
Sang surya mulai merangkak ke peraduannya. Menyisakan cahaya jingga, yang menyemburat indah diufuk barat. Suasana senja yang teramat elok, yang katanya bisa mendamaikan hati setiap insan yang memandangnya. Namun nyatanya tidak, hati Andra tetap saja gelisah, meskipun ia sudah menatap senja, hingga beberapa menit lamanya.
Andra teringat akan Ayah kandungnya. Sudah begitu lama beliau pergi, tidak ada kabar sama sekali. Andra tidak tahu apa penyebab perceraian kedua orang tuanya. Selama ini dia selalu menganggap, jika kesalahan ada pada Ayahnya.
Tapi setelah melihat Ibunya di rumah sakit malam itu, Andra jadi ragu. Benarkah yang salah Ayahnya ?
Atau Ayahnya pergi, karena tahu kelakuan Ibunya ?
Sudah tiga hari ini, Andra menghindari Ibunya, ia selalu pergi pagi pagi sekali, dan pulang selalu larut malam. Ia juga tak pernah menjenguk Pak Adit di rumah sakit.
Hatinya masih kecewa, atas apa yang mereka lakukan dibelakangnya.
Andra menghembuskan nafas kasar, sambil tetap berdiri didekat jendela ruangannya. Pekerjaannya sudah selesai, namun ia masih enggan meninggalkan ruangan ini. Ia belum siap untuk bertemu dengan Ibunya.
Andra kembali duduk di kursinya, sang senja sudah mulai memudar. Hari semakin gelap, dan bintang bintang mulai berkedip indah diatas sana.
Andra memijit pelipisnya, bingung adalah satu hal yang ia rasakan saat ini.
"Haruskah aku bertanya langsung pada Mama. Tapi bagaimana cara mengawalinya ya." gumam Andra dalam kesendirian.
Disaat Andra masih berkecamuk dengan hatinya. Tiba tiba ponselnya berdering. Andra menatap sekilas, ternyata Ibunya yang menelfon. Andra mendengus kesal, dan membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Hingga beberapa detik kemudian, Ibunya kembali menelfon. Dan dengan berat hati Andra menjawabnya.
"Hallo Ma." sapa Andra dengan malas.
"Kamu dimana Ndra, bisakah ke rumah sakit sekarang ?" tanya Bu Mirna dengan suara gemetar.
"Pekerjaanku belum selesai Ma." jawab Andra berbohong.
"Tak bisakah kamu tinggal dulu Ndra. Keadaan Adit memburuk, dia kritis sekarang." ucap Bu Mirna.
Tenggorokan Andra seakan tercekat, bagaimanapun juga lelaki itu sudah berjasa banyak padanya. Meskipun ia sangat kecewa, tapi juga tidak mungkin untuk tak mempedulikannya.
"Baik, aku akan segera kesana Ma." jawab Andra.
"Mama tunggu disini, hati hati Ndra." kata Bu Mirna.
"Ya Ma." jawab Andra sambil mengakhiri sambungan telefonnya.
"Semoga tidak terjadi apa apa dengan Om Adit." gumam Andra sambil menyambar kunci mobilnya, dan bergegas pergi.
*****
Seorang wanita paruh baya, sedang mondar mandir didepan ruangan ICU. Menggigit jemarinya dengan gelisah. Wanita itu adalah Bu Mirna, beliau sangat khawatir dengan keadaan Pak Adit, yang sedang kritis. Meskipun sudah ada beberapa dokter yang menanganinya, namun tetap saja, rasa takut akan kemungkinan terburuk, masih mengganjal dihatinya.
"Ya Allah tolong selamatkan dia." ucap Bu Mirna dengan mata yang berkaca kaca. Hatinya terasa perih mengingat semua kisahnya bersama Adit. Satu satunya lelaki yang bisa mencuri hatinya, namun keadaan tak mengijinkan mereka untuk bersama. Kenapa perasaan itu tercipta, jika akhirnya hanya menjadi air mata ?
Kenapa hanya orang kaya, yang berhak memiliki cinta ?
Bu Mirna tak bisa lagi membendung air matanya, kilasan balik tentang memori dimasa lalu, berputar putar dalam otaknya. Sebuah pernikahan yang tak pernah dia inginkan. Pernikahan dengan seseorang yang tak pernah dicintainya. Bu Mirna semakin menangis saat mengingat bagaimana hancurnya perasaan Adit, saat mengetahui dirinya telah mengandung.
Lalu Bu Mirna duduk di kursi, dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Betapa kejamnya dia terhadap Adit, namun lelaki itu masih saja mencintainya. Perasaan mereka begitu tulus, namun kenapa Tuhan tak memberikan kesempatan untuk bersama.
__ADS_1
Saat Bu Mirna sedang menangis terisak, tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari samping.
"Jangan menangis Ma, lebih baik kita berdoa, semoga Om Adit tetap baik baik saja." ucap Andra sambil memeluk Ibunya, dan mengusap lengannya dengan lembut.
Meskipun hatinya sedang kesal, namun ia sangat tersentuh saat melihat Ibunya menangis sendirian. Ia tahu bagaimana perasaan Ibunya saat ini, seseorang yang berarti dalam hidupnya, sedang berjuang antara hidup, dan mati.
"Andra..." gumam Bu Mirna, sambil melepaskan pelukannya, dan mengusap air matanya. Beliau tidak ingin, jika Andra mengetahui rahasianya.
"Andra sudah tahu semuanya Ma." ucap Andra sambil tersenyum.
Bu Mirna tersentak kaget, tak pernah menyangka, jika Andra sudah mengetahui tentang hubungannya.
"Apa maksud kamu Andra ?" tanya Bu Mirna dengan gugup.
"Mama punya hubungan kan sama Om Adit. Jujur saja Ma, aku tidak marah kok." jawab Andra. Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat, untuk menanyakan tentang Ayahnya.
"Maafkan Mama." kata Bu Mirna dengan pelan.
"Tidak apa apa, Mama juga berhak bahagia." ucap Andra sambil kembali memeluk Ibunya.
Kemudian mereka saling diam, baik Bu Mirna maupun Andra, tidak ada yang membuka suara. Namun Andra tetap memeluk Ibunya, hingga beberapa saat lamanya.
Dan sekitar satu jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan.
Andra, dan Bu Mirna langsung mendekatinya.
"Bagaimana keadaannya dokter ?" tanya Bu Mirna dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Terima kasih dokter." ucap Bu Mirna sambil bernafas lega.
"Aku bahagia mendengar keadaan kamu mulai membaik Dit. Jika nanti kamu sudah sembuh, aku berjanji akan membuat kamu bahagia. Selama ini aku sudah sering membuatmu terluka, tapi kamu masih tetap bertahan dengan perasaanmu. Maafkan aku, maafkan aku Dit." ucap Bu Mirna didalam hatinya.
Kemudian Andra, dan Bu Mirna masuk kedalam ruangan. Tampak disana seorang lelaki sedang terbaring lemah diranjang. Matanya terpejam dengan rapat, dan berbagai alat bantu terpasang ditubuhnya.
"Cepat sembuh Om. Jika Om Adit sembuh, aku berjanji akan merestui hubungan Om Adit dengan Mama. Aku rela, jika memang itu bisa membuat Mama bahagia." ucap Andra didalam hatinya.
Bu Mirna melangkah mendekati Adit, ia berdiri disampingnya, dan meraih tangannya.
"Kau lihat, ada Andra disini. Cepatlah sembuh." gumam Bu Mirna dalam hati sambil menempelkan tangan Pak Adit di pipinya.
Andra menatap Ibunya sambil tersenyum miris. Sikapnya begitu tulus, terlihat jelas jika beliau sangat mencintai Pak Adit. Andra tidak pernah melihat Ibunya setulus itu pada Ayahnya.
"Jika yang Mama cintai adalah Om Adit, kenapa dulu menikahnya dengan Papa. Apa dimasa lalu, Mama pernah mengalami posisi yang sulit ya." gumam Andra didalam hati.
*****
Keesokan harinya.
Keadaan Pak Adit sudah semakin membaik. Beliau sudah siuman, dan sudah bisa bicara. Itu sebabnya Andra menjemput Ibunya untuk pulang, Andra tidak mau, jika Ibunya jatuh sakit karena kelelahan menjaga Pak Adit.
Kini Andra, dan Bu Mirna sedang duduk berdua di meja makan, mereka sedang makan malam bersama.
__ADS_1
Andra menyantap makanannya sambil sesekali menatap Ibunya. Andra memutuskan hari ini juga ia akan bertanya pada Ibunya, ia tidak bisa membiarkan dirinya hanya menduga duga, tanpa tahu kepastian yang sebenarnya.
"Ma..." panggil Andra saat mereka sudah menghabiskan makanannya.
"Kenapa Ndra ?" tanya Bu Mirna sambil menatap anaknya. Tidak biasanya Andra seserius ini.
"Boleh aku bertanya tentang sesuatu Ma ?" tanya Andra ragu ragu.
"Tanya saja, memangnya kamu mau tanya apa ?" jawab Bu Mirna sambil tersenyum.
"Sejak kapan Mama punya hubungan dengan Om Adit ?" tanya Andra dengan hati hati.
"Cukup lama." jawab Bu Mirna singkat.
"Apa sejak Papa masih ada disini ?" Andra kembali bertanya.
"Apa maksud kamu Andra ?" bentak Bu Mirna. Raut wajahnya berubah menjadi tegang.
"Maaf aku hanya bertanya Ma. Aku hanya ingin tahu, kenapa Papa pergi, dan kenapa Papa tidak pernah menyayangiku. Tidak mungkin kan, Papa melakukan semua itu tanpa alasan." ucap Andra. Biarlah jika Ibunya akan marah, ia benar benar ingin tahu tentang Ayahnya.
"Jadi kamu menyalahkan Mama. Kamu menganggap jika Papa kamu pergi, karena Mama selingkuh dengan Adit, begitu. Iya Andra, kamu menyalahkan Mama." teriak Bu Mirna sambil berdiri.
"Ma tenanglah, aku bertanya baik baik. Aku hanya ingin tahu alasannya. Jika memang kebenarannya tidak seperti itu, Mama beri tahu aku dong, kejadian yang sebenarnya seperti apa. Aku sudah dewasa Ma, aku juga berhak tahu." ucap Andra mencoba menenangkan Ibunya.
"Jika kamu tahu kebenarannya, lalu apa yang bisa kamu lakukan, hah ?" bentak Bu Mirna sambil tetap berdiri.
"Mungkin aku tidak bisa melakukan apa apa Ma. Tapi setidaknya aku tidak membenci salah satu diantara kalian, sejujurnya aku sangat menyayangi kalian. Aku berharap kita bisa berkumpul bersama." ucap Andra dengan pelan.
"Cukup. Jangan lagi bicara tentang kebersamaan, kamu cukup punya Mama, tidak usah mengharapkan Papa." kata Bu Mirna masih dengan suara tinggi.
"Baiklah, jika Mama tidak mau memberitahukan kebenarannya, aku tidak memaksa Ma. Aku harap Mama selalu bahagia, meskipun aku sendiri belum tentu, akan bahagia atau tidak." jawab Andra sambil beranjak dari duduknya. Ia sudah mati matian menahan emosinya, jika tetap bertahan disana, pasti dalam hitungan detik, ia akan berteriak keras sambil melempar benda apapun, yang ada dihadapannya.
"Tunggu Andra..." kata Bu Mirna, saat Andra sudah melangkahkan kakinya mendekati tangga.
Andra menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh.
"Jika kamu ingin tahu kebenarannya, Mama akan menceritakan semuanya." ucap Bu Mirna sambil mengusap air matanya yang mulai mengalir. Mengingat tentang masa lalu, memang selalu membuatnya menangis.
"Aku menikah dengan Papamu bukan atas dasar cinta, tapi kita dijodohkan. Orang tuanya Papamu membutuhkan menantu, seorang wanita yang masih menjaga kehormatannya, dan beliau memilih Mama. Sedangkan orang tuanya Mama membutuhkan harta untuk menopang perekonomian keluarga, dan Papamu adalah orang yang kaya raya. Kita menikah atas paksaan dari para orang tua, kau bisa membayangkan, bagaimana rasanya hidup dengan seseorang yang tidak kita cintai." ucap Bu Mirna sambil menatap Andra. Dan Andra masih tetap terdiam ditempatnya.
"Kita mencoba untuk saling mencintai, namun nyatanya tidak bisa. Dan akhirnya sikap Papamu berubah saat ia sudah menemukan cintanya. Dia tidak lagi mempedulikan Mama, dan tidak mempedulikan kamu. Dan akhirnya dia pergi. Dan disaat Mama sedang rapuh, Adit datang memberi semangat untuk Mama. Dia perhatian, dan peduli pada Mama. Dan akhirnya kita saling mencintai. Apa salah Mama mencintai orang lain Andra, sedangkan Papamu saja sudah pergi bersama wanitanya." sambung Bu Mirna. Namun Andra belum juga menjawab sepatah katapun.
"Tapi Papamu egois, dia tidak mau menceraikan Mama. Itu sebabnya Mama tidak bisa menikah dengan Adit. Mama harus bertahan dengan kesendirian, selamanya. Sekarang kamu bisa bayangkan, betapa sakitnya hati Mama, betapa hancurnya hidup Mama. Kamu tahu, kenapa Mama selalu menuntut kamu untuk bisa menjadi yang terbaik, karena cuma kamu yang Mama punya. Cuma kamu satu satunya harapan Mama. Dan Kamu menyalahkan Mama akan hal itu Andra. Kamu tidak tahu betapa sulitnya menjadi Mama." teriak Bu Mirna sambil menangis.
Andra langsung membalikkan tubuhnya, ia mengahampiri Ibunya, dan memeluknya dengan erat. Ia tidak menyangka, jika Ibunya mengalami hal sesulit itu. Dan dirinya juga ikut memberikan beban untuk Ibunya. Sikapnya selama ini benar benar mengecewakan. Andai saja ia bisa berprestasi, dan berkelakuan baik seperti Ella, mungkin Ibunya bisa sedikit bahagia.
"Papa sangat kejam. Aku tidak akan pernah memaafkannya." geram Andra didalam hatinya.
Andra membiarkan Ibunya menangis dalam pelukannya. Ia berjanji mulai saat ini, akan selalu memprioritaskan Ibunya. Ia akan mencoba sebaik mungkin untuk membuatnya bangga.
"Maafkan Mama Ndra, Mama belum bisa sepenuhnya jujur sama kamu. Mama tidak ingin kamu kecewa, Mama tidak ingin kehilangan kamu." gumam Bu Mirna didalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung.....