
Andra tertegun mendengar ucapan Nadhira, tanpa diminta otaknya langsung mengingat ucapan Vino dimasa lalu. Saat itu Vino juga mengingatkannya tentang perasaan antara dirinya, dan Ella.
Mungkinkah ucapan mereka itu memang benar?
Mungkinkah selama ini, tanpa sadar dia sudah mencintai Ella?
Dan mungkinkah selama ini Ella juga mencintainya?
Andra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin, itu tidak akan mungkin. Kita hanya bersahabat, mana mungkin bisa melibatkan rasa. Ella memang gadis yang baik, tapi dia sahabatku, aku tidak mungkin mencintainya. Dan aku, dengan sifatku yang seburuk ini, mungkinkah Ella bisa mencintaiku, tidak mungkin, itu mustahil." gumam Andra didalam hatinya.
"Jawab aku Ndra, apa kehadiranku ini salah? Jika memang iya katakan saja, aku akan mundur, aku rela kamu bahagia bersama Ella." ucap Nadhira dengan mata yang berkaca-kaca.
Andra tersadar dari lamunannya, ia menatap wajah Nadhira yang sendu. Hatinya seakan trenyuh saat menatap kekasihnya. Lalu Andra mendengus kesal, dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa aku sebodoh ini, selalu saja membuat wanita menangis. Seharusnya aku tidak boleh menyakiti Nadhira, dia kekasihku, juga calon istriku. Aku benar-benar payah." gerutu Andra didalam hatinya.
"Andra." panggil Nadhira. Buliran bening mulai menetes membasahi pipinya, hatinya terasa ngilu saat menatap Andra hanya berdiam diri. Mungkinkah lelaki itu memang mencintai sahabatnya?
Sanggupkah nanti Nadhira melihat mereka bahagia?
"Maafkan aku Nadhira, aku sudah melukai hatimu." ucap Andra sambil mengusap air mata Nadhira.
"Kehadiranmu tidak salah, aku dan Ella hanya sahabat, tidak lebih. Wanita yang kucintai adalah kamu, hanya kamu." sambung Andra sambil menangkup pipi Nadhira dengan kedua tangannya.
"Kamu yakin dengan ucapan kamu Ndra?" tanya Nadhira, bulir bening masih saja mengalir dari matanya.
"Aku sangat yakin, cintaku hanya untuk kamu, kita akan tunangan, dan setelah itu kita akan menikah. Kamu adalah masa depanku Nadhira." ucap Andra meyakinkan Nadhira.
Nadhira tersenyum, sambil menggenggam tangan Andra yang masih menempel di pipinya.
"Terima kasih Ndra, aku juga sangat mencintai kamu. Aku ingin kita bahagia, selamanya." ucap Nadhira dengan suara yang pelan, hanya seperti bisikan saja.
Belum sempat Andra menjawab ucapan Nadhira, tiba-tiba seorang perawat datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Keluarga Ibu Mirna Anggara." teriak perawat itu sambil mendekati Andra.
Sontak Andra langsung melepaskan tangannya, dan menoleh menatap perawat itu.
"Ada apa?" tanya Andra dengan jantung yang berdetak cepat. Perawat itu terlihat sangat panik, mungkinkah terjadi sesuatu dengan Ibunya?
"Kondisi Ibu Anda tiba-tiba drop, saya harap Anda melihatnya sekarang juga." jawab perawat itu.
"Apa?" teriak Andra.
"Andra tenanglah, kita kesana sekarang." sahut Nadhira sambil berdiri disebelah Andra.
"Ayo!" ajak Andra sambil melangkahkan kakinya dengan cepat.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai didepan ruangan ICU. Dengan cepat Andra langsung membuka pintunya, dan melangkah masuk.
Andra menatap Ibunya terbaring lemah di ranjang, dengan oksigen yang menempel di hidungnya.
"Mama." teriak Andra sambil mendekati Bu Mirna.
"Dimohon untuk tenang Tuan, pelankan suara Anda." kata seorang dokter sambil mengatur infusnya.
"Kenapa dengan Mama saya Dokter?" tanya Andra sambil menatap dokter itu.
"Beban fikirannya terlalu berat, itu yang menyebabkan kondisi pasien semakin melemah." jawab dokter itu.
__ADS_1
Andra menghembuskan nafas panjang, ia menatap Ibunya dengan perasaan sedih. Ia menggenggam tangan Ibunya, dan menciuminya.
"Mama harus sembuh, aku tahu Mama sedih kehilangan Om Adit, tapi Mama juga harus ingat, Mama masih punya aku, aku sangat membutuhkan Mama." ucap Andra didalam hatinya.
"Sabar ya Ndra, Tante Mirna pasti sembuh." kata Nadhira sambil mengusap punggung Andra.
"Tadi Mama baik-baik saja Nad, kenapa sekarang jadi drop." ucap Andra sambil menunduk.
Nadhira diam, dia hanya menatap Andra, sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa hatiku jadi semakin ragu ya Ndra, kita akan tunangan hanya dalam hitungan hari, tapi kenapa malah ada ujian sebesar ini. Pertama Om Adit meninggal, dan sekarang Tante Mirna sakit. Apa ini sebenarnya pertanda, kalau kita tidak berjodoh. Aku takut Ndra, aku takut perasaan kamu tidak seperti perasaanku." ucap Nadhira didalam hatinya. Ia menatap Bu Mirna sambil menggigit bibirnya.
***
Setelah melewati perjalanan yang panjang. Kini Kairi, dan Ella sudah berada di Bandara Heathrow, mereka baru saja turun dari pesawat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.
"Kai telfon Om Louis gih, bilang kalau kita sudah sampai." ucap Ella sambil berjalan disebelahnya Kairi.
Pak Louis tadi mengantarkan mereka hingga ke bandara, dan berpesan untuk segera mengabarinya setelah turun dari pesawat.
"Kamu menantu yang teladan ya, tidak mengabaikan pesan mertua." goda Kairi sambil tersenyum.
"Aku hanya tidak mau kalau Om Louis khawatir, kasihan Kai." jawab Ella sambil menatap Kairi.
"Iya, nanti setelah kita naik mobil, aku akan telfon Papa." ucap Kairi.
"Itu bagus." kata Ella singkat.
Disaat mereka sedang asyik berjalan, tiba-tiba Ella dikejutkan oleh tingkah Kairi yang menurutnya sedikit konyol.
"London aku kembali lagi, aku sudah membawa calon istriku." teriak Kairi dengan lantang, sambil merentangkan tangannya.
"Hei, apa yang kau lakukan? kau lihat, mereka menatap kita." kata Ella sambil melirik kesamping kiri, dan kanan. Orang yang berlalu lalang di sana, memang menatap Kairi sambil menyembunyikan senyumannya.
"Aku sedang bahagia sayang." ucap Kairi dengan santainya.
"Tapi tidak begitu caranya." kata Ella dengan kesal.
"Lalu?" goda Kairi.
"Diam saja, tidak usah banyak bicara." jawab Ella masih kesal.
"Eh itu jemputan kita sudah datang." kata Kairi sambil menunjuk mobil yang berhenti didepan mereka.
Ella menatap mobil itu sambil mengernyit heran, sepertinya mobil ini bukan miliknya Kairi, tapi rasanya Ella pernah melihatnya. Mobil siapa ini?
Dan tak lama kemudian, Ella dan Kairi berhenti didepan mobil itu. Pengemudinya juga turun, menyapa mereka berdua, dan alangkah kagetnya Ella saat tahu siapa yang menjemputnya.
Seorang lelaki dewasa yang cukup tampan, masih memakai setelan formalnya, lelaki itu tersenyum menatap Ella.
"Kak Dimas." gumam Ella dengan pelan, ia tak menyangka jika yang menjemputnya adalah Dimas. Dan ia lebih tak menyangka lagi, kalau Dimas mau tersenyum padanya, mengingat pertemuan terakhir mereka cukup buruk.
"Ella maafkan aku, aku sudah salah paham padamu." ucap Dimas sambil mendekati Ella.
Ella belum menjawab, ia masih terpaku menatap Dimas, lelaki itu minta maaf padanya, apa dia sudah tahu kejadian yang sebenarnya?
Siapa yang menjelaskannya?
"El maafin aku ya, selama ini kamu pasti kesulitan mencari pekerjaan. Kamu boleh menganggapku sebagai kakak yang tidak bertanggung jawab, tapi kamu maafin aku ya." sambung Dimas sambil memegang tangan Ella.
"Kalau meminta maaf, cukup pakai ucapan, tidak usah pakai sentuhan." kata Kairi sambil melepaskan tangan Dimas.
__ADS_1
"Maaf saya tidak sengaja, saya hanya ingin Ella bisa memafkan saya." ucap Dimas.
"Justru itu jangan menyentuhnya, karena itu bisa membuat kata maaf kamu ditolak. Kamu ingat ya, sekarang dia bukan lagi Ella adik kamu, tapi dia adalah Gabriella, calon istriku, dia adalah wanita pilihanku, jadi kamu harus menghormati dia, seperti kamu menghormati aku." kata Kairi sambil merangkul Ella.
"Kai kamu apa-apaan sih, dia itu Kak Dimas, kakak aku, kamu jangan begitu dong." protes Ella sambil menatap Kairi.
"Kakak? apakah ada seorang kakak yang menelantarkan adiknya?" tanya Kairi sambil menaikkan alisnya.
"Itu hanya salah paham Kai, aku..." belum sempat Ella meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Dimas sudah menyahutnya.
"Tuan Da Vinci benar El, rasanya aku sudah tidak pantas kamu anggap kakak, dari dulu aku selalu menyulitkan hidup kamu." kata Dimas dengan murung.
"Kak Dimas tidak boleh ngomong begitu, yang membantu aku kuliah di sini itu Kak Dimas, yang membantu aku jadi arsitek itu juga Kak Dimas. Kak Dimas tetap kakak aku, aku sudah memaafkan Kak Dimas, bahkan sebelum Kak Dimas meminta maaf." kata Ella dengan panjang lebar.
"Kamu lihat, dia adalah wanita yang berhati besar. Kenapa kamu bisa sebodoh itu, menganggapnya merencanakan hal sekeji itu. Otak kamu benar-benar payah Tuan Renaldi." kata Kairi sambil menatap Dimas dengan tajam.
"Maaf Tuan, saya tahu saya salah." jawab Dimas.
"Kamu memang salah, tapi sekarang diamlah, supir dengan baik, dan antarkan kami pulang." kata Kairi sambil membukakan pintu untuk Ella.
"Kai, kenapa Kak Dimas yang menjemput kita?" tanya Ella.
"Memangnya kenapa?" Kairi balik bertanya.
"Kak Dimas bukan supir kamu, Kak Dimas pasti punya pekerjaan yang lebih penting di kantornya." jawab Ella.
"Tapi dia menganggap ini lebih penting sayang, yahh aku memang tahu sih, bekerjasama dengan kantor Da Vinci, itu sangat menguntungkan, jadi semua orang pasti akan melakukan segala cara untuk mempertahankannya." kata Kairi sambil tersenyum jahil.
"Kamu tidak boleh mencampur adukkan urusan pribadi, dan urusan bisnis. Kamu harus bisa menghormati rekan kamu Kai." protes Ella.
Ella tahu jika Kairi pasti sudah mengancam Dimas untuk memutuskan kerjasamanya. Ahh orang kaya memang selalu berkuasa. Suka seenaknya sendiri, karena punya banyak harta. Tapi sayangnya, Ella juga mencintai orang kaya itu, hatinya luluh juga dengan pesonanya.
"Anggap saja itu hukuman, dia sudah menyulitkan kamu kan." ucap Kairi singkat.
"Tapi Kai." protes Ella.
"Aku tidak apa-apa El, masuklah, dan aku akan mengantarkan kamu pulang." sahut Dimas sambil tersenyum manis.
"Baiklah." jawab Ella mengalah.
Lalu mereka bertiga masuk kedalam mobil, Dimas duduk didepan kemudi, sedangkan Ella dan Kairi, mereka duduk bersama di bangku belakang.
Dimas mulai melajukan mobilnya, dan Ella menatapnya dari belakang.
Ahh dunia, ia tak pernah menyangka akan berada dalam posisi seperti ini. Menjadi kekasih dari seorang Kairi Da Vinci, pembisnis besar yang cukup dikenal di Benua Eropa. Ella menggigit bibirnya, seorang Dimas Renaldi saja bisa bertekuk lutut dihadapannya, benarkah ia memilih pasangan hidupnya hanya wanita sederhana seperti dirinya?
Ella kembali ragu, terlebih saat ia mengingat tentang cinta pertamanya Kairi, dan masa lalunya yang menempuh pendidikannya di Indonesia. Benarkah hubungannya ini bisa bertahan lama?
Lalu Ella teringat akan satu hal tentang Dimas.
"Kak Dimas." panggil Ella.
"Kenapa El?" tanya Dimas.
"Darimana Kak Dimas tahu, kalau aku tidak bersalah?" tanya Ella dengan hati-hati.
Untuk beberapa detik lamanya Dimas belum menjawab, ia masih menata hatinya.
"Haruskah aku mengatakan, jika semua ini adalah ulah Yura. Tapi dia istriku, bagaimanapun juga aku mencintainya, aku tidak ingin menyebarkan aibnya." batin Dimas dalam hatinya.
Bersambung......
__ADS_1