
"Benarkah itu kamu El." kata Andra sambil menggenggam kedua tangan wanita yang datang menghampirinya. Wanita yang sebenarnya bukan Ella, melainkan Nadhira.
Saat itu Nadhira sedang memakai dress warna biru muda, warna kesukaannya Ella. Dan rambutnya digulung keatas, sama persis seperti Ella tadi siang.
Nadhira terpaku mendengar perkataan Andra. Ella, apa maksudnya ini?
Kemarin malam Andra menelfonnya, dan mengajaknya mencari gaun untuk acara pertunangan mereka. Namun ternyata Andra menghilang begitu saja tanpa kabar, Andra tidak jadi menjemputnya, dan juga tidak mengangkat telfonnya.
Semalaman Nadhira tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Andra, takut terjadi sesuatu dengannya. Dan seharian tadi Nadhira juga masih mengkhawatirkannya. Ia mencoba menghubungi Andra, namun lagi-lagi tidak ada respon darinya. Lalu Nadhira mendatangi rumah Andra, dan ternyata Andra juga tidak ada di sana.
Dan malam ini Nadhira tiba-tiba teringat dengan apartemennya Andra. Maskipun Andra sangat jarang mendatangi tempat ini, namun tidak ada salahnya, jika ia mencoba untuk memeriksanya.
Pertama kali ia masuk, Nadhira sedikit ragu, benarkah Andra ada di sana?
Dan samar-samar ia melihat lampu kamar yang menyala, kemudian Nadhira melangkah menuju kesana sambil berteriak memanggil Andra.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, namun Nadhira masih terus melangkah kesana. Dan alangkah kagetnya dia saat berhasil membuka pintunya. Pertama kali yang menyambutnya adalah aroma alkohol yang menyengat memenuhi seluruh ruangan. Lalu ia juga melihat kamar Andra yang sangat berantakan, beberapa botol vodka yang sudah kosong bergeletakan di lantai.
Nadhira memanggil Andra, dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Namun rupanya Andra sudah mabuk berat, bahkan untuk berdiri saja ia tampak kesulitan. Disaat Nadhira masih terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tiba-tiba Andra sudah berjalan mendekatinya sambil memanggil nama Ella.
Nadhira tersentak kaget, dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah Andra mabuk ini ada hubungannya dengan Ella?
"Andra ini aku, kenapa kamu menganggap aku Ella!" teriak Nadhira sambil menahan tubuh Andra yang hendak jatuh.
"Kamu bukan Ella ya, lalu kenapa kesini. Yang aku butuhkan itu Ella, bukan orang lain." kata Andra sambil terbatuk batuk.
"Andra, pertunangan kita tinggal hitungan hari. Aku harap kamu tidak mengecewakan aku." batin Nadhira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya ini aku Ella, aku datang untuk kamu." kata Nadhira sambil tersenyum. Lalu ia membimbing langkah Andra, dan membawanya ke ranjang.
"Kamu benar Ella?" tanya Andra sambil membelai pipi Nadhira.
"Iya." jawab Nadhira.
"Kamu datang kesini apa kamu sudah berubah fikiran? Kamu akan meninggalkan kakakku dan lebih memilihku, benar begitu kan Ella." kata Andra.
"Apa maksudmu Ndra, apa Ella sudah kembali, dan tadi kamu menyebut tentang kakakmu, apa kakakmu juga sudah kembali. Andra aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi." batin Nadhira dalam hatinya.
"Keputusanmu sudah benar Ella, sangat benar. Karena hanya akulah yang bisa membahagiakan kamu, karena aku sangat mencintai kamu." kata Andra sambil tertawa.
Cinta?
Ternyata Andra mencintai Ella, kenapa Andra?
Kenapa kau menyakitiku dengan cara seperti ini?
Nadhira tak mampu lagi menahan air matanya, bulir bening itu kini menetes membasahi pipinya. Hatinya benar-benar sesak mendengar perkataan Andra.
"Andra, jika kau mencintaiku lalu bagaimana dengan Nadhira?" tanya Nadhira.
"Aku tidak mencintainya Ella, yang aku cintai hanya kamu. Dia pasti bisa merelakan aku untuk kamu." jawab Andra sambil terbatuk-batuk.
"Seperti itukah perasaan kamu Andra, seperti inikah akhir hubungan kita. Kamu benar-benar kejam Ndra." batin Nadhira sambil terisak.
Andra berusaha bangkit dari tidurnya, ia heran melihat Nadhira yang menangis tersedu-sedu.
Lalu ia menangkup pipi Nadhira dan mengusap air matanya.
"Jangan menangis, aku akan membahagiakan kamu. Aku janji." ucap Andra dengan tatapan sayu.
"Aku menangis karena kamu Ndra. Sebesar itukah perasaan kamu untuk Ella, hingga kau sama sekali tidak sadar, jika yang berada dihadapan kamu adalah aku, bukan Ella." batin Nadhira sambil terus menangis.
"Jangan menangis!" kata Andra sambil mendekatkan wajahnya.
Nadhira tetap diam, ia membiarkan nafas Andra yang mulai menghangat di wajahnya. Membiarkan aroma alkohol yang mulai menyeruak di hidungnya.
Perlahan Andra meraih wajah Nadhira, dan ia tersenyum saat jarak diantara mereka telah terkikis habis.
Dan dengan pelan Andra mulai mencium bibir Nadhira dengan sangat lembut.
Setelah cukup lama Andra mencium bibir Nadhira, kini ia melepaskan ciumannya, dan ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya benar-benar pening, dan ia tak mampu lagi membuka matanya. Nadhira menatap Andra sambil menutup mulutnya, ia menyembunyikan isakannya dibalik kedua tangannya.
"Sudah sering kau menciumku Ndra, tapi kau tidak pernah memperlakukan aku selembut tadi. Kau melakukan itu karena kau menganggap aku adalah Ella. Jadi selama ini apa artinya aku dalam hidup kamu Ndra." ucap Nadhira disela sela isakannya, ia menangis sambil menatap Andra yang sudah tertidur diatas ranjang.
"Selama ini aku selalu tulus mencintai kamu, aku selalu mengalah dengan keegoisan kamu. Tapi apa balasan kamu Ndra, kamu hanya memberiku luka dan kecewa. Laki-laki macam apa kamu Ndra, kamu benar-benar tidak punya hati." ucap Nadhira sambil terisak-isak.
__ADS_1
Perlahan ia beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju meja disudut ruangan.
Nadhira meraih buku dan pena yang ada di sana. Ia menuliskan sebuah kalimat diatas kertas, dan menempelkannya didaun pintu. Dengan air matanya yang masih berderai, Nadhira melangkah keluar, dan meninggalkan Andra sendirian.
"Mungkin tadi adalah ciuman terakhir kita Ndra, aku tidak menyangka kalau kau bisa sekejam ini." ucap Nadhira sambil menatap pintu apartemen Andra yang baru saja ia tutup.
Lalu ia mempercepat langkahnya menuju ke parkiran.
***
Andra mengerjapkan matanya dengan pelan, ia berusaha bangkit dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit dan pening.
Disaat Andra masih mengumpulkan kesadarannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Andra meraihnya, dan ternyata Bu Mirna yang menelfonnya.
"Hallo Ma." sapa Andra dengan suara seraknya.
"Kamu dimana Andra? Dari kemarin kamu tidak pulang, kamu membuat Mama khawatir saja. Sekarang cepat katakan, kamu ada dimana!" teriak Bu Mirna mengomeli Andra.
"Aku di apartemen Ma, aku baik-baik saja kok, Mama tidak perlu khawatir." ucap Andra dengan santainya.
"Tidak khawatir bagaimana Andra, kamu sama sekali tidak mengangkat telefon dari Mama, kamu menghilang begitu saja tanpa mengabari Mama!" kata Bu Mirna masih dengan nada tinggi.
"Maaf Ma." ucap Andra dengan singkat.
"Kamu sudah bertemu dengan Nadhira?" tanya Bu Mirna.
"Nadhira." ucap Andra mengulangi perkataan Ibunya.
"Iya, kemarin dia datang kesini mencari kamu. Dia khawatir sama kamu, apa kamu juga tidak memberikan kabar padanya?" tanya Bu Mirna.
"Belum Ma." jawab Andra dengan pelan.
"Kamu pergi dan hilang kabar sejak Ella dan Kairi datang kesini. Ada apa Andra?" tanya Bu Mirna.
"Tidak apa-apa Ma, aku hanya kaget saja melihat Kairi tiba-tiba pulang." jawab Andra berbohong.
"Kamu kaget karena melihat Kairi atau karena melihat Ella?" Bu Mirna kembali bertanya.
"Apa maksud Mama?" Andra balik bertanya.
"Pulanglah! Mama ingin bicara denganmu." kata Bu Mirna.
Lalu Andra mengakhiri sambungan telefonnya. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, saat melihat kamarnya yang sangat berantakan. Andra kembali memijit kepalanya, ahh sudah hampir lima tahun ia tidak pernah menyentuh alkohol, dan kemarin ia kembali menengguk alkohol dengan jumlah yang cukup banyak.
Andra terpaku seketika saat otaknya mengingat kejadian semalam. Ella datang mengunjunginya, dan kemudian ia menciumnya cukup lama.
"Ini terasa sangat nyata, mungkinkah Ella memang datang kesini, dan yang ada diotakku ini bukan sekedar ilusi." ucap Andra sambil menyentuh bibirnya.
"Jika benar dia datang kesini, apakah itu artinya dia sudah memutuskan untuk memilihku." ucap Andra seorang diri.
Lalu ia beranjak dari duduknya, dan hendak menuju ke kamar mandi.
Namun langkahnya terhenti saat melihat kertas putih yang menempel di daun pintunya, apa itu?
Andra melangkah mendekati pintu, ia meraih kertas itu dan membacanya, 'Kita harus bicara tentang hubungan kita, Nadhira' bunyi tulisan yang tertera di kertas itu.
"Bodoh sekali aku, mengira yang datang semalam adalah Ella. Mana mungkin dia melakukan itu." ucap Andra sambil tersenyum hambar.
Lalu ia meremas kertas itu, dan membuangnya begitu saja.
"Entah apa saja yang aku ucapkan semalam, tapi aku rasa itu bukanlah hal baik. Kelihatannya Nadhira sangat kecewa padaku." kata Andra sambil mengusap wajahnya.
"Kenapa takdirku tidak pernah baik, ini benar-benar tidak adil!" teriak Andra sambil menendangi udara kosong yang ada dihadapannya.
Lalu Andra mengirimkan pesan singkat kepada Nadhira, dan kemudian ia bergegas menuju ke kamar mandi.
***
Nadhira duduk sendiri di bangku taman yang tak jauh dari apartemennya. Ia menunggu Andra yang tadi sempat mengirimkan pesan padanya, Andra mengajaknya bertemu ditempat itu. Nadhira memandang ponselnya dengan tatapan nanar, foto dirinya dan Andra masih terpampang jelas di layar ponselnya.
"Apakah hubungan kita akan benar-benar berakhir Andra. Aku selalu bermimpi bisa membina keluarga bersamamu. Apakah itu memang hanya sekedar mimpi Andra?" ucap Nadhira dengan pelan.
Perasaannya saat ini benar-benar hancur, hatinya terasa sesak setiap kali mengingat kejadian semalam.
"Nadhira!" panggil Andra sambil melangkah mendekati Nadhira, lalu ia duduk disebelahnya.
"Maaf aku telat." kata Andra.
__ADS_1
"Tidak, aku juga baru datang kok." jawab Nadhira sambil berusaha tersenyum.
"Nadhira, tentang semalam aku minta maaf." ucap Andra mengawali pembicaraannya.
"Kamu tidak salah Ndra, ini semua salahku, yang terlalu bodoh mengharapkan cinta dari lelaki seperti kamu." kata Nadhira dengan nada datar. Sebenarnya ia berharap Andra akan memohon maaf padanya dengan perasaan bersalahnya, namun nyatanya tidak. Andra meminta maaf padanya dengan sangat santai, seperti tidak ada beban sama sekali.
"Ternyata selama ini, aku memang tidak artinya bagimu Ndra." batin Nadhira dalam hatinya.
"Nadhira maaf aku sudah menyakitimu, tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya..." kata Andra sedikit kesulitan meneruskan kalimatnya.
"Hanya apa Ndra? Sudah jelas kamu mencintai Ella dan tidak mencintaiku, kenapa kau tidak jujur dari awal saja. Kenapa harus menunggu hingga dua tahun lebih, kau benar-benar tidak punya hati Ndra!" teriak Nadhira sambil menatap Andra dengan tajam. Matanya kembali berkaca-kaca, sebuah kenyataan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Maafkan aku Nadhira." ucap Andra sambil menggenggam kedua tangan Nadhira.
"Aku tidak butuh kata maafmu, yang aku butuhkan adalah kejujuranmu. Kau mencintai Ella?" tanya Nadhira dengan pelan, ia mencoba menahan emosinya yang mulai tersulut.
Andra terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan Nadhira, ia bingung harus jujur atau tidak.
"Karena kau diam berarti jawabannya adalah iya. Kapan Ella pulang, dan apa hubungannya dengan kakakmu?" tanya Nadhira.
Sebenarnya ia belum tahu siapa kakaknya Andra, hanya saja Andra pernah bilang jika ia punya kakak yang tinggal di Perancis, dan semalam Andra sempat menyebutkannya.
"Ella kemarin malam datang ke rumah bersama kakakku, mereka meminta restu pada Mama, mereka berencana untuk menikah." jawab Andra dengan pelan.
Nadhira tersentak kaget, dan spontan langsung menarik tangannya. Ella menjalin hubungan dengan kakaknya Andra, kenapa dunia bisa sesempit itu.
"Jika Ella sudah menjalin hubungan dengan kakakmu, kenapa kau bisa mencintainya Ndra?" tanya Nadhira.
"Maafkan aku Nadhira." ucap Andra, entah sudah berapa kali ia mengucapkan kata maaf pada Nadhira.
"Sekarang bagaimana dengan hubungan kita? Apakah berakhir begini saja Andra?" tanya Nadhira dengan pelan.
Air matanya mulai menetes, membasahi kedua pipinya.
"Aku terserah padamu Nad." jawab Andra.
"Kau memang tidak punya hati Ndra, bahkan kau tidak ada niatan untuk mempertahankan aku. Ternyata perasaan tulusku selama ini memang sia-sia." ucap Nadhira dalam hatinya.
"Baiklah, kalau begitu kita akhiri saja hubungan kita, dan kita batalkan pertunangan kita." kata Nadhira dengan nada datar.
"Kau yakin dengan keputusan kamu?" tanya Andra ragu-ragu.
"Yakin atau tidak memang itulah yang harus aku lakukan. Kau tidak mencintaiku Ndra, dan kau tidak ada niatan untuk mempertahankan aku. Lalu untuk apa aku masih bersikeras mempertahankan hubungan ini, itu hanya akan membuatku sakit Ndra!" teriak Nadhira sambil bangkit dari duduknya.
"Nadhira tenanglah, maafkan aku, aku..." kata Andra sambil mencoba meraih tangan Nadhira. Namun Nadhira menepisnya dengan kasar.
"Apa Ndra? Apa lagi yang akan kau katakan? Aku tidak mau lagi mendengar sepatah katapun dari mulut kamu, karena semua itu menyakitkan, kau dengar menyakitkan Andra." teriak Nadhira dengan air mata yang terus berderaian.
"Nadhira..." kata Andra.
"Cukup! Jangan bicara lagi, sudah cukup sampai disini saja kita saling mengenal. Terima kasih untuk semua luka yang telah kamu berikan. Aku harap kau bisa bahagia dengan perpisahan ini." ucap Nadhira dengan pelan, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Andra.
"Nadhira! Tunggu Nadhira!" teriak Andra. Namun Nadhira tak mempedulikannya, ia malah mempercepat langkahnya dan bergegas masuk kedalam mobilnya.
Andra memandang kepergian Nadhira dengan tatapan nanar. Baru saja ia menorehkan luka yang cukup dalam pada seorang wanita sebaik Nadhira.
"Maafkan aku Nadhira." ucap Andra sambil menunduk.
***
Nadhira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di apartemennya. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba mobilnya perlahan mulai berhenti, rupanya mobilnya kehabisan bahan bakar. Nadhira menggeram kesal, kenapa harus disaat seperti ini.
"Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang bersedih, kenapa harus berhenti di sini!" teriak Nadhira sambil memukul kemudi mobilnya.
Lalu ia meraih ponselnya, dan menelfon seseorang yang bisa membantunya. Nadhira merasa jenuh menunggu didalam mobil, lalu ia keluar dan melangkah menuju jembatan yang berada didepannya.
Nadhira berdiri sambil memegangi pagar pembatas dipinggir jembatan, ia menatap arus sungai yang mengalir cukup deras. Nadhira kembali mengingat tentang Andra, lelaki yang sudah dua tahun lebih menjadi tempatnya bersandar, dan kini sudah tidak lagi. Hubungan yang mereka rajut sekian lama, kini berakhir begitu saja.
Air mata Nadhira kembali menetes, ia sangat mencintai Andra, namun lelaki itu sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya. Nadhira menunduk sedih, mengingat selama ini ia selalu mengalah demi Andra, ia selalu memprioritaskan Andra. Namun lelaki itu hanya membalasnya dengan luka dan kecewa. Semua ini benar-benar tidak adil bagi Nadhira.
"Kenapa Andra? Kenapa kamu melakukan ini padaku. Saat ini seharusnya aku merasa bahagia, mengingat pertunangan kita yang tinggal hitungan hari. Namun ternyata tidak, aku malah sangat sedih, karena pertunangan kita yang dulu sempat tertunda kini malah harus batal. Kamu keterlaluan Andra." ucap Nadhira disela sela isakannya.
Disaat Nadhira masih larut dalam tangisnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang meneriakinya dari belakang.
"Mbak jangan bunuh diri Mbak!" teriak lelaki itu.
Belum sempat Nadhira menoleh, tiba-tiba lelaki itu sudah menarik tubuhnya dari belakang. Lelaki itu menariknya dengan cukup keras, hingga Nadhira tak bisa mengelak.
__ADS_1
"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya Mbak, jangan bunuh diri!" kata lelaki itu dengan tegas.
Bersambung......