
Tapi sayangnya saat itu Diana tidak ada di apartement, karena dia sedang ada jadwal jaga di Rumah Sakit. Netta bangun dari tidurnya, dilihatnya jam sudah menunjuk angka 1 dini hari. Dengan meringis menahan rasa sakit di perut bagian bawahnya, Netta meraih ponselnya. Ditekannya nomor Diana, tapi tidak diangkat. Jika sedang bekerja, Diana memang tidak pernah membawa ponselnya. Lalu Netta menekan nomor 118, beberapa menit kemudian tersambung.
" Ciao! Posso aiutarla?"
" Help...me! Akhhhhh! I am... going...to.. haveeeeee...aaaa.... babyyyyy!" teriak Netta terbata, karena sakitnya yang timbul tenggelam.
" What? Baby? My, God! Breathhhh! Hufftttt! Hufftttt! Give me your address! Hufftttt!" jawab petugas itu yang ternyata wanita.
Netta mengatakan alamatnya, kemudian menutup panggilannya karena dia sudah tidak sanggup memahan rasa sakitnya sehingga pingsan saat melihat ada yang membasahi bagian bawahnya. Paramedik yang datang terkejut saat melihat keadaam Netta yang pingsan. Dengan cepat mereka membawa ke Rumah Sakit terdekat dimana Diana bekerja.
(Anggap percakapan dalam bahasa Italia...xixixi)
" Dokter!" panggil seorang perawat yang mendorong brankar Netta.
" Ada apa ini?" tanya seorang pria dengan jas putihnya.
" Air ketubannya sudah pecah dan dia pingsan!" tutur perawat yang membawa Netta.
" Astaga! Siapkan ruang operasi!" teriak pria itu sambil memeriksa Netta.
" Ya, Dok!" sahut beberapa perawat.
" And call Dr. Diana!" kata pria itu lagi.
Tubuh Netta di dorong ke dalam ruang operasi.
" Dr. Diana!" panggil seorang perawat.
" Ya?" jawab Diana.
" Dr. Noah menunggu dokter di riang operasi!" kata perawat itu lagi.
Saat itu Diana sedang memeriksa seorang pasien.
" Ok!" jawab Diana kemudian bergegas menuju ke ruang operasi.
Setelah memakai APD dan membersihkan diri, Diana masuk dan dipasangkan handscoon.
" Ok, apa yang kita hadapi?" tanya Diana.
" Nama : Arnetta..."
" Apa? Netta?" Diana terkejut dan langsung berlari ke bagian kepala.
" My God! Netta! Kamu pasti mencoba menghubungiku!" kata Diana lhawatir.
" Anda mengenalnya?" tanya Noah.
" Iya! Dia istri pengacara terkenal Mike Banner.
" Astaga!" sahut Noah terkejut.
" Lakulan yang terbaik!" kata Diana.
" Mereka tidak bisa menghubungi Tuan Banner!, Dok" bisik perawat.
" Saya yang akan bertanggung jawab!" kata Diana, lalu dia menandatangani surat-surat yang diambil perawat dan diberikan padanya untuk segera ditanda tangani.
Seorang pria menatap lama ponselnya, dia terharu melihat apa yang ada di layar ponsel tersebut. Dia meneteskan airmatanya sambil meneguk kembali minuman keras dalam bentuk kaleng itu. Hatinya sangat hancur dan sakit, jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Penyesalan yang tiada akhir, semua sudah terjadi dan tidak akan bisa terulang kembali.
Keesokan harinya pria itu terbangun saat ada sebuah tangan lembut mengusap wajahnya.
" Son!" ucap wanita itu lembut.
__ADS_1
" Who is it?" tanya pria itu.
" Kenapa kamu seperti ini, sayang?" tanya Grace sedih.
Airmata wanita itu menetes di pipinya.
" Mam?" tanya Max memcoba melihat sosok dihadapannya.
Tapi dia sudah yakin dari suaranya jika itu adalah a
" I am broken, mam!" ucap pria itu memeluk mamanya dengan menangis. Wanita itu menghela nafasnya, dia sangat sedih melihat keadaan anaknya yang seperti itu. Dia mendengar semua kisah putranya itu dari Ferry. Awalnya dia sangat marah karena dia merasa kecewa dengan sikap putranya yang tega menyakiti seorang wanita. Sebagai sesama wanita mamanya bisa merasakan betapa hancur perasaan keduanya.
Flashback ON
" Ada apa ini, Max?" tanya Grace yang menyambut kedatangan putranya dirumahnya.
Max kaget melihat seluruh anggota keluarganya duduk di ruang tengah rumahnya.
" Aku capek! Aku ingin istirahat!" jawab Max lesu.
" Maximiliano Smith! Jangan berani maju selangkah lagi jika kamu masih ingin menjadi putra mamamu!" teriak Hari, papa Max.
Max langsung berhenti mendengar ucapan papanya.
" Jelaskan perbuatanmu di pesta tadi!" kata Hari lagi.
" Tidak ada yang perlu dijelaskan! Dia sudah pergi!" ucap Max datar.
" Siapa? Apa dia lebih penting dari Vina dan calon anakmu?" tanya Panji papa Vina.
" Apa ini? Sidang keluarga? Aku sudah dewasa! Dan apa yang terjadi dalam hidupku adalah urusanku!" kata Max marah.
" Tapi Vina adalah putriku! Dan kamu meninggalkan dia diatas panggung demi pelacur itu!" teriak Panji.
" Max!" teriak Grace dan Hari bersamaan.
Plakkk! Hari menampar Max dengan keras.
Semua yang ada di ruangan itu terkejut mendengar teriakan Max yang berani pada calon mertuanya.
" Dia bukan pelacur! Dia..." Max menghentikan ucapannya.
" Dia apa?" tanya Panji.
" Dia apa, Max?" tanya Panji lagi dengan keras.
" Jawab, Max!" teriak Hari.
" Jangan diam saja! Damn it!" teriak Hari lagi
" Aku mencintai dia!" teriak Max tanpa sadar.
" Kalian dengar? Aku...sangat mencintai dia!" kata Max.
" Apa?" tanya Panji, lalu maju mendekati Max.
Bugh! Kesabaran Panji rasanya sudah habis, dia memukul wajah Max.
" Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" tanya Panji lagi.
" Aaaaa, Maxxxx!" teriak Grace melihat putranya dipukul.
Max mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
" Iya! Aku sadar!" kata Max tegas, secepat kilat Panji kembali memukul wajah Max dan kali ini dengan keras hingga sudut bibirnya berdarah akibat sobek.
" Mas Panjiiii! Papaaaaa!" teriak Grace lagi, dia menatap suaminya lalu mendekati putranya, tapi Hari menahan istrinya.
" Aaaaaa!" teriak para wanita melihat kemarahan Panji.
" Papa kenapa diam saja?" ucap Grace kesal pada suaminya.
" Dasar brengsek! Apa kamu sadar kalau Vina sedang hamil?" tanya Panji emosi.
Saat Panji akan memukul Max lagi, Hari memberikan kode pada anak buahnya agar menahan Panji.
" Lepaskan!" teriak Panji meronta saat Joe dan Nick menahan tubuhnya.
" Aku tidak pernah mencintai Vina!" ucap Max.
" Kamu memang laki-laki brengsek! Kamu dengar Mas? Apa ini putra kebanggaanmu? Lalu bagaimana nasib putriku dan bayinya? Dia tidak bersalah!" tutur Panji pada Hari.
" Dia bukan...!" Max menghentikan ucapannya.
" Bukan apa?" tanya Panji masih dengan amarahnya.
" Dia...!" ucap Max.
" Max! Please...!" kata Grace dengan airmata yang sudah menetes di pipinya.
" Ada apa ini sebenarnya?" tanya Hari yang curiga dengan semuakeadaan ini.
" Vina!?" tanya Hari.
Semua menatap pada wanita muda itu.
" Jangan mengalihkan arah pembicaraan, Mas! Disini yang bersalah adalah putra Mas Hari!" kata Mustika dengan tegas.
" Tapi semua harus jelas, Mbak!" kata Hari.
" Vin! Sayang! Bisa kamu cerita yang sebenarnya?" tanya Grace memohon.
" Cerita apa mbak? Semua sudah jelas!" kata Panji lagi.
" Cukup, Pa!" kata Vina.
" Jangan merendahkan dirimu demi pria brengsek itu!" kata Panji marah.
" Papamu benar, Vin! Jangan merendahkan dirimu!" ucap Max datar. Vina kembali terhuyung ke belakang. Plakkk! Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kanan Max.
" Ma!" teriak Vina kaget.
Max melihat siapa yang menamparnya, ternyata Mustika.
" Cukup dengan semua omong kosong ini! Keluarga kami adalah keluarga terhormat! Kami masih bisa membesarkan cucu kami tanpa bantuan siapapun!" kata Mustika penuh amarah.
Dia mendekati Vina dan menangkup wajah putrinya.
" Kita pulang! Kita akan merawat anak kamu bersama-sama!" kata Mustika.
" Tidak, ma! Aku mencintai Max! Aku..."
Plakkk! Mustika menampar putrinya hingga wajah Vina memerah akibat tamparan itu.
" Apa kamu bodoh? Dia sudah mempermalukanmu!" teriak Mustika dengan mata berkaca-kaca.
" Jangan rendahkan dirimu demi seorang pria yang tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri! Pulang! Atau kamu akan melihat mayat mama di rumah!" kata Mustika marah.
__ADS_1