Tentang Rasa

Tentang Rasa
Bab 29


__ADS_3

Rena tak benar-benar tertidur. Ia hanya berusaha memejamkan matanya saja. Setelah cukup lama ia baru teringat belum memberikan selimut dan bantal untuk Albian. Rena bergegas bangun untuk mengambilkan selimut dan bantal. 


Rena keluar dengan memeluk bantal dan dan selimut yang ia ambil di lemarinya. Ia melihat Albian sudah terlelap di sofa berbantalkan lengannya. Ia merasa tak enak hati membuat Albian tidur kedinginan tanpa bantal dan selimut. Pasti Albian sangat lelah karena harus mengurusnya setelah mengurus kekasihnya yang sakit.


Rena menyelimuti Albian kemudian memakaikan bantal untuk Albian. Dengan posisi membungkuk di atas kepala Albian. Rena perlahan mengangkat kepala Albian. Dengan posisi ini membuat wajah mereka berdekatan. Nafas Albian amat terasa di wajahnya. Rena tampak terdiam mengamati wajah Albian. Alisnya yang tebal, hidung mancungnya, bibirnya yang tak terlalu tebal dan rahangnya yang tegas. Sungguh paras yang sempurna. Membuat Rena benar-benar terhipnotis akan ketampanannya.


'Ya Tuhan tampannya,' batin Rena.


Rena menggelengkan kepalanya. 'Sadar Rena, kamu tidak pantas untuknya. Apalagi dia sudah memiliki kekasih,' gumam Rena dalam hati.


Kemudian Rena melanjutkan memakaikan bantal untuk Albian. Tangan kirinya memegang bantal dan tangan kanannya ia gunakan untuk mengangkat kepala Albian. 


Tiba- tiba Albian membuka matanya. Pergerakan yang Rena membuat Albian terbangun. Rena terpaku, mereka beradu pandang. 


Bruk…


Rena melepaskan tangannya ketika ia menyadari Albian terbangun.


"Aaw," Albian mengaduh.


"Sorry… sorry Al," ucap Rena panik dengan wajah yang masih bersemu merah. Sungguh tatapan Albian tadi membuat dirinya menghangat. 


"Enggak apa-apa kok," sahut Albian dengan suara serak khas orang baru bangun tidur sambil beranjak duduk. 


"Aku cuma mau pakaikan kamu bantal. Maaf kalau aku ganggu tidur kamu," ucap Rena sambil menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu mimpi buruk lagi?," Tanya Albian lirih.


Rena menggeleng. "Aku ga bisa tidur," sahut Rena. 


"Mau minum coklat hangat?."


Rena menganggukkan kepala. "Boleh."


"Apa kamu punya cocoa powder?," Tanya Albian.


"Ada di lemari atas dekat kulkas," jawab Rena.


Albian beranjak bangun. "Kamu tunggu disini, akan aku buatkan untukmu," ucap Albian.


Albian berjalan ke dapur dan membuka lemari dimana coklat bubuk ditaruh. Ia meletakan coklat bubuknya yg di ambilnya di atas meja dapur. Lalu ia mengambil susu di kulkas.


Albian menuangkan susu secukupnya untuk dua cangkir ke dalam panci. Kemudian ia menyalakan kompor untuk memanaskan susu. Sambil menunggu susu hangat ia menuangkan coklat bubuk dan gula di dua cangkir yang telah ia siapkan sebelumnya. Lalu ia sedikit mengaduk susu dengan perlahan hingga susu hangat. 

__ADS_1


Setelah susu mendidih Albian menuangkannya ke dalam cangkir berisi coklat bubuk. Aroma coklat yang khas menguar di dapur. 



Albian membawa coklat hangat itu ke ruang tamu dimana Rena berada. Ia memberikan satu cangkir untuk Rena. Lalu Albian duduk di sebelahnya.


"Terima kasih," ucap Rena lirih.Rena menghirup aroma coklat hangat itu. "Emmm… wanginya," sambung Rena tersenyum. Lalu Rena menyeruput coklat hangat itu dan kembali tersenyum.


"Suka?," Tanya Albian yang sedari tadi memperhatikan Rena.


"Hmm…," jawab Rena menganggukan kepala.


Namun setelah itu hening menyelimuti. Kedua diam dalam pikirannya masing-masing. 


"Siang tadi… sebenarnya aku tau hal seperti ini akan terjadi," ucap Rena memecah keheningan.


Albian menoleh dan menatap Rena. Mendengarkan dengan baik apa yang Rena katakan. 


Rena menghembuskan nafasnya berat. "Sejak mas Zain bilang Rio ingin menemuiku."


"Rasa bersalahku kembali hadir ketika aku melihat ia di kursi roda. Itu karena aku. Aku hampir membuat seorang anak kehilangan ayahnya," sambungnya kembali. Walau terlihat lebih tenang tapi air matanya jatuh di pipinya.


"Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Semua yang terjadi itu sudah jalan dari Tuhan. Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri, jika ingin lepas dari trauma kamu" ucap Albian.


"Aku akan perkenalkan kamu dengan seseorang. Dia juga pernah mengalami trauma. Mungkin dengan kamu bertemu dengannya bisa membuat kamu lebih baik. Dia juga sering berkumpul dengan orang-orang dengan orang-orang yang memiliki trauma. Trauma dengan latar belakang yang berbeda. Saling berbagi cerita dan menguatkan," ucap Albian.


"Siapa dia?," Tanya Rena.


"Nanti setelah ketemu pasti kamu akan tau," sahut Albian tersenyum penuh arti.


"Ck… tinggal kasih tau aja, kok ribet banget pakai rahasia-rahasiaan," decak Rena.


"Ga seru kalau dikasih tau sekarang" sahut Albian.


Rena memutar bola matanya malas. Kemudian mereka melanjutkan mengobrol sambil menghabiskan coklat hangat. 


Lama mereka mengobrol, hingga tak Albian tak mendengar suara Rena lagi. Rena terlelap duduk terlelap di sebelahnya.


Albian merebahkan tubuh Rena perlahan. Menaruh kepala Rena di pahanya. Lalu ia menyelimuti Rena. 


Albian memandangi wajah Rena. "Sungguh seperti anak kecil saat kamu tertidur," ucap Albian dalam hati.


Karena tubuhnya yang cukup lelah. Albian pun ikut terlelap dengan posisi duduk.

__ADS_1


****


Rena mengerjapkan matanya. Cahaya matahari sudah menerangi ruangan apartemen Rena. Dia pun duduk sejenak dan melihat jam menunjukkan pukul 8 pagi. Masih ada cukup waktu ia menyiapkan diri untuk pergi bekerja.


Rena beranjak bangun hendak memasuki kamarnya. Saat melewati meja makan ia melihat dua potong sandwich diatas piring dan segelas susu yang masih terasa hangat. Ada sebuah notes di sebelahnya.


maaf aku berangkat duluan. Hari ini ada bahan baku datang yang perlu aku cek. Jangan lupa dimakan sandwichnya dan habiskan susunya.


Albian.


Rena tersenyum. "Manisnya pacar orang," gumam Rena.


Rena memutuskan sarapan setelah mandi. Ia pun bergegas mandi.


***


"To, tolong benar-benar cek kesegaran undangnya," seru Albian memberikan arahan kepada Yanto.


"Iya chef," jawab Yanto.


"Oh iya jangan lupa kerangnya langsung direndam setelah di cek," ucap Albian kepada Adrian yang sedang mengecek kerang.


"Ya chef," jawab Adrian.


Setiap seminggu sekali bahan baku untuk restoran datang. Dan sebelum masuk ke tempat penyimpanan bahan baku. Semua bahan baku di cek kesegarannya, kualitasnya dan juga masa kadaluarsanya. Demi menjaga kualitas rasa makanan di La Pasta.


Setelah semuanya selesai ia hendak kembali ke ruangannya untuk membuat laporan. Tapi ia urungkan sejenak. Kemudian ia menghampiri kepala pelayan.


"Yoga..," seru Albian.


"Ya chef," jawab Yoga.


"Tolong kalau nanti ada yang datang mencari bu Serena. Beritahu saya dulu sebelum kamu memberitahu Rena," ucap Albian.


"Wah chef Albian makin posesif aja," ledek Yoga.


Albian meliriknya tajam. "Bukan itu maksudnya, " Albian menyentil kening Yoga. "Intinya jangan sampai bu Serena menemui orang itu sebelum saya memastikan orang itu aman," sambung Albian.


Yoga menggosok keningnya yang terasa panas. "Iya chef," jawabnya menunduk.


"Oh iya, jangan beritahu yang lain, mengerti!."


"Iya chef," jawab Yoga.

__ADS_1


Setelah merasa cukup Albian berjalan untuk kembali ke ruangannya. Albian hanya berjaga-jaga. Karena mereka sudah ada di kota ini. Kemungkinan besar mereka akan menemui Rena. Ia tidak ingin Rena kembali terpuruk. Albian harus memastikan kondisi Rena benar-benar membaik sebelum bertemu mereka.


__ADS_2