Tentang Rasa

Tentang Rasa
Sesingkat apapun pertemuan selalu ada harapan disana


__ADS_3

Kiran kembali beraktivitas layaknya mahasiswa pada umumnya. Bayi Eva sudah nyaman dirawat oleh ibunya, dan saat ini ia sedang berkonsentrasi ke kuliahnya yang sempat terbengkalai selama mengurus keperluan Eva.


Anak Eva sekarang sudah berumur 1 bulan. Bayi yang di beri nama Hanum itu tumbuh dengan sehat, ia tidak pernah merepotkan Kiran apalagi ibunya. Meski sesekali menangis sangat lama, tapi ibunya tahu bagaimana mengatasi bayi yang seperti itu.


saat ini, ia sedang berada di dalam kampus bergulat dengan hari yang panas dalam ruang perkuliahan yang menurutnya ikut terasa panas sebab sedang berlangsung diskusi yang cukup sengit dan menguras pikiran.


Sekitar dua jam lamanya ia berada dalam ruangan kelas yang tidak seberapa besar itu. Namun cukup membuat kepalanya terasa cenat cenut. Sepertinya ia butuh istirahat dulu dan butuh untuk mendinginkan hati dan pikirannya.


Kiran memutuskan untuk ke kantin, paling tidak ia bisa minum minuman dingin. Kiran mengambil tempat yang agak pojok, sebab ia tidak ingin terganggu dengan suasana kantin yang sudah cukup ramai itu.


Kiran memang orangnya suka yang sepi, dia tidak terlalu suka pada keramaian. Terkadang ia ke mana-mana itu sendiri, teman yang paling dekat dengannya selama kuliah ya Eva. Tapi sayang Eva sekarang sudah tidak ada.


Saat ini ia benar-benar merasa sangat sendiri, ia butuh teman yang bisa ia ajak bicara tanpa perlu merasa sungkan. Tapi siapa? Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dalam benaknya. Walau sebenarnya ia tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut.


Ketika menikmati es jeruk di depannya, matanya sesaat jatuh pada pemandangan yang walau sekilas tapi sangat menarik perhatiannya itu. Dia seperti tersedot ke dalam pusaran atas apa yang baru saja dilihatnya, Kiran melihat seseorang sedang melintas di depan mejanya, dan dari segi mana pun ia melihat dan dari sudut mana pun ia memandang, ia yakin betul bahwa orang tersebut adalah Rizal. Laki-laki yang selama ini sangat menyita waktunya hanya untuk sekedar membayangkan dan mengenang lagi bagaimana sosoknya.


Ia berhenti minum dan lebih mempertajam penglihatannya, memang benar itu adalah Rizal. ingin sekali rasanya ia berdiri lalu memanggilnya dan membiarkan Rizal duduk menemaninya siang itu minum es jeruk.


Sudah dua tahun semenjak ia dan Rizal resmi putus. Baru sekarang ini Kiran melihat Rizal lagi setelah sekian lama waktu yang telah lewat itu. Walau keinginannya untuk memanggil Rizal sangat besar, tapi suara-suara yang ingin dikeluarkannya itu, hanya bisa tersangkut di tenggorokannya dan ia tidak bisa berucap apa-apa kecuali diam membisu. Sampai sosok Rizal menghilang dari pandangannya dan beranjak jauh meninggalkan kantin.


Kiran menyesal mengapa ia tidak punya keberanian yang lebih untuk sekedar menyapa Rizal. Padahal jika dihitung berapa banyak rindu yang ia pendam terhadap laki-laki itu, maka tak terhitung banyaknya waktu yang ia habiskan hanya untuk merindunya.


Namun, semua terjadi begitu cepat dan begitu singkat. Seluruh debu-debu keberaniannya seolah terbang dan ia saat ini hanya seonggok tubuh kaku yang tak mampu berbuat apa-apa kecuali menyesal diri.


Dengan langkah gontai, ia berdiri lalu meningkatkan kantin dan kembali ke kost-annya. Kiran menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang lumayan empuk itu.


Kemudian ia mencoba menutup matanya dan sebening air mata telah mengalir di kedua belahan matanya. Ia tidak menyangka betapa ia sangat rapuh jika sudah berhubungan dengan laki-laki bernama Rizal itu. Ia tidak sanggup menghadapi semuanya. Perasaannya, kecemasannya, kegelisahannya, ia tidak bisa mengungkapkan semua itu.


Seperti biasa, diraihnya buku serta pulpen dari atas mejanya. jemarinya kembali menari di atas lembaran kertas dan mencipta puisi dari hatinya. Sementara dari hari yang panas, saat ini sedang mencipta hujan dari mendung awan yang murah seperti hatinya. Tak lama kemudian, hujan pun jatuh dengan ruah. titik-titik air nampak menggantung di jendela kamarnya. Ia masih mencipta puisi-puisi nya.


Tentang hujan dan kau


Mengingatkan sebaris kenang


Menangisi keping-keping retak


Sebilah kisah berakhir di ujung perih

__ADS_1


Hujan selalu mengembalikan rindu


Yang pernah terkoyak, ketika berpaling dari air mata yang kukirim dan menumpahkan segala resah bernyanyi


Kau selalu mengingatkan pedih


Di ruang sadarku dan di luar inginku


Lalu, diam-diam aku masih rindu.


"Diam-diam aku masih rindu," desahnya...


Hujan itu perlahan berjatuhan juga di hatinya, di wajahnya dan dalam pencariannya menuju ruang yang sesungguhnya. Kiran merasa begitu sedih semenjak hari ini melihat orang yang sangat disayanginya berlalu begitu saja di hadapannya.


Tanpa mempedulikan kehadirannya dan tanpa mengetahui bahwa ada sepasang mata yang mengintainya dari jauh. Yang menginginkannya lebih dari siapa pun, yang ingin hari-harinya bagus digeregoti kenangan dan rindu.


Kiran melepas semua penatnya itu dengan berusaha untuk menidurkan matanya hingga hujan di luar sana berhenti menari dalam keterasingan terhadap perasannya sendiri. Ia pun terlelap bertidurkan sepenggal luka dari rindu yang ia tak tahu akan dilabuhkannya di mana.





Sebuah nada dering dari HP-nya menyentakkan alam sadarnya. Sebuah SMS telah diterimanya. Namun ia tak kenal siapa orang yang mengirimnya SMS tersebut. Dibacanya sekilas lalu ia terkejut menatap layar HP-nya.



Met mlm Kiran,



Apa kabar? Kamu baik2 sj?



Sdh lama kt tak bertemu...

__ADS_1



Pengirim:



\+6281354559530



Kurang lebih begitulah isi pesan singkat yang di peruntukkan untuk dirinya. Ia heran dengan isi pesan SMS tersebut. "Lama tak bertemu?" Ia mengingat-ingat sesuatu siapa tahu saja ia lupa dengan salam satu temannya. Entah itu teman SMA-nya atau siapa namun ia merasa tidak menemukan jawaban atas usahanya untuk mencari tahu itu.



Akhirnya SMS tersebut ia abaikan saja tanpa berniat untuk membalas pesan singkat tersebut.



Walau masih penasaran, tapi ia tidak ingin menurutkan keinginannya untuk lebih jauh mengetahui siapa sebenarnya pengirim SMS tersebut. Ia pun beralih ke tumpukan buku yang berada di atas mejanya. Buku-buku tersebut adalah buku-buku panduan Kiran untuk menyelesaikan tugas dari dosennya yang diberikan tadi siang.



Soalnya sangat rumit dan membuatnya jenuh. Bahkan untuk ia lirik sekalipun ia sudah malas, apalagi untuk mengerjakannya.



Tapi berhubung Karen tugas tersebut harus di kumpulan secepatnya, ia pun berusaha untuk menyabarkan dirinya agar bisa menyelesaikan semua tugas-tugas tersebut.



"Sedikit lagi," gumamnya sendiri.



Malam sudah rebah kian jauh, sementara ia masih berusaha untuk menyelesaikan tugas tersebut. Tanpa ia sadari ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ia pun segera menutup buku-bukunya dan lekas mengistirahatkan badan serta otaknya.


__ADS_1


Hari ini ia lebih banyak mengenang dari biasanya. Barang kali itulah yang membuat dirinya terasa jauh lebih lelah.


__ADS_2