Tentang Rasa

Tentang Rasa
KAMU DIMANA?


__ADS_3

" Apa ada yang menganggumu?" tanya Netta yang tiduran di dada Max setelah dia dan Max selesai mandi dan makan malam.


" Kenapa?" tanya Max.


" Dari tadi kamu diam saja dan menjawab sekadarnya semua pertanyaanmu!" kata Netta sambil memainkan jarinya di dada Max.


" Jangan melakukan itu, sayang!" kata Max.


" Kenapa? Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Netta tertawa pelan.


" Kau akan membangunkannya!" kata Max.


Dengan cepat Netta menarik jemarinya dan menyembunyikannya di bawah tubuhnya.


" Apa kau takut jika dia bangun?" goda Max.


" Tidak! Aku hanya takut tidak bisa berjalan besok pagi!" kata Netta pelan.


" Aku akan menggendongmu!" jawab Max.


" Tidak! Apa kata Aris nanti!" kata Netta lagi.


" Ckkk! Apa dia sering merayumu?" tanya Max cemburu.


" Apa maksudmu?" tanya Netta terkejut.


" Dia menyukaimu!" kata Max malas.


" What? Are you serious?" tanya Netta kaget.


" Dia pernah bilang sama rekan kerjaku!" kata Max kesal.


" Aku pikir yang aku dengar tempo hari adalah lelucon!" kata Netta.


" Apa maksudmu?" tanya Max.


" Aku dengar dia menyukai aku karena aku cantik dan seksi!" kata Netta.


" Apa? Kapan, dimana?" tanya Max mengepalkan tangannya.


" Di meja Ayu, tapi saat aku datang, dia bilang pada Ayu untuk menyampaikan salamnya pada temannya yang mereka bicarakan tadi!" jelas Netta.


" Jika saja dia bukan orang kepercayaanmu, sejak lama sudah aku tendang!" kata Max geram.


" Jangan gitu, sayang! Biar aku yang menyelesaikan! Sekarang katakan, apa yang membuatmu gelisah?" tanya Netta serius.


" Apa sangat terlihat?" tanya Max menatap sendu Netta.


" Max, sayang! Kau sadari atau tidak, aku tidak butuh waktu lama untuk mengenal dirimu, darling!" kata Netta.


" Aku sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku! Aku tidak ingin kamu pergi lagi dari hidupku! Apa kamu tahu, jika kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku jatuh ke jurang paling dalam yang disebut dengan cinta? Kamu mengajarkan aku banyak hal, Arnetta Greyson Moreno! Bahkan dengan Vina saja aku tidak pernah merasakan hal semacam ini!" kata Max


" Anak kalian?" tanya Netta.


" Itu...bukan anankku" kata Max.


" Apa? Jadi...terus itu anak siapa?" tanya Netta tertegun.


Dia tidak percaya jika Vina bukan wanita baik-baik. Dia mengenal sahabat kakaknya itu dengan baik.


" Itu tidak penting, sekarang kamu adalah hidupku, sayang! Aku benar-benar menyesal pernah menyakitimu!" kata Max dengan tatapan penuh penyesalan.


" Hei! Kamu sudah menebus semuanya! Aku mau kamu jangan lagi melihat ke belakang! Melangkahlah ke depan bersamaku dan anak kita!" kata Netta keceplosan.

__ADS_1


Max terkejut mendengar ucapan Netta, dia memang harus mengakui anak Netta sebagai anaknya juga.


" Ya! Aku pasti menganggap anakmu sebagai anakku juga. Dan aku akan menyayanginya seperti anak kandungku sendiri!" kata Max tersenyum lalu memeluk erat Netta.


" Max, sebenernya..."


Tok! Tok! Tok!


"Tuan Muda! Ada Tuan Muda Axel dibawah!" kata Murni.


" Axel? Mau apa dia kesini? Mama?" kata Max dengan cepat.


" Kamu tunggu disini, jangan keluar!" kata Max lalu dia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.


" Axel? Ada apa?" tanya Max.


Axel berdiri dan menatap Max.


" Ada apa?" tanya Max lagi, dia melihat wajah adiknya sangat sedih.


" Mama!" kata Axel.


" Mama? Kenapa mama?" tanya Max.


" Mama jatuh! Dia..."


" Ayo!" kata Max berlari meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam mobil Axel.


Dia lupa jika Netta menunggunya di kamar. Axel memacu mobilnya dengan sangat cepat menuju bandara, karena mereka akan menuju ke Jakarta dengan pesawat pribadi milik Axel.


Sementara itu Netta berdiri di balkon kamar, dia menunggu Max dengan harap-harap cemas.


Tok! Tok! Pintu kamar Max diketuk.


" Masuk saja, Max!" teriak Netta.


" Mbok? Max mana?" tanya Netta.


" Tuan Muda pergi karena mamanya jatuh dan masuk rumah sakit!" kata Marni.


" Astaga! Max!" ucap Netta ambigu. Netta memutuskan pulang kerumahnya malam itu juga, karena dia yakin Max tidak akan kembali dalam beberapa hari ke depan.


" Mommy!" sapa Axon saat melihat Netta datang.


" Hi, sayang!" jawab Netta memeluk buah hatinya.


" Mommy baik-baik saja?" tanya Malv.


" Iya, sayang! Kenapa memangnya?" tanya Netta.


" Mommy gak pernah memanggil Axon dengan panggilan sayang!" kata Axon mengerutkan dahinya.


" Apa kamu tidak suka?" tanya Netta membelai rambut putranya.


" Tidak! Axon senang mommy panggil begitu!" kata Axon tersenyum.


Kamu benar-benar persis seperti dia, sayang! batin Netta memandang lekat-lekat putranya.


" Kamu baru pulang, Net?" tanya Diana.


" Iya!" jawab Netta.


" Axon ke kamar dulu, mommy!" kata Axon mencium pipi Netta seperti sebelum tidur.

__ADS_1


" Iya, sayang! Jangan main laptop terus! Tidurlah yang cukup!" teriak Netta.


Axon menganggukkan kepalanya.


" Apa kamu tahu ada kejadian besar hari ini?" tanya Diana.


" Kejadian?...A...pa?" tanya Netta balik, dia takut jika Diana mengetahui dirinya bersama Max.


" Axon tadi melihat Max!" kata Diana. Netta lega mendengar ucapan Diana. Apa? Melihat Max? batin Netta.


" Apa? Dimana?" tanya Netta kaget.


" Dijalan saat lampu merah! Dia melihat mantan kekasihmu itu sedang naik motor online!" kata Diana.


" Apa Axon mengatakan sesuatu?" tanya Netta penasaran.


" Dia bertanya apa orang berbulu itu jahat?" kata Diana.


" Lalu kamu menjawab apa?' tanya Netta lagi.


" Aku bilang nggak semuanya!" jawab Diana.


" Baguslah!" kata Netta.


" Aku mau tidur! Besok ada meeting!" kata Netta.


" Ok! Aku akan menunggu Mike, dia sedang lembur!" kata Diana.


" Ok!" kata Netta lalu berjalan ke arah kamarnya.


Max! Aku harap kamu sabar, ya, sayang! Mamamu akan baik-baik saja! batin Netta yang sedang berbaring di atas ranjang. Perlahan matanya terpejam karena rasa lelah dan mengantuk.


Hampir sebulan Max tidak memberi kabar sama sekali pada Netta. Netta menjadi gelisah dan takut jika Max akan meninggalkannya lagi. Saat di kantor dia uring-uringan terus dan menyebabkan pegawainya merasa serba salah akibat sikapnya.


" Apa kalian gak becus kerja? Apa kalian hanya bisa makan gaji buta? Kerjakan lagi! Semua orang hari ini lembur!" teriak Netta di ruangannya.


" Kenapa sih, si Bos? Marah-marah mulu! Lama-lama nggak ada yang mau kerja disini!" kata salah seorang pegawai.


" Iya!" jawab yang lainnya.


" Lagi PMS kali! Xixixi!" sahut lainnya.


" Husss! Ayo kerja! Kalian mau kena damprat lagi?" ucap yang lain.


Netta bersandar di kursi kebesarannya, sebulan lebih sudah Max menghilang tanpa kabar berita. Pagi itu dia merasa kepalanya pusing dan perutnya sangat mual. Dia berlari ke kamar pribadinya dan muntah-muntah di wastafel. Hoekkkk! Hoeekkkk! Ahhhh! Kenapa dengan badan gue? Kenapa rasanya lemas sekali. Lalu dia berdiri dan berjalan keluar kamar mandi. Dibaringkannya tubuh lemahnya di ranjang lalu diraihnya ponselnya yang tadi di letakkannya di atas nakas. Tutttt...tutttt....tutttt.....


" Halo, Boss!"


" Yu! Kamu handle dulu semua pekerjaan! Saya agak nggak enak badan!"


" Apa saya panggilkan dokter, Boss?"


" Nggak usah! Nanti juga sembuh! Hanya sedikit pusing saja!"


" Baik, Boss!"


" Batalkan saja meetingnya, ganti nanti siang. Mudah-mudahan saya sudah baikan!"


" Baik, Boss! Semoga cepet sembuh!"


" Trima kasih!"


Netta meletakkan gagang telpon lalu memejamkan matanya untuk tidur. Netta bermimpi bertemu dengan Max di rumah Max.

__ADS_1


" Max! Kamu datang!" ucap Netta, Max tersenyum dan memeluk Netta.


" Iya, sayang! Aku merindukanmu! Maaf jika aku membuatmu menunggu!" kata Max.


__ADS_2