Tentang Rasa

Tentang Rasa
Mengunjungi Ella


__ADS_3

Kairi masih terdiam sambil terus melajukan mobilnya. Sudah lebih dari separuh perjalanan, tetapi hanya keheningan yang tercipta, karena tak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan.


Beberapa menit kemudian, Kairi tiba-tiba menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ella sedikit kaget, kenapa Kairi tiba-tiba berhenti, padahal rumahnya masih kurang dua belokan lagi.


"Kenapa berhenti, Kai?" tanya Ella sambil menoleh menatap Kairi.


Kairi menghembuskan napasnya dengan kasar, tangannya mencengkeram kemudi mobil dengan erat.


"Tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, Gabriella," ucap Kairi.


"Hubunganmu dengan Mama cukup dekat, dan tatapan Andra padamu juga berbeda. Aku rasa kau dan dia tidak hanya sekedar kenal," batin Kairi dalam hatinya.


"Pasti kau sudah menduganya, Kai, apa hubunganku dengan Andra. Baiklah aku akan menjawabnya. Bukankah jujur diawal itu lebih baik," batin Ella sambil menatap Kairi.


"Dugaanmu benar, Kai, kata Ella.


"Apa maksudmu?" tanya Kairi sambil menoleh menatap Ella.


"Aku tahu apa yang kau fikirkan, dan itu semua memang benar," jawab Ella dengan gemetaran. Bagaimana jika Kairi marah, kecewa, dan tak mau menerima masa lalunya.


"Kau dan Andra..." kata Kairi.


"Iya, kita bersahabat," jawab Ella.


"Jadi lelaki yang pernah kau cintai..." kata Kairi.


"Iya, itu Andra. Sekarang kau mau marah atau menyalahkan aku, aku tidak melarangmu, Kai. Aku terima, karena memang itulah kenyataannya, dan aku tidak bisa mengubahnya," ucap Ella dengan mata yang berkaca-kaca.


Kairi menghembuskan napasnya dengan kasar sambil meraih kepala Ella dan membawa kedalam pelukannya. Meskipun dalam hatinya merasa sangat kecewa. Namun, ia tidak bisa menyalahkan Ella, semua itu terjadi jauh sebelum mereka saling mengenal.


"Aku tidak marah, Sayang, itu masa lalu kamu, aku tidak punya hak untuk menyalahkan kamu. Karena saat itu aku belum hadir dalam hidupmu," ucap Kairi sambil mengusap rambut Ella dengan lembut, ia tidak ingin melihat wanitanya menangis.


"Kau kecewa?" tanya Ella dengan pelan.


"Tidak, dalam hal ini aku yang salah. Andai saja dari awal aku jujur tentang keluargaku, mungkin kejadiannya tidak seperti ini," jawab Kairi.


"Lalu seperti apa?" tanya Ella sambil melepaskan pelukannya, ia menatap Kairi lekat-lekat.


Kairi terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Tahu sekarang, ataupun tahu sejak dulu, itu tidak akan mengubah keadaan. Kenyataannya akan tetap sama, Ella pernah mencintai adiknya dalam waktu yang cukup lama. Satu kenyataan yang membuat dadanya terasa sangat sesak, kenapa harus Andra?


Kenapa bukan lelaki lain?


Kenapa bukan lelaki jelek yang mereka temui di Jakarta itu saja, atau Vino yang Ella bicarakan waktu itu?


Kenapa malah adiknya?


"Kenapa kamu diam, Kai? Apa kau tidak jadi mencintaiku, andai saja kau tahu semua ini sejak awal, sejak kau belum punya rencana untuk menemui ibuku di sini," kata Ella sambil tetap menatap Kairi.


Kairi tersadar dari lamunannya, jawabannya sudah membuat Ella salah paham.


"Tentu saja tidak, aku akan tetap mencintai kamu, apa pun yang terjadi. Hanya saja, jika aku tahu dari awal, aku tidak akan kaget seperti tadi," jawab Kairi dengan cepat. Ia mencoba meyakinkan Ella, bahwa ia benar-benar menerima masa lalunya.


"Apakah benar kau tidak marah? Aku lihat hubunganmu dengan Andra cukup buruk," kata Ella sambil menunduk.


"Kehadirannya membuat Mama semakin membenciku, tentu saja aku tidak menyukainya. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan kamu, meskipun kau pernah mencintainya, tapi aku tetap mencintai kamu," ucap Kairi sambil menangkup pipi Ella dengan kedua tangannya.


"Kairi, maafkan aku, meskipun kau berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Tapi dari sorot matamu, aku tahu kau memendam kekecewaan. Marah saja bila kau ingin marah, itu akan membuatmu lega, Kai," kata Ella sambil menangis.


Hatinya teriris pilu melihat sikap Kairi yang masih begitu lembut. Meskipun Kairi kecewa, namun ia tetap memperlakukannya dengan sangat baik. Andai saja boleh memilih, Ella lebih suka melihat Kairi memarahinya, daripada melihatnya menyimpan kekecawaannya seorang diri.


"Aku tidak kecewa, Sayang," ucap Kairi sambil mengusap air mata Ella.

__ADS_1


"Kau bohong, Kai, aku tahu kau kecewa. Kau berusaha menyimpannya sendiri, agar aku tidak bersedih. Tapi kau tahu Kai, sikapmu yang seperti ini malah membuatku sesak, membuatku ingin menangis dan menjerit," kata Ella di sela sela isakannya.


"Sayang tenanglah, percaya padaku, aku tidak kecewa," ucap Kairi sambil kembali memeluk Ella, dan membiarkan wanita itu menangis di dadanya.


Kairi tahu, Ella bukanlah wanita bodoh. Meskipun lidahnya bisa berbohong tapi tidak dengan matanya. Ella pasti dapat melihat kemelut keresahan dan kekecewaan, di sudut matanya yang paling dalam.


"Aku hanya tidak menyangka kalau sahabatmu itu Andra. Aku mengiranya sahabatmu itu Vino, seseorang yang kau bicarakan di pesta waktu itu," ucap Kairi sambil tetap memeluk Ella.


"Kenapa kau mengiranya demikian?" tanya Ella dengan suara yang pelan.


"Karena dulu kau bilang sahabatmu adalah temanmu waktu SMA. Dan saat aku melihat daftar alumni SMA Harapan tahun 2015, aku tidak melihat ada nama Andra. Yang kulihat hanyalah nama Riky dan Vino, jadi kukira sahabatmu adalah Vino," jawab Kairi dengan panjang lebar.


Karena dirinya juga alumni SMA Harapan, jadi bukan hal yang sulit untuk mencari tahu siapa saja alumni ditahun-tahun berikutnya.


Ella melepaskan pelukannya da mengusap air matanya yang menetes di pipinya.


"Andra memang bukan alumni SMA Harapan, karena dia dikeluarkan dari sekolah empat hari sebelum ujian," ucap Ella sambil menatap Kairi.


"Apa!" kata Kairi, ia kaget mendengar penjelasan dari Ella. Kenapa Andra sampai dikeluarkan dari sekolah, dan kenapa ibunya tidak membela?


"Kenapa dia dikeluarkan?" tanya Kairi ingin tahu.


"Ada wanita yang datang ke sekolah dan mengaku hamil anaknya Andra. Semua bukti menjelaskan jika ia memang bersalah, karena dia memang pernah melakukannya," jawab Ella.


"Lalu sekarang di mana wanita itu? Seliar itukah pergaulannya Andra?" tanya Kairi.


"Aku juga tidak tahu, anak yang dikandung wanita itu ternyata bukan anaknya Andra. Namun, Andra bisa mengungkapnya saat pesta kelulusan sudah berlalu. Gaya hidupnya memang bebas, karena tidak ada yang memperhatikan dia. Dulu waktu pertama kali aku mengenal dia, hubungannya dengan Tante Mirna tidak sebaik sekarang," jawab Ella.


"Benarkah? Tapi Mama sangat menyayanginya, tidak mungkin Mama mengabaikannya," kata Kairi sambil mengernyitkan keningnya.


"Tapi yang aku tahu seperti itu, Kai, Tante Mirna jarang ada di rumah. Tante Mirna selalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi jarang memperhatikan Andra," ucap Ella.


"Pantas saja Gabriella sangat mengkhawatirkan perceraian Dimas dan Yura. Mungkin dia berkaca dari kehidupannya Andra," batin Kairi dalam hatinya.


"Hmmm," gumam Kairi sambil menatap Ella.


"Bagaimana kau bisa menjadi seperti sekarang, aku tahu masa lalumu juga tidak mudah, tapi kau bisa tumbuh menjadi lelaki yang luar biasa," kata Ella sambil menggenggam tangan Kairi.


"Aku melewati masa remajaku dengan susah payah. Papa sering bolak balik ke luar negeri, sementara Mama tak pernah menganggapku, dan adikku, dia juga tidak pernah peduli dengan aku. Dia sangat membenciku, dia menganggap aku telah merebut Papa. Aku kesepian, aku sering menangis seorang diri," ucap Kairi sambil tersenyum hambar.


Ella menggenggam tangan Kairi dengan lebih erat, ia tahu betapa terlukanya Kairi saat menceritakan tentang masa lalunya.


"Tapi sejak Papa mengajakku ke Perancis, aku mulai bisa berfikir positif. Meskipun Mama tidak ada untukku, tapi setidaknya masih ada Papa yang sangat menyayangiku. Aku juga berjanji pada diriku sendiri, aku harus menjadi orang hebat, aku harus melebihi Andra, agar Mama bisa melihatku," sambung Kairi.


Ella masih belum menjawab sepatah kata pun. Ia hanya mengusap tangan Kairi, agar lelaki itu merasa lebih nyaman dan tak terlalu memikirkan lukanya.


"Kau tahu, Gabriella, aku merasa sangat malu saat tahu ayahmu sudah tiada, tapi kau masih bisa melanjutkan pendidikanmu hingga ke London. Dibandingkan dengan dirimu, aku sangatlah lemah, aku seorang lelaki, tapi aku sering menangis dan juga merutuki takdir, hanya karena tidak mendapatkan perhatian dari Mama. Aku tak sehebat dirimu, Gabriella," kata Kairi sambil menatap kekasihnya.


"Jangan merendah, bagiku kau sangatlah hebat. Kau bisa menyimpan lukamu, sambil memikirkan masa depanmu. Kau lelaki yang sangat luar biasa Kairi," ucap Ella sambil tersenyum manis.


"Memilikimu adalah sebuah anugerah yang terindah, Gabriella. Kau ibarat cahaya dalam hidupku, kau yang menuntun langkahku dan membawaku keluar dari kegelapan," kata Kairi sambil menangkup pipi Ella dan mendekatkan wajahnya.


"Jangan terlalu memujiku, aku tidak sebaik itu, Kai," ucap Ella dengan jantung yang berdetak cepat. Wajah mereka saling berdekatan, hingga Ella bisa merasakan nafas Kairi yang menghangat di wajahnya.


"Bagiku kau yang paling sempurna, aku sangat mencintaimu, Gabriella," kata Kairi, lalu ia mengecup kening Ella cukup lama.


"Aku bahagia kau bisa menerima masa laluku, Kai, aku harap kita bisa selalu bersama," batin Ella sambil memejamkan matanya. Menikmati sentuhan bibir Kairi yang terasa lembut dan hangat di keningnya.


"Kita pulang ya," ucap Kairi sambil tersenyum.


"Iya," jawab Ella sambil mengangguk.

__ADS_1


Ella bisa bernapas lega, ternyata Kairi bisa mengerti dan mau menerima masa lalunya. Ahh betapa beruntungnya dia, memiliki kekasih sesempurna Kairi.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, Andra masih duduk dibawah jendela kamarnya. Sejak semalam matanya terus terjaga, ia tidak tidur barang sedetik pun. Andra duduk sambil memeluk lutut, pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Ia begitu larut dalam lamunannya, hingga ia tak peduli dengan bunyi ponsel yang sejak semalam terus berdering. Entah siapa yang meneleponnya, Andra tidak mau tahu. Untuk saat ini tidak ada yang dianggap penting, kecuali Ella.


Tak berapa lama kemudian, Andra beranjak dari duduknya. Ia melangkah menuju kursi di depan cermin, ia duduk di sana sambil menatap pantulan dirinya. Matanya sedikit merah, karena semalam ia sempat menangis. Rambutnya berantakan, karena sudah beberapa kali ia mengacaknya dengan kasar.


"Kamu benar-benar membuatku kacau, El," gumam Andra dengan pelan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berharap bayangan Ella bisa pergi dari ingatannya. Namun nyatanya tidak, bayang-bayang tentang Ella malah terlihat semakin jelas.


"Kau benar-benar membuatku gila, El!!" teriak Andra sambil berdiri dan menendang kursi yang baru saja ia duduki.


Andra memijit pelipisnya, kepalanya terasa pusing hanya karena seorang wanita.


Kemudian Andra meraih ponselnya, ia melihat ada 58 panggilan tak terjawab dari Nadhira. Namun Andra mengabaikannya, kini ia malah menghubungi seseorang yang tak lain adalah Ella.


Satu kali, dua kali, hingga tiga kali panggilan nomor Ella tetap tidak aktif.


"Arrgghh!!" Andra menggeram kesal, dan hampir saja ia membanting ponselnya. Untung ia masih ingat, jika ponsel itu menyimpan beberapa data penting yanh berhubungan dengan bisnisnya.


Sambil memegangi kepalanya, Andra merebahkan dirinya di ranjang. Menatap langit-langit kamar yang penuh dengan gambar Ella. Ahh salah, bukan langit kamarnya yang penuh dengan gambar Ella, melainkan pikirannya sendiri. Sudah tidak ada hal lain yang ada diotaknya, selain Ella, Ella, dan Ella.


"Aku tidak bisa seperti ini terus. Ella belum menikah, untuk apa aku menyerah. Aku sudah mengenalnya sejak sepuluh tahun yang lalu, sedangkan Kairi, baru beberapa tahun saja. Aku yang lebih tahu tentang Ella, jadi aku yang lebih berhak mendapatkan dia," kata Andra sambil tersenyum lebar.


Lalu ia bangkit dari tidurnya, dan dengan cepat ia menuju ke kamar mandi.


Dan tepat pukul 09.00 pagi, Andra sudah rapi dengan balutan jeans panjang yang dipadu dengan kaus warna biru muda, warna kesukaan Ella. Tak lupa ia menyemprotkan parfum dengan aroma mint, aroma yang dulu menjadi kesukaannya Ella. Andra tersenyum sambil meraih sebatang coklat yang sudah dihiasi pita. Cokelat yang awalnya ia beli untuk diberikan pada Nadhira, tapi sekarang tidak, Ella yang lebih pantas untuk mendapatkannya.


"Hubunganku dan Ella dulu cukup dekat, aku yakin dia akan mempertimbangkan aku," ucap Andra sambil tersenyum.


Lalu Andra menyambar kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja, entah kenapa semalam ia tidak bisa menemukannya, mungkin karena takdir memang tak merestui dirinya pergi dengan Nadhira.


Andra melangkah keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga, dan tak lama kemudian ia berpapasan dengan Bik Surti.


"Mama dimana, Bik?" tanya Andra.


"Baru saja berangkat Tuan," jawab Bik Surti.


"Oh," ucap Andra sambil melangkah pergi meninggalkan Bik Surti.


Bik Surti menatapnya dengan heran.


"Semalam Tuan Andra terlihat sangat marah, kenapa sekarang terlihat sangat bahagia ya, aneh," ucap Bik Surti sambil menatap Andra yang mulai menghilang dibalik pintu.


***


Sinar surya mulai menghangat, memberikan warna keemasan pada setiap benda yang diterpanya. Ella duduk di antara bunga-bunga mawar yang berwarna-warni dan mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sana. Kala itu Ella sedang memakai celana jeans selutut yang dipadukan dengan kaus warna hitam, rambutnya digulung asal-asalan sedikit berantakan. Wajahnya terlihat cantik natural tanpa olesan make up.


Ella terlalu sibuk dengan rumput-rumput kecil yang ada di depannya, hingga ia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya tanpa kedip.


Dia adalah Andra, lelaki yang dulu pernah menjadi sahabatnya. Kini Andra sedang berdiri menatapnya sambil tersenyum. Sangat cantik, batin Andra kala itu.


"Ella!" panggil Andra sambil melangkah mendekati Ella.


Ella menoleh, ia sedikit kaget saat melihat Andra sudah berdiri didekatnya, sejak kapan ia datang?


"Andra, sejak kapan kamu datang?" tanya Ella sambil beranjak dari duduknya.


"Baru saja. El, ini untuk kamu," ucap Andra sambil menyodorkan sebatang coklat pada Ella.


"Terima kasih," jawab Ella sambil menerima coklatnya. Ia menyunggingkan senyum di bibir ranumnya.

__ADS_1


"Kairi tak mempermasalahkan masa laluku yang pernah mencintai Andra. Dan sekarang, Andra sudah menerima kehadiranku sebagai calon kakak iparnya. Syukurlah ternyata semuanya bisa berjalan dengan lancar," batin Ella dalam hatinya.


__ADS_2