Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kenyataan Yang Sulit Dipercaya


__ADS_3

"Selama ini bagaimana kehidupan kamu di London?" tanya Bu Halimah memulai pembicarannya.


"Aku di sana baik-baik saja Bu. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar." jawab Ella berbohong, ia tidak ingin Ibunya bersedih, jika mendengar lika liku hidupnya selama di London.


"Kamu masih bekerja di kantornya Dimas?" tanya Bu Halimah.


"Sekarang tidak lagi Bu, waktu itu perusahaannya Kak Dimas ada kerjasama dengan perusahaannya Kairi, dan aku dipindah tugaskan kesana, itulah awal mulanya aku mengenal Kairi Bu." jawab Ella sambil tersenyum.


"Jadi dugaan Ibu benar Kairi itu adalah orang kaya, bukan orang sederhana seperti kita." kata Bu Halimah sambil menatap Ella.


"Iya Bu, tapi Kairi sangat baik, dia serius mencintaiku Bu." ucap Ella.


"Kamu yakin dia tidak seperti orang tuanya Ariel?" tanya Bu Halimah.


"Aku yakin Bu." jawab Ella.


"Baiklah kalau begitu, lalu setelah kamu menikah nanti, apa kau akan ikut tinggal bersamanya, dan kita hidup berjauhan Ella?" tanya Bu Halimah.


Ella menatap Ibunya lekat-lekat, ia tahu bagaimana perasaan Ibunya.


"Ibu tidak rela ya." ucap Ella dengan pelan.


Bu Halimah menatap raut wajah Ella yang tampak sendu. Ahh seharusnya dia tidak membicarakan hal itu, sekarang Ella pasti merasa terbebani.


"Bukan begitu El, Ibu hanya bertanya. Ibu rela asalkan kau mau berjanji, dimanapun kau tinggal nanti, kau harus selalu mengirimkan kabar pada Ibu." kata Bu Halimah sambil tersenyum.


"Ibu yakin tidak apa-apa?" tanya Ella.


"Tidak Ella, Ibu ikut bahagia selama kau juga bahagia. Lagipula di sini sudah ada Gilang yang tinggal serumah sama Ibu, dan ada anak-anak juga kan." kata Bu Halimah.


"Terima kasih ya Bu, kalaupun nanti aku tinggal di London, atau di Perancis. Aku usahakan untuk sering mengunjungi Ibu." ucap Ella sambil memeluk Ibunya.


"Iya Ella." kata Ibunya sambil mengusap lembut rambut Ella.


***


Kairi duduk termenung di sofa kamarnya. Menatap keremangan senja yang hampir berlalu lewat jendela kamarnya. Lalu ia menatap setiap jengkal ruangan kamarnya, tidak berubah sama sekali, masih sama seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu, kamar ini pernah menjadi saksi atas kesedihan dan kesepian yang ia rasakan. Di kamar inilah ia sering menangis seorang diri, dan terkadang juga memaki, merutuki pahitnya takdir dalam hidupnya.


Kairi meraih sebingkai foto wanita yang terletak diatas meja, sedikit berdebu, mungkin orang yang ia pasrahi untuk merawat apartemen ini belum sempat membersihkannya. Kairi mengusap foto itu sambil tersenyum, lalu ia memeluk foto itu erat-erat.


"Aku merindukanmu." ucap Kairi pelan, ia memejamkan matanya sambil membayangkan pelukan dari seseorang yang sangat disayanginya.


Saat Kairi membuka matanya, senja sudah benar-benar berlalu. Kini yang terlihat dari jendelanya hanyalah malam yang gelap, segelap hatinya saat mengenang masa lalunya yang suram.


Lalu Kairi meletakkan kembali foto itu diatas meja, ia melangkah mendekati jendela kamarnya. Ia menatap kebawah, memandang suasana perkotaan yang tak sepadat London.


"Seperti kota ini, meskipun malam datang menyelimutinya, tetapi masih ada cahaya lampu yang menyinarinya. Seperti juga hidupku, meskipun masa laluku pernah gelap, tapi sekarang Tuhan mengirimkan Gabriella sebagai cahaya dalam hidupku. Dia berhasil menyembuhkan luka lamaku, dia berhasil membuatku kembali mengginjakkan kakiku di negara ini." ucap Kairi sambil tersenyum.


***


Keesokan harinya.


Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 waktu Indonesia.


Nadhira melemparkan tasnya begitu saja ke atas ranjang. Dia baru saja sampai di apartemennya, tubuhnya terasa sedikit lelah setelah melakukan pemotretan sepanjang hari.


Nadhira duduk di sofa kamarnya sambil mengotak atik ponselnya. Sudah seminggu sejak ia pulang dari Kota Malang, sedikitpun belum mendapatkan kabar dari Vino. Nadhira masih penasaran dengan maksud perkataan Vino waktu itu. Setelah mengantarnya ke tempat pemotretan Vino langsung menghilang begitu saja, tanpa memberitahunya terlebih dahulu tiba-tiba Vino sudah check out dari Hotel Sangrilla.


Nadhira mencoba menghubungi Vino, namun ponselnya selalu tidak aktif. Ingin sekali Nadhira mendatangi rumahnya, atau mencari tahu tentangnya lewat Andra, tapi itu tidak mungkin, Andra akan marah dan cemburu jika ia melakukannya.


Nadhira mendengus kesal, ia meletakkan kembali ponselnya. Ahh ya sudahlah jika Vino memang tidak bisa dihubungi, lupakan saja. Lebih baik sekarang ia fokus dengan acara pertunangannya yang tinggal dua minggu lagi.


Nadhira beranjak dari duduknya, ia mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas, dan kemudian menengguknya dengan perlahan.


Nadhira menoleh saat mendengar ponselnya berdering, lalu ia meraih ponselnya, dan ternyata Andra yang sedang menelfonnya.


"Hallo Ndra." sapa Nadhira.


"Hallo sayang, kamu dimana sekarang?" tanya Andra dari seberang sana.


"Aku baru saja pulang, sekarang aku ada di apartemen." jawab Nadhira.


"Kamu capek tidak?" tanya Andra.


"Kenapa memangnya?" Nadhira balik bertanya.


"Kebetulan hari ini pekerjaanku sudah selesai, sekarang aku sudah bersiap untuk pulang. Bagaimana kalau malam ini kita mencari gaun untuk acara nanti, tapi kalau kau tidak lelah." kata Andra.


"Baiklah aku mau, tapi aku belum mandi Ndra." ucap Nadhira.


"Tidak apa-apa, aku juga masih di kantor sekarang. Kau masih punya banyak waktu sayang untuk bersiap-siap." kata Andra.


"Baiklah kalau begitu, nanti jemput aku ya." ucap Nadhira.


"Iya, ya sudah aku tutup ya. I love you sayang." kata Andra.


"I love you too Andra." jawab Nadhira sambil tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Nadhira beranjak menuju kamar mandi. Rasa lelah di tubuhnya tidaklah seberapa, dibandingkan dengan pentingnya mencari gaun untuk acara pertunangannya.


***


Ella duduk didepan cermin sambil menyisir rambut panjangnya. Beberapa menit yang lalu Kairi menelfonnya, ia mengatakan akan menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan. Ella mengiyakan ajakan Kairi, dan kini ia sedang bersiap-siap. Setelah menyisir rambutnya, dan memoleskan make up di wajahnya, Ella berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin.


Tubuh indahnya dibalut dress warna merah yang panjangnya sampai dibawah lutut. Ella tersenyum saat melihat tampilan dirinya yang cukup menawan.


Lalu Ella keluar dari kamarnya, ia terus berjalan, dan menghampiri Ibunya yang sedang berada di toko.


"Ibu." panggil Ella.


"Kamu sudah rapi El, mau keluar ya?" tanya Bu Halimah sambil menoleh menatap anaknya.


Tiga karyawan yang bekerja di tokonya, mereka sudah pulang, karena jam kerjanya dari pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore. Dan sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Iya Bu, Kairi mengajakku jalan-jalan, boleh kan?" ucap Ella meminta izin pada Ibunya.


"Boleh, asal pulangnya jangan terlalu larut." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.


"Mau bawa mobil El?" tanya Gilang yanh tiba-tiba muncul mendekati mereka.


"Tidak Mas, sepertinya Kairi sudah membawa mobil." jawab Ella sambil menatap Gilang.


"Mobil siapa?" tanya Gilang sambil duduk di kursi.


"Renthal." jawab Ella.


"Sebenarnya daripada mobil renthal lebih baik bawa mobil ini saja, walaupun sederhana tapi kan gratis." kata Gilang.


"Iya El, mobilnya juga nganggur kan. Masmu memakainya tidak setiap hari, cuma pas toko ramai dan banyak pesanan saja." sahut Bu Halimah sambil menatap Ella.


"Tapi kalau membawa mobil ini, Kairi kesininya juga harus naik taxi Bu, biaya juga kan. Ehh apa nanti aku ajak naik motor saja ya, pasti seru." ucap Ella sambil tersenyum lebar. Pasti romantis, naik motor berdua sambil memeluknya dari belakang, fikir Ella kala itu.


"Jangan aneh-aneh El, Kairi itu orang kaya masa kau ajak boncengan motor butut seperti itu." kata Gilang sambil menatap Ella.


"Yang namanya cinta itu harus saling menerima Mas, jadi dia juga harus terbiasa dengan kehidupanku yang sederhana. Lagipula bukan hal yang buruk lho Mas boncengan pakai motor, seperti difilm film itu romantis kok." jawab Ella sambil tersenyum.


"Romantis itu kalau motornya Harley, kalau motor butut seperti itu bukannya romantis tapi malah nangis." ucap Gilang.


"Motornya masih bagus Mas, jangan terlalu dijelekin dong. Motor itu banyak berjasa lho buat kita." kata Ella tidak mau kalah.


"Bagus menurut kamu, tapi menurut Kairi, itu tidak lebih dari barang rongsokan." kata Gilang.


"Tidak Mas, Kairi orangnya baik dan tidak sesombong itu." jawab Ella masih tidak mau kalah.


"Baiklah Bu." jawab Ella sambil mengangguk dan tersenyum. Ia paling tidak bisa, jika membantah perkataan Ibunya.


"Nah begitu dong, menurut." cibir Gilang sambil beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju ruang tamu.


Dan tak lama kemudian, sebuah mobil warna hitam perlahan berhenti didepan rumahnya. Ternyata dia adalah Kairi, ia turun dari mobilnya, dan kemudian melangkah memasuki toko.


"Assalamu'alaikum Bu." sapa Kairi sambil menyalami Bu Halimah.


"Waalaikumsalam, silakan duduk nak." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.


"Terima kasih Bu." ucap Kairi sambil duduk disebelah Ella.


"Kalian mau keluar?" tanya Bu Halimah sambil menatap Kairi.


"Iya Bu, saya ingin mengajak Ella jalan-jalan sebentar. Apakah boleh Bu?" kata Kairi meminta izin pada Bu Halimah.


"Boleh nak, tapi janji ya pulangnya jangan larut." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.


"Iya Bu." ucap Kairi sambil membalas senyuman Bu Halimah.


"Aku sudah siap, apa kita berangkat sekarang?" tanya Ella sambil menatap Kairi.


"Ayo. Bu kita berangkat sekarang ya." kata Kairi sambil menatap Bu Halimah.


"Iya, hati-hati ya nak, Ibu titip Ella." jawab Bu Halimah sambil tersenyum.


"Iya Bu, Assalamu'alaikum." kata Kairi.


"Waalaikumsalam." jawab Bu Halimah.


"Aku keluar dulu ya Bu, Assalamu'alaikum." ucap Ella sambil mencium tangan Ibunya.


"Waalaikumsalam." jawab Bu Halimah.


Lalu Ella dan Kairi berjalan menuju mobilnya. Bu Halimah menatap mereka sambil tersenyum.


"Semoga kau selalu bahagia nak." batin Bu Halimah dalam hatinya.


Kairi mulai melajukan mobilnya dengan perlahan. Ella yang saat itu sedang duduk disebelah Kairi, ia larut dalam fikirannya sendiri.


"Kau tadi bilang ingin mengajakku ke suatu tempat, sebenarnya kita akan kemana Kai? Apa dulu kau cukup lama tinggal di sini, hingga kau bisa tahu tempat-tempat indah disekitar sini." batin Ella sambil melirik Kairi.

__ADS_1


"Kai!" panggil Ella, ia benar-benar penasaran kemana sebenarnya tujuan Kairi.


"Hmmm." gumam Kairi sambil menatap Ella.


"Kau akan mengajakku kemana?" tanya Ella.


"Ke suatu tempat." jawab Kairi sambil tersenyum.


"Maksudku ke tempat mana?" tanya Ella.


"Rumah." jawab Kairi dengan singkat.


"Hah!!" teriak Ella. Apa maksudnya Kairi?


"Kenapa kaget? Aku memang mengajakmu ke sebuah rumah, kita akan menemui seseorang." kata Kairi sambil tersenyum.


"Seseorang." ucap Ella dengan pelan, jantungnya berdetak dengan cepat. Seseorang siapa yang Kairi maksud, dia kan orang Perancis yang tinggal di London. Mana mungkin dia mengenal orang sini, kecuali cinta pertamanya. Mungkinkah Kairi mengajaknya menemui cinta pertamanya, tapi untuk apa?


"Apa maksudmu Kai?" tanya Ella dengan suara yang tertahan.


"Aku ingin mengenalkanmu padanya." jawab Kairi dengan santainya.


"Aku tidak mau." ucap Ella dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Kairi.


"Apa yang kau fikirkan Kai, kau mengajakku menemui cinta pertamamu, sebenarnya apa tujuanmu?" bentak Ella dengan kesal.


"Ini tidak seperti yang kau fikirkan, kau jangan marah, aku tidak akan mengecewakan kamu." kata Kairi sambil menggenggam tangan Ella.


"Aku tetap tidak mau." ucap Ella.


"Sayang percayalah padaku, aku tidak akan menyakiti kamu. Selama ini kamu sudah salah paham, izinkan aku menjelaskannya." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Terserah!" jawab Ella sambil memalingkan wajahnya.


Ia benar-benar kesal melihat Kairi yang begitu santainya. Apa sebenarnya yang dia fikirkan, kenapa harus mengenalkan kekasihnya pada cinta pertamanya, apakah menurutnya semua ini lucu?


Sepanjang perjalanan Ella terus diam, untuk pertama kalinya ia benar-benar kecewa dengan sikap Kairi. Ella tak menatap Kairi sedikitpun, ia tetap menoleh menatap suasana luar lewat jendela mobil. Namun setelah perjalanan mereka sudah cukup jauh, Ella merasa sedikit familiar dengan jalanan yang sedang dilewatinya.


"Sepertinya aku pernah melewati jalan ini, tapi aku juga sedikit lupa. Sebenarnya jalan ini menuju kemana ya." batin Ella sambil mencoba untuk mengingatnya.


Disaat Ella masih larut dalam fikirannya, tiba-tiba Kairi sudah menghentikan mobilnya. Mereka berhenti didepan rumah mewah berlantai dua. Ella menoleh, dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia menatap rumah kokoh yang berdiri dihadapannya. Ella ingat betul ini rumah siapa, bukan sekali dua kali ia datang ke rumah ini.


"Untuk apa Kairi berhenti di sini?" batin Ella dalam hatinya.


"Kai, kenapa berhenti?" tanya Ella dengan gugup.


"Kita sudah sampai." jawab Kairi.


"Benarkah?" tanya Ella.


"Iya. Gabriella sudah saatnya kau tahu tentang masa laluku. Orang yang telah memberiku luka, sebenarnya adalah Ibu kandungku sendiri." kata Kairi sambil menggenggam kedua tangan Ella.


Tubuh Ella seakan membeku seketika saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kairi. Ia tak percaya jika Kairi memiliki hubungan, dengan orang yang menjadi bagian dari masa lalunya.


"Ya Allah semoga saja rumah ini sudah dijual, dan orang yang dimaksud Kairi bukanlah orang yang kukenal." batin Ella sambil menggigit bibirnya.


"Kai, bukankah kau bilang Ibumu sudah meninggal." kata Ella, ia teringat waktu di Paris kala itu, Kairi bilang Ibunya sudah tidak ada saat Ella menanyakan tentangnya.


"Aku tidak pernah bilang Ibuku sudah meninggal Gabriella, aku hanya bilang Ibuku sudah tidak ada. Maksudku dia tidak ada disampingku, tidak ada untukku, karena memang dari dulu Ibuku tidak pernah menganggapku." jawab Kairi sambil tersenyum hambar.


"Jadi cinta pertama yang kau bilang..." ucap Ella.


"Waktu itu aku masih belum siap menceritakan tentang keluargaku, jadi aku mengiyakan saja saat kamu menebak, bahwa wanita yang memberiku luka adalah cinta pertamaku. Maafkan aku Gabriella, semua ini terlalu pahit bagiku, hingga aku butuh waktu untuk berterus terang padamu." kata Kairi sambil menatap Ella.


"Kenapa Ibumu tidak pernah menganggapmu?" tanya Ella.


"Aku juga tidak tahu, entah apa yang salah dengan diriku, yang jelas Mama sangat membenciku. Sejak kecil Mama tak pernah peduli denganku, seolah aku ini bukanlah anaknya, dan puncaknya saat adikku lahir. Mama semakin membenciku, dan disisi lain Mama sangat menyayangi adikku. Entah apa perbedaan kita, yang kutahu dia hanyalah bocah lelaki yang nakal dan manja. Menurutku dia tidak lebih baik dariku, tapi Mama sangat menyayanginya dan selalu memujinya." jawab Kairi dengan panjang lebar. Ia menjelaskan tentang masa lalunya.


Mata Ella memanas saat mendengar jawaban yang Kairi lontarkan.


"Sekarang jelas sudah, rumah ini tidak dijual. Pemiliknya tetaplah Tante Mirna dan Andra." batin Ella dalam hatinya.


Kenapa dunia begitu sempit, kenapa takdir mengujinya dengan cara seperti ini?


Ella masih ingat jelas, dulu Andra sangat membenci seseorang yang ia sebut 'dia', seseorang yang katanya telah merebut Ayahnya dan membawanya pergi.


Dulu Ella selalu berfikir, 'dia' yang dimaksud Andra adalah istri baru Ayahnya, tapi ternyata 'dia' yang Andra maksud adalah kakak kandungya, yang ternyata adalah Kairi. Kenapa semuanya bisa seperti ini?


Bagaimana reaksi Andra saat tahu, jika dirinya menjalin hubungan dengan kakaknya?


Mungkinkah Andra juga akan membencinya, seperti Andra membenci kakaknya?


Apa yang harus dia lakukan sekarang, bagaimana jika Kairi tahu bahwa sahabat yang pernah dicintainya adalah adiknya sendiri?


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2