Tentang Rasa

Tentang Rasa
Kairi Dan Indonesia


__ADS_3

Ella duduk bersimpuh, sambil mengucek matanya, lalu ia kembali menatap lembaran itu. Tulisan yang tertera disana tetaplah sama, jadi Ella memang tidak salah lihat.


Lembaran itu berisikan tentang hasil try out tahun 2009, tahun dimana Ella menamatkan bangku sekolah dasarnya.


Akan tetapi bukan tahunnya, ataupun nilainya yang membuat Ella tertegun, melainkan tempatnya. Dilembaran itu tertulis jelas, bahwa Kairi Da Vinci adalah siswa kelas XII SMA Harapan Surabaya. Sekolah yang sama dengan dirinya dulu.


"Apa maksudnya ini, mungkinkah Kairi pernah sekolah di SMA Harapan. Dia bilang Pak Louis pernah punya bisnis di Indonesia, tapi apakah begitu lama, sampai ia harus sekolah disana. Pantas saja dia terlihat sangat familiar dengan Indonesia, ternyata dia pernah tinggal disana cukup lama." gumam Ella dengan pelan.


Kemudian Ella kembali mencari sesuatu dari dalam almari itu. Namun hingga beberapa saat lamanya, Ella tidak bisa menemukan apa pun. Dan tidak ada pilihan lain, Ella mengembalikan lembaran hasil try out itu, dan menutup kembali almarinya. Ella melangkah mendekati jendela, menyingkap tirainya, dan menatap menara besi yang tetap berdiri kokoh.


"Andai saja aku bisa menemukan ijazahnya, aku akan tahu dimana sekolahnya dia waktu SMP dulu. Jadi aku bisa tahu, seberapa lama dia tinggal di Indonesia. Kita sekolah ditempat yang sama, besar kemungkinan, tempat tinggal kita juga berdekatan, tapi kenapa aku tidak pernah mendengar namanya.


Ahh iya, saat itu aku masih SD, masih terlalu kecil untuk mengenal orang luar, lagipula aku selalu berdiam diri di rumah, jarang sekali berkumpul dengan teman." ucap Ella sambil memandang langit malam yang bertabur bintang.


"Tapi kenapa sekarang aku merasa takut ya, Kairi pernah tinggal di Surabaya, mungkin cinta pertamanya juga orang sana. Kalau nanti dia datang ke Indonesia, bisa jadi dia bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Kalau dia lebih cantik dariku, apa perasaan Kairi tidak akan goyah?


Kalau sekarang dia juga mencintai Kairi, apa Kairi akan mengabaikannya, atau dia akan melepaskan aku, dan kembali padanya." ucap Ella sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Aku jadi takut untuk mengajaknya pulang, aku tidak mau kecewa, dan aku juga tidak mau kehilangan dia." gumam Ella sambil menunduk.


Lalu Ella beranjak dari duduknya, dan melangkah ke ranjang. Ia membaringkan tubuhnya disana, matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Bayangan tentang Kairi berkelebat dalam ingatannya, lelaki itu datang membawa cinta yang begitu indah, Ella sudah bahagia karenanya, akankah rasa bahagianya berakhir kecewa. Tidak, Ella tidak menginginkan hal itu. Dia berharap bisa bahagia selamanya bersama Kairi.


"Siapa kira-kira wanita itu, mungkinkah aku mengenalnya?


Ahh tapi mana mungkin, dunia tak sesempit itu, ini bukan cerita novel, yang segala sesuatunya akan berhubungan." ucap Ella sambil memeluk guling disampingnya.


"Tapi sekolah kita sama, tempat tinggal kita pasti juga dilingkungan yang sama. Kalau cinta pertamanya Kairi memang benar orang yang kukenal bagaimana, aduh aku jadi kacau kan." gerutu Ella sambil menenggelamkan wajahnya dibantal.


***


Ella mengerjapkan matanya dengan pelan, saat merasakan ada sentuhan hangat dipipinya.


Ella menggeliat malas, rasanya ia masih enggan untuk meninggalkan dunia mimpi.


Ella menguap, dan membuka matanya, sosok lelaki tampan menyambut dihadapannya dengan senyuman. Ella tersentak kaget, ia teringat akan almari kecil yang ia buka semalam.


"Kairi." teriak Ella sambil bangkit dari tidurnya. Ia langsung menatap almari kecil didepannya.


"Untunglah sudah kukembalikan, aku takut jika semalam aku lupa merapikannya. Maafkan aku Kai, aku sudah lancang melihat barang-barang kamu tanpa izin dulu, tapi aku memang penasaran Kai." batin Ella sambil menebah dadanya. Ia lega Kairi tak mengetahui tindakannya semalam.


Sementara Kairi, ia mengernyit bingung saat menatap Ella. Wanita itu tiba-tiba duduk, dan berteriak kaget, apa dia sedang bermimpi buruk?


Lalu sekarang dia diam terpaku sambil memegangi dadanya, sebenarnya ada apa dengannya?


"Gabriella, kamu kenapa?" tanya Kairi.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, tadi aku hanya kaget, bangun tidur langsung melihat kamu." jawab Ella sedikit gugup.


"Maaf kalau aku membuatmu kaget, aku bermaksud membangunkanmu, sudah jam sembilan Gabriella." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Hah, benarkah." teriak Ella sambil kebingungan mencari ponselnya. Dan setelah ketemu, ia melotot tajam saat menatap layar ponselnya, Kairi benar sekarang sudah jam sembilan.


"Kenapa kau baru membangunkanku sekarang?" tanya Ella sambil menatap Kairi.


"Ini sudah ketiga kalinya aku datang, dan membangunkanmu Gabriella." jawab Kairi.


Ella mengacak rambutnya dengan kesal, kenapa ia bisa tertidur sampai sesiang ini. Ahh ini pasti gara-gara semalam, ia sulit tidur karena memikirkan cinta pertamanya Kairi.


Sebenarnya Ella sangat ingin menanyakan tentang masa lalunya Kairi di Indonesia, kenapa ia bisa sekolah disana. Tapi Ella mengurungkan niatnya, jika ia menanyakan hal itu, Kairi akan tahu jika dia sudah melihat isi almarinya. Ella tidak mau, jika Kairi menganggapnya lancang.


"Santai saja, kita masih punya banyak waktu." kata Kairi.


"Jam berapa kita terbang?" tanya Ella.


"Jam sebelas." jawab Kairi.


Hari ini Kairi, dan Ella berencana untuk kembali ke London. Sebenarnya Kairi ingin mengajak Ella lebih lama disini, akan tetapi karena urusan bisnis yang cukup mendesak, mau tidak mau mereka harus kembali hari ini juga.


"Gabriella." panggil Kairi.


"Iya." jawab Ella.


"Tentu saja tidak Kai, kenapa kau menanyakan hal itu?" Ella balik bertanya.


"Kau sangat menyukai kota ini kan." jawab Kairi.


"Tidak juga." ucap Ella singkat.


"Kenapa begitu?" tanya Kairi.


"Karena aku lebih suka dengan orang yang bersamaku." jawab Ella.


"Kau menggodaku Gabriella." ucap Kairi sambil menaikkan alisnya.


"Tidak, bukan begitu maksudku." jawab Ella sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" tanya Kairi.


"Aku memang menyukai tempat ini, tapi jika tinggal disini sendirian, itu tidak akan nyaman. Beda jika kita bersama dengan orang yang kita sayang, dimanapun tempatnya pasti rasanya lebih bahagia." jawab Ella.


Ia sedikit tersenyum saat mengatakan kalimat itu. Sebaris kalimat yang pernah ia dengar dari mulut Andra, saat mereka sedang berkhayal dipinggir pantai.

__ADS_1


"Bagaimana ya tanggapan Andra, saat ia tahu aku sudah melihat Menara Eiffel, dan bahkan aku dilamar dibawahnya. Apakah dia akan berdecak kagum, ahh tapi tidak mungkin, dia pasti hanya tertawa saja, dia tidak akan menduga kalau aku bisa punya kisah yang seromantis ini." batin Ella didalam hatinya.


"Tapi jika di London, waktu kita semakin singkat Gabriella." kata Kairi.


"Maksudnya?" tanya Ella kurang mengerti.


"Kita tidak tinggal bersebelahan. Oh atau begini saja, kau tinggal saja di apartemenku, ada dua kamar yang kosong, kau bisa bebas memilihnya." kata Kairi sambil tersenyum lebar.


"Kau jangan sembarangan, aku akan tinggal di kontrakanku." jawab Ella dengan kesal.


"Tapi kontrakan itu terlalu jauh dari apartemenku. Kita akan sulit bertemu sayang." protes Kairi.


"Tapi aku masih bekerja di kantormu Kai, lagipula jangan terlalu sering bersama, nanti kau bosan." ucap Ella dengan bibir yang manyun.


"Jangan bicara aneh-aneh, kamu adalah semangat hidupku, aku tidak mungkin bosan denganmu." kata Kairi sambil mencubit pipi Ella.


"Ternyata kamu pandai merayu ya." sindir Ella sambil beranjak dari ranjang. Ia hendak melangkah menuju kamar mandi.


"Gabriella." panggil Kairi saat Ella baru saja melangkahkan kakinya.


"Kenapa?" tanya Ella sambil menoleh.


"Aku sudah mengajakmu ke negara asalku, aku juga sudah mengenalkanmu pada Papa. Lalu kapan kita ke negara asalmu, meminta restu dari Ibumu?" tanya Kairi sambil melangkah mendekati Ella.


Ella tersentak kaget. Tidak, Ella belum siap untuk pulang. Ella tidak mau jika Kairi bertemu dengan cinta pertamanya.


Untuk saat ini hubungan mereka masih terlalu dini, Ella harus memastikan dulu, jika Kairi benar mencintainya, dan tidak akan meninggalkannya. Ella tidak mau kehilangan dia, Ella sangat mencintainya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kairi kala melihat Ella diam mematung.


"Aku...aku masih ingin bekerja." jawab Ella dengan gugup.


"Hanya meminta restu, tidak langsung menikah kan." ucap Kairi.


"Negaraku jauh Kai, daripada bolak balik biayanya dobel, lebih baik kita kesana saat kita sudah siap untuk menikah." kata Ella.


"Sekarang pun aku sudah siap untuk menikah." ucap Kairi sambil tersenyum.


"Aku masih ingin bekerja Kai." kata Ella sambil menatap Ella.


"Aku mengerti, tapi jangan lama-lama ya, kita sudah dewasa, lagipula Papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu." ucap Kairi dengan terkekeh.


"Iya." jawab Ella singkat.


Lalu ia kembali melangkahkan kakinya, dan bergegas menuju kamar mandi. Namun ia kembali menghentikan langkahnya saat tiba didepan pintu. Suara Kairi membuat tubuhnya nyaris membeku.

__ADS_1


"Gabriella, ada apa dengan almariku?" teriak Kairi dari belakangnya.


Bersambung........


__ADS_2