
Ella terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak pucat, dengan slang infus yang menancap ditangan kirinya. Dokter baru saja memeriksanya, asam lambungnya naik, karena telat makan, dan terlalu banyak beban pikiran. Ella menghela nafas panjang, lutut kirinya terasa sakit saat digerakkan. Akibat terjatuh tadi, lutut kirinya terluka, juga siku kirinya yang tampak memar.
"Minum lagi ya El." ucap Nadhira sambil menatap Ella.
Ella mengangguk, lalu Nadhira mengambilkan segelas teh hangat, dan membantunya minum.
"Aku sudah menelfon Mas Gilang, katanya sebentar lagi akan kesini bersama Budhe." kata Nadhira sambil meletakkan gelas kosongnya diatas meja.
"Iya Nad, terima kasih ya sudah banyak membantuku." ucap Ella sambil menatap Nadhira yang sedang duduk disampingnya.
"El kita ini sahabat, tidak perlu berterima kasih seperti itu." kata Nadhira sambil mengusap lengan Ella.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Ternyata Vino yang datang. Ia melangkah mendekati Ella, dan Nadhira.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vino pada Nadhira.
"Sudah lebih baik." jawab Nadhira.
"Syukurlah kalau begitu." kata Vino.
"Terima kasih ya Vin." ucap Ella dengan pelan.
"Tidak perlu berterima kasih, kita senang melihat kau baik-baik saja El." jawab Vino sambil tersenyum.
Beberapa detik kemudian, seorang lelaki tampan masuk kedalam ruangan. Tubuhnya dibalut celana warna hitam, dan kemeja panjang warna putih yang digulung sampai siku. Jantung Ella berdetak dengan cepat kala menatap lelaki itu, Kairi. Untuk apa dia datang kesini?
Ella memalingkan wajahnya, hatinya masih sakit, dan kecewa atas sikap Kairi tadi malam. Meskipun sebenarnya ia rindu, dan ingin sekali menghambur kedalam pelukannya, namun Ella menahan perasaannya. Ia seorang wanita, wajib baginya untuk menjaga harga dirinya. Kairi sudah melepaskannya, dan meninggalkannya. Tidak mungkin sekarang Ella akan berteriak rindu, itu sangat tidak boleh, karena dia bukan wanita pengemis cinta.
"Sebesar apapun rasa rindu ini, aku harus menyimpannya sendiri. Dia tidak boleh tahu, dia sudah melepaskan aku. Aku tidak boleh lagi berharap padanya." batin Ella sambil menggigit bibirnya.
Kairi terus berjalan menghampiri Ella. Semakin Kairi mendekatinya, semakin cepat detak jantung Ella. Dia memejamkan matanya, berusaha menguatkan hatinya agar tidak luluh dengan pesona Kairi.
"Gabriella, apa yang terjadi, bagaimana keadaanmu?" tanya Kairi sambil berdiri disebelah Ella, raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Wanita yang sangat dicintainya, terbaring lemah di rumah sakit karena dirinya.
Ella masih tetap memejamkan matanya, suara Kairi terdengar begitu merdu di telinganya. Dulu dia sering sekali memeluk Ella dari belakang, dan membisikkan sebuah kalimat, yang selalu saja membuat Ella tersipu malu. Ahh itu semua tinggal kenangan, dia sudah pergi meninggalkan luka yang begitu dalam dihatinya. Jangan sampai jatuh untuk yang kedua kalinya, dilubang yang sama.
"Keluar!" kata Ella dengan datar, dan tanpa memalingkan wajahnya. Ia tak menatap Kairi walau hanya sedetik saja. Bukan tidak mau, tapi Ella tidak berani menatapnya. Sekejap saja pandangan matanya bertemu dengan mata biru Kairi, pasti pertahanannya akan hancur saat itu juga.
"Gabriella, aku datang kesini untuk meminta maaf. Aku salah, aku sudah salah paham sama kamu. Tolong maafkan aku, tolong biarkan aku melihat keadaan kamu." ucap Kairi sambil menatap Ella.
"Aku baik-baik saja, jadi sekarang keluarlah!" kata Ella.
"Gabriella!"
"Keluar!"
"Tolong Gabriella."
"Keluar Kairi!"
"Gabriella tolonglah."
"Vin, aku hanya ingin bersama Nadhira." ucap Ella pada Vino.
Vino paham dengan ucapan Ella, lalu ia beranjak dari duduknya, dan menghampiri Kairi.
"Kita keluar dulu." kata Vino sambil mengajak Kairi pergi.
Mereka berjalan sampai keluar ruangan.
"Meskipun Ella masih mencintai kamu, tapi dia butuh waktu untuk memaafkan kamu, tolong mengertilah." kata Vino sambil menepuk bahu Kairi.
"Aku tidak akan menyerah, aku akan terus berusaha untuk mendapatkan dia kembali." ucap Kairi.
"Itu bagus, dia bahagia jika bersama dengan kamu. Jika nanti kau sudah berhasil mendapatkannya, tolong jangan lepaskan dia lagi." kata Vino.
"Aku mengerti, kemarin aku salah paham, dan akhirnya aku membuat kesalahan yang fatal." ucap Kairi.
"Kau pasti bisa memperbaiki kesalahan kamu." kata Vino sambil tersenyum.
Sementara itu didalam ruangan, Ella kembali meneteskan air mata. Lukanya semakin menganga saat melihat Kairi datang melihatnya. Jauh didalam hatinya ia sangat merindukan Kairi, ia ingin sekali memeluk lelaki itu, dan bersandar di dadanya. Namun Ella masih bisa berpikir dengan akal sehatnya. Kairi sudah membuatnya kecewa, Kairi sudah menyakiti hatinya. Tidak mungkin dengan mudahnya Ella memaafkan dia begitu saja.
"El, kau menangis?" tanya Nadhira.
__ADS_1
"Aku sedih Nad, aku masih mencintainya." jawab Ella sambil mengusap air matanya.
"Lalu kenapa kau tidak memaafkan dia?" tanya Nadhira.
"Dia sudah menyakitiku Nad, tidak mungkin dengan mudahnya aku memaafkan dia. Aku masih punya harga diri Nad." jawab Ella.
"Kita tidak sama, kau sangat menjunjung tinggi harga dirimu El. Sedangkan aku, aku sama sekali tidak punya harga diri selama mencintai Andra." batin Nadhira sambil menggigit bibirnya.
Ia teringat saat dulu, saat menjalin hubungan dengan Andra. Ia selalu mengalah dengan keegoisannya Andra. Ia selalu mengesampingkan harga dirinya, demi hubungan mereka. Namun akhirnya, sekarang hubungan itu kandas juga.
Tak berapa lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Ternyata Bu Halimah, dan Gilang, mereka masuk kedalam ruangan.
"El apa yang terjadi denganmu nak?" tanya Bu Halimah sambil mengusap lengan Ella.
"Hanya sedikit pusing, dan lemas. Aku tidak apa-apa Bu." jawab Ella sambil tersenyum.
"Kalau kamu sedang tidak enak badan, seharusnya tadi tidak usah mengantar pesanan, biar aku saja yang mengantarnya." sahut Gilang sambil menatap Ella.
"Aku tadi baik-baik saja Mas, tapi entah kenapa tiba-tiba kepalaku pusing, dan badanku lemas." jawab Ella.
"Kau telat makan ya." kata Gilang.
"Tidak Mas." jawab Ella.
"Maaf Mas aku tidak jujur." batin Ella.
Sejak pagi dia memang belum makan, sakit dihatinya membuat perutnya tidak merasa lapar.
"Terima kasih ya Nadhira, kamu sudah menolong Ella." kata Bu Halimah sambil menatap Nadhira.
"Iya Budhe, Ella kan juga temanku, sudah seharusnya aku melakukan ini Budhe." jawab Nadhira.
"Kau gadis yang baik Nadhira." kata Bu Halimah.
"Budhe bisa saja, ya sudah kalau begitu aku keluar dulu ya Budhe." ucap Nadhira sambil tersenyum.
"Iya nak, sekali lagi terima kasih ya." kata Bu Halimah.
Lalu ia melangkahkan kakinya, dan berjalan keluar ruangan.
Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Andra dan Bu Mirna. Nadhira sedikit salah tingkah saat tatapan matanya bertemu dengan Andra.
"Nadhira!" sapa Andra sambil tersenyum kaku.
Nadhira mengangguk sambil tersenyum. Ia hanya menatap Andra sekilas, lalu kembali menunduk. Dalam hatinya Nadhira bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Andra, wajahnya penuh dengan lebam. Kemudian Nadhira menarik tangan Vino, dan mengajaknya berjalan menjauh.
"Ada apa Nad?" tanya Vino.
"Apa yang kalu lakukan pada Andra?" Nadhira balik bertanya.
"Kau khawatir dengannya."
"Tidak Vin, aku hanya penasaran saja." jawab Nadhira.
"Aku pikir Andra yang menyebabkan Ella, dan Kairi berpisah, jadi aku menghajarnya. Tapi ternyata bukan, ternyata Kairi sendiri yang salah paham dengan perasaan Ella." ucap Vino sambil tersenyum nyengir.
"Kau menghajarnya, dan ternyata dia tidak bersalah. Lalu apa dia tidak marah Vin, wajahnya sampai babak belur begitu?" tanya Nadhira sambil mengernyitkan keningnya.
"Mau marah percuma Nad, sudah terlanjur juga kan." ucap Vino sambil tetap tersenyum.
"Kau keterlaluan." kata Nadhira.
"Kau khawatir ya Nad dengannya. Apa kau masih sangat mencintainya." ucap Vino sambil menatap Nadhira lekat-lekat.
"Ckk, kau jangan salah paham Vin, aku tidak mencintainya lagi. Justru sekarang itu aku sangat penasaran, kenapa kau sampai melakukan hal itu demi Ella." kata Nadhira sambil membalas tatapan Vino.
"Karena aku, dan Ella sama. Dulu kita sama-sama memendam luka, karena mencintai sahabat. Sekarang aku sudah bahagia, meskipun kau belum bisa sepenuhnya mencintaiku. Tapi kau sudah menerimaku, dan bersedia menikah denganku. Itu sudah cukup membuatku bahagia Nad, setelah kita menikah nanti, aku yakin dengan perlahan cinta akan terus tumbuh dalam hatimu. Jadi aku juga ingin Ella bahagia, meskipun dia tidak berakhir dengan sahabatnya. Dulu dia sudah cukup terluka, jadi sekarang aku tidak akan membiarkan Andra mengusik kebahagiaannya." ucap Vino dengan panjang lebar.
"Sama-sama mencintai sahabat, aku tidak mengerti dengan yang kau katakan ini Vin." kata Nadhira.
"Aku mencintaimu sejak SMA Nad, kurasa aku sudah pernah mengatakannya padamu." jawab Vino.
"Masudku bukan kamu, tapi Ella. Apakah Ella dulu pernah mencintai Andra?" tanya Nadhira.
__ADS_1
"Memangnya kau tidak tahu?" Vino balik bertanya.
Dan Nadhira menggelengkan kepalanya.
"Sejak pertama kali mengenal Andra, Ella sudah menyukainya. Hanya saja Andra tak pernah mengerti, dia malah asyik sendiri dengan kehidupan bebasnya. Begitu dalam Ella menyimpan perasaannya untuk Andra, tapi Andra hanya menganggapnya sebagai sahabat." ucap Vino menjelaskan.
"Apa!" kata Nadhira sambil menutup mulutnya. Ucapan Vino membuat ia tersentak kaget, jika selama ini Ella mencintai Andra. Lalu bagaimana perasaan Ella saat melihat dirinya menjalin hubungan dengan Andra.
"Aku kira kau sudah mengerti Nad." ucap Vino.
"Aku tidak mengerti Vin, ahh dia pasti sangat terluka saat tahu aku menjalin hubungan dengan Andra waktu itu." kata Nadhira.
"Mungkin saja, tapi tidak apa-apa Nad, ada hikmahnya juga. Buktinya sekarang dia mendapatkan lelaki sebaik Kairi, bukankah itu lebih baik Nadhira." ucap Vino.
"Kau benar, hanya saja aku merasa tidak enak dengan Ella." kata Nadhira.
"Santai saja Nadhira, kau hanya salah satu dari kekasihnya Andra. Meskipun tidak menjalin hubungan denganmu, Ella akan tetap terluka. Kau tahu kan, Andra selalu berganti-ganti pasangan." ucap Vino sambil memegang kedua bahu Nadhira.
"Selama itu Ella menyimpan perasaannya untuk Andra. Kenapa Andra tidak pernah menyadarinya Vin?" tanya Nadhira.
"Entahlah, Andra memang bodoh. Dulu aku sudah sering sekali mengingatkan dia, bahwa diantara mereka sama-sama menyimpan perasaan. Tapi Andra hanya menganggapnya seperti lelucon. Ahh sekarang menyesal kan dia, baru menyadari perasaannya disaat Ella sudah bahagia bersama dengan yang lain." ucap Vino.
Andra yang saat itu sedang duduk di kursi, didepan ruangan Ella. Menatap mereka dengan lekat-lekat. Ia melihat Vino yang sesekali memegang tangan, dan bahu Nadhira. Andra menunduk, ia tahu Vino sudah lama mencintai Nadhira. Saat ia sudah melepaskan Nadhira, tentu saja lelaki itu akan hadir dan memperjuangkan cintanya.
***
Sudah dua hari Ella dirawat di rumah sakit. Meskipun Ella sudah merasa bosan, dan ingin pulang. Namun dokter belum memberikan izin, paling cepat baru besok pagi Ella boleh pulang. Gilang, dan Ibunya baru saja pulang, karena mereka sudah semalaman berada di rumah sakit. Kini yang menungguinya hanyalah Garnis, dan Ariel. Sebenarnya juga ada Andra, dan Kairi. Namun Ella tak pernah mengizinkan mereka masuk, jadi mereka hanya menungguinya diluar ruangan.
"El, Kairi ada diluar lho. Sejak kemarin dia belum pulang, izinkan dia masuk ya." kata Garnis sambil menatap Ella.
"Tidak." jawab Ella sambil menggeleng.
"Kamu jangan keras kepala El, aku tahu kamu masih mencintainya." kata Garnis.
"Tapi dia sudah menyakiti aku Mbak, aku tidak bisa memaafkan dia." ucap Ella.
"Jangan katakan tidak, tapi belum. Aku tahu kamu apa yang kamu pikirkan, kamu kecewa dengan dia. Tapi kamu juga masih mencintainya. Dengarkan aku ya, semua orang punya kesalahan, entah itu disengaja atau tidak. Maafkanlah dia, dengarkan kata hatimu, dan kejar kebahagiaan kamu." kata Garnis sambil memegang lengan Ella.
"Aku tidak bisa Mbak, aku sudah memutuskan untuk pergi darinya, aku tidak akan pernah kembali lagi." ucap Ella.
"Jangan berlebihan, menjunjung tinggi harga diri itu memang bagus. Tapi bukan berati harus menutup pintu hati, dan tidak mau memaafkan orang lain. Setidaknya maafkan dulu dia, dan dengarkan penjelasannya. Setelah itu kau bebas mengambil keputusan, pergi atau kembali." kata Garnis.
"Iya El, aku lihat kamu dan dia saling mencintai. Berilah satu kesempatan lagi, daripada kau menyesal nantinya." sahut Ariel.
Ella tidak menjawab, ia menghela nafas panjang saat mendengar perkataan kedua kakaknya.
Sementara itu, Andra dan Kairi sedang duduk bersebelahan di kursi, diluar ruangan. Kairi menunduk sambil memegangi kepalanya. Ia sangat menyesali keputusannya, ia terlalu gegabah dalam menilai perasaan Ella. Dan sekarang kesalahannya itu berakibat fatal, Ella tak mau lagi memaafkannya. Dua hari dia menunggu di rumah sakit, namun Ella belum juga mengizinkan dirinya untuk masuk.
"Kau tidak boleh menyerah Kai, kau harus bisa mendapatkan Ella kembali, kau harus menjelaskan kesalahan kamu, dan meminta maaf padanya. Dia sangat mencintai kamu, dia pasti sangat terluka saat berpisah denganmu." kata Andra sambil menatap Kairi.
"Aku pasti menjelaskan semuanya, dan meminta maaf padanya. Tapi kau tahu sendiri kan, sampai sekarang dia belum mengizinkan aku masuk. Lalu bagaimana aku menjelaskannya, dan bagaimana aku meminta maaf padanya." ucap Kairi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ella memang sedikit keras kepala, dan dia juga termasuk wanita yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Kau sudah melepaskannya, pasti dia merasa marah padamu." kata Andra.
Kairi terdiam, ia tidak menjawab perkataan Andra. Karena ia juga merasa marah pada dirinya sendiri.
"Kenapa juga kau bisa sebodoh ini Kai. Biasanya kau sangat pintar, kenapa kemarin begitu bodoh." kata Andra sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sedikit jengkel dengan sikap Kairi, yang melepaskan Ella begitu saja, hanya demi dirinya.
"Aku melakukan itu demi kamu, aku tahu kau mencintainya!" bentak Kairi.
"Aku memang mencintainya, tapi Ella, dia sama sekali tidak mencintaiku. Jadi bagaimana bisa kau memaksa kita untuk bersama, kau aneh Kai." jawab Andra dengan kesal.
"Dia pernah mencintaimu selama tujuh tahun, sementara aku, aku baru dua bulan mengisi hatinya. Bukan hal aneh kalau aku mengira dia masih mencintaimu, apalagi dia juga masih peduli padamu. Jangan terus mengatakan aku bodoh, karena kau lebih bodoh dariku. Kau menyia-nyiakan dia selama tujuh tahun, dan setelah itu kau baru sadar kalau kau ternyata mencintainya. Itu bukan sekedar bodoh Andra, tapi sangat sangat bodoh." kata Kairi sambil menatap Andra dengan tajam.
"Dari dulu aku memang bodoh, kau juga tahu itu. Tapi kau, sejak dulu kau selalu pintar, tapi kenapa kemarin mendadak bodoh." jawab Andra tidak mau kalah.
Belum sempat Kairi menjawab ucapan Andra, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Ternyata Garnis, dia keluar ruangan, dan berjalan mendekati Kairi.
Jantung Kairi berdetak dengan cepat, apakah Ella sudah mengizinkannya untuk masuk?
Atau malah menyuruhnya untuk pulang?
Bersambung.....
__ADS_1