
Sinar surya mulai menyeruak masuk kedalam kamar Kairi. Ella mengerjapkan matanya, karena silau diterpa cahaya surya. Ella menggeliat, tubuhnya terasa sangat lelah. Lalu ia menoleh, menatap kesamping, suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Ella tersenyum, dan tangannya mengusap rahang Kairi dengan lembut.
"Aku bahagia memilikimu Kai." ucap Ella dengan pelan. Lalu ia mencium kening Kairi sekilas.
Ella bangkit dari tidurnya, ia berjalan mendekati jendela kamarnya. Semalam mereka lupa menutup tirainya, dan sekarang Ella menutupnya. Ia tak membiarkan sinar surya menyeruak masuk, dan mengganggu suaminya yang masih terlelap. Setelah menutup tirainya, Ella berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Ella menyisir rambutnya, dan mengikatnya dibelakang. Kemudian Ella keluar dari kamar, dan berjalan menuju ke dapur. Ella membuka kulkas yang berada disudut ruangan dapur, kemarin Kairi mengutus salah satu pelayan, untuk belanja bahan makanan, dan meletakkannya di kulkas.
Ella mengambil daging, dan beberapa macam sayuran. Ia berencana memasak capcay, dan rendang. Ella mulai memotong dagingnya, mencucinya, dan kemudian memasukkannya kedalam panci yang sudah diisi air dan bumbu. Ella memanaskannya diatas kompor. Kemudian ia mulai memotong wortel, dan brokoli, serta beberapa sayur lainnya.
Disaat Ella sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba Kairi datang dan memeluknya dari belakang. Ella sedikit tersentak, karena ia tidak menyadari kehadirannya Kairi.
"Kau membuatku kaget Kai." ucap Ella sambil menoleh, menatap suaminya.
"Selamat pagi sayang, kenapa kau tidak membangunkan aku?" kata Kairi sambil mencium kening Ella.
"Kau tidur sangat nyenyak, aku tidak tega membangunkanmu." jawab Ella.
"Kenapa kau menolak saat aku ingin memperkerjakan pelayan, kau jadi repot seperti ini kan. Masak, bersih-bersih, mencuci baju. Kau akan lelah Gabriella." kata Kairi sambil menatap istrinya yang kembali meneruskan pekerjaannya.
"Aku istrimu, aku senang melakukannya Kai." jawab Ella.
"Tapi jika nanti kau lelah, kau bicaralah padaku. Aku akan menyuruh salah satu pelayan untuk bekerja di sini." kata Kairi sambil duduk di kursi, didekat istrinya.
"Iya, nanti aku pasti bicara. Sekarang aku masih ingin tinggal berdua saja denganmu Kai." ucap Ella sambil melirik Kairi sekilas.
"Baiklah, aku turuti keinginan kamu. Tapi kau harus berjanji padaku, jangan sampai kelelahan." kata Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Iya aku janji, ini juga bukan pekerjaan berat Kai, kau tidak perlu khawatir." jawab Ella sambil tersenyum.
"Mmm Kai!" panggil Ella setelah mereka diam untuk beberapa saat lamanya.
"Hmmm."
"Kamu kapan mulai kerja?" tanya Ella.
"Mungkin besok, kenapa sayang?" Kairi balik bertanya, sambil beranjak dari duduknya. Ia mengambil sebungkus kopi instan, dan matcha latte instan dari dalam laci, kemudian ia menyeduhnya kedalam gelas.
"Aku tidak mau Kai." ucap Ella sambil menahan tangan Kairi yang hendah menggunting bungkus matcha latte.
"Kenapa? Ini minuman kesukaan kamu sayang." kata Kairi sambil mengernyit heran.
"Aku tidak mau, aku tidak ingin minuman itu." ucap Ella sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kamu mau minum apa?" tanya Kairi sambil menatap Ella.
"Mmmm minta kopi kamu saja, bagi sedikit ya." jawab Ella sambil tersenyum lebar.
"Baiklah!" ucap Kairi sambil menghela nafas panjang.
"Sikap Gabriella semakin aneh, mungkinkah sudah ada nyawa yang mulai tumbuh didalam sana." batin Kairi sambil menatap perut Ella yang masih rata.
"Kai, besok aku ikut kerja ya." ucap Ella sambil menatap Kairi.
"Ikut kerja." kata Kairi mengulangi ucapan Ella.
"Iya. Aku akan membantu pekerjaanmu, boleh kan?"
"Apa tidak lebih baik di rumah saja sayang, kau akan lelah jika membantuku bekerja, kau sudah mengurus pekerjaan rumah sendirian." kata Kairi sambil menatap Ella.
"Aku tidak lelah Kai, aku hanya ingin bersamamu, kau malu ya mengajakku ke kantor." ucap Ella sambil menunduk.
Kairi menghela nafas panjang, ia menghampiri istrinya, dan memegang kedua bahunya.
"Kau jangan salah paham sayang, bukannya aku malu, aku hanya tidak ingin kau lelah. Baiklah, jika kau memang ingin ikut bekerja, tapi harus ada pelayan yang membantu pekerjaanmu di rumah. Bagaimana?" tanya Kairi sambil menatap Ella lekat-lekat.
"Baiklah, tapi pelayannya jangan kesini setiap hari. Aku ingin berdua denganmu Kai." jawab Ella sambil menghambur kedalam pelukan Kairi.
Kairi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap punggung Ella. Kenapa istrinya menjadi semanja ini?
"Gabriella!"
"Hmmm."
"Apa kau telat?" tanya Kairi.
Ella tersentak kaget, lalu ia melepaskan pelukannya. Ia menatap Kairi lekat-lekat, tanggalnya memang sudah lewat dua minggu. Tapi Ella masih belum berani berharap, masih terlalu awal, takut jika nanti hasilnya malah akan membuatnya kecewa.
"Gabriella!"
__ADS_1
"Aku memang sudah telat dua minggu, tapi tidakkah ini terlalu awal Kai. Aku belum berani berharap." ucap Ella.
Kairi tersenyum, lalu ia memeluk Ella dengan erat.
"Nanti kita periksa ke dokter ya." kata Kairi.
"Kalau hasilnya negatif bagaimana."
"Tidak apa-apa, masih ada banyak waktu." jawab Kairi sambil tersenyum lebih lebar.
"Melihat perubahan sikap Gabriella, tidak salah kan jika aku berharap hasilnya nanti akan positif." ucap Kairi dalam hatinya.
***
Hamparan pasir putih yang sangat luas, berpadu dengan bentangan lautan lepas. Semilir angin malam berhembus dengan perlahan, beriringan dengan merdunya suara sang ombak yang masih setia menghempas batu karang. Dua insan tampak sedang duduk diatas pasir putih, menatap taburan bintang yang berkedip indah di angkasa. Menatap sang rembulan yang menggantung dengan pesona cahaya jingganya.
Malam ini, Andra mengajak Suci menikmati pemandangan pantai. Tempat yang dulu menjadi tempat favoritnya bersama dengan Ella. Andra berharap, ia juga bisa mencintai Suci, seperti ia mencintai Ella.
"Ndra!" panggil Suci.
"Hmmm."
"Minggu depan aku akan berangkat ke Thailand." ucap Suci sambil menoleh, menatap Andra yang sedang duduk disebelahnya.
"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Andra sambil membalas tatapan Suci.
"Iya, tapi tidak lama, hanya satu tahun." jawab Suci.
"Maaf Ndra, aku terpaksa bohong sama kamu." batin Suci dalam hatinya.
"Berjanjilah untuk selalu mengabariku, tidak lama lagi aku akan ke London, mengurus bisnis Papa yang ada di sana. Tapi aku akan pulang saat kau sudah kembali." ucap Andra sambil menggenggam tangan Suci.
"Pasti Ndra, aku akan sering mengirim pesan untukmu, dan juga sering menelfonmu. Jika aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, aku akan segera pulang. Aku berharap kau juga pulang saat itu." kata Suci sambil tersenyum.
"Aku pasti pulang. Kali ini aku tidak akan mengecewakan kamu lagi." jawab Andra sambil mengusap rambut Suci dengan lembut.
"Kenapa hatiku gelisah ya, dulu awalnya Ella pergi ke luar negeri, dan akhirnya aku kehilangan dia. Aku takut setelah Suci pergi ke luar negeri, aku juga akan kehilangan dia." batin Andra sambil menghela nafas panjang.
***
Empat Bulan Kemudian.
Waktu bergulir dengan begitu cepat. Hari demi hari terus berganti menjadi minggu, dan minggupun juga terus bergulir menjadi bulan. Tak terasa waktu sudah berjalan selama empat bulan. Saat ini Suci sudah berada di Thailand, ia berangkat sudah lebih dari tiga bulan yang lalu. Namun meskipun tinggal berjauhan, hubungannya dengan Andra masih tetap dekat, mereka selalu bertukar kabar lewat pesan, dan juga lewat sambungan telefon.
Sebelum pergi ke London, ia terlebih dahulu membantu Ayahnya mengurus kerjasama dengan perusahaan milik Sanjaya. Tiga bulan yang lalu keluarga Sanjaya sempat mengalami kebangkrutan. Ariel kelabakan mencari bantuan kesana kemari demi menyelamatkan bisni orang tuanya. Dan ternyata, seseorang yang datang menolongnya adalah keluarganya Pak Louis. Pak Louis menginvestasikan uang dengan jumlah yang cukup besar untuk menyelamatkan perusahaan Sanjaya.
Sejak saat itu orang tuanya Ariel mulai mengubah sikapnya. Mereka tidak lagi menghina keluarganya Bu Halimah, mereka sangat berterima kasih atas bantuannya Pak Louis yang tidak lepas dari campur tangan Ella. Dan sekarang hubungan dua keluarga itu terjalin dengan baik.
Sedangkan Ella dan Kairi. Mereka masih berada di Paris, mereka juga tetap tinggal di apartemen didekat menara. Hanya saja sekarang ada satu pelayan yang bekerja di sana. Sejak tahu bahwa istrinya hamil, Kairi tidak mengizinkannya untuk bekerja terlalu lelah. Namun Ella juga sedikit keras kepala. Meskipun Kairi berkali-kali menyuruhnya beristirahat di rumah, namun Ella tak pernah menurut. Setiap hari ia ikut Kairi ke kantor, entah membantunya bekerja, atau terkadang hanya sekedar menemaninya sambil tidur-tiduran.
Kandungan Ella sudah berusia 18 minggu, perutnya sudah mulai membuncit. Kabar ini disambut gembira oleh orang tua mereka, mereka sudah tidak sabar untuk menantikan kelahiran cucunya. Setiap hari Bu Mirna selalu menelfon Kairi, hanya untuk mewanti-wanti agar Kairi tetap menjaga Ella, dan memastikan dia baik-baik saja.
Meskipun hamil, namun Ella tidak pernah menginginkan makanan yang macam-macam, dia juga tidak pernah mual, ataupun muntah-muntah, ia hanya tidak bisa meminum mactha latte. Minuman yang dulu menjadi minuman kesukaannya, kini menjadi minuman yang paling ia benci.
Satu hal yang berubah dari Ella, yang terkadang membuat Kairi geleng-geleng kepala adalah sifatnya yang menjadi semakin manja. Ia sering meminta dipeluk, dan dibelai saat Kairi sedang bekerja, dan seringkali ia menangis tersedu-sedu bila Kairi tidak menurutinya.
Seperti halnya malam ini, Ella menangis sambil memeluk guling, hanya karena Kairi menolaknya untuk menemaninya tidur. Kairi menghela nafas panjang, berusaha sabar menghadapi sikap Ella yang terkadang sedikit merepotkan. Sejak dua hari yang lalu Kairi tidak masuk kerja, Ella tidak mau ditinggal, dan meminta untuk ditemani seharian. Kairi menurutinya, dan alhasil malam ini pekerjaannya menumpuk cukup banyak. Kairi bermaksud menyelesaikannya sekarang juga, karena besok dia harus menghadiri beberapa rapat penting. Namun rencananya gagal, saat Ella kembali merengek, dan meminta untuk ditemani.
"Jangan menangis, ayo sekarang tidur, aku akan menemimu." ucap Kairi sambil mengusap air mata Ella.
Namun Ella masih belum bergeming, ia tetap menangis sambil menunduk.
"Sayang maaf ya, aku tidak bermaksud menolak kamu. Ayo sekarang tidur, kasihan dedek bayinya kalau kamu menangis." sambung Kairi sambil membelai rambut Ella dengan lembut.
"Jangan tinggalkan aku, aku butuh kamu Kai. Aku ingin bersama kamu." ucap Ella dengan pelan.
"Iya, aku tidak akan meninggalkan kamu. Sekarang tidur ya." kata Kairi sambil merangkul Ella, dan mengajaknya berbaring di ranjang.
Kairi menyelimuti tubuh Ella, dan kemudian ia berbaring disebelahnya. Kairi mencium kening Ella, lalu mengusap lengannya dengan lembut. Seperti inilah rutinitasnya setiap hari, Ella tidak bisa tidur, jika tidak ditemani, dan diusap dengan manja. Kairi menatap wajah Ella yang mulai memejamkan matanya. Ia menahan kantuknya, masih ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini juga.
Sekitar setengah jam kemudian, Ella sudah terlelap, dan Kairi pelan-pelan bangkit dari tidurnya. Namun beberapa saat kemudian, Ella menarik tangan Kairi, dan menahannya agar tidak pergi.
"Jangan tinggalkan aku!" ucap Ella dengan pelan. Ia mendekap tangan Kairi, dengan mata yang masih terpejam.
"Sabar." ucap Kairi sambil menghela nafas panjang. Mau tidak mau ia tetap duduk disebelah istrinya, dan menunggu beberapa saat lagi untuk melangkah pergi.
Dan tak lama kemudian, terbersit satu ide cemerlang dalam otaknya. Kairi menyunggingkan senyuman di bibirnya. Perlahan ia menarik tangannya, dan beranjak dari duduknya. Samar-samar ia mendengar suara Ella memanggil namanya dengan pelan. Dengan cepat Kairi mengambil berkas diatas meja, dan membawa ke atas ranjang. Ia menyelesaikan pekerjaannya sambil satu tangannya berada dalam dekapan istrinya.
***
__ADS_1
Ella membuka matanya dengan pelan, ia menggeliatkan badannya sambil menguap. Ia tersenyum saat menatap wajah suaminya yang masih terlelap disebelahnya. Ella mencium keningnya sekilas, lalu ia beranjak dari tidurnya. Dan ia tersentak kaget, saat melihat beberapa berkas yang menumpuk diatas ranjang. Ia juga menatap tangan Kairi yang masih menggenggam pena.
Ella menunduk sambil menggigit bibirnya, ia mengusap perutnya dengan pelan.
"Aku telah merepotkannya, kenapa aku menjadi semanja ini." ucap Ella dengan mata yang berkaca-kaca. Dan dalam hitungan detik, air matanya mulai menetes, membasahi kedua pipinya.
"Maafkan aku Kai." ucap Ella sambil menatap Kairi yang masih terlena dalam dunia mimpi.
Ella beranjak dari duduknya, ia membereskan berkas-berkas itu, dan menumpuknya diatas meja.
Lalu Ella kembali mendekati Kairi, ia menatap wajah suaminya yang terlihat lelah.
"Mulai sekarang aku akan berusaha menepis keinginanku. Seharusnya aku tidak menyulitkanmu seperti ini. Maafkan aku Kai." ucap Ella sambil mengusap rahang Kairi.
"Kau sudah bangun sayang?" tanya Kairi dengan suara seraknya. Matanya masih sedikit terpejam, kesadarannya belum pulih total.
"Apa aku mengganggu tidurmu?"
"Tentu saja tidak." jawab Kairi sambil tersenyum.
"Aku akan memasak Kai." ucap Ella.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Kairi.
"Tidak." jawab Ella sambil menggeleng.
"Nanti kau di rumah saja ya, aku ada rapat penting di luar, kau akan bosan jika menunggu di kantor sendirian. Nanti sore aku akan mengajakmu jalan-jalan, melihat menara." kata Kairi sambil menatap Ella dengan harap-harap cemas. Takut jika istrinya akan salah paham dengan ucapannya.
"Baiklah, janji ya jalan-jalan." jawab Ella sambil tersenyum.
"Iya aku janji." kata Kairi sambil mengusap perut Ella.
"Baik-baik ya didalam sana, harus tumbuh dengan sehat, dan tidak boleh nakal. Papa dan Mama sangat menunggu kehadiran kamu." ucap Kairi sambil menciumi perut Ella.
"Geli Kai." kata Ella sambil tertawa.
"Aku sedang mengajaknya bicara sayang."
"Kalau ingin bicara dengannya, harus lewat ibunya." ucap Ella sambil tertawa.
"Begitukah?"
"Iya, itu keinginan dia lho."
"Keinginan dia, atau keinginan ibunya?" kata Kairi sambil merengkuh tubuh Ella, dan membawanya kembali berbaring di ranjang.
"Kai, aku akan memasak." ucap Ella sambil berusaha melepaskan pelukan Kairi.
"Biarkan Bibi saja, aku ingin memelukmu." jawab Kairi.
"Aku tidak suka masakan Bibi."
"Baiklah, nanti biar aku saja yang memasak. Tapi sekarang diamlah, aku ingin memelukmu."
"Kau serius akan memasak Kai?"
"Tidak juga."
"Kau berbohong!"
"Iya, agar kau diam." jawab Kairi sambil tertawa.
"Kau menyebalkan Kai!" teriak Ella.
"Tapi kau menyukainya."
"Tidak!"
"Kau serius tidak menyukainya."
"Iya."
"Baiklah, awas ya jika nanti menangis kalau aku tinggal pergi." ucap Kairi sambil mencubit hidung Ella.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Ella sambil menatap Kairi lekat-lekat.
"Tentu saja pergi berkerja." jawab Kairi sambil tertawa.
"Kau menyebalkan Kai!" teriak Ella.
__ADS_1
"Tapi kau selalu menyukainya." jawab Kairi sambil mengunci tubuh Ella didalam pelukannya.
Bersambung......