andra bersamaan.


"Di atas tiga kali, dan aku tidak menerima penolakan!" sahut Kairi dengan cepat.


"Kai kau gila! Mengatakan hal itu didepan banyak orang." teriak Ella sambil beranjak dari duduknya. Wajahnya memerah menahan malu.


"Kau istriku, dan mereka juga sudah menikah, dan untuk yang lainnya, mereka tidak mengerti dengan bahasa kita. Jadi tidak ada salahnya aku bicara seperti itu." jawab Kairi dengan santainya.


"Tapi seharusnya kau tidak mengatakannya!" teriak Ella.


"Sayang jangan terus berteriak, simpan saja tenagamu untuk nanti!" kata Kairi sambil tersenyum miring.


"Kau gila Kai!" teriak Ella sambil mencubit lengan Kairi dengan keras.


Sedangkan Andra, ia juga beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Suci yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sayang aku..." ucap Andra.

__ADS_1


"Ssst, aku mengerti. Tidak perlu kau jelaskan, tadi aku hanya bercanda." ucap Suci sambil tersenyum, dan menempelkan jari telunjuknya di bibir Andra. Andra juga ikut tersenyum, ia bernafas lega, karena ternyata Suci tidak salah paham dengannya.


TAMAT


__ADS_2